
Diana pulang kerumahnya dan melihat bu dan adiknya sudah meunggunya disana, mereka terlihat cemas karna semalaman Diana tidak pulang rumah. Namun saat melihat Diana yang seperti acak acakan ditambah lagi wajah dan lehernya banyak yang berubah dan ada tanda merah disama, membuat ibu Diana panik dan langsung menyusul putrinya kedalam kamar
"Dina, ada apa denganmu nak?, kenapa kamu sekacau ini?' tanya ibu Diana yang masuk kedalam kamar putrinya, terlihat Diana menahan tangisnya agar ibunya tidak khawatir padanya, namun itu semua sia-sia, Diana tidak kuat menahan masalah yang ia hadapi sendiri
dengan cepat, Diana memeluk ibunya dan menangis dipelukan ibunya, ia tidak tau apa yang akan dilakukan ibunya ketika tau apa yang terjadi pandanya, sungguh sangat menyakitkan yang ia rasakan
"nak, kamu kenapa?, ceritakan pada ibu pelan-pelan ya, jangan menahan diri, jangan pula memendam masalah sendirian, kamu harus terbuka pada ibu dan adikmu, hanya kita bertiga yang harus saling menguatkan sayang" ucap ubu Diana dengan mengelus rambut putrinya, ibu Diana tau kalau putrinya sedang dalam masalah berat, namun ia tidak ingin membuat putrinya merasa tertekan dnegan pertanyaannya
"bu.. maafkan Dina bu, Dina tidak bisa menjaga diri Dina sampai seperti ini" ucap Diana dengan airmata yang sudah menganak dipipinya, wanita itu sudah sangat hancur dan tidak tau harus memulai cerita dari mana
"ada apa nak?, ayo coba katakan pada ibu kamu kenapa. ibu tidak marahh, ibu tau kamu putri ibu yang baik" ucap ibu Diana sambil menatap wajah putrinya yang memang sangat kacau dan penuh tanda tanya
"bu... Diana... Diana...semalam Dina diper**kosa pria yang tidak Dina kenal bu, Dina dipaksa ketika masih ditempat kerja, maafkan Dina bu, maafkan Dina yang tidak bisa menjaga diri Dina" ucap Diana dengan tangisan yang kembali terdengar pilu, ibunya tidak mengatakan apapun hanya diam dan ikut menangis, merasakan apa yang dirasakan oleh putrinya
"tenang ya sayang, jangan menangis lagi. kamu harus kuat, maafkan ibu yang membuatmu diposisi ini, ibu yang salah tidak bisa melakukan apapun untuk kamu dan adikmu, kamu harus bekerja ditempat yang seperti itu hanya untuk memenuhi kebutuhan kita, maafkan ibu nak" ucap ibu Diana dengan tangisan sembari memeluk putrinya, mereka berdua menangis meratapi takdir yang begitu kejam untuk mereka
semesta kadang begitu, kejam sampai membuat kita terllau terpuruk dan penuh dengan airmata, namun kadang juga mendatangkan kebaikan sampai kita sujud syukur, kita tidak tau apa yang dipersiapkan, kita hanya bisa berdoa dan berjalan sesuai alur cerita kehidupan :)
__ADS_1
"tidak bu, Diana yang salah tidak bisa menjaga diri dengan baik, ibu tidak salah. Diana sudah seharusnya bekerja untuk ibu dan adek, ibu tidak salah" ucap Diana dan melepaskan pelukannya, ia melihat ibunya yang ikut menangis, sangat miris memang namun sudah terjadi, disesali pun tidak berguna
"jangan menangis lagi nak, kamu harus kuat. memangnya siapa pria itu, mengapa sampai seperti itu?" tanya ibu Diana agar tidak larut dalam kesedihan mereka, ia juga ingin tau bagaimana putrinya sampai mengalami hal menyakitkan itu
"Dina tidak tau bu, pria itu menyeret Dina kekamar dan mengunci pintunya, Dina tidak tau bagaimana dia bisa berbuat seperti itu, dia terlihat sangat menakutkan dan tidak membiarkan Dina keluar, dia bahkan memasukkan kunci kamar dalam sakunya, Dina tidak bisa berbuat apapun" kata Dina menceritakan semua apa yang terjadi
"dan tadi pagi, ketika Dina sudah bangun, Dina tidak menemukan pria itu, dia pergi begitu saja dan memebrikan sejumlah uang diatas meja, juga kartu nama dan surat, namun Dina membuang kartu namanya dan surat itu, Dina mengambil uangnya dan itu akan kita jadikan biaya untuk pergi dari kota ini bu" ucap Dina membuat ibunya hanya mengangguk paham, tidak ingin putrinya merasa trauma di kota ini
"kalau kamu ingin seperti itu, ibu dan adikmu ikut saja nak, kamu yang tau bagaimana keluarga kita" ucap ibu Dina dan membat Dina mengangguk paham, adiknya juga sudah selesai dengan sekolahnya dan dia bisa mnegurus pengobatan ibunya dikota yang akan mereka tinggali
"baik bu, secepatnya kita akan pindah, Dina mau memberitau ketempat kerja Dina dulu kalau Dina akan berhenti bekerja disana" ucap Dina dan meninggalkan ibunya, ia ingin hari ini selesai semuanya, gaji miliknya juga ingin ia ambil hari ini
"cepatlah Dar, nanti pesawatmu keburu pergi, jangan lama lama!" ucap Alfred yang menunggu anaknya, ia tidak ingin mmebuat Dar semanja dulu, kalau waktu kecil Dar masih biosa bermain main, tapi sekarang melihat Al yang sibuk sana sini dan Vin juga demikian, mau tidak mau Dar juga harus ikut membantu perusahaan
"wait pa, Dar harus membawa semua yang penting" ucap Dar dan mencari sesuatau namun ia tidak menemukannya, ia sudah cari diseluruh ruangan namun hapsilnya nihil, ia mencoba mengobrak abrik ranjang namun tetap nihil
"apa lagi yang kau cari Dar?, apa kau mencari nametag wanita itu?' tanya Alfred yang tau apa yang dicari oleh anaknya, padahal memang ia sendiri yang menjahili anaknya
__ADS_1
"dari mana papa tau?, apa papa yang mengambilnya?" tanya Dar memicingkan sebelah matanya kearah Alfred, pria itu langsung mendekati papanya dan bertanya dengan sungguh sungguh
"kenapa Dar?, kau bilang tidak ingin berhubungan dnegan wnaita itu, kenapa malah mencuri nametagnya dan membawanya, bagaimana jika wanita itu mencarinya" ucap Alfred sambil tersenyum smirk kearah Dar, ia ingin tau apa yang dipikirkan oleh Dar saat itu
"terserah papa saja, aku tidak butuh nametag itu, ayo berangkt!' ucap Dar dnegan ketus, tidak ada yang tau apa yang ia rasakan yang pasti melihat raut wajah Dar yang terlihat kusam dan sedikit marah berhasil mmebuat Alfred tersenyum menang
"kenapa lama sekali, kau bukan artis papan atas Dar!!" ucap Al yang kesal lama menunggu Dar yang katanya bersiap siap, mereka semua akan mengantar Dar kebandara dan setelahnya terserah Dar melakukan apa dinegara asalnya, Alfred akan terus mengawasi putranya dan melihat hassil kinerjanya sendiri
"kenapa mau menungguku, kalian saja yang pergi duluan" ucap Dar ketus, ia masih enggan untuk pergi, namun papanya tidak bisa dibantah, jika Alfrred menggatakan harus ya tidak ada bantahan atau suara yang memotong perintah itu
"ayo semuanya, jangan malah bertengkar disini" ucap Asya dan masuk kedalam mobil, sementara Kena dan Angkasa langsung melompat kepada Dar, bagaimanapun om Dar mereka yang terbaik jika ingin merasakan kesenangan dan tertawa
"om Dar, kapan kita main lagi?''tanya Kena cembert ingin menangis, ia sedih melihat Dar sedari tadi bahan amarah opa dan omanya, begitu juga daddynya
"nanti kalau om sudah pulang sayang, kamu tunggu saja oke?' ucap Dar dan mencium Kena, Angkasa juga demikian, ia malah ingin ikut dengan Dar agar melihat suasana negara Swiss katanya
"nanti kalau kamu sudah sekolah, daddy akan megantarmu kesana" ucap Al dan diangguki oleh putarnya, namun tetap saja Angkasa terlihat sedih, tidak akan ada lagi teman bertengkarnya dan bermainnya
__ADS_1
next
jangan lupa like,komen,dan favorit kalian readers💕💕💕