Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Kangen banget sama kamu!


__ADS_3

Tama masuk ke dalam kamar saat Annisa baru saja mengganti bajunya dengan handuk sebatas dada. Tama berdiri di depan pintu. Ia menutup pintu dengan pelan.


Tama berjalan perlahan menuju Annisa yang saat ini sedang berusaha mengangguk rambutan panjang nya agar tidak badak ketika mandi nanti.


Grep.


''Astaghfirullah!!'' pekik Annisa sampai terjingkat kaget saat merasakan tangan kekar memeluk tubuhnya. Jantungnya berdebar tak karuan.


Tama memeluk Annisa dengan erat. Ia menuntun kaki Annisa untuk masuk ke kamar mandi mereka. Annisa sudah tau apa keinginan Tama jika sudah seperti ini.


''Abang kangen banget sama kamu!'' bisiknya.


Braaakkk..


Pintu kamar mandi tertutup dengan rapat. Entah apa yang terjadi, cuma mereka berdua yang tau. Othor nggak mau intip ah. Takut dosa! 😪


Sedangkan dibawah sana. Mak Alisa dan Papi Gilang saling berbisik ria. ''Sayang?''


''Hem?'' Mak Alisa menoleh pada Papi Gilang


''Itu si kakak di apain sama si Tama? Jangan sampai ke boboksn tuh! Bisa gawat nanti sekolahnya!'' bisik Papi Gilang di telinga Mak Alisa.


''Nggak akan. Tama tau batasan! Ya.. paling bersenang-senang dikitlah sama kakak kan tidak apa? La wong Annisa sudah sah kok menjadi isterinya?''


''Iya sih. Tapi takut aja. Masih ada enam bulan lagi loh..''

__ADS_1


''Kita lihat aja nanti. Jebol apa nggak itu tergantung Annisa bisa tidak mengawal taam dan menjaga agar tidak kebobolan. Lagi pun itu haknya. Kamu lupa? Gimana kamu dulu saat bertemu denganku? Jangan kamu pikir kayu laut kamu itu tidak selalu on y tioa kali berdekatan dengan ku?'' Mak Alisa mencebik pada Papi Gilang.


Papi Gilang terkekeh. ''Habisnya di kayu laut tau sih. Kalau kamu itu rumah untuk dia berpulang. Jadi ya.. tegak berdiri saja dianya. Contohnya saat ini. Coba rasain! Mojok yuk!'' bisiknya


Mak Alisa melototkan matanya pada Papi Gilang. ''Ayo lah.. tiap kali berdekatan denganucapan, di kayu kamu ini tidak tau tempat. Yuk, aku tidak bisa menahannya terlalu lama. Bisa pusing kepalaku!''


Mak Alisa memutar bola mata malas. ''Ini dirumah Tama. Bukan ruang kita Papi!'' bisik Mak Alisa lagi.


Tapi Papi Gilang tidak peduli. Ia melihat para orang tua itu sibuk dengan menangis haru memeluk Mitha, sedang dirinya menarik Mak Alisa untuk mojok ke kamar mandi bagian luar fi bagian dapur. Biasa di pakai untuk mencuci oleh IRT rumah Tama.


Tiga anak mereka tidak tau, karena sibuk dengan permainan Ludo king di ponsel Rayyan. Sesekali mereka tertawa bersama. Sesekali mereka bersorak Sorai.


Berbeda dengan pasangan yang sudah mojok itu. Papi Gilang menghidupkan kran air agar menyamarkan suara mereka berdua.


''Benersn disini?''


Mak Alisa hanya bisa pasrah. Maka terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Jiwa muda Papi Gilang masih sangat bergelora jika tentang hal bercocok tanam.


Sama halnya seperti Tama dan Annisa. Saat ini mereka berdua masih berkutat di kamar mandi. Entah apa yang mereka perbuat, sesekali terdengar suraannisa memekik. Sesekali Tama pula yang memekik.


Jika ada yang mendengar nya membuat mereka berlarian. Ck. Dasar Tama.


Satu jam kemudian, Tama dan Annisa keluar dari kamar mandi dengan badan mereka berdua sudah bersih dan wangi.


''Udah sini aja. Capek Abang..'' lirih Annisa tidak berdaya.

__ADS_1


Tama terkekeh. ''Itu batu permulaan. Gimana kalau biak tanggul? hem?''


Plaak..


Tama tertawa. ''Asem Abang!'' Annisa mengerucutkan bibirnya.


Cup.


''Ishh...'' Annisa mendorong lagi tubuh Tama agar tidak mendekat padanya.


Tama tidak peduli. ''Ck. Tanggung adek aja yang masih perawan. Lah, tubuh ini? Sudah janda eeuuuyyy!!'' celutuk Annisa membuat Tama tertawa terbahak bahak.


''Mana ada kayak gitu. Tanggul perawan tubuh kok jadi janda? Ada ada saja kamu.'' Tama tertawa lagi.


''Ya habisnya. Tiap kali pulang kerumah Abang selalu menggarap ku!'' cebik Annisa pada Tama.


Tama terkekeh. ''Ya .. jsngsn salahkan Abang dong kalau tergoda dengan yang halal kayak gini? Mau kamu, Abang lebih tergoda jajan diluar dibanding kan dengan kamu??''


Plak.


Plak.


''Coba aja kalau berani! Akan ku potong tidak Abang itu biar nggak bisa berdiri tegak lagi! Atau kalau nggak, aku potong-potong jadi sepuluh nsgidm setelah nya aku hina jadi kucing!'' ketus Annisa begitu marah pada Tama.


Hahahaha....

__ADS_1


Suara tawa Tama hingga membuat Papi Gilang dan anak Alisa yang masih bertugas di kamar mandi belakang. Mereka saling pandang tapi tidak berhenti untuk bekerja.


Hadeeeuuhh.. ck. Dasar Papi Gilang. Sedari dulu kalau masalah bercocok tanam, dia lah yang paling bisa. Sekarang penerusnya ada Tama. Sementara Lana dan Rayyan belum bisa.


__ADS_2