
...___...
Genna sudah rapih bersiap akan pergi ke kampus karena hari ini dia sudah mulai untuk kuliah.
"Gen, ke kampus nya aku antar ya.." Ujar Candra yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
"Iya om.." Ucap nya menjawab. Gadis itu tengah sibuk menyiapkan pakaian yang akan di gunakan Candra ke kantor.
"Makasih sayang.." Ucap Candra saat dia menerima pakaian yang di berikan oleh sang istri.
"Sama-sama.." Jawab perempuan itu, lalu dia berbalik dan akan pergi ke dapur membuat kan kopi untuk suami nya.
Dengan gerakan cepat, Candra mencekal lengan Genna dan menarik nya hingga Genna berbalik dan menubruk tubuh Candra yang kekar. Buru-buru, laki-laki itu mendaratkan ciuman pada bibir sang istri.
"Om.." Keluh Genna.
"Mulai sekarang wajib ya kasih ciuman pagi-pagi, seperti yang kamu bilang kemarin-kemarin, aku mau sarapan nya cium aja.." Ujar Candra
"Ish, apa an sih om.. kapan aku pernah bilang gitu.." elak Genna.
"Pas kamu demam tinggi.." Jawab Candra
Genna membulatkan mata nya. Jangan-jangan benar apa yang di katakan Candra, bahwa dia telah mengatakan hal-hal yang tidak dia sadari saat demam.
"Mana mungkin sih aku bilang gitu. Udah ah, aku mau ke dapur dulu" Ucap Genna yang akan berlalu pergi.
"Tapi beneran loh Gen, kamu bilang gitu pas demam" Ulang Candra sedikit berteriak. Dia tersenyum kecil saat mendapati Genna sang istri yang kembali malu-malu.
Di dapur
__ADS_1
Genna langsung membuat kan kopi untuk Candra, dia sudah mulai sedikit terbiasa dalam hal kecil untuk sang suami. Genna pikir, mungkin dengan hal-hal menyenangkan laki-laki itu dia bisa merayu nya agar tetap mengizinkan dia hidup bebas di luar sana dan juga untuk kuliah.
Candra pun datang, dia langsung duduk di kursi meja makan dengan kopi sudah siap di meja.
"Sarapan nya om" Genna datang dan memberikan beberapa potong roti untuk Candra. Dia pun ikut mendudukkan diri nya di samping laki-laki itu.
"Buat kamu Gen.." Candra menyodorkan sebuah kartu kredit tanpa limit ke hadapan Genna.
Genna terkekeh, menatap kartu kredit itu dan Candra secara bergantian. "Apa ini ?" Tanya nya
"Kartu kredit buat kamu" Ucap nya.
"Iya, tapi kenapa om kasih ini ?" Tanya nya balik
"Ya buat kamu pakai beli kebutuhan kamu Gen, kamu kan istri aku, jadi semua kebutuhan kamu biar aku yang tanggung" Ujar Candra, lalu meraih roti yang di buat kan Genna dan memakan nya.
"Kaya nya gak usah deh om, aku punya sendiri" Tolak nya seraya menyodorkan kembali kartu kredit pemberian Candra ke hadapan nya.
"Gen.." Candra menghela nafas nya. menatap gadis yang entah lah kenapa bisa benar-benar sangat polos."Kita sudah menikah, kamu sudah menjadi istri aku, sudah kewajiban aku menafkahi kamu secara lahir dan batin, semua kebutuhan kamu itu sudah menjadi tanggung jawab ku.." Jelas Candra.
Genna pun mengangguk-anggukan kepala nya meski dia sama sekali tak faham akan ucapan Candra. Ya, lebih tepat nya Genna sama sekali tidak perduli harus seperti apa hidup dalam sebuah pernikahan.
"Hari ini yang mau kerja datang, jadi mulai hari ini bibik yang akan mengerjakan tugas rumah, kamu fokus kuliah aja.." Titah Candra, dia mengatakan sembari mengusap lembut ujung kepala Genna.
Genna menatap wajah Candra yang sedang tersenyum manis pada nya. Entah mengapa, hati nya begitu tersentuh menatap senyum itu, namun lebih merasa bersalah karena Genna sedikit memanfaat kan nya agar dia bisa hidup bebas dan bisa tetap kuliah mengejar impian nya.
Tidak, tak seharus nya dia seperti ini. Candra begitu baik dan tulus pada diri nya. Lalu mengapa dia tidak membalas nya dengan ketulusan, tapi malah dengan sebuah perhatian yang palsu, hanya demi sebuah kebebasan dan kuliah, harus kah dia menipu laki-laki yang dia tahu telah mencintai nya itu ..
"Nanti, kamu gak usah lagi pakai kartu kredit punya kamu, pakai aja yang aku kasih untuk semua kebutuhan kamu ya.." Ucap laki-laki itu lagi. Terdengar lembut dan sangat menghangat kan di telinga. Benar-benar bukan Candra yang dia anggap sebagai laki-laki paling menyebalkan seperti sebelum nya.
__ADS_1
"Udah hampir jam 7, kita berangkat yuk, nanti kamu telat.." Ujar Candra, dia bangkit dan berjalan ke arah ruang tengah dan tak lupa mengambil sepatu nya.
...___...
"Nanti pulang jam berapa Gen ?" Tanya Candra sebelum Genna turun dari mobil.
"Sekitar jam 3 mungkin om" Ucap Genna menjawab.
"Ya udah, nanti aku usahakan jemput kamu ya" Ujar Candra
"Om kan kerja-"
"Gak apa-apa, nanti aku jemput" Sargah Candra
Genna pun mengangguk. Tapi seketika dia di buat membelalak saat Candra kembali mengecup bibir nya tanpa permisi. Setelah nya, dia juga mengecup kening nya sebelum dia mengatakan menyuruh nya agar cepat-cepat turun dan masuk kelas.
"Hati-hati ya, belajar sungguh-sungguh.." Ucap nya mengingatkan.
Genna hanya mampu mengangguk kan kepala nya. Dia turun dari mobil dan berdiri sejenak dan menatap kepergian mobil Candra hingga tak lagi terlihat oleh mata nya
Genna tertahan dalam diam nya. Dia berjalan ke arah kursi kosong dan duduk di sana. Dia terdiam, merenung seperti ada sesuatu yang mengganjal di pikiran nya.
Genna menghela nafas nya, mungkin kah dia sudah benar-benar bersalah pada suami nya itu. Menuntut dari nya sebuah kebebasan serta bersikeras kuliah yang sebenar nya tak perlu lagi untuk dia perjuangkan. Dia sudah menikah, dan sebenar nya, jika dia berterus terang ingin lebih bisa hidup di luar tanpa batasan dan perbedaan pada Candra, mungkin bisa saja laki-laki itu mewujudkan ke ingin nya untuk bergaul dengan orang-orang lain layak nya orang-orang pada umum nya.
Ya, Genna hanya merasa bosan hidup dalam sebuah penekanan dari orang tua nya yang selama ini selalu keras pada nya. Melarang nya keluar sendirian, melarang nya bergaul dengan orang sembarangan, dan membatasi nya melakukan sesuatu di luar sana tanpa pengawasan.
Genna ingin bebas, ingin merasakan kehidupan di luar tanpa batasan, perbedaan, dan tanpa pengawasan yang benar-benar membuat nya terasa seperti terkekang di sebuah penjara. Genna merasa muak ketika dia menuntut sebuah kebebasan pada sang Daddy, dan Daddy nya berkata bahwa dia melakukan semua ini pada nya hanya demi kebaikan nya dan karena Anan sangat menyayangi nya.
...___...
__ADS_1