
...___...
Di ujung tangga atas, tampak seorang laki-laki yang berdiri sembari menatap adegan yang penuh air mata di bawah sana.
Ya, itu Gleen. Kakak dari Genna yang akan pergi meninggalkan rumah itu mulai hari ini. Dan mulai hari ini, rumah nya akan kehilangan seseorang, dan mungkin mulai hari ini rumah itu akan terasa sepi tanpa nya.
Entah kenapa, Gleen merasa sesuatu yang tak biasa di dalam hati kecil nya. Dia merasa ada rasa tak rela jika adik nya itu akan pergi. Memang dia tak pernah akur jika terus bersama dengan Genna, tapi melihat Genna yang akan pergi, membuat hati nya kian ikut merasakan kesedihan nya.
Gleen pun melangkah kan kaki nya menuruni anak tangga, menenteng satu paper bag di tangan nya yang akan dia berikan untuk Genna sebagai kado pernikahan nya.
"Dek.."
Dan suara laki-laki itu, membuat Genna reflek melepaskan pelukan nya dari Anan. Dia mengusap air mata nya dan menoleh ke arah sumber suara yang memanggil nya dengan sebutan yang tak biasa.
"Buat kamu.." Tutur Gleen seraya memberikan paper bag yang dia bawa untuk Genna.
Genna terdiam, mata nya masih berkaca-kaca menatap laki-laki itu. Dan untuk sejenak, tatapan ke dua saudara kembar itu saling bertatapan. Memandang haru dan tak seperti biasa nya yang penuh dengan kebencian.
"Maafin kakak ya.." Gumam Gleen lagi yang justru semakin terdengar begitu hangat di telinga Genna.
Karena tak kuasa menahan perasaan nya, Genna menangis haru seraya menubruk kan diri nya memeluk sang kakak yang ada di hadapan nya itu.
Genna tergugu di dalam pelukan Gleen sang kakak, entah kenapa tiba-tiba saja hati nya terasa sangat berat untuk pergi, meski selalu bertengkar dan saling membenci satu sama lain, namun di dalam hati kecil mereka masih tersimpan rasa untuk saling menyayangi.
Gleen ikut merangkul kan ke dua tangan nya pada tubuh sang adik, jarang-jarang atau bahkan tidak pernah dia sedekat ini dengan nya. Dan memang, rasa nya begitu indah jika saling menyayangi seperti ini.
"Maafin kakak ya dek.." Gumam Gleen lagi.
Genna melepaskan pelukan nya, menatap lekat lekat wajah sang kakak yang terlihat sedih saat ini.
"Lo kenapa sih baru bener hari ini di saat gue mau pergi !" Tutur nya pada sang kakak.
"Em.. gue.."
"Gue tu cuma pengen lo tu sayang sama gue sebagai adik lo, perhatian di perlakukan layak nya sodara. Bukan kaya musuh tau gak !" Gerutu nya sembari memukul pelan dada bidang kakak nya.
__ADS_1
"Iya iya, gue minta maaf dek, mulai sekarang gue bakal lebih perhatian sama Lo" Ujar Gleen sambil mencoba menghapus sisa-sisa air mata adik nya.
"Ga perlu..!!" Sentak nya.
"Kenapa ? jangan bilang lo ga butuh lagi perhatian dari gue karena udah ada yang perhatiin lo !" Ujar Gleen.
"Ih..!!"
"Ya udah, ni ambil. Kado pernikahan buat Lo dari gue" Tutur nya, sembari memberikan paper bag yang belum di terima oleh Genna sejak tadi
"Di pake nanti malem ya.." Imbuh Gleen berbisik di depan telinga Genna.
...___...
Di dalam mobil
Genna hanya diam tanpa suara, menatap keluar jendela mobil melihat keramaian kota dengan banyak nya orang yang beraktivitas.
"Gen, mau makan dulu ?" Dan suara Candra yang terdengar pertama kali memecah keheningan di dalam mobil itu
"Terserah.." Ucap nya tanpa mengalihkan perhatian nya.
Sesampai nya di sebuah tempat makan terdekat, Candra pun memarkirkan mobil nya. Dia turun dari mobil di ikuti Genna di belakang nya. Ke dua orang itu duduk bersampingan dan menunggu makanan pesanan mereka datang.
"Gen.." Panggil Candra pada Genna.
"Em.."
"Kamu beneran mau kuliah ?" Tanya Candra, lalu menyesap kopi nya yang sudah lebih dulu di sajikan.
"Ya iya beneran lah om !" Jawab nya
"Kalau kamu bener-bener mau kuliah, saya akan izinin. Tapi kamu harus tetap ingat batasan di luar sana karena kamu sudah menikah" Ujar Candra. "Saya gak akan terlalu mengekang kamu seperti yang saya bilang, tapi saya cuma minta untuk kamu tidak melupakan tugas-tugas kamu sebagai seorang istri" Imbuh nya.
"Kalau gitu apa beda nya sama gak terlalu mengekang !" Sargah Genna.
__ADS_1
"Ya beda Gen, kalau kamu saya kekang, kamu cuma harus melakukan tugas kamu sebagai istri, gak boleh kemana-mana tanpa izin saya"
"Ribet banget sih !"
"Jadi gimana ? kamu bakal sanggup atau enggak bagi waktu kamu"
"Gampang lah om nanti !" Sahut Genna.
Tak lama, pesanan makanan mereka pun datang. Ke dua nya sama-sama melahap makan siang mereka dengan tenang.
Setelah selesai, Candra dan Genna pun buru-buru untuk segera kembali melanjutkan perjalanan mereka ke rumah baru, karena mungkin akan ada banyak tempat yang harus mereka bersihkan nanti.
Ketika Genna hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang yang memanggil nya.
"Genna !!"
Genna tertahan, dia tak jadi masuk dan menoleh ke belakang dan melihat siapa kah yang memanggil nya.
Tetapi untuk seketika gadis itu terdiam kaku, kala melihat siapa kah yang memanggil nya barusan. Ya, itu Aldo, kekasih nya yang sudah dia hindari beberapa hari ini dan belum sempat untuk mengakhiri hubungan mereka lagi
"Hai, kamu kemana aja berapa hari sayang, di telpon ga bisa, aku kangen" Ujar Aldo yang datang menghampiri Genna.
"Em, A-Aldo..!" Genna terbata, mengapa di saat dia bersama Candra malah bertemu dengan Aldo sih, pikir nya.
"Kamu gak kangen apa sama aku !" Ujar Aldo, dia pikir, sikap Genna kali ini tidak lah seperti biasa nya.
"Al, aku..-"
"Ekhem !!" Candra ber-dehem, menatap sepasang kekasih itu yang saling berbicara.
Genna pun tersentak, dia kebingungan. Harus berbuat apa dan bagaimana pun dia tak tahu.
"Eh, om ini-"
"Dia om aku Al !!"
__ADS_1
...___...
Nah loh π kok gitu bilang nya genπ kena karma bucin baru tau rasa loh.. π€