
... Halooo happy reading gengs ...
..._____...
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, suster meminta nya untuk segera masuk ke dalam untuk mendampingi istri nya yang akan bersalin.
"Pak, seperti nya istri anda harus melahirkan dengan cara operasi, karena pinggul nya sangat sempit, apa lagi harus melahirkan bayi kembar" Jelas dokter mengatakan pada Anan.
"Baik dok, lakukan saja apa yang harus di lakukan !" Titah Anan, dia sudah sangat merasa tak tega melihat istri nya ke sakitan, wajah nya pun terlihat sangat pucat.
"Sayang.." Anan mendekat, duduk di sebuah kursi lalu menggenggam tangan Cinta dengan kuat.
"Sakit..!!" Bahkan suara perempuan itu terdengar purau dan lirih.
Anan tak kuasa, dia pun akhir nya menjatuhkan air mata nya melihat betapa sakit nya yang di rasakan oleh istri nya itu. Andai saja dia dapat menggantikan rasa sakit nya, dia pasti akan menggantikan nya sekarang juga.
"Jangan takut sayang, ada aku disini temenin kamu..!" Lirih Anan terisak, dia menggenggam kuat tangan Cinta, sambil sesekali mengusap pucuk kepala nya dan juga mencium nya.
Setelah dokter menyuntikkan obat bius pada Cinta, dan kini mereka pun akan segera memulai operasi nya.
Sedetik pun Anan tak meninggalkan sang istri, dia terus berada di samping nya untuk mendampingi perempuan itu merasakan perjuangan nya sebagai perempuan yang melahirkan anak-anak mereka.
Anan menangis, dia seperti ikut merasakan sakit yang Cinta rasakan. Betapa besar perjuangan seorang perempuan, seketika dia mengingat bagaimana dulu dia pernah menyakiti perempuan itu.
Cukup lama untuk para dokter melakukan pembedahan, hingga tak lama Anan dapat mendengar suara tangis bayi yang begitu menggema di dalam ruangan itu. Sungguh menggetarkan seluruh tubuh nya.
"Sayang, anak-anak kita sudah lahir.. " Ucap Anan yang tak henti-hentinya menghujani wajah Cinta dengan kecupan.
Para suster membawa ke dua bayi Anan untuk segera di mandikan. Sementara Anan, dia tetap berada di samping istri nya.
.
.
.
"Selamat ya pak, anak anda laki-laki dan perempuan.." Ujar seorang perawat yang membawa salah satu bayi Anan.
"Yang laki-laki kakak nya, dan yang perempuan adik nya, hanya berbeda 3 menit saja" Timpal dokter menyahuti.
Anan tersenyum, wajah nya begitu terlihat sumringah. Tubuh nya bergetar hebat. Dia pun kembali menumpahkan air mata nya.
"Sekali lagi selamat ya pak.."
Anan menerima bayi laki-laki nya yang di berikan suster pada nya. Anan menangis, namun tangis bahagia. Bibir nya gemetar, begitupun juga dengan tangan nya yang mulai terangkat dan mengusap lembut pipi gembul putra nya. Wajah nya mendekat, lalu mencium bayi laki-laki nya.
Dengan lantang dan suara merdu nya, Anan mengumandangkan azan di depan telinga kanan putra nya. Setelah selesai, dia kembali mengecup pucuk kepala nya dan menaruh nya di box bayi. Anan melakukan hal yang sama juga pada putri nya.
__ADS_1
"Maaf pak, kami akan segera memindahkan istri dan juga anak anda ke ruang perawatan. " Ucap seorang perawat dengan ramah.
"Baik sus" Anan tersenyum, mempersilahkan pada suster untuk membawa istri dan anak-anak nya untuk ke ruang perawatan agar lebih nyaman.
Anan keluar ruang operasi dengan menggendong putra nya, dan putri ada pada suster yang menggendong mengikuti langkah nya.
Anan terkejut, ketika semua keluarga tengah menunggu nya di depan ruang operasi. Menatap nya penuh bahagia dan rasa haru.
Anan menatap mereka, seolah tatapan nya lah yang mewakili menyapa. Pandangan nya beralih menatap putra di gendongan nya dan kemudian menatap putri nya.
"Cucu kalian sudah lahir.." Sebuah kata yang terucap, mata nya berubah binar seketika. Rasa bahagia kian kembali menggelitik dada nya, menerbangkan miliaran kupu-kupu indah dalam dunia nya.
Bu Maria mendekat, menatap haru pada cucu-cucu nya yang terlihat sangat menggemaskan.
Wanita yang tidak lagi muda itu menangis, menumpahkan air mata kebahagian kala mendapatkan anugrah terindah yang di berikan oleh putra nya.
Dengan ke dua tangan yang gemetar, Bu Maria meraih bayi kecil dalam gendongan Anan, bibir nya bergetar, ia terlalu bahagia sekali saat ini.
"Cucu oma.." Gumam nya.
Anan pun beralih, meraih sang putri yang masih ada pada gendongan suster. Dia menatap putri kecil nya, mengusap pipi gembul alami yang membuat nya sangat gemas. Dia begitu cantik seperti mommy nya.
Dan pandangan mereka pun di bubar kan dengan para suster yang membawa Cinta untuk segera pindah ruangan. Perempuan itu masih terlihat membuka mata, dengan senyum yang mengembang pada bibir nya.
___
Satu box bayi besar dengan di isi ke dua bayi kembar di sana. Dua malaikat kecil itu terlihat sedang tidur di sana.
Anan mendekat ke arah ranjang sang istri, terlihat begitu lemah dan letih nya perempuan cantik itu. Dia terduduk di sebuah kursi, meraih dan menggenggam tangan lemah yang tak bertenaga.
"Sayang.." Anan menyapa, memanggil nya yang sedang memejamkan mata.
Cinta terbangun, membuka mata nya karena kaget dengan suara Anan yang memanggil nya.
"Dad, di mana anak-anak kita ?" wajah nya terlihat panik, mencari dan mengkhawatirkan anak-anak nya setelah dia membuka mata.
Anan menolehkan wajah nya, membawa nya menatap ke arah box bayi.
"Mereka sedang tidur sayang.."
Cinta pun merasa tenang, sebagai ibu, dia bahkan tak ingin berjauhan dari anak-anak nya.
"Sayang.."
Dan lagi-lagi, suara sang suami mengejutkan nya, mengembalikan kesadaran nya dari lamunan memikirkan ke dua putra putri nya.
"Ada apa ?" Suara letih itu menjawab.
__ADS_1
"Terimakasih.." Sebuah kata yang terucap, genggaman tangan yang semakin kuat, dan kini memperlihatkan sebuah cairan bening yang keluar dari pelupuk mata laki-laki itu.
"Untuk apa ?" Bahkan Cinta pun tak mengerti dengan kata-kata Anan barusan.
"Kamu telah hadir dalam hidup ku, mewarnai hari-hari ku, memberiku sebuah kebahagiaan.." Anan menahan ucapan nya sebentar. "Kalian bertiga, adalah anugrah dari Tuhan paling indah dalam hidup ku.."
Cairan bening itu semakin mengalir deras, menumpahkan rasa bahagia yang tak lagi bisa dia ungkapkan dengan kata.
"Sayang.. Hadir dalam hidup mu, menjadi istri mu, menjadi ibu dari anak-anak kita adalah kehidupan yang aku inginkan, dan aku sangat bahagia untuk itu.."
Anan semakin menangis haru, menatap sendu pada wajah yang begitu menghangatkan. Dan kata-kata manis yang begitu menenangkan.
Anan bahagia..
Mengucap syukur beribu-ribu kali pada dunia yang begitu banyak memberi nya kebahagian.
Ini lah hidup yang sebenarnya..
Cukup dengan hal yang sederhana, tapi mampu memberikan rasa bahagia yang begitu sempurna.
Anan bangkit, berjalan menuju box bayi lalu mengangkat satu anak nya, dia kembali melangkah dan memberikan anak nya pada sang istri. Lalu dia pun kembali lagi dan mengangkat satu anak nya lagi.
"Sayang, mau di kasih nama siapa anak-anak kita ?" Anan berjalan sambil bertanya pada sang istri.
"Terserah kamu aja dad..!" Ujar nya pasrah. Siapa pun nama anak-anak nya, dia akan menyetujui jika itu Anan yang memberikan nya.
Anan kembali duduk di kursi di samping ranjang Cinta, dia tampak berpikir, mencari nama yang cocok untuk ke dua anak-anak nya itu.
"Gimana kalau... putra kita, Gleen Malik, dan Genna Malik putri kita"
Cinta reflek menatap Anan. Dia tampak berpikir sejenak, namun pada akhir nya dia menyetujui nama anak-anak nya itu.
"Nama yang bagus ! aku setuju.." Ujar wanita cantik yang kini sudah di panggil mommy itu.
Dengan senyum bahagia, Anan dan cinta sama-sama menggendong anak mereka. Sepasang suami dan istri itu begitu berterimakasih pada Tuhan, begitu lengkap kebahagian yang dia berikan untuk mereka.
.
.
.
.
.
...END...
__ADS_1
..._____...