
''Kita berdua sama-sama salah sayang.. maafkan Abang.. Abang akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi suami setia untukmu. Maaf.. karena perhatian Abang kepada mereka, menjadi bumerang buat Abang sendiri. Maafkan Abang sayang..'' lirih Tama di telinga Annisa.
Annisa semakin mengeratkan pelukannya. ''Kita sama-sama salah. Abang salah, adek pun salah. Mana sini adek lihat dada Abang, yang tadi adek lempar dengan mangkuk Mie..'' lirih Annisa dengan bibir bergetar.
''Hiks.. maaf.. adek kasar Sama Abang..'' lirihnya
Ia membuka kancing baju Tama dengan perlahan. Dan saat baju itu terbuka, terlihat di sana bekas lemparan mangkuk keramik sudah membiru.
Annisa tersedu, ia turun dari pangkuan Tama dan menuju westafel dan mengambil mangkuk yang sudah berisi buah pala yang sudah di gilingnya dengan halus saat Tama pergi tadi.
Tama tersenyum, namun air mata itu pun ikut meleleh di pipinya. ''Hiks.. maaf.. sakit ya? Maaf Bang.. maaf...'' lirih Annisa lagi dengan tangan terus mengusap dada Tama yang lebam karena ulahnya tadi.
Ia mengusap lembut tangan nya di dada bidang Tama yang putih itu. Tama terus saja tersenyum, ia tidak menyangka jika Annisa mau mengobati lukanya.
Annisa bahkan tidak jijik dengan buah pala yang halus itu lengket di tangannya. Ia tetap saja mengusap dada Tama dengan pala buatan nya tadi.
''Udah sayang. Abang lapar, apa kamu masak? Abang belum makan sedari siang tadi. Hanya makan roti saja. Eh, Anto tidak jadi kan ya ngantar makan siang kamu tadi?'' tanya Tama sembari menarik tubuh Annisa agar duduk di pangkuan nya lagi.
Annisa menurut. Ia tersenyum, Tama mengusap air mata yang mengalir di pipi mulusnya.
''Udah, adek udah masak udang balado, telur ayam adek semur. Cuma itu yang ada di rumah. Untuk beras aja tinggal dua cangkir aja. Adek makan dikit tadi siang. Rencananya mau nungguin Abang pulang makan malam. Eh, taunya ketiduran tadi di sofa. Adik bangun karena perut terasa lapar. Hehe.. kita makan ya?'' ucap Annisa sembari turun dari pangkuan Tama.
Tama pun ikut terkekeh. Ia pun ikut membantu Annisa mengeluarkan semua makanan yang ia masak sore tadi.
Tama mengambil piring dan cuci tangan. Sementara Annisa sedang mengambil nasi dalam Cosmos.
Setelahnya, mereka duduk berdua di meja makan. Annisa menghidangkan makanan untuk Tama ke piring serta mengambilkan udang balado dan juga telur semur buatannya .
''Terimakasih sayang. Kamu makan sama Abang aja ya? Sepiring berdua! Biar terkesan romantis!'' Annisa tertawa.
''Oke. Kita makan berdua. Jangan salah kan adek, kalau nasi Abang cepat habis. Adek kuat makan loh..''
''Biarin! Abang senang jika kamu banyak makan! Kamu banyak makan pun tidak gemuk tuh! Tubuh kamu tetap singset!''
Annisa melototkan matanya. ''Abang!'' seru nya dengan wajah memerah.
Tama tertawa.
Mereka berdua makan bersama sepiring berdua. Setelah kenyang, mereka membersihkan sisa makanan itu dan mencuci bekas piring mereka makan tadi.
Selesai dengan pekerjaan mereka, Annisa dan Tama masuk ke kamar mereka. Waktu pun sudah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh.
Pertanda hampir larut. ''Selamat malam sayang, sini Abang peluk. Enak peluk kamu! Cup!'' Tama mengecup kening Annisa sekilas setelah nya mereka berdua terlelap dalam pelukan yang saling menghangat kan.
__ADS_1
Keesokan paginya.
''Sayang, kita belanja online saja ya? Apa aja keperluan dapur kamu tulis sendiri. Abang mau olahraga sebentar di taman belakang. Kalau udah, nanti kamu menyusul ya?'' ucap Tama pada Annisa.
Annisa tersenyum dan mengangguk. ''Oke!'' sahutnya sambil menunjukkan jari jempolnya pada Tama. Tama tersenyum, kemudian ia berlalu turun ke bawah untuk olahraga sebentar sebelum berangkat ke bengkel nya.
Setelah Tama turun, Annisa mulai membuka aplikasi belanja online yang terdekat dari rumahnya saat ini.
Ia memesan semua keperluan dapur. Mulai dari beras, minyak makan, telur, gula, susu, buah-buahan, sayuran dan juga makanan lainnya.
Dirasa cukup dan semuanya sudah, Annisa turun ke bawah untuk membuatkan sarapan roti untuk Tama.
Ia turun ke bawah dengan perlahan. Namun, baru saja kakinya tiba di tengah tangga sudah terdengar suara bel rumah mereka berbunyi.
Annisa mengernyitkan dahinya. ''Siapa yang bertamu pagi-pagi gini? Temannya Abang kah? Atau? Ah, di buka aja dulu, mana tau pentingkan?'' gumamnya pada dirisendiri.
Ia berjalan dengan sedikit tergesa takutnya tamu itu tamu penting Tama. Tiba di depan pintu, Annisa memutar kunci pintu rumah mereka.
Ceklek,
Pintu terbuka.
Deg!
Sedangkan Tama yang sudah selesai olahraga masuk ke dalam. Ia celingukan mencari Annisa, tapi tidak terlihat di dapur.
Bahkan sarapan pun belum tersedia.
Ia berjalan terus ke depan hingga melihat Annisa berdiri di depan pintu rumah mereka. Tama tersenyum.
''Sayang. Mana susu Abang? Nggak jadi kamu buatkah? Abang udah lapar loh .. katanya tadi-,''
Deg!
''Azura!!''
''Bang Adrian!!'' pekik ustadzah Azura.
Ia begitu senang saat melihat Tama sedang berada dirumah, dengan segera ia masuk dan mendorong Annisa hingga tersungkur ke depan.
Brruukkk..
''Allahu Akbar!''
__ADS_1
''Sayang!''
Deg!
Ustadzah Azura berhenti mendekati Tama. Karena melihat Tama berlari mendekati Annisa yang sedang terjatuh akibat di dorong oleh nya.
Tama berlari dengan panik dan mendekati Annisa yang sedang meringis menahan sakit di kedua lutut dan telapak tangannya.
Terlihat lutut Annisa kemerahan, begitu juga dengan telapak tangannya. ''Mana yang sakit? Kita ke dokter ya?'' katanya begitu panik.
Dengan segera ia menggendong Annisa ala bridal style untuk masuk kerumah mereka tanpa menghiraukan kehadiran ustdzah Azura yang mematung melihat reaksi Tama begitu berlebihan menurutnya.
Tiba di ruang tamu, Tama segera mendudukkan Annisa di sofa. Ia jongkok dan menyingkap rok hitam dan juga celana panjang yang menutupi kaki jenjang Annisa.
Ustdzah Azura melototkan matanya. Annisa meringis sakit. Tama meniupnya dengan perlahan.
Semua itu tidak luput dari perhatian ustadzah Azura. Niat hati ingin bertemu Tama, malah melihat kejadian yang tak terduga dari Tama dan juga murid pesantren nya.
''Bang Adrian!'' Panggil Ustadzah Azura.
Tama tak menghiraukan. Ia sibuk mengobati luka Annisa yang lecet akibat dorongan mendadak dari ustadzah Azura tadi.
''Bang Adrian! Aku memanggil mu? Apa kau tidak dengar?! Huh?!'' sentak ustadzah Azura dengan suara naik satu oktaf.
Annisa menoleh pada Tama. Tama pun demikian. Ia tersenyum menatap Annisa. Annisa pun begitu.
Ustadzah Azura semakin panas melihat nya. ''Ada apa ini? Kenapa bisa Annisa disini? Bukannya Annisa sedang sakit? Dan seharusnya ia berada dirumah kedua orang tuanya?? Kenapa sekarang bisa ada dirumah mu? Dan apa itu tadi? Kenapa kamu menyentuhnya?! Tidak kah kamu tau, Jika kalian itu bukan mahram?!'' seru ustdzah Azura lagi.
Panas!
Panas sekali hatinya saat melihat kedekatan kedua orang yang di anggap kakak adik angkat itu.
Tama menoleh pada Azura dengan wajah datarnya. ''Apa urusannya dengan mu! Apa pentingnya untuk kamu tau? Ingat Azura? Kamu! Bukan siapa-siapa aku! Sedangkan Annisa .. ia mahram ku!''
Deg!
''Apa?!''
💕💕💕💕💕
Ck! Dasar tamu tak di undang! Datang-datang ganggu ruang karang saja! 😒
__ADS_1
Noh, bonus visual bang Tama ye? 😍😍