
...___...
"Mas Gleen dari mana mas ?" Tanya Hilma pada Gleen. Terlihat laki-laki itu baru saja pulang. Entah dari mana pergi nya dari pagi, tak pamit membuat Hilma bingung mencari.
"Abis nyari kerjaan !" Ujar nya menjawab. Dia melemparkan tubuh nya ber-baringan di atas lantai keramik guna mencari kesejukan.
"Huh, muter-muter gue nyari, tapi satu pun enggak ada yang terima gue !" Sesal nya. Beberapa kali dia mendatangi perusahaan-perusahaan besar, tapi satu pun tak ada yang menerima lamaran kerja nya.
Sedang kosong lowongan, begitu saja kata nya.
"Yang sabar dulu ya mas, nanti pasti ada aja kok !" Ucap Hilma yang mencoba menyemangati laki-laki itu.
Kalau melihat nya seperti ini, terlihat laki-laki itu yang begitu bertanggung jawab. Hal kecil saja, sungguh mengesankan, bagi Hilma.
"Ya udah, mas Gleen mandi sana. Biar saya siapin makan."
Sontak saja, laki-laki itu bangkit dan menatap Hilma. Raut wajah nya memperlihatkan sebuah pertanyaan pada gadis itu.
"Em.. sa-saya, tadi bantu-bantu tetangga jualan di pasar mas. Jadi.. dapat upah sedikit, terus saya beliin bahan makan." Jelas Hilma.
"Lo tu kok bandel banget sih Hil, di bilangin suruh di rumah aja. Kalau lo sampe ketemu sama abang Lo lagi gimana ?" Sungut Gleen pada Hilma. Dia bangkit dan menatap tajam pada gadis itu.
"M-maaf mas, tapi saya gak enak mau diem aja di rumah." Lirih nya sambil menunduk.
"Lo emang gak takut ya, ketemu sama si Andi bajingan itu, terus lo di jual lagi ! mau.. !" Kecam Gleen mencecar nya. Membuat Hilma menunduk takut dan tak berani menatap wajah laki-laki itu yang seketika berubah menyeramkan.
Gleen menghembuskan nafas nya dengan kasar. Merasa bersalah ketika melihat Hilma yang langsung saja menunduk, diam dan tak lagi bersuara. Ya, seperti itu gadis itu, jika mendapatkan Omelan dari orang lain.
Langsung menciut nyali nya.
"Udah, gue minta maaf. Tapi besok, lo enggak usah lagi kerja-kerja keluar lingkungan sini. Gue khawatir Hil. Biar gue aja yang kerja besok !" Tutur Gleen yang menyentuh dagu Hilma dan mengangkat wajah nya.
Dan benar saja, gadis itu bahkan sudah menjatuhkan air mata dalam ketertundukkan nya.
"Maafin gue Hil.." Ucap nya lagi. Lalu menarik tubuh itu dan memeluk nya.
...___...
__ADS_1
"Assalamualaikum, assalamualaikum !!!"
Sontak, Gleen dan Hilma ter-jingkat, bingung dengan ucapan salam yang terdengar mencecar dari luar kontrakan nya. Seperti nya terdengar bukan hanya satu orang saja.
"Ada apa an ya, kok rame banget di luar ?" Gumam Gleen. Dia mencoba menelan makanan nya, meminum satu gelas air kemudian meninggalkan makan malam nya yang bahkan baru saja di santap nya itu.
Hilma pun ikut beranjak, dan berjalan keluar menyusul Gleen untuk melihat keramaian apa yang sudah terjadi di luar kontrakan nya itu.
Cklek,
Gleen membuka daun pintu, ia terkejut ada banyak orang yang berdiri di luar kontrakan nya.
"I-ini.. ada apa ya ?" Ucap laki-laki itu bertanya.
Seorang laki-laki berkaca mata, menggunakan peci dan terlihat sudah cukup usia melangkah maju mendekati Gleen dan Hilma.
"Sebelum nya saya minta maaf, mungkin sudah mengganggu. Saya RW di lingkungan sini, jadi maksud dari kedatangan saya dan semua nya kesini, itu karena ada yang melapor kalau kalian ini bukan pasangan suami istri, jadi saya ingin menanyakan nya secara langsung, benar kah kalian berdua ini sudah menikah ?"
Seketika Gleen tercekat dan membulatkan mata nya sempurna saat mendengar pertanyaan dari pak RW yang bernama Hasan.
Gleen gelagapan, menatap Hilma seolah melemparkan ucapan apa yang harus di jawab nya. Ia menelan saliva nya, seketika pun wajah nya terlihat pucat pasi.
"Em..." Laki-laki itu tertahan. Gugup, entah jawaban apa yang harus dia katakan. Sementara, ada banyak orang sekarang.
Jika dia mengatakan belum, maka pasti akan menjadi hal yang buruk, tapi jika mengatakan sudah menikah, namun kenyataan nya memang belum dan apa lagi tidak ada bukti dari pernikahan mereka.
Jadi.. apa yang harus dia lakukan.
Orang-orang pasti sudah memandang dia dan Hilma yang tidak-tidak. Buruk sekali, bisa-bisa dia dan Hilma akan di usir dari tempat tinggal satu-satunya ini.
"Em, ka-kami.."
"Mohon maaf nak, jika memang sudah menikah, tolong tunjukkan surat nikah kalian, dan segera melapor jika kalian ingin tinggal dan menetap di sini." Ujar pak RW. Yang justru semakin membuat Gleen tercekat.
Oh ya ampun..
Ya, dia juga telah melupakan jika lingkungan ini daerah seperti perkampungan. Sangat jauh berbeda dari lingkungan perumahan apa lagi apartemen yang bersikap masa bodoh tentang orang lain.
__ADS_1
Astagaaa... ada ada saja masalah nya sih.. pikir laki-laki itu.
"M-mohon maaf pak, sa-saya dan... H-hilma, memang belum menikah.." Ucap nya mengakui dengan terbata-bata.
"Astagfirullahhaladzim...!!"
...___...
Dengan berat hati, Gleen dan Hilma pun akhir nya kembali menggeret koper dan tas mereka.
Ya, mereka telah di usir dari kontrakan yang bahkan belum satu Minggu mereka tempati.
Apa lah daya mereka yang memang telah bersalah di mata masyarakat setempat. Tinggal satu atap tanpa ikatan setatus yang jelas.
"Huh.." Berulang kali, Gleen menghela nafas kasar nya. Menatap lurus ke depan jalan, menyusuri trotoar jalan dengan koper yang bahkan tak tau kemana kaki nya akan melangkah.
Sungguh menyedihkan sekali..
Gleen tertahan, menghentikan langkah nya karena menyadari jika Hilma tak lagi berjalan mengikuti nya.
Gadis itu berdiri diam dengan tatapan nya tertunduk.
"Lo capek Hil ?"
Namun pertanyaan nya tak mendapatkan jawaban dari Hilma.
"Kalau capek, istirahat dulu deh di sini.." Tutur nya sambil menepikan koper nya di pinggiran pagar. Pun dia ikut menepikan tubuh nya duduk di sana.
"Hiks..hiks.."
Terdengar isakan Hilma yang menangis. Membuat Gleen kembali menghela nafas nya.
"Kenapa ? kok nangis ?" Tanya Gleen. Namun Hilma justru semakin mengencangkan isakan nya.
"Semua ini gara-gara saya mas.." Lirih gadis itu. "Mas Gleen jadi seperti ini karena saya !" Sesal Hilma.
"Ck!" Gleen berdecak lidah. Lagi-lagi Hilma menyalahkan diri nya. Bosan sekali rasa mendengar nya.
__ADS_1
"Udah ya Hil, stop ! gue bosen, harus berapa kali lagi sih gue bilang ke lo kalo semua ini bukan salah lo...!!" Kecam Gleen menegaskan.
...___...