
...___...
Genna menangis, menatap pantulan diri nya di depan cermin dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi mulus nya.
Tubuh nya gemetar akibat tergugu. Entah lah.. Genna merasa dunia nya saat ini benar-benar hancur. Dirinya yang biasa nya begitu ceria, tak mempermasalahkan suatu apa pun yang menimpa nya, selalu tak perduli dan masa bodo, namun kali ini sesuatu yang terjadi pada nya benar-benar mengganggu pikiran nya.
Tok..tok..tok..
"Gen.."
Genna sedikit tersentak kaget, karena tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggil nya dan mengetuk pintu toilet.
"Genna.. ini Oma.." Dan di sana, adalah suara Sadifa yang memanggil nya.
Buru-buru Genna bangkit dari duduk tersimpuh di atas lantai. Dia menghapus sisa air mata nya lalu mencuci wajah nya agar tak terlihat jika dia habis menangis.
Cklek
Genna membuka daun pintu, namun bagaimana pun cara dia menutupi apa yang tengah dia rasakan, Sadifa tetap bisa melihat jika cucu nya itu sedang tidak baik baik-baik saja.
"Sayang .." Sadifa berjalan mendekat, berdiri di hadapan Genna lalu memeluk nya.
"Ada Oma disini sayang.." Gumam Sadifa seraya mengusap lembut rambut panjang Genna yang dibiarkan tergerai.
Dan Genna justru semakin menangis tergugu dalam pelukan Sadifa. Sungguh, dia benar-benar tak bisa menahan air mata nya yang terus saja ingin keluar.
Sadifa memeluk Genna semakin erat, terus mengusap lembut rambut nya dan berusaha menenangkan nya.
"Jika mau, Genna bisa berbagi sama Oma.." Tutur Sadifa setelah Genna merasa sedikit tenang.
Genna menarik tubuh nya, meregangkan pelukan mereka dan mengusap kembali air mata nya.
"Genna gak apa-apa kok Oma" ucap nya yang berusaha tersenyum dan berusaha agar terlihat baik-baik saja.
"Sayang, Oma faham bagaimana kamu" Tegas Sadifa.
Genna memalingkan wajah nya, mengerjapkan mata nya agar air mata nya bisa dia tahan dan tidak kembali tumpah.
__ADS_1
"Oma, untuk saat ini Genna hanya ingin sendiri, tapi terimakasih Oma sudah sangat perduli pada Genna" Ucap gadis itu.
"Sayang.." Sadifa tak kuasa melihat cucu kesayangan nya itu, tiba-tiba saja dia pun ikut merasa sedih. Sedih, karena Genna terlihat tak seperti biasa nya, yang selalu ceria, banyak bicara dan sering kali memberi tawa.
"Oma akan selalu ada buat Genna kapan pun Genna butuhkan" Titah Sadifa yang kembali menarik tubuh cucu nya kedalam pelukan nya.
"Terimakasih Oma.."
...___...
Makan malam pun sudah selesai, semua orang telah bubar dari meja makan. Ada yang duduk di taman, dan ada juga yang berkumpul di sofa ruang tengah untuk berbincang-bincang.
Sementara Anan, dia tengah duduk di ruang kerja sang papa sambil menunggu kedatangan Candra.
Tok..tok..tok..
Terdengar suara pintu yang di ketuk seseorang, dan Anan pun langsung mempersilahkan orang itu untuk masuk.
Dan benar saja, sosok Candra lah yang terlihat di sana.
"Om.." sapa Candra saat dia membuka pintu.
Candra pun melangkah masuk, tak lupa menutup pintu nya kembali. Dia berjalan mendekat ke arah Anan lalu duduk di kursi yang bersebrangan dengan meja di depan laki-laki itu.
"Ada perlu apa ya om, panggil saya ?" Ujar Candra bertanya.
Anan menghembuskan nafas nya dalam, menegakkan tubuh nya dan menatap serius pada Candra.
"Ada sesuatu yang penting yang harus saya bicarakan sama kamu" Tutur Anan serius.
Candra terdiam kaku, apa sebenarnya yang akan Anan bicarakan. Ekspresi nya begitu serius, tak pernah Candra menjumpai Anan yang seserius ini.
"Boleh om.." Titah nya
...___...
Di malam yang gelap dengan penuh bintang di atas awan sana, begitu indah menghiasi kegelapan.
__ADS_1
Namun hati seorang gadis belia malam ini sedang tak seindah bintang-bintang di atas sana. Hati yang biasa nya penuh warna namun kali ini terasa begitu gelap.
Genna, berdiri di pinggiran kolam di sebuah taman yang ada di rumah pak Adam dan Bu Maria. Menyendiri, tak ingin bergabung pada keramaian, bahkan juga tak ***** makan.
Menikmati tiupan angin yang cukup kencang yang begitu menusuk kulit nya, rasa dingin benar-benar menyeruak ke tubuh nya yang hanya memakai baju dress tanpa lengan berwarna hitam.
"Malam ini dingin banget.." Ujar seseorang dari arah belakang yang membuat Genna sedikit terkejut.
"Masuk yuk, nanti kamu masuk angin" Imbuh seseorang itu yang tak lain adalah Candra.
Genna mengalihkan pandangan nya dari menatap laki-laki itu sebentar. Kembali menatap ke depan dan diam tanpa ingin menjawab ucapan Candra.
Melihat Genna yang hanya diam tanpa suara, membuat Candra semakin merasa bersalah pada gadis itu.
"Gen, saya..-"
"Cukup !" Sargah Genna menghentikan Candra.
Genna memutar tubuh nya, menghadap Candra dengan wajah yang terlihat masam.
"Aku mau tanya, apa om akan menerima perjodohan itu ?" Ujar Genna dengan suara nya yang gemetar.
Candra tercekat, menelan saliva nya yang terasa kelu. Dia menatap wajah Genna yang memang benar-benar terlihat muram. Tak seceria seperti biasa nya.
Candra memutuskan pandangan nya, membuang wajah nya dari tatapan Genna yang sedang menunggu jawaban dari nya. Candra merasa bingung, ini benar-benar sangat sulit untuk dia katakan.
"Om.." Dan suara lirih Genna kembali terdengar, dia benar-benar sangat menantikan jawaban atas pertanyaan nya pada Candra.
Candra kembali menolehkan wajah nya menatap Genna. Menatap ke dua manik mata indah yang di miliki gadis itu, sungguh mirip dengan Cinta, ibu nya.
Oh tuhan..
Apa yang harus dia katakan..
Harus kah dia mengatakan pada Genna bahwa dia menerima perintah dari Anan. Tapi.. jika ia, dia yakin Genna akan merasa sangat kecewa. Terlebih, Candra begitu memahami ke adaan gadis itu yang masih memiliki banyak mimpi-mimpi yang ingin dia wujud kan.
"Gen, saya.." Candra menghentikan ucapan nya, dia bingung, benar-benar sulit untuk mengatakan nya.
__ADS_1
..._____...
Jangan lupa, kasih like, komen, dan gift juga boleh ya 😄 hehe