
Hari ini, semua keluarga menikmati suasana di negara yang menurut mereka cukup asing, namun bagi Agatha dan Alfred biasa saja, mereka asli orang Swiss dan sudah biasa menikmati pagi hari yang cukup dingin untuk kulit
seperti biasa, dua anak kembar akan membuat ulah dan memancing keributan dirumah, Angkasa lagi lagi membuat adiknya menangis dan sudah pasti suara tangisan Kena menggelegar diseluruh ruangan rumah
"Angkasa!!! jangan menggoda adikmu lagi, sudah tau Kena tidak bisa diganggu",ucap Al yang pusing sendiri dengan kelakuan anak anaknya
"dia yang lebih dulu dad, dia menyebalkan",ucap Angkasa sambil berlari menuju Vin yang duduk bersama Chloe diruang tamu
"tapi kamu tidak boleh seprti itu,bagaimana pun dia adikmu",ucap Al yang juga ikut turun kebawah, dan menggendong Kena yang menangis sesenggukan
"tapi dia menyebalkan",lagi jawaban Angkasa sama dan membuat Kena semakin menangis keras
"kau yang menyebalkan", teriak Kena tepat ditelinga Al membuat pria itu langsung menghentikan langkahnya dan hampir saja tuli karna teriakan putrinya yang memekakkan telinganya
"astaga sayang, jangan berteriak seperti itu dedekat telinga daddy, bisa bisa daddy tuli karna suaramu yang melengking itu",ucap Al dan meletakkan Kena dikursi sofa, ia mencoba mengembalikan pendengarannya yang hampir tidak jelas lagi
"Kena, Angkasa kesini sebentar!!",ucap Asya yang datang dari atas sambil mengenakan baju tidurnya, ia baru saja bangun setelah perang dingin dengan suaminya diatas ranjang semalaman š š
"maaf mom",ucap Kena yang sudah tau apa arti panggilan mommynya, ia tau bagaimana intonasi suara Asya yang memanggil mereka
"maaf mom",ucap Angkasa juga, mereka langsung berdiri didepan Asya yang duduk disamping suaminya, wajah datar dan tatapan yang tajam, Al saja ngeri melihat raut wajah istrinya itu
"siapa yang menyuruh kalian seperti itu? hemm?",tanya Asya menatap anak anaknya satu persatu dengan tatapan yang tajam
__ADS_1
"tidak ada mom",jawab Angkasa dan Kena serempak, mereka bahkan tidak sanggup melihat Asya yang menatap mereka
"lalu kenapa setiap hari harus saling meneriaki, saling berantam,saling menyalahkan?",tanya Asya lagi
"maaf mom", hanya jawaban itu yang keluar dari mereka dan menundukkan kepala tidak berani menatap Asya, mommy mereka terlihat menyeramkan saat marah seperti itu, lagipula mereka berdua ini selalu berbuat onar dirumah, tidak di Indonesia tidak disini semuanya sama saja menurut mereka
"saling minta maaf dan berpelukan, janji tidak akan mengulanginya lagi" ucap Asya menyuruh anak anaknya untuk berdamai dan berjanji agar tidak mengulangi kesalahan yang pernah ada wkwkwkw
"minta maaf pada daddymu Kena, kamu membuat telinganya tidak berfungsi lagi" ucap Asya pada putrinya, kasihan juga Al yang harus menahan sakit ditelinga hanya karna suara putrinya yang begitu memekak hingga membuat sakit telinga
"maaf dad, Kena tidak sengaja" ucap Kena dengan menggemaskan dan terlihat lucu didepan Al, putri kecilnya itu membuat Al mleyot dan langsung mencium pipi putrinya, sangking gemasnya mmebuat Kena langsung menguabh raut wajahnya tidak suka dengan tingkah daddynya
"daddy, lepaskan Kena. Kena bukan anak kecil lagi dad!!" ucap Kena dengan mata tajam dan datar. menatap Al dengan tatapan yang tidak suka dan menyebalkan
"aku akan besar dad" ucap Kena menjawab ucapan daddynya, namu hal itu membuat semua yang ada disana tertawa dan gemas melihat tingkah Kena
berbeda dengan keluarga Chevalier, saat ini Diana sedang diambang putus asa. ia harus menerima jika dirinya disuruh dengan sengaja resign oleh atasannya, karna perusahaan tidak mau merekrut wanita hamil karna menurut mereka membahayakan calin bayi dan perusahaan tidak mau menanggung resiko yang akan terjadi
"maaf Diana, kami tidak mau menanggung resiko dari kamu yang akan melahirkan, lihhatlah kandunganmu sudah membesar dan tidak mungkin kamu harus memperkerjakan kamu sebagai OG dengan pekerjaan yang kasar" ucap HR perusahaan yang sengaja menyuruh Diana keruangannya dan membicarakan baik baik
"tapi bu..Ā saya butuh pekerjaan ini, saya tidak apa apa dengan kondisi saya mengerjakan semua pekerjaan saya" ucap Diana sambil menahan airmatanya yang sudah berada diujung kelopak matanya yang hampir saja ajatuh, kenapa takdir begitu kejam?
"tidak bisa Diana, kamu tidak lagi dipekerjakan disini" ucap HR dan memberikan sebuahh amplop yang berisikan gaji Diana bulan ini,
__ADS_1
"silahkan keluar Diana" ucap HR itu sambil tersenyum, namun jauh dalam lubuk hatinya ia kasihan dnegan Diana yang menangis setelah menerima gaji terakhirnya dibulan ini, bumil itu pasti sangat terguncang dan berpikir keras apa yang akan ia lakukan kedepannya
dengan berjalan letih dan lemas, Diana menelusuri setiap jalanan tanpa melihat lagi kemana arah langkah kakinya, tubuhnya yang kian berisi dan perut yang sudah membesar, ia berjalan dengan tertatih dan sangat lemasĀ ditengah pans teriknya mataharii, ia tidak peduli dengan hal itu lagi
"ibu, aku harus kemana bu?. aku harus berkata apa pada adek agar dia tetap bisa melanjutkan kuliahnya, ibu aku harus lakukan apa jika cucu ibu nanti datang kedunia" ucap Diana dengan airmata yang terus membanjiri pipinya, mata sembab dan tubuh yang kian melemah karna terlalu jauh berjalan
"bu.. siapa lagi yang menjadi sandaranku" ucap Diana, ia menghentikan langkahnya tatapan matanya sedikit buram dan tubuhnya tidak terasa oleng, namun sebelum tubuhnya jatuh kebawah ada tangan yang menahannya dan membawa tubuh Diana yang sudah lemas mendekat dikursi yang tidak jauh dari posisi mereka
"heii..heii.. bangunlah jangan pingsan disini" suara pria yang terdengar ditelinga Diana namun kepala yang pusing dan perut yang sudah lapar membuat Diana tidak bisa fokus, sampai akhirnya Diana pingsan dipelukan pria itu
"astaga, kasihan sekali wanita ini. siapa yang mmebuatnya sampai bisa selemah ini" ucap pria itu dan menggendong tubuh Diana kedalam mobilnya, ia berencana mmebawa bumil itu kerumah sakit terdekat
sampai akhirnya, pria itu membawa tubuh Diana yang lemah dan pingsan itu masuk kedalam, pria itu langsung menyuruh suster untuk menangani Diana secepatnya, ia khawatir melihat kondisi bumil itu yang snagat memprihatinkan
"cepat periksa dia, jangan sampai terjadi sesuatu dengan bayi dan ibunya" ucap pria itu, dengan cepat para suster langsung masuk kedalam ruangan dimana Diana dibaringkan didalam sana
pria itu adalah William Wijaya, pengusaha muda sukses yang mendalami dunia bisnis sampai umurnya sekarang 28 tahun, namun Wili bukanlah pria yang seperti kebanyak orang sukses yang memliki sifat yang arogant dan terkesan angkuh, Wili berasal dari keluarga yang kurang baik, broken home dan dibesarkan papanya sendirian, ia anak tunggal dan ibunya memilih pria lain ketimbang mempertahankan papanya yang dulu bangkrut
"bagaimana kondisinya sus?"Ā tanya Wili saat melihat suster yang menangani Diana keluar dari ruangan dimana bumil itu diperiksa
next
jangan lupa like,komen,dan favorit kalian ya readersā¤ā¤ā¤
__ADS_1