
Sebulan berlalu.
Hari ini Tama di hubungi oleh Bunda Zizi untuk menjemput mereka di rumah sakit karena ayah Emil sudah membaik. Seperti permintaan Tama dulunya, ia bersedia menyusul dan akan mengantarkan ayah kandung Annisa itu untuk tiba di rumah nya.
''Sudah siap Yah? Bunda?'' tanya Tama
Bunda Zizi tersenyum, ''Sudah. Tuh, lihat aja kedua adik kamu begitu antusias saat bunda bilang kalau kamu yang akan menyusul ayah serta mengantar Jan kami sampai kerumah.''
''Yup. Abang senang kalau bang Tama yang nyusul. Bukankah pesan kakak sebulan yang lalu juga seperti ini??'' timpal Syakir
Tama terkekeh, ''Ya iyalah. Kan yah juga orang tua Abang. Abang beruntung bisa menjadi suami adek Annisa. Walaupun kami terpaut usia yang lumayan jauh. Itu tidak menyurutkan rasa cinta pria tua ini untuk Annisa istri kecilku itu.''
Bunda Zizi tersenyum. ''Ya sudah, ayo. Kita harus pulang kerumah. Kalau nggak salah, kelurahan Bunda akan datang untuk menjenguk ayah nanti. Saat ini mereka sudah di jalan. Ayo. Keburu mereka sampai dirumah kita sedang kita masih dirumah sakit.''
''Oke! Ayo Bang!'' ajak Tama pada kedua adik Annisa itu.
Syakir dan Arta begitu senang ketika menaiki mobil milik Tama. Hanya mobil biasa. Mobil mereka Alphard yang di beli Tama dengan hasil keringatnya sendiri. Dalam mengurus bengkel keluarga. Dan juga beberapa showroom mobil miliknya yang ia buka dengan uang nya sendiri.
Butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai di kediaman ayah Emil. Dan saat ini mereka sudah tiba di depan rumah bunda Zizi. Tama menuntun Ayah Emil untuk turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Sedari bunda Zizi mengatakan jika keluarga nya akan tiba untuk menjenguk nya, wajah ayah Emil sudah berubah menjadi datar dan dingin. Tama tau akan hal itu.
Di depan pintu sudah menunggu Uwak Rita, Uwak Nia dan Uwak Daman. Mereka menyambut Emil dengan suka cita. Tapi tidak dengan ayah Emil. Wajah tua ayah Emil itu begitu kentara terlihat saat mobil keluarga bunda Zizi telah tiba.
Tama mengalihkan perhatian ayah Emil dengan cara mengajaknya masuk dan istirahat di dalam kamar. ''Ayah mau duduk disini atau langsung istirahat??'' tanya Tama pada ayah Emil.
Pria paruh baya itu tidak menjawab. Wajahnya begitu dingin datar saat ini. ''Ayo Bang. Istirahat aja dulu. Jangan di pikirkan mereka yang baru datang itu. Aku ada Tama kok yang menemani di luar nanti. Abang tidak usah khawatir ya?'' ucap Bunda Zizi sengaja untuk menenangkan hati ayah Emil yang terlihat begitu tidak nyaman.
''Ya,'' jawab ayah Emil. Hanya sepetah kata itulah yang bisa ia jawab.
Ia menatap Tama yang kini sedang tersenyum padanya. ''Udah.. ayah istirahat aja ya? Jangan pikir kan kami. Biarkan mereka mengatakan apa yang ingin mereka katakan. Abang tetap pada pendirian.'' Jelas Tama membuat ayah Emil mengangguk.
''Hoo.. ini ya pria tua yang sudah membuat keluarga kita di tanah di kantor polisi Zi? Kamu ketemu dimana sih pemuda tua ini?? Cih! Lagaknya seperti orang hebat, tapi nyatanya hanya seorang pesuruh saja! Punya bengkel dari mana dia?! Heh! aku tidak percaya Zi!'' ucapnya sengaja merendahkan Tama di hadapan kelurahan Bunda Zizi yang lainnya.
Tama memilih diam. Ia tidak ingin menyahuti ucapan orang itu. Syakir yang baru masuk dengan membawa perlengkapan ayah Emil saat dirumah sakit, kini berdiri menjulang di hadapan keluarga Bunda Zizi itu.
Wajah tampan Syakir itu begitu dingin saat mendengar ucapan Uwak nya untuk Abang ipar nya. ''Kalau tujuan Uwak datang kesini hanya untuk menghina Abang ku bukan untuk menjenguk ayahku, lebih baik kalian keluar dari rumah ini! Jangan datang kesini untuk mencari permusuhan. Bukannya kalian mendapat pahala karena menjenguk orang sakit, tapi malah kalian menabur dosa di dalam rumah kami! Pergi kalian dari rumah ku! Pintu di sebelah sana!'' ucap Syakir begitu ketus dan dingin terhadap keluarga bunda Zizi.
Uwak Daman terkekeh mendengar ucapan keponakan kecilnya itu. ''Ini mah Annisa versi laki nya ini!'' celutuk Uwak Daman sambil berbisik pada Uwak Rita. Iwak Rita pun ikut terkekeh. ''Hooh. Betul!'' jawab Uwak Rita
__ADS_1
Mereka cekikikan sendiri di dapur sana. Sementara Tama mengulum senyumnya agar tidak tertawa karena melihat wajah uwaknya itu melotot tidak terima pada keponakan nya itu.
''Kau..!!''
''Apa!! Ya! Ini aku! SYAKIR ABBAS SYAHPUTRA!! Kenapa?! Uwak tidak terima?! Kalau tidak terima, pulang sana! Aku tidak butuh saudara bermuka dua seperti kalian! Giliran ada muanya aja Mak ku dibaikin! Ketika apa yang kalian ingin kan tidak terkabul, kalian menghina Abang ku! Kain punya hak apa untuk menghinanya?! Kain itu tidak sepertinya yang relabayar biaya pengobatan ayahku selama dirumah sakit! Kalian malah datang ingin mengeruk uang Mak ku! Cih! Punya saudara tapi tidak punya etika sama sekali! Udah tua! Udah bau tanah! Gigi udah gugur! Sebentar lagi bakalan masuk pintu kubur! Tidak sadar diri juga!''
''SYAKIR!!!''
''Saya!!!!''
💕💕💕💕💕
Maaf ye malam othor batu bisa update. Othor lagi sakit. Kami diserang sakit satu rumah. Kemarin Pak Su othor. Hari ini, kedua anak othor sekaligus othor yang kejingkat sakit. Mohon doanya ye?
Baiklah, sambilan nunggu Bang Tama update, mampir dulu yuk ke karya temen othor yang satu ini.
Cus kepoin!
__ADS_1
Like, komen, kembang, vote dan rate untuk othor ye? Biar othor tambah semangat untuk update nya! 😘