Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Rapuh


__ADS_3

''Ayo Bos! Kita pulang! Mau kerumah tuan? Atau ke showroom saja?'' tanya Anto.


Sedari tadi ia sudah lelah untuk membujuk Tama, agar mau ikut pulang bersama nya. Belum lagi bengkel yang ia tinggalkan sangat ramai pengunjung.


''Bang? Pulanglah. Tenangkan hati Abang dulu. Baru setelahnya, Abang kesini lagi untuk membujuk neng Annisa. Bapak yakin, neng Annisa juga sama seperti bang Tama. Pulanglah. Jika ada sesuatu pada neng Annisa, bapak akan mengabari segera. Nomor Abang udah bapak simpan kok. Begitu juga nomor bang Anto,'' ucap Pak Hamdi


Tama menoleh dengan mata sembab dan sayu. Ia mengangguk patuh, kemudian berdiri dan dipegangi oleh Anto, untuk menuntun nya menuju ke mobil Tama.


Tadi, saat Tama sedang menangis tersedu Ponsel Tama berbunyi. Karena Tama tidak mau mengangkat nya, terpaksa Pak Hamdi yang berbicara dengan Anto.


Ya, Anto lah yang menghubungi Tama. Karena ada keperluan mendadak tentang showroom mobilnya.


Tapi kabar yang didapat dari Pak Hamdi, satpam di sekolah Annisa, membuat Anto panik. Dengan segera ia datang ke pesantren Annisa menggunakan ojek.


Dan saat tiba disana, benar seperti apa kata Pak Hamdi. Tapi terlihat begitu kusut dan berantakan.


Mata sembab, hidung memerah, belum lagi air matanya itu mengalir tanpa henti. Anto tidak pernah melihat Tama serapuh itu jika berkaitan dengan Annisa.


Sekarang Anto baru tau, jika Annisa adik kecil kesayangan nya dan juga istrinya itu memiliki tempat yang istimewa di hati Tama.


Setelah membawa masuk Tama, Anto pamit pada pak Hamdi. Ia berpesan, jika terjadi sesuatu kepada Annisa, tolong kabari segera.


Jika Tama tidak bisa, maka segera hubungi nomornya. Anto merasa prihatin dengan kondisi Tama saat ini.


''Inikah cinta yang selalu kau tolak Bos? Bagaimana rasanya saat kau ditolak oleh cintamu disaat cinta itu benar-benar sudah menelusup kedalam relung hatimu begitu dalam?''


''Sudah ku ingatkan berulang kali padamu, tapi kau tidak mau mendengar kan ku. Aku tidak sehari dua hari hidup dengan mu Bos! Aku hidup dengan mu sudah puluhan tahun. Saat pertama kalinya kau menolongku dari para penagih hutang itu, aku selalu setia berada di samping mu. Bahkan ketika kau memaksaku untuk kuliah di Jakarta pun aku menolak. Karena aku ingin lebih dekat dengan mu.''


''Kau bukan hanya penolong di dalam hidupku. Tapi kau sudah ku anggap saudara bagiku, bang Tama. Jika bukan karena mu, mungkin saat ini aku sudah tidak berada di dunia ini lagi. Aku akan berusaha membawa Annisa pada kehidupan mu kembali. Aku janji!'' gumam Anto dalam hati.


Walau sambil mengemudi, matanya sesekali menoleh pada Tama yang begitu tidak karuan. Hanya Karena penolakan Annisa, Tama bisa serapuh ini.


Lalu, bagiamana jika seandainya Annisa pergi meninggalkan nya? Akankah ia bisa bertahan hidup sementara kehidupan nya sudah pergi?


Sementara Tama terpuruk karena ucapan Annisa, Annisa malah demam sekarang ini. Tubuhnya begitu panas, Sarah hingga kalang kabut dibuatnya.


''Ya Allah.. Nis.. badan mu panas banget! Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus melapor pada ustdzah Hanim. Ya, ustdzah Hanim!'' ucap Sarah, dengan segera berlari keruang guru dan menarik tangan ustadzah Hanim.


Ustdzah Hanim yang ditarik cepat seperti itu terkejut. Namun tidak mau bertanya. Pasti ada sesuatu, pikirnya.


Tiba di kamar Annisa dan Sarah, ustdzah Hanim terkejut melihat tubuh Annisa menggigil.


''Astaghfirullah! Annisa kenapa Sarah?! Waduh! Ini panas sekali! Ayo kita bawa kerumah sakit! Hubungi keluarga nya, biar ustadzah meminta Pak Hamdi untuk membopong Annisa,'' imbuhnya

__ADS_1


Dengan segera ia berlari ke depan gerbang. Butuh waktu lima menit untuk sampai disana. Tiba disana ustadzah Hanim menarik nafas berulang kali karena ngos-ngosan.


''Hosshhh.. hossshh.. emmmm.. haaaaahh.. Pak Hamdi! Tolong saya untuk membopong Annisa! Annisa demam tinggi, Pak!'' pekiknya begitu kuat


Pak Hamdi terkejut bukan main. ''Apa?! Bagaimana bisa?! Bukannya tadi baik-baik saja ya?'' tanya Pak Hamdi dengan terus berlari mengikuti Ustadzah Hanim.


Tiba di kamar Annisa, dua paruh baya itu mematung di tempat. ''Maakk... Papiii... Abang... Bang Tamaaaa.. adek mau bang Tamaaaa... Bang Tamaaaa.. hiks.. Bang Tamaaaaa..'' lirih Annisa begitu jelas terdengar di telinga tiga orang itu.


Sarah sampai menangis melihat Annisa semakin pucat. Dengan sigap Pak Hamdi membopong Annisa untuk dibawa kerumah sakit yang ada di samping pesantren itu.


Ketiga orang itu berlari dengan cepat. Semua santri tercengang melihat kondisi Annisa seperti itu. Padahal baru tadi pagi, mereka masih bercanda dengan Annisa.


Tiba di lobi rumah sakit, dengan segera seorang perawat menarik bangkar dan menuju Annisa yang sedang di bopong oleh Pak Hamdi.


Setelah nya, Annisa segera di periksa. Karena panik, Sarah sampai lupa menghubungi keluarga Annisa.


Hingga celutukan salah satu perawat dari rumah itu mbuat mereka terkejut. ''Maaf Bu, saudari Annisa apakah disini ada walinya? Kami harus menangani Annisa lebih lanjut untuk itu kami butuh walinya sekarang,'' ucapnya


Mereka bertuah tersentak. ''Astaghfirullah! Annisa!!'' pekik mereka bertiga.


Masing-masing dari mereka merogoh saku baju. Nihil. Tidak ada apa-apa disana. Pak Hamdi baru ingat, Jika ponselnya terletak di pos jaga.


Dengan segera ia berlari kembali ke pos jaga. Tidak ia dengarkan lagi pekikan dari ustdzah Hanim yang memanggil nya berulang kali.


Tut..


Tut..


Tut..


''Angkat Bang... ishh.. Annisa ini.. aduhh.. kok nggak diangkat sih?!'' gerutunya kesal.


Sekali lagi ia mendial nomor Tama.


Tut...


Tut...


Tut...


Sementara di mobil, saat ini Anto dan Tama hampir tiba di showroom mobil milik Tama.


Triing...

__ADS_1


Triing...


Suara ponsel Tama berdenging memecah kesunyian diantara mereka berdua. Anto menoleh, Tama diam saja.


Pandangan matanya kosong. Hingga derinagn ponsel itu berhenti, Tama tidak mengangkat nya. Anto menghela nafasnya.


Tak lama, ponsel Tama berbunyi lagi. ''Bang! Ponsel mu berbunyi! Coba lihat, mana tau Annisa!''


Deg!


Jantung Tama berdetak kencang saat mendengar nama Annisa. Ia menoleh pada Anto, ia mengangguk pada Tama.


Dengan segera Tama merogoh saku celana bahannya. Terlihat disana, Jika Pak Hamdi yang menelepon.


''Hallo-,''


''Balik lagi kesini Bang! Annisa suka rumah sakit! Badannya panas! Sedari tadi mengingat memanggil nama Abang! Cepetan Bang!''


Deg!


''Apa?! Ba-baik! Saya akan kembali kesana! Terimakasih Pak Hamdi! Assalamualaikum! Anto! Putar balik! Annisa masuk rumah sakit! Cepetan!!'' seru Tama begitu panik.


''Baik Bang! Sabar!'' sahut Anto.


Seutas senyum tipis tertarik di sudut bibir Anto. ''Kamu berhasil Dek.. kamu berhasil membawa bang Tama kembali! Semoga setelah ini tidak akan ada masalah lagi ke depannya. Amiiinnn...'' bisik Anto di dalam hatinya.


Ia sangat berharap, jika Tama dan Annisa akan bahagia setelah ini. Tapi siapa yang tau tentang masa depan?


Tak ada yang tau. Termasuk Annisa dan Tama.


💕💕💕💕💕


Assalamualaikum semua..


Selamat pagi menjelang siang euuyy..


Hehe.. othor mau nyapa aja sih..


Jangan lupa tinggalkan jejak Setiap kali membaca cerita recehan othor ini ye?


Jika kalian suka, jangan lupa favorit, rate, dan kembang juga! Othor minta 😒


Hihihi...

__ADS_1


__ADS_2