Cinta Sugar Daddy

Cinta Sugar Daddy
EXTRA PART 04~S2


__ADS_3

Libur di akhir pekan, Anan memutuskan untuk menghabiskan waktu nya di rumah. Menyempatkan waktu nya untuk bersama anak dan juga istri di tengah-tengah kesibukan nya di kantor.


Kini Anan benar-benar memikul tanggung jawab yang sangat besar. Memimpin Malik Group seorang diri tanpa bantuan dari sang papa. Di usia pak Adam yang sudah lanjut usia dan sering sakit-sakitan membuat nya harus lebih banyak istirahat di rumah.


Di dalam mobil


Keluarga dengan dua orang anak itu terlihat begitu tak sabar untuk segera sampai di kediaman pak Adam. Terdengar begitu berisik dengan debat antara saudara kembar yang selalu saja mengunggulkan pendapat mereka masing-masing. Tak ada yang mau mengalah, hingga membuat Cinta begitu terasa pusing.


"Udah udah.. Ga capek apa berantem terus..!" Cetus Cinta yang ingin menghentikan perdebatan antara Gleen dan juga Genna.


"Genna tu mom, ngeyel banget di bilangin !"


"Kamu itu yang ngeyel, gak mau ngalah banget sama cewek !"


"Tapi apa yang aku bilang itu kenyataan nya !"


"Yang aku bilang tau yang bener !"


"Stooppp !!" Sentak Cinta. "Bisa gak sekali aja rukun gak usah berantem ! Pusing tau gak mommy !"


"Gleen, Genna, duduk yang manis" Sanggah Anan menengahi.


Mendengar sang Daddy yang sudah angkat bicara, membuat ke dua anak itu memberengut diam dengan kekesalan mereka.


Tak lama, kini mobil yang membawa mereka telah sampai di rumah mewah pak Adam. Begitu Anan memarkirkan mobil nya di pinggiran jalan tepat di depan rumah, Gleen dan juga Genna langsung melompat berlari menerobos pagar yang baru saja di buka oleh satpam penjaga.


"Hey.. hati-hati jangan lari-lari gitu...!" Teriak Cinta yang bahkan tak lagi di pedulikan oleh ke dua anak nya.


"Mom.."


"Anak-anak kamu tuh, bandel semua..!" Cetus Cinta.


"Kan anak kamu juga, mana ada anak aku doang" Titah Anan. "Bikin nya berdua ya berati anak kita berdua dong..!" Seru Anan dengan santai nya.


"Auuu... sakit sayang..." Lirih Anan yang meringis kesakitan pada perut nya karena mendapatkan cubitan dari Cinta.


"Sembarangan banget kalo ngomong !" Bisik nya di dekat telinga Anan. "Ga liat kalo ada orang lain, malu tau !"


Oh.. Anan bahkan tak melihat jika ada orang lain di dekat mereka. Tapi, bukan Anan nama nya jika dia merasa bersalah dan mempunyai rasa malu. Dengan santai nya dia bersikap biasa saja di depan orang lain setelah dia mengucapkan hal yang privasi tadi.

__ADS_1


"Oma... Opa.."


Ke dua anak itu saling berlari seperti balapan untuk lebih dulu sampai pada Oma dan juga Opa nya. Saling berebut untuk memeluk ke dua nya.


"Sayang.. Cucu-cucu Oma.." Sapa Bu Maria memeluk ke dua cucu nya.


"Apa kabar oma, opa..?" Tanya Gleen dan Genna bersamaan. Meski tak pernah akur dan terus bersaing, namun ke dua nya terlihat kompak.


"Alhamdulillah.. Oma dan opa baik"


"Ma, pa..." Sapa Anan dan Cinta yang baru saja datang menghampiri. Mereka meraih tangan Bu Maria dan juga pak Adam secara bergantian untuk mencium punggung tangan mereka.


"Sayang..." Jawab Bu Maria.


"Apa kabar ma, pa..?" Suara lembut itu bertanya.


"Mama dan papa baik sayang.." Ucap Bu Maria menjawab pertanyaan menantu kesayangan nya itu.


Berbincang-bincang, dan saling melepas rindu karena sudah cukup lama mereka tak berkumpul. Karena kesibukan Anan membuat nya jarang sekali memiliki waktu untuk bersama keluarga nya. Seringkali Bu Maria dan pak Adam merasa rindu untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama mereka. Karena hanya bersama mereka lah hidup ke dua orang tua itu lebih terasa ramai dan bahagia di kala usia tua mereka.




Visual Gleen Malik dan Genna Malik ya 😁😁😁


Di sisi lain


Kini, mereka telah sampai di Indonesia. Mobil yang mereka tumpangi akan segera membawa nya di kediaman orang tua yang sangat Candra rindukan beberapa tahun ini. Tak pernah menyempatkan pulang hanya untuk melepas rindu pada ke dua orang tua nya.


Ada rasa bersalah, terlebih lagi di saat kepulangan nya dia membawa seorang anak kecil yang akan dia akui sebagai putri nya nanti di depan ke dua orang tua nya dan bahkan di depan semua orang nanti.


Candra tak pernah melepaskan genggaman tangan nya pada tangan kecil Della. Dengan tekad yang kuat serta demi menepati janji nya pada Della dulu membuat nya tak akan perduli apa pun yang akan terjadi nanti.


"Pa, kapan kita akan sampai ?" Suara kecil itu bertanya. Pikiran nya terasa tak sabar untuk segera sampai dan bertemu dengan orang tua sang papa yang kata nya adalah kakek dan juga nenek nya.


"Sebentar lagi kita sampai sayang.." Jawab Candra.


Hingga beberapa menit pun berlalu, akhir nya mereka telah sampai di depan kediaman orang tua Candra yaitu Risky dan juga Tina.

__ADS_1


"Akhir nya kita sampai.." Gumam Candra.


Candra dan Della pun turun dari taksi yang mengantar mereka. Setelah menurunkan barang bawaan, sopir taksi pun kembali melajukan mobil nya.


Candra terdiam untuk seketika. Memandang halaman rumah yang cukup luas dengan suasana yang sama seperti dulu. Beda nya, berbagai jenis tanaman bunga yang semakin tumbuh besar di sana.


Bukan waktu yang sebentar saat dulu dia meninggalkan rumah itu. Selama 5 tahun adalah waktu yang sangat lama untuk dia terus menahan rindu pada ke dua orang tua nya. Dan kini, dia telah kembali. Setelah bertahun-tahun memfokuskan diri nya untuk belajar di Singapura.


"Sayang..." Candra menatap Della. "Kita akan bertemu kakek dan nenek !" Seru laki-laki itu seraya tersenyum penuh binar.


Sudut bibir mungil itu berusaha untuk menarik senyum. Melihat sang papa yang sangat bahagia saat ini. Pastilah dia sangat merindukan orang tua nya.


"Kita masuk.." Seru Candra menarik tangan Della.


Terasa begitu berat untuk kaki itu mengikuti langkah sang papa. Harus nya dia akan terasa bahagia dimana dia masih mempunyai keluarga yaitu kakek dan nenek. Tapi... di dalam hati nya dia merasakan hal yang berbeda.


Tok..


Tok..


Tok..


Dengan rasa tak sabar nya, Candra terus mengetuk pintu utama rumah nya. Ingin sekali untuk segera bertemu dengan sang mama yang begitu dia rindukan.


Setelah berkali-kali ketukan pintu dia lakukan, akhirnya pintu besar itu pun terbuka. Menampilkan seorang wanita yang berpakaian rumahan dengan rambut yang menjuntai tanpa terikat.


Hening seketika..


Hanya ada sebuah tatapan sendu seolah saling mengutarakan kerinduan mereka.


"Candra..." Suara peluh itu menyapa.


"Ma.."


Masih saling menatap. Namun kali ini pandangan ke dua nya di penuhi dengan genangan air di pelupuk mata.


"Itu kah kamu nak.."


__ADS_1


Della Aninditha Saputri


__ADS_2