Cinta Sugar Daddy

Cinta Sugar Daddy
112~S3


__ADS_3

...___...


Hilma menatap Anan yang melangkah kan kaki nya keluar. Laki-laki itu pergi dengan kemarahan nya.


Tidak, mengapa semua nya jadi seperti ini.


"Mas.." Hilma melangkah mendekati Gleen yang terduduk di tepian kasur nya. Dia berdiri di hadapan laki-laki itu.


"Mas enggak seharus nya seperti ini !"


Gleen mendongak dan menatap wajah gadis itu.


"Mas kejar om Anan ya, mas harus minta maaf sama-"


"Cukup Hil !" Gleen menyentak. Dia bangkit berdiri menghadap Hilma.


"Mas, enggak baik melawan orang tua, apa lagi sampai memutus kan hubungan-"


"Gue enggak pernah putusin hubungan gue sama mereka Hil !" Sahut Gleen menghentikan ucapan Hilma. "Daddy yang yang buang gue, Daddy yang udah mutusin ikatan seorang anak dari ayah nya !" Ujar laki-laki itu.


"Tapi--"


"Udah ya.. !" Gleen meminta. Menatap raut wajah Hilma dengan manik yang serius.


"Ta-tapi tidak bisa seperti ini mas, saya tidak mau jadi perusak antara hubungan anak dan ayah.." Gumam Hilma. Ya, dia sangat merasa bersalah sekali akan hal ini. Iris wajah nya mengukir kan raut kesedihan di sana.


"Hil.." Gleen menyentuh pundak Hilma dengan ke dua tangan nya.


"Lo bukan perusak, lo nggak bersalah. Jadi please, udah. Jangan terus menerus merasa kalau lo itu adalah penyebab dari semua masalah ini !" Kecam Gleen menegaskan.


"Ya tapi-"


"Udah ya, ini udah jadi pilihan gue !" Ujar nya, meminta pada Hilma untuk tak lagi membantah nya.


"Kenapa mas Gleen melakukan ini ?" Dan pertanyaan gadis itu, membuat Gleen kembali berbalik saat dia akan melangkah pergi.


"Apa mas Gleen melakukan semua ini karena saya ?" Imbuh nya bertanya.

__ADS_1


"Mas enggak seharus nya melakukan ini, enggak seharus nya menentang ayah nya mas Gleen demi seorang gadis murahan seperti saya. " Manik mata nya menyorot lurus ke arah Gleen. Memandang wajah laki-laki itu dengan tatapan sendu nya.


"Gue enggak butuh nasehat lo buat jalan hidup yang akan gue pilih !" Sentak Gleen. Membuat Hilma terdiam menatap nya.


"Lo tu enggak salah, lo bukan gadis murahan Hil, lo tu punya harga diri sama kayak perempuan baik di luar sana." Tegas Gleen.


"meski lo kerja di Club' malem, dan lo pernah masuk ke rumah bordil, tapi gue percaya hati lo enggak pernah ada pada dunia lo !' Gumam laki-laki itu.


"Gue tau, gak seharus nya gue ngelawan orang tua gue. Tapi ini hidup gue, meski gue anak yang harus berbakti sama mereka tapi gue juga berhak untuk nentuin jalan kemana hidup gue akan melangkah."


Ucapan Gleen, semakin membuat Hilma terdiam


"Mungkin yang ada di pikiran mereka jalan gue ini salah. Tapi menurut gue, gak seharus nya kita menjauhi orang di saat kita tau seperti apa keburukan nya. Ibarat kata, se-gemuk gemuk nya ikan, pasti ada tulang nya. Dan se kurus-kurus nya ikan, pasti ada daging nya. Begitu pun juga manusia. Sebaik-baik nya orang, pasti ada buruk nya, dan seburuk-buruk nya orang, pasti ada sisi baik nya. Dan gue percaya, seburuk-buruk nya lo dari luar, pasti ada sisi baik dalam diri lo yang sesungguh nya."


Hilma tercekat. Suara nya benar-benar tak mampu untuk dia keluar kan. Namun tatapan nya terus memandang dan tak mau lepas dari wajah laki-laki di hadapan nya ini.


"Gue gak perduli orang mau anggap gue bego, atau apa lah.. karena menurut gue, pasti ada berlian di dalam keburukan-keburukan lo."


Hilma sungguh tak kuasa, gadis itu tak mampu lagi menahan cairan bening pada pelupuk mata nya.


"Orang buruk, enggak semesti nya di benci dan di jauhi, orang jahat, gak semesti nya jadi musuh. Gue yakin, lo orang baik yang lagi di selimuti oleh dunia lo yang kelam"


Hilma tertahan. Menunduk sambil mengusap aliran air mata di pipi nya.


"Tapi apa lagi ?" Gleen menyentuh dagu gadis itu dan mengangkat wajah nya.


"M-mbak Della, bu-bukan nya dia calon istri nya mas Gleen ?"


Gleen terdiam. Seketika memutuskan sorotan mata nya dari wajah Hilma. Laki-laki itu beralih, melangkah mendekat ke arah jendela kamar nya dan menatap lampu-lampu di tengah kota yang menyala menghiasi malam.


"Gue ngerasa bersalah banget sama dia Hil, gue ngerasa gue ini adalah cowok yang paling nyakitin hati dia !" Gleen bergumam, sorot mata nya menatap lurus membelah di antara gelap nya malam.


"Semenjak gue tahu kalo dia cinta sama gue. Gue menjauh, gue gak mau lagi kasih perhatian dan rasa sayang gue ke dia."


Hilma melangkah dan mendekat pada laki-laki itu.


"Bahkan gue selalu nunjukin rasa ketidak sukaan gue ke dia, gue cuek, seakan gue gak mau lagi perduli sama dia."

__ADS_1


Kini, bayang-bayang kesedihan Della tersirat dalam pikiran nya.


"Ke-kenapa mas ?" Tanya Hilma.


"Karena gue gak pernah bisa mencintai Della Hil, makanya gue menjauh. Bersikap cuek untuk bikin dia lupain gue, lupain perasaan cinta dia ke gue." Jawab nya.


"Semakin gue paksa buat naruh perasaan lebih ke Della, semakin gue gak ngerti sama alur hati gue sendiri. Gue merasa sikap dan perasaan gue tu palsu ke dia. Gue takut yang ada malah bikin dia baper, makanya gue jauhin dia"


"Tapi mbak Della itu baik mas, cantik, dia pantas banget buat mas Gleen." Ujar Hilma.


Ya, bahkan Della nyaris sempurna terlahir sebagai seorang wanita. Terlihat tak mempunyai kekurangan satu apa pun. Dia cantik, dan terlalu pantas jika menjadi istri nya Gleen.


Sementara diri nya..


Ah, lupakan saja soal diri nya yang bahkan tidak penting ini.


...___...


Fasilitas apartemen, mobil, debit card, dan apa pun itu yang di berikan Anan pada nya telah di kembalikan pada sang pemilik nya. Anan.


Ya, Gleen tetap pada pendirian nya. Laki-laki itu berubah 180 derajat dari yang takut kehilangan semua harta kemewahan nya, tapi kini dia melepaskan semua itu dengan cuma-cuma.


"Semua nya ada di sini." Gleen menaruh kunci mobil, debit card, kartu kredit, dan lain-lain nya tepat di meja di hadapan Anan.


"Enggak ada satu barang pun yang Daddy kasih buat Gleen lagi !" Ujar laki-laki itu.


"Oke !" Anan mengangguk, menarik semua barang-barang yang di berikan Gleen di hadapan nya.


"Kalau gitu silahkan pergi, dan saya harap kamu tidak akan pernah menyesali keputusan mu !" Ujar Anan menegaskan.


"Gleen tidak akan pernah menyesali nya !" Jawab Gleen dengan mantab.


.


.


.

__ADS_1


"Ck! kita lihat saja, mampu kah kamu bertahan tanpa apa-apa di luar sana !"


...___...


__ADS_2