
...___...
BRAK !!
.
.
.
Daun pintu di dobrak paksa oleh seseorang dari luar. Mengejut kan si om om yang enggak tahu diri itu. Dia berbalik dari atas tubuh Hilma dan..
.
.
.
BUGH !!!
.
.
.
"Bangsat !!!! Berani nya lo sentuh dia setan !!"
BUGH !!
Siapa lagi kalau bukan si tukang ngumpat si Gleen.
Gleen mendobrak pintu dengan keras dan langsung melayangkan kepalan tangan nya pada laki-laki bajingan yang sudah tak tahu diri nya hendak merenggut kehormatan Hilma.
"Mati lo !!"
Gleen terus menghajar laki-laki om om itu. Menindih nya di atas lantai dan rasa nya tidak akan memberi nya ampun.
"Mas Gleen, cukup mas ! dia bisa mati !" Ujar salah satu anak buah Daddy nya datang dan mencoba menghentikan Gleen yang sudah seperti orang ke setanan memukuli orang.
"Lepasin gue, dia harus mati !!" Tuding nya pada om om yang sudah tidak berdaya, dia di tarik paksa namun terus meronta dan masih ingin menghajar laki-laki itu sampai mati.
"Cukup mas, mas bisa bermasalah jika menghajar nya sampai mati"
Gleen terasa kembali ke alam sadar nya. Pikiran jernih nya kian kembali mengalir. Nafas nya masih memburu, rahang nya juga masih mengeras karena rasa marah nya.
Hilma.
Dia teringat akan gadis itu. Dia mengalihkan tatapan nya dari si bajingan om om dan mencari di mana Hilma.
__ADS_1
"Hil...!"
Gleen melejit menghampiri Gadis kecil itu yang meringkuk di lantai di samping ranjang. Dia memeluk ke dua lutut yang di tekuk nya dan menenggelamkan wajah nya di sana.
"Hil.."
Gleen berlutut dan duduk mensejajarkan tubuh nya pada Hilma. Hati nya terasa begitu hancur melihat Hilma yang begitu berantakan, mengenaskan, menyedih kan.
Gadis malang itu tak lagi mengenakan pakaian nya dan hanya tinggal tangttop nya saja yang menutupi.
Gleen kembali mengepalkan tangan nya dan kembali ingin menghajar laki-laki bejad yang tak tahu malu itu. Namun beruntung, laki-laki bajingan itu sudah di bawa pergi oleh anak buah Daddy nya.
"Hilma.." Lagi-lagi Gleen memanggil nya. Mencoba menyentuh pucuk kepala gadis itu namun Hilma reflek menepis dan menjauhkan diri nya.
Gadis itu terlihat sangat takut dan hancur.
"Hil, ini gue Gleen !" Ujar Gleen mencoba menyadarkan Hilma yang masih berada dalam ketakutan nya.
"Jangan, jangan..." Gumam Hilma. Dia terus mengucapkan kata jangan, menggeleng kan kepala dengan Isak tangis karena rasa trauma.
"Gue enggak akan sakitin elo, elo jangan takut lagi." Gleen terus mencoba menyadarkan nya. "Gue Gleen Hil, coba lo liat gue !"
Hilma mencoba mengangkat wajah nya, mencoba menatap Gleen di tengah-tengah rasa ketakutan nya. Wajah gadis itu bahkan sudah banjir dengan air mata.
"M-mas, Gleen.." Lirih nya terbata-bata.
Gleen mengangguk. Membenarkan ucapan nya karena Hilma sudah mulai mengenali nya.
Gleen merasa tak kuasa. Dia menarik tubuh gadis kecil itu dan mendekap nya. Menenggelamkan tubuh mungil nya ke dalam kehangatan pelukan nya.
Gleen menitikan air mata. Sungguh menyakitkan nya semua ini untuk Hilma.
"Elo jangan takut lagi, ada gue di sini.." Gleen mengusap pucuk kepala nya. Menyisir-nyisir rambut panjang Hilma dengan jemari nya agar tak lagi berantakan.
"M-mas...Hiks..hiks.."
Siapa yang tidak sakit, siapa yang tidak hancur. Hilma merasa mental nya kini telah di hajar habis-habisan. Betapa kejam sekali dunia nya ini, menimpa kan sebuah permasalahan yang pasti akan menghancurkan masa depan nya.
"Lo tenang, ada gue di sini.."
Gleen menatap wajah hancur yang di banjiri air mata itu. Begitu menyedih kan nya dia.
Beruntung sekali dia datang tepat waktu tadi, dan sebelum Hilma benar-benar di hancurkan dan di renggut masa depan nya oleh laki-laki bajingan yang tak berperasaan itu.
"Ada gue di sini." Gumam nya lagi.
Melihat penampilan Hilma yang tak lagi beraturan. Gleen pun melepaskan jaket kulit nya dan memakai kan nya pada Hilma.
"Kita pergi dari sini." Ajak Gleen dan membawa Hilma berdiri.
__ADS_1
Namun ketika mereka akan melangkah keluar dari kamar itu, langkah Gleen seketika di hentikan karena sosok sang Daddy yang menghalangi nya.
"D-daddy.." Gleen bergumam saat melihat Anan yang berdiri di hadapan nya, menyilang kan ke dua tangan di depan dada dengan tatapan setajam pisau mengarah ke pada nya.
"Apa yang kamu lakukan di sini ?"
Pertanyaan nya terdengar mencekam. Membuat nya tercekat terasa tak lagi mampu untuk mengeluarkan suara nya.
Tatapan Anan beralih, menatap sosok gadis kecil yang menangis, berantakan dan tak beraturan di samping Gleen.
"Dia..??"
"Gleen di sini buat nolongin dia Dad !" Ujar Gleen.
Meski Anan begitu banyak mengerahkan semua anak buah nya untuk menyelamatkan Della, tetapi Gleen tahu jika Anan pasti tidak akan memperdulikan Hilma.
Dan ucapan laki-laki itu membuat Anan kembali menatap nya.
Bukan nya dia sekarang harus berada di rumah sakit untuk merawat luka-luka nya. Tapi tanpa sepengetahuan nya putra nya itu malah ada disini demi menolong gadis itu.
Anan menelan saliva yang terasa kelu. Menatap Gleen dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Maaf Dad, tapi Gleen tidak bisa untuk tidak perduli pada nya."
Gleen tahu, pasti Anan akan sangat murka mengenai apa yang di lakukan nya ini.
"Kamu tahu dan sadar apa yang kamu lakukan ?"
"Gleen sangat menyadari nya."
"Dan kamu masih tetap ingin membantah nya !"
"Gleen tau apa yang harus Gleen lakukan dad !" Ujar nya tanpa penyesalan.
Gleen tahu, semua yang dia lakukan adalah sebuah penentangan pada sang Daddy. Sebuah perlawanan terhadap nya. Ya, karena Anan tidak pernah suka pada Hilma dan menganggap semua masalah ini karena nya.
Anan mengangguk-anggukan kepala nya. Tersenyum sinis pada putra nya itu yang sudah dengan berani melawan nya.
Entah lah apa yang ada di dalam pikiran Gleen, putra nya itu.
"Kamu sadar akan apa yang kamu lakukan ini kan ?" Tanya Anan sekali lagi. Dia maju selangkah lebih dekat ke arah Gleen yang terus menggenggam tangan Hilma.
Pelan, Gleen menganggukkan kepala nya.
"Dengan bangga nya kamu membela gadis murahan ini !" Tuding Anan pada Hilma. Tatapan nya tajam, penuh ketidak sukaan terhadap gadis itu.
"Apa kamu tidak pernah bisa melihat siapa dan seperti apa gadis ini hah !!"
Sentakan Anan membuat Hilma ter-jengit kaget, selangkah mundur dan menunduk di belakang tubuh Gleen.
__ADS_1
"Melihat dan menilai seseorang tidak harus dari luar nya saja. Jika di luar dia terlihat buruk, namun belum tentu di dalam nya pun akan buruk !"
...___...