
...___...
"Lo..!!" Seru laki-laki itu yang membulatkan mata nya kala dia menatap Candra. Ya, dia pun sangat mengenali Candra.
"Lo..." Gumam Candra juga.
"Hemh..!!" laki-laki itu tersenyum mengejek menatap Candra. "Udah lama bro gak pernah ketemu, gimana.. bahagia gak hidup sama bekas gue..??"
.
.
.
BUGH !!!
Seketika Candra meluapkan emosi nya kala mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh Andrian. Candra dengan keras nya mendaratkan sebuah pukulan pada pipi Andrian. Kebencian nya di masa lalu benar-benar kembali datang dan menguji nya.
"Kenapa ? Lo gak terima..?? Perempuan murahan aja sampe segitu nya lo bela-bela in.." ucap Andrian di tengah-tengah rasa perih pada bagian ujung bibir nya.
"Jaga mulut lo !!" Sargah Candra.
"Maaf mas mas, tolong jangan ribut di sini..!!" Ucap seorang karyawan yang bekerja di supermarket itu.
"Bakal nyesel Lo..!!" Kecam Candra pada Andrian, lalu dengan cepat dia melangkah kan kaki nya pergi meninggalkan tempat itu karena tidak ingin keributan nya semakin panjang.
...___...
Candra masuk ke dalam kamar nya dengan raut wajah yang tak biasa, dia terlihat muram dengan kekesalan terhadap Andrian. Kenapa bisa dia bertemu kembali dengan laki-laki itu.
"Gen, nih.." Candra duduk di tepian ranjang sambil menyerahkan satu kantong plastik yang berisikan pembalut yang di pesan Genna.
Genna yang masih terjaga terkekeh menatap sang suami yang mungkin telah terjadi sesuatu pada nya, karena sangat terlihat dari raut wajah nya.
"Om.. om kenapa ?" Tanya Genna pada suami nya itu.
Candra menumpu kepala nya pada ke dua tangan dengan lutut sebagai penyanggah nya.
"Aku gak apa-apa kok Gen.." Jawab laki-laki itu. "Udah cepet di pakai, terus tidur udah malem" Ujar Candra, dia merangkak naik ke atas ranjang lalu membaringkan tubuh nya di sana. Mata nya terpejam, seperti nya dia benar-benar sedang dalam ke adaan yang tidak baik saat ini.
__ADS_1
...___...
Pukul 8 pagi, ke dua orang itu baru saja membuka mata. Genna bergegas ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan tubuh nya. Sementara Candra, dia terlihat bermalas-malasan pagi ini. Dia masih betah ber-baringan di atas tempat tidur membungkus diri nya dengan selimut.
"Om, kok gak bangun sih.. ayok bangun om aku mau kuliah.." Ucap Genna membangunkan nya. Dia naik ke atas tempat tidur sambil menggoyang-goyangkan tubuh Candra.
Candra tak bergeming, dia masih betah memejam kan mata seolah seperti sama sekali tak terganggu oleh Genna.
"Om..." Panggil Genna lagi. Jika laki-laki itu tak bangun, bisa-bisa dia akan telat untuk masuk kelas jam 9 nanti.
Candra masih tak terusik, dia justru menarik tubuh Genna hingga perempuan itu kembali terbaring di samping nya. Dengan cepat Candra memeluk nya seperti tidak akan membiarkan Genna terlepas dari dekapan nya.
"Om Candraa...!!" Genna merengek, sangking erat nya laki-laki itu mendekap nya hingga membuat dia kesulitan untuk bernafas.
"Gak usah kuliah Gen, temenin aku aja di sini. Kepala aku pusing banget" Gumam Candra yang benar-benar tak mau melepaskan Genna.
Seberapa pun usaha nya untuk melepaskan diri, sudah pasti laki-laki itu tak akan membiarkan nya. Maka dengan pasrah Genna pun membiarkan Candra memeluk nya. Karena seperti nya, memang laki-laki itu sedang tidak baik-baik saja.
"Om.." Gumam Genna memanggil nya.
"Em..."
"Atau.. om sakit ya..??" Dengan gerakan cepat, Genna menempelkan punggung tangan nya pada dahi Candra.
"Tapi gak panas.." Gumam perempuan itu.
"Aku gak apa-apa Gen, cuma.. kepikiran sesuatu aja.." Gumam Candra sambil menurunkan tangan Genna dari dahi nya. Dia membuka mata nya dan beralih menghadap ke atas langit-langit kamar itu.
"Om kepikiran soal apa..??" Tanya Genna ingin tahu.
"Della..." Gumam laki-laki itu.
Sejenak Genna terdiam. Mendengar nama Della, entah hati nya sedikit merasakan sesuatu yang berbeda.
"Della.. kenapa dia om..??" Tanya Genna penasaran.
Candra sedikit memiringkan tubuh nya kembali, merangkul kan satu tangan nya ke tubuh sang istri. Dia akan bercerita tentang apa yang sedang mengganggu pikiran nya pada Genna. Ya, karena mulai saat ini hanya Genna lah tempat berbagi cerita nya.
"Semalam waktu aku ke supermarket, aku ketemu papa kandung nya Della Gen.." Ucap Candra dengan pandangan nya yang menerawang mengingat soal pertemuan nya dengan Andrian semalam.
__ADS_1
"Papa kandung nya Della..?" Ucap Genna mengulang nya
"Iya.." Candra mengangguk membenarkan.
"Jadi bener ya om, kalau Della itu bukan anak kandung nya om Candra ?" Tanya Genna yang ingin memastikan meski dia memang sudah tahu
"Ya bukan Gen, memang nya kapan aku menanam benih di rahim perempuan..??" Sungut Candra menjawab nya.
'menanam..?? emang nya pohon kali..!' Gumam Genna dalam hati.
"Aku ini masih ting-ting tau.. perjaka tulen..!!" Imbuh Candra menegaskan.
"Ih...!"
"Kenapa ? gak percaya ?"
"Mana aku tahu.."
"Ayo kita buktikan Gen..!" Sargah Candra cepat.
"Iya iya, aku percaya...!" Sungut Genna. "Terus gimana ? papa nya Della gimana ketemu sama om ?" Tanya Genna kemudian
"Dia.. mengejek aku Gen.." Ujar Candra menjawab nya.
"Hah... ngejek gimana maksud nya ?" Tanya Genna tak mengerti.
Candra menghela nafas nya dan membuang nya secara perlahan. Perlahan, Candra mulai menceritakan tentang masa lalu nya di mana saat dia mengenal Della dan bagaimana tentang kehidupan gadis itu dulu, hingga dia membawa nya pergi ke Singapura demi ingin menolong perempuan itu dan juga anak yang di kandung nya, yang saat ini telah menjadi anak angkat nya yang juga dia beri nama Della.
"Jadi, dulu aku bawa mama nya Della ke Singapura, aku gak bisa lihat Della menderita dulu.." Gumam Candra. Laki-laki itu membuang nafas nya dalam, sebelum dia kembali melanjutkan cerita nya.
"Della kecil sama sekali tidak di inginkan oleh papa nya, maka sebab itu, aku mengakui nya sebagai anak aku.."
"Kasian Della om.." Gumam Genna yang merasa iba pada Della kala dia mendengar semua cerita Candra.
"Sampai saat ini, aku ga pernah bisa menceritakan yang sesungguh nya pada Della Gen, kasihan dia... tak di inginkan oleh papa nya, juga sudah kehilangan mama nya di saat dia masih bayi.." Titah Candra, bahkan mata nya sudah mulai menggenang air mata kala mengingat masa lalu nya itu.
"Biar lah selama nya untuk Della tahu bahwa aku lah papa nya, aku gak pernah rela kalau Della tahu siapa papa kandung nya yang sebenarnya"
Ya, Candra tak pernah rela untuk Della tahu semua tentang nya, tentang kebenaran nya. Biar lah yang Della tahu bahwa dia lah papa kandung nya, dia merasa cukup mampu untuk merawat anak itu hingga nanti. Terlebih, papa kandung nya memang tak pernah menginginkan nya, telah membuang nya bersama mama nya dulu. Jadi Candra pikir, tak perlu lagi untuk Della tahu semua tentang kebenaran nya.
__ADS_1
...___...