
...___...
Gleen terus berjalan. Menggeret koper besar dan juga menggendong satu tas ransel di punggung nya di ikuti Hilma yang berjalan di belakang nya.
Sementara Hilma, pun membawa satu tas ransel yang juga di gendong di punggung nya.
Pukul 4 subuh, bahkan mereka masih belum menemukan tempat untuk mereka tinggali.
"Mas.." Hilma menghentikan langkah nya. Rasa lelah kian membuat nafas nya tersengal-sengal. Gadis itu menepikan tubuh nya di pinggiran trotoar menyandar pada tembok pagar.
Gleen menoleh ke belakang. Menatap Hilma yang dia rasa mungkin gadis itu lelah.
"Kita istirahat di sini aja dulu ya Hil." Gleen pun ikut menepikan diri nya.
Gleen menatap lurus ke depan, entah apa yang dia lihat dengan pikiran-pikiran nya.
Mulai sekarang hidup nya telah berbeda. Sangat jauh dari kehidupan seorang Gleen yang kemarin. Sungguh bagai mimpi. Dalam sekejap, dia bahkan sudah menjadi laki-laki miskin yang tak lagi punya apa-apa.
Ck ! sungguh menyedihkan..
"Kita mau tinggal di mana ya Hil..?" Gumam laki-laki itu bertanya. Sangat tidak memungkin kan untuk nya bisa menyewa kamar hotel, kos-kosan, apa lagi membeli sebuah apartemen.
Ya, dia tak lagi mampu untuk semua itu. Bahkan kocek yang ada di dalam saku nya sekarang, cukup untuk menyewa kontrakan satu bulan dan makan ber dua hanya dalam beberapa hari saja.
"Mas, mas Gleen pulang lagi aja ya. Biar saya juga pulang ke rumah Abang.." Lirih Hilma pada kalimat terakhir nya.
Tak apa lah, meski harus kembali di siksa, di pukuli atau mungkin dia akan di jual lagi. Yang terpenting sekarang adalah Gleen. Hilma begitu tak tega melihat laki-laki itu yang kesusahan saat ini.
"Lo gak liat tadi, gue udah usir dan di buang dari keluarga gue !"
Tak mengindahkan ucapan Hilma. Gleen menoleh dengan ucapan sungut nya.
"Mas di usir kan karena saya, kalau saya pergi kan mas gak akan di usir lagi-"
"Udah stop ya Hil, gue nggak mau lagi denger omongan lo soal ini !" Sentak Gleen menghentikan ucapan Hilma.
"Ck! kenapa ? lo pikir gue gak bisa gitu hidup di luar tanpa uang, tanpa kemewahan. Gue bakal buktiin sama mereka Hil kalau gue bisa sukses tanpa uang nya si Anan Malik itu !!" Ujar nya menegaskan. Raut wajah nya kembali sinis akan mengingat betapa mudah nya Daddy nya itu membuang nya.
__ADS_1
...___...
Di sisi lain
Della menunduk, duduk bersila di atas tempat tidur nya dengan sebuah boneka beruang di pangkuan nya.
Boneka pemberian Gleen, yang setiap tidur dia selalu memeluk nya.
Hanya boneka ini, yang selalu menemani dan menghibur nya di saat Della tengah merindukan laki-laki itu.
"Karena gue gak pernah bisa mencintai Della Hil, makanya gue menjauh. Bersikap cuek untuk bikin dia lupain gue, lupain perasaan cinta dia ke gue."
"Semakin gue paksa buat naruh perasaan lebih ke Della, semakin gue gak ngerti sama alur hati gue sendiri. Gue merasa sikap dan perasaan gue tu palsu ke dia. Gue takut yang ada malah bikin dia baper, makanya gue jauhin dia"
Kata-kata Gleen yang tanpa sengaja di dengar nya saat dia berniat menjenguk Hilma, terus saja terngiang-ngiang di telinga nya.
Ya, sampai kapan pun laki-laki itu tidak akan pernah bisa mencintai nya. Tidak akan bisa menganggap nya lebih dari seorang adik.
Seperti nya, memang sudah tidak bisa lagi untuk nya bisa memiliki laki-laki itu sebagai pasangan dalam hidup nya.
Dia sadar, bagaimana pun cara nya dia tetap tidak akan bisa memaksa kan perasaan nya seseorang untuk mencintai nya.
Tak bisa di pungkiri, betapa sakit rasa nya cinta yang bertepuk sebelah tangan ini.
Tok..tok..tok..
"Dell.."
Della tersentak. Buru-buru menghapus cairan bening yang mengalir di pipi nya tanpa dia sadari.
Ada yang mengetuk pintu kamar nya. Dia pun melejit turun dari atas tempat tidur dan membuka pintu kamar nya.
Cklek,
Daun pintu dia buka, dan mendapati sosok Anan yang berdiri di sana.
"Om." Sapa gadis itu yang memalingkan wajah nya. Ia tak mau jika Anan sampai tahu kalau dia habis menangis.
__ADS_1
"Bisa bicara sebentar" Kata Anan, lalu memutar tubuh nya mengajak Della menuju ruang tengah.
...___...
"Dell, sebelum nya tolong maaf kan sikap Gleen. Om benar-benar tidak habis pikir apa yang ada dalam pikiran anak kurang ajar itu !" Ucap Anan.
Dia menatap Della yang hanya menundukkan kepala nya saja. Ia tahu, gadis itu pasti sedang terluka karena putra nya.
"Om Anan, tidak perlu meminta maaf. Dan Gleen, dia tidak pernah bersalah." Jawab Della tanpa ingin mengangkat wajah nya.
"Bagaimana tidak bersalah, jelas-jelas dia sudah menyakiti mu !"
"Cinta tidak pernah bisa di paksakan om.." Sahut Della, kini, dia mengangkat wajah nya dan menatap Anan.
"Della sudah putuskan, Della mau kembali dan Della tidak ingin lagi memiliki perjodohan dengan Gleen." Lirih gadis itu. Suara nya bahkan terdengar mulai gemetar. Mungkin dia sedang menahan isak tangis nya.
Anan menghela nafas nya. Mengangguk seolah tidak lagi ada pilihan lain selain meng-iyakan ucapan Della.
Mau bagaimana lagi, toh selama ini Gleen putra nya pun tidak pernah menyetujui perjodohan nya dengan Della. Ya, karena kata nya Gleen tidak pernah mencintai nya. Lalu, kedekatan mereka selama ini ?
Ah ya.. Gleen pernah berkata kalau dia hanya menganggap Della seperti adik kandung nya sendiri.
"Baik, besok kita akan kembali !"
...___...
Akhir nya, Gleen dan Hilma pun menemukan sebuah kontrakan yang cukup sederhana. Bisa di kata sangat lah jauh dari kemewahan yang sebelum nya Gleen rasakan. Tapi Hilma, sudah cukup biasa bagi gadis itu.
"Satu bulan nya 800 ribu, sudah termasuk bayar listrik dan air." Ucap sang Ibuk kontrakan.
"Tidak bisa di kurangin lagi buk ?" Tanya Gleen. Dia mengedarkan pandangan nya melihat-lihat setiap sudut rumah kecil, sempit, dan sangat kotor karena sudah lama tidak di tempati.
"Sudah pas segitu mas." Jawab sang Ibuk. "Tinggal di bersihkan saja, lumayan lah buat pasangan kaya kalian gini, belum punya anak juga kan ?"
Eh..
Ucapan ibuk ini kok ngelantur. Membuat Hilma dan Gleen terbelalak sempurna menatap nya.
__ADS_1
...___...