
...___...
Genna menatap semua keluarga nya satu-persatu, mulai dari Daddy, mommy, hingga papa Risky dan mama Tina. Oma dan Opa nya juga ada, tak ketinggalan sang kakak pun ikut hadir
"Kenapa sih, muka kalian semua kok- Aduh.." Genna akan bangkit, tapi perut bagian bawah nya terasa keram, membuat nya mengurungkan niat untuk duduk.
"Sayang, jangan bangun dulu" Lirih Candra.
"Iya nak, kamu harus istirahat.." Kali ini suara Cinta, wanita itu berjalan mendekati Genna lalu mengusap pucuk kepala nya.
Siapa yang tidak sedih dan kehilangan, bukan hanya Candra dan Genna saja yang merasa senang dan bahagia saat tahu jika Genna hamil, tapi hanya dengan waktu yang sebentar mereka harus menerima kabar jika Genna telah keguguran.
"Mom.." Genna menatap wajah Cinta.
Cinta tak kuasa menyembunyikan kesedihan nya, bagaimana pun, sebagai ibu Genna harus tahu jika dirinya sudah kehilangan bayi nya.
"Kenapa sih, ini ada apa ?" Tanya Genna dengan tatapan bingung.
Semua hanya diam, merasa tak punya kuasa untuk menjawab, memberi tahu nya.
...___...
Perempuan itu terbungkam kaku, tatapan yang kosong, dengan rasa hancur di dalam hati.
Genna menangis, menumpahkan air mata nya namun tanpa suara. Genna merasa dia hancur, merasa gagal untuk menjadi seorang ibu.
Dia terpejam, menahan sakit pada rongga dada nya karena kehilangan calon bayi nya.
Mengapa..
Mengapa Tuhan harus kembali mengambil nya di saat dia dan suami nya sangat bahagia akan kehadiran nya.
"Huuhhhh..." Genna membuang nafas nya dalam. Mencoba membuka mata namun terlihat buram oleh air mata nya.
__ADS_1
Genna sendirian, benar-benar merasa sepi sunyi, dan tidak ada lagi sosok calon bayi yang menemani di dalam perut nya yang sangat dia nanti-nanti kehadiran nya.
"Hiks..hiks..hiks.." Dia tak kuasa, benar-benar hancur oleh kenyataan yang memukul kuat diri nya. Genna benar-benar merasa diri nya sungguh tak berguna. Dia tidak mampu menjaga calon anak nya.
Di dalam kamar ini, dia mengeliling kan pandangan nya. Menatap setiap sudut kamar nya dengan mata yang berkaca-kaca. Begitu banyak angan-angan nya di dalam kamar nya itu. Mulai dari awal mula dia akan membawa pulang bayi nya, merawat nya, mendengar suara tangisan nya, hingga ber-canda gurau bersama Candra dan menjadi satu keluarga kecil. Papi, mommy, dan anak mereka. Pasti akan sangat menyenangkan dan ramai rumah nya jika di tambah dengan kehadiran sang buah hati.
Tidak,
Ketika dia tersadar dari sebuah angan-angan, tapi nyata nya dia harus menerima sebuah kenyataan yang sangat pahit. Ya, dia sudah kehilangan calon anak nya. Kebahagiaan nya pun ikut hilang, hidup nya terasa sunyi, hampa tanpa ada sosok si kecil meski dia belum bisa mendekap nya.
Lagi-lagi Genna menangis, buliran air mata terus membanjiri ke dua pipi nya. Dada yang semakin sesak, hati yang semakin berdenyut nyeri, membuat nya kian seperti tak mempunyai semangat lagi.
Kedua tangan nya bahkan tak pernah beralih dari perut nya, mengusap nya, berharap jika calon anak nya itu masih ada di sana dengan baik.
Sementara di sisi lain
Candra tertunduk di ambang pintu kamar nya, sedih, ikut menjatuhkan air mata nya saat menatap kehancuran sang istri.
Sedari pulang dari rumah sakit, istri nya itu hanya berdiam diri di kamar. Tak mau bicara, bahkan menolak untuk makan atau pun minum. Sungguh membuat Candra semakin hancur oleh semua ini.
Candra mengusap aliran air mata nya. Berjalan masuk ke dalam kamar dan tak lupa menutup pintu nya. Dia melangkah mendekat, merangkak naik ke atas ranjang mendekati sang istri.
"Sayang.." Panggil nya.
Namun Genna sedikit pun tak bergeming. Tatapan nya masih kosong, entah lah dia mendengar panggilan suami nya atau tidak.
"Sayang.." Kali ini Candra memanggil sambil menyentuh pundak nya.
Perempuan itu tersentak, menoleh kecil ke arah sang suami yang entah sejak kapan berada di samping nya.
"Makan ya.." Lirih Candra. Istri nya itu bahkan tidak menerima sedikit pun makanan di perut nya.
Dengan gerakan samar Genna menggelengkan kepala nya. Menolak akan tawaran makan oleh suami nya itu.
__ADS_1
"Gen.." Ini sungguh menyakitkan bagi nya. "Aku tahu kamu sedih, aku juga sedih. Kita sama-sama kehilangan calon anak kita, tapi kamu harus makan Gen, kasian tubuh kamu jika tidak makan sedikit pun" Ujar Candra.
Genna menarik nafas nya, membuang nya dan mencoba untuk meringan kan rasa sakit ini. Tapi sia-sia, kenyataan ini sungguh melukai hati nya sangat dalam.
"Mas..." Ia tertahan. "Anak kita.." Bahkan tangis nya semakin pecah. Membuat Candra semakin sakit melihat air mata sang istri.
Candra benar-benar tak kuasa, dia menarik tubuh Genna dan mendekap nya. Dia yang tadi nya berusaha kuat demi menyemangati sang istri, tapi di balik nya dia pun sungguh terasa sangat hancur oleh kenyataan ini.
"Sabar sayang, anak kita sudah bahagia di atas sana Gen" Gumam Candra mencoba menenangkan istri nya.
Di depan dada bidang sang suami, Genna menggeleng histeris. "Kenapa tuhan ambil anak kita mas, apa salah dia ? bahkan dia belum lahir..!!" Kecam perempuan itu.
"Ssttt, sayang.. gak boleh bicara begitu. Tuhan pasti punya rencana lain, tuhan lebih menyayangi anak kita sayang.." Tutur Candra yang ingin terus menguatkan Genna.
Sementara Genna, dia semakin larut oleh tangis yang begitu melukai hati Candra.
...___...
Semua orang ikut merasakan duka dan kehilangan calon keluarga baru sebagai anak dari Candra dan Genna.
Semua orang tengah berkumpul di kediaman Candra, mereka sama-sama ingin menghibur dan menyemangati kesedihan Genna atas kehilangan calon anak nya.
Tak terkecuali Della, yang juga sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Gadis itu perlahan-lahan sudah mulai bisa melangkah kan kaki nya di bantu oleh tongkat penyangga. Asalkan rajin terapi dengan terus belajar melangkah kan kaki nya, maka kaki nya yang patah bisa dengan segera untuk pulih kembali.
Tok..tok..tok..
Terdengar ketukan pintu dari luar. Buru-buru, Candra melepaskan pelukan nya dari Genna. Mengusap air mata perempuan itu dengan ibu jari nya. Dia tersenyum, mencoba memberi semangat pada Genna untuk tak lagi bersedih.
"Aku yakin kamu kuat, kasian anak kita kalau kamu terus seperti ini" Panjang lebar sejak tadi laki-laki itu mengucapkan kata-kata semangat, memberi motivasi kepada sang istri untuk bisa segera bangkit.
"Gak boleh nangis lagi yah.." Gumam Candra. Meski di dalam hati nya dia pun masih ingin menangis oleh rasa duka nya.
Dengan pelan Genna mengangguk.
__ADS_1
Candra tersenyum, mengecup pucuk kepala Genna penuh sayang. Dia turun dari tempat tidur nya untuk membuka pintu kamar nya yang di ketuk oleh seseorang.
...___...