
...___...
Genna terkekeh menatap Candra. Lebih tepat nya dia merasa terkejut atas penuturan laki-laki itu.
Melihat Genna yang menatap ke arah nya, Candra berusaha bangkit dan menegakkan tubuh nya.
"Daddy melarang kamu kuliah, Daddy pengen kamu hanya fokus pada rumah tangga kita.." Ujar Candra yang mengerti arti dari tatapan Genna.
Genna terdiam dalam perasaan nya yang tak karuan. Entah mengapa, dia berpikir dia telah berada dalam sebuah penjara dalam hidup nya. Dia bukan seorang tahanan, yang tidak di izinkan pergi kemanapun sesuka nya. Dia bukan pula boneka yang bisa di atur oleh sang pemilik semau nya.
Dia adalah manusia. Ya, sama seperti yang lain nya. Ingin hidup bebas dalam batasan nya sendiri. Dia mempunyai cita-cita dan mimpi yang begitu ingin dia dapatkan. Genna ingin hidup seperti orang-orang biasa pada umum nya, tidak begitu banyak larangan, batasan, atau perbedaan di antara sesama. Dia ingin hidup mandiri tanpa harus terus menerus bergantung pada orang lain.
Genna masih terdiam, mengingat sang Daddy, seketika pun air mata nya telah terjatuh. Bukan kah tanggung jawab nya sudah lepas ketika dia sudah menikah ? tapi mengapa Daddy nya itu masih juga melarang sesuatu yang ingin dia lakukan dalam hidup nya.
"Gen.." Candra memanggil nya, melihat sang istri yang terdiam, Candra merasa jadi serba salah saat ini.
"Maafin saya Gen, tapi saya harus mengikuti kata-kata Daddy.." Ujar nya.
"Sebenernya om tu kenapa sih ! kenapa nurut banget sama Daddy !" Cetus Genna yang sudah berlinang air mata.
"Gen, saya.."
"Di bayar berapa sih sama Daddy hah ? sampe om Candra nurutin semua kata-kata Daddy ! mulai dari nikah sama aku, sampe sekarang aku udah bukan tanggung jawab Daddy lagi tapi Daddy masih ngatur-ngatur hidup aku, dan om.. om turutin semua ucapan Daddy !" Kecam nya di tengah-tengah Isak tangis nya.
__ADS_1
"Apa karena Daddy sudah kasih jabatan nya di perusahan untuk om, makanya om Candra nurut sama semua omongan daddy ?!"
"Gak gitu Gen..!" Sahut Candra
"Lalu apa ?"
"Karena saya..-" Candra menahan ucapan nya. "Saya juga ingin kamu hanya fokus sama rumah tangga kita. Saya... saya.. jatuh cinta sama kamu gen.." Ucap laki-laki itu.
Reflek, Genna menatap ke arah Candra dengan cepat. Tampak laki-laki itu sedang serius saat mengatakan nya.
"Saya, mencintai kamu Gen.." Ulang Candra lagi. Mata nya menatap ke dua manik mata Genna yang basah oleh air mata. Candra sangat tak menyadari atas apa yang dia katakan, namun itu semua murni dari dalam hati nya.
"Karena kamu sudah menjadi istri saya, saya ingin kamu hanya fokus dengan pernikahan kita, mengurus saya di rumah, mengurus rumah tangga kita.." Ucap Candra. "Saya ingin memiliki keluarga yang bahagia bersama kamu Gen.."
Genna tertunduk, dia merasa tidak sanggup jika terus menatap mata Candra suami nya. Dulu Genna memang sempat mengagumi Candra, dia benar-benar tidak menyangka bahwa sekarang justru dia telah menikahi nya. Tapi jika soal perasaan nya, Genna benar-benar belum bisa menyimpulkan apakah dia mencintai laki-laki itu atau tidak. Yang dia tahu, selama ini dia hanyalah sebatas mengagumi nya saja.
"Mengapa saya menuruti semua kata-kata Daddy, karena selain saya mencintai kamu, saya juga harus menjaga dan melindungi kamu dengan atau pun tanpa perintah Daddy kepada saya untuk menjaga kamu" Ucap nya dengan lembut.
"Saya memang pernah bilang sama kamu bahwa saya tidak akan mengekang hidup kamu setelah kita menikah, saya akan tetap melakukan nya, tapi meminta kamu untuk tetap di rumah dan fokus pada pernikahan kita, itu adalah perintah saya sebagai suami kamu.." Ujar nya.
"Tolong kamu beri saya kesempatan untuk membahagiakan kamu, memberi mu kebebasan hidup bersama saya, saya tidak ingin melihat kamu bebas hidup di luar tanpa saya Gen, karena saya mencintai kamu, saya tidak ingin kehilangan kamu.." Lirih nya bersungguh-sungguh.
(Duh.. si om bucin nya bikin ngiri ih😝😝 mau dong jadi Genna aku tuh😌😜🤣 wkwkwk)
__ADS_1
Genna menarik paksa tangan nya dari genggaman tangan Candra. Dia menghapus air mata nya yang sedari tadi membasahi pipi nya.
"Om ingat kan, sama pertaruhan kita dulu" Ujar Genna
Dengan pelan, Candra menganggukkan kepala nya. "Iya, saya ingat.."
"Karena om bilang cinta sama aku, itu berati om yang kalah.."
Lagi-lagi, Candra mengangguk. "Iya Gen, saya mengaku kalah"
"Kalau begitu om ingat kan dengan apa yang kita pertaruhkan sebagai imbalan nya ?"
Candra pun tertunduk. Dia memang mengaku kalah, bahkan telah mengakui perasaan nya pada Genna secara langsung. Tapi dia hanya takut, jika Genna akan menyuruh nya melakukan hal-hal yang mungkin tidak akan bisa dia lakukan jika itu berhubungan dengan Genna.
"Kamu ingin saya melakukan apa untuk kamu ?" Lirih nya bertanya.
"Aku mau.. aku mau om Candra tetap membiarkan aku kuliah tanpa harus terus fokus sama pernikahan yang gak pernah aku inginkan !" Kecam Genna.
Candra terperanjat menatap ke arah Genna, dan benar saja.. ini akan sulit untuk Candra lakukan. Bukan ingin mengubur impian sang istri, tetapi Candra terlalu takut jika Genna akan lupa diri dan melupakan setatus nya sebagai istri nya di luar sana. Terlebih, Genna memang tidak pernah menginginkan pernikahan mereka.
"Tapi Gen-"
"Ingat om, pertaruhan kita telah di setujui dari ke dua belah pihak. Jadi.. aku harap om Candra tidak akan mengingkari nya.." Sargah Genna menghentikan ucapan Candra. Dia bangkit, meraih laptop dan menaruh nya kembali.
__ADS_1
"Aku udah putusin mau kuliah di mana.." Ucap Genna, lalu mematikan lampu kemudian naik ke atas ranjang dan menenggelamkan tubuh nya di dalam selimut.
...___...