
...___...
Di malam yang penuh bintang, seorang laki-laki yang sudah berusia 36 tahun itu tengah berdiri di atas balkon kamar nya menikmati indah nya gemerlap langit malam. Tiupan angin kencang yang rasa dingin nya bahkan sampai menembus ke dalam tulang, namun tak membuat Candra kian beralih dari tempat nya.
Kelap-kelip nya bintang di atas langit membuat Candra begitu betah untuk berlama-lama menatap nya. Hingga tiba-tiba saja terbesit dalam pikiran nya tentang kehidupan nya sendiri.
Candra menghembuskan nafas nya dalam, tak terasa, sudah seusia ini namun dia masih betah untuk sendiri.
Sibuk dengan pekerjaan membuat laki-laki tampan itu enggan untuk memikirkan soal percintaan, apa lagi pernikahan seperti ucapan ke dua orang tua nya yang mendesak nya untuk seger menikah. Bukan tak tertarik untuk menikah, tapi Candra selalu memberi alasan jika dia masih ingin fokus bekerja. Dan sedangkan bagi Candra, menikah adalah sesuatu yang sakral dan bukan suatu permainan, sehingga harus membutuh kan persiapan dan memikir kan nya dengan matang.
Pernah gagal dalam percintaan membuat Candra tak ingin lagi untuk merasakan cinta yang menurut nya selalu mempermainkan hati. Satu tahun lalu, dia pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita. Sudah selama dua tahun menjalin hubungan namun kandas begitu saja karena ada nya orang ke tiga.
Candra tak begitu mempermasalahkan dan memikirkan nya. Hubungan sebagai sepasang kekasih kandas, dia menganggap nya yang berarti belum berjodoh. Di selingkuhi, dia pun tak perduli, itu arti nya Tuhan begitu baik pada nya yang menunjukkan bahwa orang itu tidak lah baik untuk nya.
Dan untuk sekali lagi, Candra menghembuskan nafas nya dalam. Tersenyum pada kegelapan dan menatap langit yang di penuhi kebahagiaan dengan ribuan bintang yang menghiasi.
Candra menatap jam yang melingkar di lengan nya, menunjukkan sudah jam 11 malam. Hawa dingin nya malam semakin menyerang, maka dia pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar nya.
...___...
Tak langsung mengistirahatkan tubuh nya, Candra keluar dari kamar nya dan menuju kamar Della yang berada di samping kamar nya. Rasa rindu nya belum sepenuh nya terobati pada putri nya itu.
Dengan perlahan, Candra membuka handle pintu, melakukan nya dengan pelan agar tak membangunkan putri nya. Setelah terbuka, Candra pun masuk dan tak lupa menutup kembali pintu nya.
Dia berjalan mendekati ranjang, penerangan di dalam kamar Della hanya menggunakan lampu tidur. Candra sengaja tak menghidupkan lampu agar tak mengganggu Della.
"Ya ampun, anak papa tidur nya !" Gumam Candra yang melihat Putri nya itu begitu bertingkah saat tidur. Selimut yang terjatuh ke lantai, seprei yang sampai terlepas dari kasur nya, hingga boneka-boneka yang bertebaran kemana-mana.
Dengan kesabaran nya, Candra memunguti boneka-boneka itu, mengambil selimut dan kembali membalutkan nya pada tubuh putri nya. Setelah selesai, Candra duduk di tepian tempat tidur, menatap sang putri yang tertidur membelakangi nya. Candra tersenyum, lalu tangan nya terangkat untuk mengusap pucuk kepala Della dari belakang.
"Seperti nya kamu sangat kelelahan, papa tak akan mengganggu mu lagi" Gumam Candra, lalu dia pun bangkit dari duduk nya dan mencium kepala Della sebelum dia pergi.
...___...
Seberkas sinar mentari pagi mulai kembali menyinari bumi, memberikan cahaya terang dan menggantikan malam yang begitu gelap. Sudah pukul 8 pagi, namun seorang gadis itu masih begitu betah memejamkan mata seraya memeluk guling dengan erat.
Tetap merasa sangat nyaman meski dia tidur bukan di kamar nya, rasa lelah karena tugas-tugas sekolah nya kemarin membuat nya langsung tidur dengan pulas saat dia menemukan bantal. Melupakan dimana dia sedang berada dan telah melupakan makan malam nya.
...___...
__ADS_1
"Del, Genna belum bangun ?" Tina bertanya seraya menyendok kan nasi dan lauk pauk ke dalam piring suami nya.
"Kaya nya belum deh nek" Ujar Della menjawab.
"Emang Genna nginep ?" Sargah Candra bertanya.
"Iya pa, dia tidur di kamar aku dari kemarin sore" Ucap Della.
"Uhukk..!!"
Semua orang menatap ke arah Candra, buru-buru Della mengambil kan segelas air putih untuk sang papa.
"Pa, pelan-pelan pa.."
"Tidur di kamar kamu ?" Candra mengulangi ucapan Della setelah dia meneguk air untuk meredakan rasa panas akibat tersedak tadi.
"Iya.." Jawab Della membenarkan.
"Terus kamu tidur di mana semalem ?"
"Tidur di kamar tamu, di bawah" Jawab Della.
Jadi..
Jadi yang dia cium semalam bukan Della ? melainkan Genna !
.
.
.
"Pagi om, Tante.." Sapa seseorang yang baru saja datang dengan penampilan yang masih berantakan, namun dengan terpaksa nya dia memberikan senyuman nya di sana.
"Eh.. Genna !" Ucap Tina yang menjawab sapaan nya. "Sini sayang duduk, kita sarapan bareng"
"I-iya, Tante" Ucap nya.
"Ayo makan Gen, semalam kamu kan gak makan" Sargah Risky menyahuti.
__ADS_1
"Iya om"
"Iya, kamu ketiduran dari sore sampe pagi dan gak makan malem loh !"
"Iya Tante maaf, Genna kecapekan"
"Karena kamu kecapekan, tidur nya nyenyak banget, jadi Tante ga tega mau bangunin kamu" Ucap Tina, dia menyerahkan sepiring nasi dengan lauk pauk untuk Genna.
Genna terperangah, menatap piring yang berisikan nasi dengan berbagai macam lauk pauk.
"Ayo di makan Gen, kamu pasti laper !" Ujar Risky lagi.
Genna masih diam dan tak segera menyentuh makanan nya.
"Gen, kenapa ?" Della yang menyadari pun langsung bertanya pada Genna.
"Gak suka ?" Tanya Tina.
"Bukan gitu Tante, tapi... Genna tidak biasa sarapan dengan nasi" Ujar nya lirih.
"Oh gitu.. ya udah tante suruh bibik buatkan roti buat kamu ya"
"Maaf Tante" Ujar Genna lagi.
"Gak apa-apa sayang.. Sebentar ya" Tina pun bangkit, berjalan ke dapur untuk memanggil bibik dan menyuruh nya membuatkan roti bakar dan segelas susu untuk Genna.
"Sebentar ya sayang, lagi di buatin sama bibik" Ujar Tina setelah dia kembali.
"Iya Tante" Ujar Genna seraya tersenyum tak enak hati.
"Gleen, di mana tante ?" Genna melihat ke sana kemari, namun tak juga melihat saudara kembar nya ada di sana.
"Gleen pulang semalam sayang, Tante cegah dia buat bangunin kamu untuk pulang" Jawab Tina.
'tega banget si Gleen tinggalin gue disini, gue kan ga biasa di rumah orang lain, canggung banget rasa nya' gumam Genna di dalam hati.
Tiba-tiba saja, pandangan nya terhenti pada satu objek. Genna membulatkan mata nya, teringat di mana kejadian kemarin sore bersama laki-laki itu.
...___...
__ADS_1