
...___...
Gleen terus menarik tangan seorang gadis pelayan itu menjauh. Tak perduli lagi masalah apa yang akan menimpa nya nanti karena sudah ikut campur urusan orang lain.
Gleen hanya merasa, gadis itu terlihat berbeda dari para gadis pelayan yang lain. Terlihat polos, seperti begitu terpaksa bekerja di club' malam itu.
"Lo gak papa ?"
Ia menghentikan langkah nya di luar area club'.
Gadis itu hanya menggeleng, tak berani membuka suara nya sedikit pun.
"Lo gak usah takut, gue bukan cowok kayak mereka !" Tegas Gleen.
"Ma-makasih mas, sudah menolong saya !" Ucap gadis yang bernama Hilma itu.
"Lo polos, lugu, kok bisa masuk ke club' kek gini ! Lo bisa cari kerja di luar yang lebih aman buat cewek kayak lo !" Tutur Gleen.
"Sa-saya terpaksa mas" Ujar nya bergetar, rupa nya Hilma mulai terisak.
"Terpaksa ?" Gleen menanyakan kejelasan nya.
Hilma mengangguk dalam ketertundukkan kepala nya.
"Kok bisa ?"
"Saya-"
"Hilma !!"
Hilma terjengit, buru-buru mengusap air mata nya saat teriakan seseorang memekikkan telinga.
"Ngapain lo disini hah ?"
"A-abang.."
"Buruan balik kerja, buang-buang waktu aja sih !"
Seorang laki-laki yang terlihat sangat berandalan, datang menghampiri Hilma dan menarik paksa tangan nya agar kembali masuk ke dalam club' untuk bekerja.
"Siapa lo, lepasin dia !" Gleen menepis kuat cekalan tangan laki-laki itu dari Hilma.
"Lo yang siapa !" tuding Andi pada Gleen.
"Bang bang.. udah bang, Hilma masuk tapi Abang jangan ribut ya bang !" Pinta Hilma memohon sambil menarik tangan Andi agar menjauh dari Gleen.
"Mas, terimakasih sudah menolong saya, tapi lain kali jangan ikut campur urusan saya lagi, sekali lagi terimakasih." Ucap Hilma pada Gleen.
Hilma terus menarik tangan Andi, kakak nya, dan membawa nya menjauh dari Gleen. Ia takut, jika di biarkan akan menjadi masalah yang berkepanjangan nanti nya.
Sementara Gleen, hanya terkekeh menatap Hilma yang pergi meninggalkan nya dan lebih memilih kembali masuk ke dalam club' malam.
__ADS_1
Entah masalah apa yang sedang dia hadapi, sehingga membuat nya secara terpaksa bekerja di tempat yang sangat tidak cocok dengan nya.
"Ah ! bodo amat lah ! peduli banget gue sama orang asing !" Gumam nya. Lalu melangkah ke arah mobil nya untuk segera pulang menemui sang keponakan yang sudah menunggu nya.
...___...
Pukul setengah 2 dini hari, akhir nya Gleen sampai di kediaman sang adik kembar. Ia di sambut oleh Genna dan Candra meski sudah sangat larut.
Gleen sengaja menuju rumah Genna karena menghindari sang Daddy yang sudah pasti akan mengintrogasi nya jika melihat lebam di wajah nya.
"Langsung aja istirahat, Kai baru aja tidur, dia ngamuk kamu gak dateng di acara ulang tahun nya !"
"Anak gue ! ya iya lah ngamuk !" sahut nya. Lalu melangkah menaiki anak tangga menuju kamar nya yang di siap kan Genna untuk Gleen kalau kalau laki-laki itu menginap.
"Jangan bilang Daddy kalo gue disini, besok siang gue udah mesti balik !" Teriak nya dari ujung tangga atas.
Genna terkekeh. Sudah pasti dia tau apa maksud ucapan sang kakak itu. "Dasar bandel !" Gerutu Genna.
"Huss, gak boleh gitu ah !" Sahut Candra.
...___...
Pagi-pagi, Gleen sudah bangun. Ia masih harus merayu sang keponakan atas keterlambatan nya untuk hadir. Mengingat, anak itu mengamuk tadi malam karena nya.
Di buka nya daun pintu kamar Kaireel pelan-pelan. Terlihat anak laki-laki itu yang masih terbaring menyamping memunggungi daun pintu. Seperti nya dia sudah bangun, tetapi karena ngambek jadi dia mengurung diri di kamar tak mau keluar.
"Happy birthday jagoan, happy birthday jagoan, happy birthday, happy birthday, happy birthday jagoan...!!"
Sontak Kaireel melejit bangun. Menoleh ke arah sumber suara dengan raut wajah yang terlihat sangat sumringah. Ia melompat dan langsung memeluk orang yang di tunggu-tunggu nya sejak tadi malam.
"Ummm jagoan uncle..."
"Uncle pulang ?" Tanya Kaireel antusias. Terlihat wajah nya yang begitu senang.
"Iya dong sayang, uncle pulang, kan keponakan uncle yang jagoan ini lagi ulang tahun.."
"Tapi uncle telat ! ulang tahun Kai sudah lewat !" Cetus nya yang tak kembali ramah.
"Jagoan.. Maafin uncle ya, uncle sibuk banget kemarin, jadi pulang nya telat !"
Kaireel mengangguk, begitu mudah nya untuk melupakan kekesalan nya sejak kemarin.
...___...
"Ekhem.. ekhem !!"
Gleen tak mengindahkan deheman seseorang di belakang nya. Ia justru terus asik bermain tobot X dan tobot R bersama Kaireel.
"Ekheemmm !!"
Dan sekali lagi, orang itu sedikit mengeraskan deheman nya. Hingga membuat Gleen tersentak dan seketika terdiam kaku kala mendengar suara seseorang yang sangat dia hindari.
__ADS_1
Gleen menoleh perlahan, menatap ke arah sumber suara lalu menunjukkan cengiran kikuk pada sang Daddy yang entah sejak kapan berada di belakang nya.
"Da-daddy.." Sapa nya sambil cekikikan.
"Kapan kamu datang !"
Astaga, jelas-jelas dia ini adalah anak nya. Bisa-bisa nya kedatangan nya di sambut pertanyaan dengan nada yang tak ramah dan dingin seperti ini. Sungguh membuat nya membeku.
"Ta-tadi malem Dad." Jawab nya.
"Opa.. uncle kesini mau rayain ulang tahun Kai.."
"Kai, opa mau bicara sebentar sama uncle Gleen, boleh ?"
Kaireel pun mengangguk.
...___...
Di teras depan rumah, Anan duduk di sebuah kursi sambil menikmati kopi nya. Ia menunggu anak bujang nya itu yang mungkin mengulur-ulur waktu untuk berbicara dengan nya. Yang beralasan pergi ke toilet segala.
"Dad.."
Akhir nya orang yang dia tunggu pun datang.
"Duduk !" Kecam Anan menatap tajam putra nya itu
Sungguh, ini suasana yang jauh lebih menegangkan ketimbang berhadapan dengan calon mertua.
"Kenapa muka kamu lebam-lebam gitu ?" Tanya nya tanpa melihat ke arah wajah nya lagi. Anan bahkan hanya fokus pada koran di tangan nya.
Ya ampun, bisa tidak sih dia lari sekarang juga. Menjauh dari sang Daddy yang siap akan mengintrogasi nya.
Demi apa pun, berhadapan dengan sang Daddy jauh lebih menyeramkan ketimbang langsung berhadapan dengan kegelapan, sepi, di tengah-tengah kuburan, sendirian.
Ah.. tolong...
Ia hanya berharap ada sang mommy yang akan datang dan menolong nya.
"I-ini..-"
"Berantem lagi !"
deg !
Belum sampai otak nya berpikir alasan apa yang akan dia katakan. Tapi ucapan Daddy nya itu membuat nya membeku tak mampu lagi untuk mengelak jika lebam pada wajah nya akibat hal lain. Bukan pertengkaran.
Gleen tercekat, tenggorokan nya terasa terhenti untuk mencerna suara nya lagi.
"Sampai kapan kamu mau terus bermain-main seperti ini !"
Plak !!
__ADS_1
Anan menaruh kuat lembaran koran ke atas meja. Mata nya tajam, wajah nya bahkan terlihat seperti akan menelan nya hidup-hidup sekarang juga.
...___...