
...___...
Andrian terbelalak kala mendengar ucapan Candra barusan. Bukan hanya laki-laki itu, Della yang sudah sadar juga mendengar nya.
Seketika Candra tercekat, terdiam saat tersadar akan apa yang baru saja dia ucapkan. Seperti nya dia sudah keceplosan.
"Can apa maksud nya !" Tanya Andrian sekali lagi, dia menyingkirkan Gleen dari hadapan nya dan sekarang dia berdiri di hadapan Candra.
"Papa.." Lirih Della memanggil Candra.
Candra menoleh, menatap Della yang terbaring di atas brankar. Apa yang harus dia katakan, mulut nya sudah kelepasan karena emosi tadi.
"Del.." Candra berjalan lebih mendekat, mengusap pucuk kepala gadis itu untuk menenangkan nya. "Gak usah banyak mikir yang enggak-enggak ya, kamu harus istirahat karena nanti malam kamu harus operasi" Tutur sang papa itu.
"Pa, tadi..-" Pandangan Della beralih menatap seorang laki-laki brewok di sana. Seorang laki-laki yang sama saat di cafe tempat nya bekerja. Perasaan nya sedikit aneh, seperti ada sesuatu tapi entah apa.
"Sayang, papa-"
"Apa gadis ini anak gue sama Della Can" Suara itu terdengar gemetar, antara berharap dugaan nya itu benar atau dia yang salah memahami atas ucapan Candra tadi.
Della terkejut, reflek menatap ke arah Andrian dengan tatapan yang menusuk.
Apa maksud nya semua ini ?
Candra benar-benar terbungkam. Bingung apa yang harus dia katakan. Harus kah dia mengatakan di depan Della dan Andrian bahwa sebenarnya mereka adalah seorang anak dan ayah.
"Pa.. apa maksud nya ini ?" Della bertanya sambil merintih kesakitan di kaki nya.
"Can.."
Begitupun juga dengan Andrian. Yang terus mendesak nya meminta sebuah penjelasan.
"Pa, tolong jelasin.." Pinta Della pada sang papa. Mata nya berkaca-kaca menatap Candra yang hanya diam saja.
"Papa.." Sekali lagi Della memanggil nya. Della memohon pada Candra untuk mengatakan yang sebenarnya. Dia menangis meminta penjelasan pada sang papa atas ucapan nya tadi.
__ADS_1
"Can jelasin semua nya Can jangan diem aja Lo !!" Andrian sudah merasa tidak sabar, dia melangkah mendekati Candra dan menarik kerah kemeja laki-laki itu.
Candra tertunduk, mungkin ini lah saat nya untuk Della mengetahui siapa papa kandung nya. Berat memang, mengingat bagaimana sikap dan perilaku Andrian di masa lalu. Candra hanya takut jika Della kembali di sia-sia kan oleh papa kandung nya lagi seperti dulu.
"Gue mohon Can, gue mohon...!" Suara Andrian terdengar gemetar. Dia sangat membutuhkan sebuah penjelasan atas ucapan Candra tadi.
Dengan pelan Candra mengangguk, menepis tangan Andrian yang masih menarik kerah kemeja nya.
"Iya, De-Della.. dia anak lo, sama Della" Ujar Candra dengan melirih di kalimat terakhir nya.
Andrian seketika lemas terkulai, tungkai nya terasa tak bertulang. Dia menghembuskan nafas nya dalam, mata nya berkaca-kaca, dada nya terasa sangat sesak, namun seperti ada sesuatu yang siap akan meledak di dalam nya.
Della...
Dengan gerakan pelan dia mengarah kan tubuh nya menghadap gadis itu. Gadis yang terbaring dengan luka patah kaki akibat keteledoran nya.
Dia..
Dia adalah putri nya bersama Della, anak yang sudah tidak dia akui dan dengan tega dulu dia membuang dan menyia-nyiakan nya.
"Kamu putri ku..." Gumam nya mendekati Della. Tangan nya terulur dan menyentuh pipi gadis itu.
...___...
Berkali-kali Genna mencoba menghubungi suami nya. Dia sangat ingin tahu bagaimana ke adaan Della sekarang. Tapi sekali pun laki-laki itu tak mengangkat telpon dari nya.
Menyebalkan !
"Ck ! kemana sih ni lakik !" Kecam nya membanting ponsel nya di atas kasur. Sudah tidak mengizinkan nya untuk ikut, tapi di telpon gak diangkat-angkat juga. Ngeselin banget..
Entah kenapa, perasaan nya jadi sangat sensitif terhadap suami nya itu. Pikiran nya selalu memikirkan yang tidak-tidak. Dia sangat merindukan nya saat laki-laki itu tak ada di samping nya.
Genna mendengus kesal, dia merebahkan tubuh nya miring dan menutupi diri nya dengan selimut, bahkan sudah jam 10 malam, tapi suami nya itu tak juga kunjung pulang.
...___...
__ADS_1
"Istri saya udah tidur bik ?" Tanya Candra pada sang bibik yang membukakan pintu. Pukul 11 malam, laki-laki itu baru menginjakkan kaki nya untuk pulang, dia menunggu di rumah sakit sampai operasi nya Della selesai.
"Seperti nya udah pak, tapi mbak Genna gak mau makan pak" Ujar sang bibik mengadu, karena berkali-kali bibik merayu sang majikan nya untuk makan tapi tidak pernah mau.
"Ya udah, bibik istirahat udah malam" Ujar Candra, lalu berjalan menaiki tangga menuju kamar nya.
Pelan-pelan Candra membuka pintu, tapi dia melihat kamar nya itu masih terang, namun dia menangkap sosok sang istri yang sudah tertidur pulas di atas kasur. Dia melangkah semakin dalam, menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
Setelah selesai Candra langsung naik ke atas tempat tidur, dia menatap Genna yang terpejam membungkus diri nya dengan selimut. Pasti istri nya itu sudah menunggu nya sejak tadi, dan bahkan dia juga sampai lupa untuk mengabari nya.
"Mas, kamu udah pulang" Genna membuka mata nya, menyadari jika sang suami sudah pulang.
"Sayang, kok bangun ?"
"Kamu lama banget sih pulang nya, aku nungguin dari tadi, di telpon juga gak di angkat !" Sungut perempuan itu kesal.
"Maaf sayang.."
"Gimana sama Della ? dia gak apa-apa kan mas ?" Tanya nya ingin tahu soal keadaan Della
"Della baru aja operasi sayang, tulang kaki nya patah" Ujar Candra menjelaskan.
Dan Candra pun menjelaskan semua nya pada Genna. Mulai dari siapa yang menabrak Della, hingga dia mengatakan pada Della bahwa Andrian adalah papa kandung nya.
...___...
Andrian dengan telaten nya merawat Della, mulai dari menemani nya setiap hari, hingga dia juga yang menyuapi nya makan. Andrian terus memberi Della perhatian dan semangat untuk bisa segera pulih dan kembali berjalan.
Ya, semenjak mengetahui bahwa memang dia benar-benar mempunyai anak dengan Della, dan anak nya pun saat ini ada di hadapan nya, karena ingin menebus semua dosa-dosa nya pada Della dahulu, maka Andrian sangat ingin merawat anak nya yang juga di beri nama Della, dia ingin menjadi seorang ayah untuk putri nya itu. Ya, meski tidak lah pantas untuk dirinya mengakui bahwa dia adalah ayah kandung nya, karena dulu, dia sudah membuang nya dan tidak sama sekali mengakui nya.
Namun tidak ada kata terlambat untuk seseorang mengakui dosa-dosa nya, selama masih bernafas, ia masih mempunyai kesempatan untuk merubah diri. Dan Andrian sedang mencoba melakukan nya, meski terkadang diri nya merasa tak percaya diri dan malu di hadapan putri kandung nya sendiri.
"Papa..." Lirih Della memanggil laki-laki itu.
...___...
__ADS_1