
...___...
Mata nya masih betah menatap nya, menatap setiap inci wajah laki-laki itu. Rahang yang tegas, hidung yang mancung, serta alis hitam nan tebal yang laki-laki itu miliki. Rambut yang masih setengah basah membuat aura nya semakin memancar.
Sungguh..
Genna benar-benar merasa kagum menatap laki-laki itu.
"Genna !!"
Dan suara Tina yang memanggil membuat nya tersentak kaget. "Eh, i-iya Tante.." Jawab nya gelagapan.
"Roti nya sayang.." Tina menunjuk satu piring roti dan segelas susu yang sejak tadi sudah di antar kan oleh bibik untuk nya.
"Hah.." Genna masih linglung, sungguh seperti orang bodoh dia di sana.
"Roti kamu sayang..." Tina kembali menegaskan.
Dan Genna pun melihat sepiring roti bakar isi coklat ke sukaan nya dan juga segelas susu sudah terhidang di hadapan nya.
"Eh, i-iya Tante.." Ucap nya yang terlihat gugup.
"Kamu kenapa Gen ?" Dan kali ini, suara Risky lah yang bertanya.
Genna semakin gugup, di tambah lagi dengan orang yang dia perhatikan tadi tengah menatap ke arah nya.
"Em, em.. gak-gak apa-apa om" Ucap nya, lalu mengambil roti dan memasukkan nya ke dalam mulut nya.
...___...
Di dalam mobil
Hening, yang ada di dalam mobil itu. Mobil yang di kemudikan oleh Candra dan juga ada Genna di sana yang duduk di kursi samping kemudi. Mereka saling diam, sama-sama enggan untuk mengeluarkan suara nya di sana.
Candra hanya fokus menatap jalanan yang memang sangat ramai, karena hari akhir pekan, mungkin semua orang pun saling bepergian untuk berlibur. Sementara Genna, dia menatap keluar jendela mobil menatap kendaraan lain yang juga sedang berlalu lalang.
"Ekheemmm-ekheemm...!!"
Genna pun menoleh, menatap Candra sebentar, kemudian mengalihkan kembali tubuh nya menatap ke luar jendela.
"Gak mau melihat saya lama-lama seperti tadi ?" Ujar Candra yang membuat terkejut Genna.
Genna memutar tubuh nya, menatap Candra dengan raut wajah terkejut nya. "Ma-maksud om ?"
"Bukan nya kamu suka ya ngeliatin saya !"
Yang benar saja, apa mungkin laki-laki itu menyadari saat tadi di meja makan dia terus menatap nya.
__ADS_1
"Hah, ka-kata siapa ? gak usah ke pedean ya om !" Sungut Genna
"Cih.. kamu pikir saya gak tau !"
"Tau apa ?"
"Tau, kalau kamu suka ngeliatin saya diam-diam !"
Genna memalingkan tubuh nya, kembali menatap keluar jendela karena ingin menyembunyikan wajah malu dan rasa gugup nya.
Oh astaga...
Bisa-bisa nya sih laki-laki itu menyadari jika dia suka menatap dan diam-diam telah mengagumi nya.
"Kenapa ? bener kan ?" Dan ucapan Candra semakin membuat nya malu dan merasa salah tingkah.
"Enggak ! pede banget sih !" Cetus Genna tanpa menatap ke arah Candra.
"Udah deh.. ga usah malu-malu, akuin aja, di sini gak ada siapa-siapa kok, cuma ada kita ber-dua aja !" Dan Candra pun semakin ingin menggoda dan menjahili Genna.
"Apa an sih om !" Cetus Genna. 'ish... ni om-om mesum dan kepedean banget sih !' Gerutu Genna dalam hati.
"Hati-hati, nanti kamu bisa jatuh cinta loh sama saya !"
Genna membulatkan mata nya sempurna kala mendengar apa yang Candra kata kan barusan.
"Eh.. jangan salah, meski saya sudah om om gini tapi saya kan masih tampan, masih kuat, dan banyak loh cewek-cewek seusia kamu ini yang ngejar-ngejar dan antri buat jadi pacar saya !" Ujar nya yang begitu percaya diri.
Oh tuhan..
Boleh tidak sih dia menenggelamkan diri nya saja di dalam rawa-rawa atau parit. Melihat laki-laki yang sudah om-om dengan tingkat ke pedean nya yang kelewatan membuat Genna merasa mual. Eh, tapi.. dalam hati, Genna begitu mengagumi sosok om om yang menurut nya memang sangat tampan sih...
"Itu kan cewek lain, bukan aku ! lagian siapa juga sih yang mau sama om dan jadi pacar om ! ih.. ga banget !"
"Hati-hati loh kamu, di awal kamu ngomong seperti ini, tapi nanti pada akhir nya kamu bakalan jatuh cinta juga sama saya !" Ujar Candra yang sesekali sembari menoleh ke arah Genna.
"Gak bakal om gak bakal !" Tegas Genna.
"Kalau bakal.. gimana ?" Sahut Candra. "Hati manusia ga ada yang tau, dan hati manusia itu sangat gampang terbolak-balik nya" Imbuh nya.
"Gini deh.. gimana kalau kita taruhan .."
"Taruhan apa ?"
"Taruhan soal perasaan kamu yang bakal jatuh cinta sama saya atau enggak !" Jelas Candra. "Jadi gini, sekarang kan kamu bilang gak bakal jatuh cinta sama saya, tapi nanti kalau kamu sampai jatuh cinta sama saya, kamu harus membayar kekalahan kamu"
"Bayar ?"
__ADS_1
"Iya, bayar.."
"Berapa ?"
"Saya gak mau uang"
"Terus..?"
"Saya mau, kamu bayar kekalahan kamu dengan kamu melakukan apa pun yang saya mau, gimana ?"
"Tapi kalau om yang kalah, dan saya gak bakal jatuh cinta sama om..-"
"Sama, saya juga bakal melakukan apa pun yang kamu mau !" Sargah Candra memotong ucapan Genna.
"Oke ! Deal !" Ujar Genna yakin dan tanpa berpikir panjang lagi. Dia pun menyetujui taruhan yang di berikan oleh Candra dan mengulurkan tangan nya sebagai tanda persetujuan.
...___...
Sesampai nya di kediaman Adam Malik.
"Eh, loh.. kok ke rumah opa sih om !" Tanya Genna yang menyadari jika Candra telah membawa nya ke rumah Adam Malik, dan bukan pulang ke rumah nya.
"Kamu kan numpang di mobil saya, jadi terserah saya mau kemana dulu !" Ujar Candra, lalu membuka pintu mobil nya dan kemudian turun.
"Ish...!!! ngeselin banget sih tu om-om mesum !" Kesal nya menggerutui Candra yang sudah turun dan langsung berjalan masuk ke dalam rumah Adam dan meninggalkan nya.
"Awas aja ya... kita liat aja siapa nanti yang bakal menang di pertaruhan kita ! bakal aku buat kamu sengsara !" Ujar nya yang masih menggerutui Candra. Lalu, Genna pun turun dan ikut masuk ke dalam rumah Oma dan Opa nya itu.
Dan Genna pun semakin kesal, saat dia sudah berada di dalam rumah dan melihat betapa hangat nya kasih sayang Oma dan opa nya pada Candra. Sudah seperti cucu nya sendiri. Padahal, yang dia tau Candra bahkan bukan lah siapa-siapa nya.
"Apa kabar mu sayang.." Seru wanita tua yang tak lain adalah Maria. Tubuh yang sudah rentan itu berdiri di hadapan Candra dan menatap nya sendu, seolah dia tak percaya bahwa laki-laki tampan dan begitu berkharisma itu adalah Candra putra nya Risky, yang juga dia anggap seperti anak kandung nya sendiri.
"Seperti yang Oma dan opa lihat, Candra begitu baik" Jawab nya lembut.
"Oh..sayang..."
.
.
.
"Ish... apa an sih ! tu om om sok lembut banget !" Bahkan hingga kini, gadis itu masih begitu kesal dan terus menggerutui Candra.
...___...
Jan lupa kasih dukungan nya yah 😄 hehe 😁
__ADS_1