
...___...
"Lo ngikutin gue ??" Gleen memekik, bertanya pada Della mengapa dia sampai mengikuti nya ke tempat ini.
"Lo ngapain ngikutin gue sih ?" Tanya nya.
"Aku-"
"Gue gak suka ya elo yang kayak gini Dell !" Ucapan Gleen mencekam. "Ngapain coba ngikutin gue hah ?" Tanya laki-laki itu sekali lagi.
"Aku pengen tau kamu ngapain aja keluar setiap malam Gleen !" Ucap Della sembari menatap mata Gleen.
Gleen membuang nafas nya kasar. Memegang kepala nya merasa pusing dan tak habis pikir pada Della itu.
Berlebihan sekali pikir nya.
"Gue kesini cuma kumpul sama semua temen-temen gue. Dan malem ini kenapa gue buru-buru keluar karena temen gue ulang tahun !" Ujar nya sembari menunjuk arah ruang VVIP tempat nya berkumpul bersama teman-teman nya.
"Lo pikir gue ngapain sih ?" Ujar nya yang benar-benar kesal pada wanita itu
"Lo liat." tangan nya menunjukkan ke arah Hilma. "Gara-gara nolongin lo, Hilma hampir mati ! tapi lo, lo bahkan gak berusaha buat nolongin dia !" Ujar Gleen meninggi kan suara nya.
"Aku -"
"Semua ini karena keposesifan lo tau gak !" kecam Gleen. Tatapan nya terlihat sengit menatap Della.
Gleen melanjutkan langkah nya mendekati Hilma. Mengangkat gadis kecil itu dan berniat akan membawa nya pergi.
__ADS_1
"Gleen, Gleen.." Della mengikuti langkah Gleen yang membopong Hilma. Hingga laki-laki itu berhenti di dekat mobil nya dan memasukkan Hilma ke dalam nya.
"Gleen, dengerin aku dulu Gleen. Aku minta maaf.." Pinta Hilma, yang bahkan sama sekali tak di per-dulikan lagi oleh Gleen.
"Gleen !"
Gleen menghentikan langkah nya saat dia hendak masuk ke dalam mobil nya.
"Lo kelewatan Dell, gue tau lo kayak gini karena di suruh bokap gue, dan lagi karena perjodohan kita. Tapi lo harus tau, gue enggak pernah setuju sama perjodohan ini, gue belom mau nikah. Dan satu lagi, gue gak pernah cinta sama lo Dell !" Lirih Gleen di ucapan terakhir nya.
"Lo salah faham sama sikap gue selama ini, gue simpati ke lo, perhatian ke lo, sayang sama lo, tapi itu semua hanya sebatas adik, gue anggap lo itu adik gue Dell, sama kaya Genna." Gumam nya melirih.
"Maafin gue karena mungkin kejujuran gue bakal nyakitin lo, tapi bagaimana pun, perasaan gue enggak bisa di paksain. Gue tetep enggak bisa cinta sama lo, gue enggak bisa terima pernikahan kita" Gleen tak lagi bisa menahan nya. Bagaimana pun, Della harus tau tentang perasaan nya terhadap nya. Gleen tak lagi bisa diam dan menyembunyikan semua ini.
Sementara Della terdiam mematung. Suara nya tercekat, dada nya sungguh merasakan sesak yang luar biasa hebat nya. Rasa nya nafas nya akan terhenti sekarang juga.
Sakit, perih sekali yang di rasakan hati nya. Hati nya terasa tertusuk oleh ribuan anak panah yang menghujam nya secara bersamaan.
Della menarik nafas nya. Mencoba mengatur detakan jantung yang terasa akan terhenti. Mencoba meringan kan rasa sesak dan perih di sana.
Tapi tak bisa, Della tak mampu memungkiri jika hati nya benar-benar sangat sakit sekali.
Tak terasa, bahkan air mata nya mengalir membasahi pipi nya begitu saja.
"Sekali lagi maafin gue, gue enggak ada maksud marah-marah sama lo tadi, gue cuma takut, gue terlalu khawatir sama lo karena Lo ngikutin gue sampe ke tempat ini." Ujar Gleen.
"Lo baru pertama kali dateng ke tempat kaya gini, lo sendirian, gak kenal sama siapa-siapa, kalo Hilma gak Dateng nolongin lo, dan gue juga gak dateng tepat waktu, lo pasti akan di sakitin sama laki-laki bajingan itu, dan Hilma. Hilma pasti udah mati sekarang !"
__ADS_1
Ya, Gleen tak berniat untuk menyalah kan Della atas semua kejadian ini. Dia hanya terlalu khawatir pada Della yang baru pertama kali menginjakkan kaki nya ke dalam Club' malam.
Jika dia tidak tertarik untuk mengetahui keributan dan apa yang terjadi di luar ruang VVIP tempat nya berkumpul bersama teman-teman nya tadi, mungkin Della sudah akan terjadi sesuatu pada Della, dan lagi Hilma. Mungkin gadis lemah dan malang itu sudah kehilangan nyawa nya.
"Maafin gue.." Gleen mencoba meraih tangan Della dan menggenggam nya. "Maafin gue karena udah sakitin hati lo" Gumam nya.
Della menggeleng. Menarik paksa tangan nya dari genggaman tangan Gleen.
"Kamu enggak perlu minta maaf. Kamu enggak salah." Ujar Della sambil menghapus air mata nya.
"Mungkin aku yang terlalu berlebihan, dan benar apa kata kamu, aku salah memahami semua sikap kamu ke aku selama ini" Ujar Della yang mencoba menguatkan diri.
"Dan aku minta maaf, mungkin selama disini aku mengganggu mu, membuat mu tidak nyaman dengan kehadiran ku, aku minta maaf karena aku pun berlebihan menunjukkan perasaan ku" Della memalingkan wajah nya dari tatapan Gleen, mengedip-ngedipkan mata nya untuk menahan genangan air yang siap akan kembali tumpah.
Ya, jangan lah kembali menangis di hadapan laki-laki itu. Jangan menunjukkan kesedihan nya, kepatahan hati nya, kehancuran nya, sebab cinta nya yang terpendam selama ini telah bertepuk sebelah tangan. Sungguh menyakit kan.
'maafin aku Dell, aku tahu kamu sakit. Tapi aku sungguh tidak bisa memaksa kan hati ku untuk mencintai mu..' Gumam Gleen dalam hati.
"Tapi gue harap, setelah lo tau semua ini, lo jangan membenci gue ya. Jujur gue gak akan sanggup kalo lo sampe benci sama gue" Pinta Gleen pada Della. Dia masih ingin berhubungan baik dengan gadis itu.
"Kamu apa an sih Gleen !!" Ucap Della sembari tertawa. "Mana mungkin aku benci sama kamu, ya enggak lah !" Ujar perempuan itu.
Gleen menatap sendu Della. Dia tahu jika Della sedang terluka karena nya, tapi sebisa mungkin gadis itu menyembunyikan sakit nya. Mencoba tersenyum di tengah-tengah luka yang perih, untuk memperlihat kan bahwa dia sedang dalam ke adaan yang baik-baik saja.
Gleen menarik tubuh Della ke dalam pelukan nya. Dia mendekap nya, menenggelam kan wajah gadis itu di depan dada bidang nya.
Gleen ingin menenangkan nya. Ia ingin tetap menjadi sandaran untuk Della dalam segala kesedihan nya. Luka nya. Dan kesakitan nya. Dia tahu, jika Della sedang butuh sandaran untuk kekecewaan nya.
__ADS_1
...___...