Cinta Sugar Daddy

Cinta Sugar Daddy
BAB 106, Memaafkanmu?


__ADS_3

*Jika aku tau akan berakhir seperti ini, mungkin aku tidak akan mngambil langkah yang salah.aku masih bisa menjalin hubungan baik dengan mereka, namun karna ajakan wanita gila jala*ng itu membuatku merassa hasilnya akan dijamin, lagipula aku bisa menikmati kebersamaan dengan wanita yang aku cintai, tapi semua berakhir sia sia dan malahku masalah yang lebih besar


~Garvin Wijaya


"bagaimana kabarmu didalam sini pria breng**sek!!"Al dengan tajam dan mendekat menghadapkan kebahu Garvin dan menekannya dnegan kuat, sampai akhhirnya Garvin mengeluarkan suara ringisan namun tidak terlalu terdenggar


"apa kau menikmatinya?"tanya Al dan wajahnya menghadap ke arah Garvin, pria itu menjauh agar tidak terkena aura mematikan dari Al, ia tau kalau hari ini adalah hari terakhirnya


"aku punya mainan masa kecil, mungkin kita bisa memiliki sebenatr!"ucap Al dan memainkannya, menyuruh pengawal untuk mengambilkan benda yang ia maksud


"apa kau tau benda apa ini, ahh tidak mungkin kau tau" ucap Al pisau lipat yang tajam namun mungkin di balik telapak tangan tidak akan terlihat


"jangan, kumohon jangan" ucap Garvin saat benda itu berada dipipinya, ia sudah melihat bagaimana Darrec menyiksa Freya, melihat saja ia sudah takut merasakannya


"kenapa takut??, aku tidak bisa membunuhmu dnegaan benda kesayanganku ini, lagipula kulittmu terllau tebal" ucap Al dan tertawa keras, ia langsung menancap benda itu sampai membuat goresan dipipi Garvin


"ahkk"


"tolong hentikan. aku mohon hentikan" ucap Gravin, tenaganya saja sudah habis, belum lagi tangan pilihan kursi, membuat ia tidak bisa bergerak dengan leluasa


"hahahahh... kau mendengar suara istriku minta tolong menaangis, apa kau tingkahmu tingkahmu!, tidak!!. kau bahkan tuli saat ia menangis dengan raungan keras!!!"Al dnegan sabitan lagi dipipi Gravin, kedua pipinya kini mengalir darah segar, sangat segar kelihhatan


"tidak, jangan sakiti aku agi, aku sungguh minta maaf. akumengaku salah berbuat itu pada Asya" ucap Garvin, namun seolah tuli dan buta, Al semakin gencar menyayat kulit Garvin dnegan pisau lipatnya

__ADS_1


"hahha, bagaimana jika aku membumbui kulitmu ini dengan penyedap rasa, apakah piranha akan memakannya atau malah mati" ucap Al dan membuat kde dari mengarahkan, pengawal yang ada disan mengerti


"kumohonn jangan, kumohon jangan tuan Aland" ucap Garvin dnegan tenaga ia meronta dari kursi itu, tapi apalah daya ia tidak bisa melakukannya, sungguh ini sebuah neraka dunia untuknya


pengawal Al membawa serbuk semacam jamu tapi bukan jamu, pengawal itu menyerahkan kepada Al dan dengan senang hati Al menerimanya


" komohon lakukan itu, kumohon " ucap Gravin, serbuk itu, seolah-olah ia tahu apa, namun Al dengan tajamnya dan jangan bergeming dengan teriakan Garvin


sementara Darrec dan Micahel yang melihatnya merasa kasihan dan tidak tega, jika saja serbuk itu terkena kulit baru yang sudah ada luka, maka otomatis kulit yang terkena akan meletak seperti bali sangat kecil dan pecah menyisakan udara dan jika tidak segera diobati akan terjadi kerusakan


ternyata Al sudah menyapkan alat untuk menyiksa Garin, sengaja menyuruh orangnya meracik bubuk kimia yang mampu mencacatkan kulit, bahkan bisa permanen, dan itulah hasilnya


"kau tau apa ini!!"Al dan memakai sarung tangan miliknya, ia membuka plastik serbuk itu dan mengarahkan ke arah Garvin untuk dicium pria tu


"kumohon memohon aku, ashkkk bunuh saja aku!!"ucap Garvin menahan sakit dan perih ditangannya, pria itu seperti kesetanan berteriak tidak jelas dnegan airmata yang sudah menganak


"hahahah, lihatlah si pria breng*sek ini, masih saja dia berani buka suara" ucap Al dan Garvin dengan kasar dan membuat pria semakin meraung keras


"jangankumohon, aku sungguh tidak taan, tuan Aland bunuh saja aku tuan" ucap Gravin pasrah dnegan apa yang akan dilakukan Al, pria itu sedikit demi sedikit menutup matanya, Garvin pingsan


"ahhkkk mainanku tidak seru Dar, jangan bawa mainan seperti ini lagi!"ucap Al dan memerintahkan pengawalnya membawa Garvin, pria itu tidak mau membunuh Gravin karna tidak tega, juga mengingat istrinya pasti akan merasa sedih jika sampai tau Garvin dibunuh olehnya


"jangan terlalu membawa Al, panggang istrimu menunggumi dirumah" ucap Darrec mengingatkan sepupunya untuk pulang, karna perjalanan dari lokasi mereka ketempat Al lumayan jauh dan memakan waktu satu jam, ini sudah terllau sakit

__ADS_1


"iya Dar aku tau, tapi itu masih kurang, bagaimana dengan pria satunya lagi Dar, apa kau sudah mendapat kabar?"tanya Al menanyakan tentang Loki, kekasih freya yang katanya di Indonesia


"sudah Al, dia kembali ke Swiss baru tadi mengambil penerbangan, mungkin takut jika kita tau dia masih disini. dia berjjaga jaga mungkin" ucap Dar memberikan kertas kepada Al bukti pencarian dirinya terhadap Loki


"terlalu bodoh!!, cari pria itu sampai dapat dan bawa kedepanku hidup, aku tidak ingin menimbun para cecungguk gila yang terobsesi" kata Al dengan marah, karna musuh paling utama sudah kabur dan otomatis lumayan susah untuk mereka temukan


"jangan wanita itu dulu, aku tidak ingin mereka bertemu, wanita itu terlalu tertarik dengan semuaa tipu daya otaknya" ucap Al dan diangguki oleh Dar dan Michael


"aku pulang dulu, kalian urus, dan jangan lupa laporkan, dan ingat bonus kalian 2x lipat bulan ini" ucap Al tersenyum saat melihat Dar dan Michael tersneyum mendengar bonus yang akan mereka dapatkan


"tumben sekali Al" ucap Dar dan membuat Al kembali menoleh dengan tajam, namun dengan cepat Dar menyengir kuda dan mengangkat tangan V


"lanjutkan" ucap Al dan melangkah untuk keluar gedung, jam 5.30 setenagh jam lagi waktunya untuk sampai ke rumah sakit menjemput istrinya, telat sedikit jatah malam ini tidak dapat


sayamiliknya dan langsung tancap gas kejalan traya, bergabung dnegan kendaraan lain dan terjebak macet, itulah alasannya Al sangat jarang ke gedung tua itu, sungguh hal macet ini yang membosankan i=untuknya, manaa jarak masih sangat jauh


"tidakkah mereka bisa mempercepat lajunya?" ucap Al mengomel dalam mobilnya dan memukul stir mobilnya, ia takut istrinya marah itu bisa saja membuat urusan lebih ruwet dan susah dirinya nanti


setekah lampu berubah menjadi hujai, dengan cepat Al menyelinap dan melajukan mobilnya dengan kencang, lebih takut dengan mood strinya dari pada melihat banyaknya mobil yang bersungut sungut kepadanya, sungguh itu sesuatu yang menyebalkan namun Al tidak peduli, yang penting dia sampai ketujuan dengan cepat dan tepat waktu 


  


Berikutnya

__ADS_1


jangan lupa like,komen,dan pembaca favorit kalian


__ADS_2