
...___...
Gleen masih memeluk Hilma. Mendekap tubuh mungil nya seolah sedang mencoba menyalurkan rasa ketenangan terhadap nya.
Entah lah..
Rasa simpati dan ingin terus peduli dan menyayangi nya mengalir begitu saja dalam diri.
Ya, Gleen tidak ingin sampai terjadi sesuatu lagi pada nya. Dia ingin menjaga nya, melindungi nya, dan ingin tetap terus menggenggam tangan nya.
"Pokok nya lo harus kuat, lo harus bangkit, enggak boleh larut-larut dalam ke hancuran ini. Lo punya gue.." Gleen menangkup kan ke dua tangan pada pipi gembul Hilma. Menatap manik mata dan berusaha menghapus cairan bening yang terus saja keluar dari sana.
Perlahan, Hilma pun mengukir senyuman kecil di bibir nya. Bagai kan mendapat sebuah kekuatan dan tempat pelindung ternyaman untuk diri nya saat ini.
.
.
.
"Tapi kamu harus segera melupakan gadis murahan seperti nya !!"
.
.
.
.
Hening...
Gleen dan Hilma seketika ter-buyar dari suasana mereka. Seketika mereka melonjak kaget dengan hadir nya suara yang sangat mereka kenali.
"D-daddy.." ,
Gleen tercekat menatap nya. Membulatkan mata nya saat pandangan nya menangkap sosok sang Daddy yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu.
Bagaimana bisa Daddy nya itu kemari.
"Sampai kapan pun Daddy tidak akan pernah merestui hubungan kalian !" Kecam laki-laki itu. "Sekali pun itu hanya sekedar teman !" Tegas nya sekali lagi.
Hilma tertunduk, seketika harapan nya itu memudar. Salah memang untuk nya yang begitu berharap pada laki-laki yang sangat lah tidak pantas jika harus bersanding dengan nya. Tidak, tepat nya dia lah yang tidak pantas untuk laki-laki itu.
Sangat jauh perbedaan nya.
"Dan kamu, seharus nya kamu sadar diri akan siapa kamu di sini !" Tuding Anan pada Hilma. "Kamu sangat-sangat tidak pantas untuk putra saya !"
Mendengar ucapan Anan, sungguh membuat mental Hilma semakin menciut.
"Seharus nya kamu berkaca, siapa kamu, seperti apa setatus mu, pantas atau tidak kah untuk anak saya !" Kecam Anan lagi. Dia semakin melangkah dan kini telah berdiri berhadapan dengan Gleen dan Hilma.
"Maaf dad, tapi Gleen tidak butuh seseorang seperti apa pun itu, seperti apa setatus nya, dan harus sepantas apa untuk dia bisa bersanding di samping Gleen."
Gleen maju satu langkah. Tetap menggenggam tangan Hilma dan dengan berucap seolah suara nya itu keluar begitu saja.
__ADS_1
"Bagaimana pun ke adaan Hilma, dia tetap seseorang yang patut untuk di cintai. Bagi Gleen, dia bukan lah sosok wanita murahan seperti yang Daddy katakan !"
.
.
.
.
PLAK !!!
Sebuah pukulan keras telah melayang dan mendarat sempurna di pipi Gleen Malik. Laki-laki itu terhuyung mengikuti dorongan kuat dari pukulan Daddy nya.
"Apa kamu tidak bisa melihat jika gadis murahan ini adalah penyebab semua ini !!" Suara Anan meninggi.
"Apa kamu lupa, jika Della juga telah menjadi korban. Dan itu semua gara-gara dia !!"
Tinggi dan melengking nya suara Anan benar-benar membuat Hilma ketakutan.
"Jangan pernah lupakan jika Della adalah calon istri mu !" Ujar Anan menegaskan.
"Tapi Daddy tidak berhak untuk mengatur pada siapa Gleen harus menikah !!"
Suara nya sedikit meninggi. Menatap tajam pada Anan seolah dia sudah tidak tahan dengan segala aturan yang laki-laki itu tetap kan.
Ini hidup nya, dan bukan kah diri nya sendiri yang harus menentukan jalan dan arah kemana dia harus melangkah.
Sekali pun jika nanti itu salah, namun hidup nya adalah milik nya. Dia yang menentukan nya, dia yang memilih harus pada siapa dia akan menjalani kehidupan nya nanti.
"Katakan sekali lagi !"
"Gleen tidak ingin menikahi Della, Gleen tidak pernah mencintai nya !" Ya, laki-laki itu mengungkap kan nya di depan sang Daddy.
"Selama ini Gleen hanya menganggap Della seperti adik Gleen sendiri, sama seperti Genna !"
.
.
.
PLAK !!
.
.
.
Lagi-lagi, tangan yang mengepal kuat itu kembali melayang, dan meninggalkan bekas merah pada pipi Gleen.
"Kamu sadar apa yang kamu katakan !!" Anan menyentak tinggi.
"Ya, Gleen sangat menyadari nya !"
__ADS_1
"Kamu tau apa konsekuensi dari apa yang kamu lakukan ini !"
"Gleen sudah memikirkan nya !"
Jawaban demi jawaban yang di katakan Gleen, benar-benar membuat Anan menjadi murka.
Entah kerasukan apa pikiran putra nya itu.
"Sekali lagi Daddy tegas kan. Menikah dengan Della dan lupakan gadis murahan ini. Dia tidak cukup pantas untuk mu !" Ujar Anan menegaskan. Laki-laki itu seperti nya sedang memberi kan putra nya sebuah pilihan.
"Jika kamu masih tetap pada pendirian mu, pergi dan lupakan jika kita adalah satu keluarga !!" Kecam nya penuh penekanan.
"Tapi maaf Dad, Gleen akan tetap pada pendirian Gleen !"
Anan mendelik. Mengeratkan gigi dan rahang nya pun mengeras. Tangan nya kembali mengepal, bisa-bisa nya Gleen mengatakan hal ini tanpa ragu lagi.
"Katakan sekali lagi !"
"Hilma tak bersalah, justru dia sudah mengorbankan nyawa nya demi menolong Della." Gleen mendekati Anan. Berdiri satu langkah di belakang laki-laki itu.
"Hilma memang terlihat buruk dari luar, tapi percaya lah, dia adalah seorang gadis yang baik dad."
"Itu arti nya kamu tetap akan menentang Daddy ? kamu menolak menikahi Della demi perempuan ini !"
Anan berbalik dan menatap Gleen dengan tajam. Amarah nya kian naik sampai ke ujung kepala kala mendengar pembelaan demi pembelaan Gleen pada Hilma.
"Hilma tidak bersalah, dan Gleen tetap akan berdiri di samping Hilma."
"Baik !!" Sahut Anan cepat. "Baik jika ini memang keputusan mu !" Anan melangkah, lebih menajam kan mata nya seolah penuh kebencian akan putra nya itu.
"Seperti yang Daddy katakan, pergi dan lupakan jika kita adalah satu keluarga !!" Ujar nya menekan kan.
"Tinggalkan semua fasilitas yang sudah Daddy berikan. Daddy tidak akan membiarkan mu merasakan lagi ke mewahan apa pun !" Ujar Anan. "Kamu, di pecat dari perusahaan !" Imbuh nya.
"Ck!" Gleen berdecih. Ya, Gleen sudah mengira jika semua ini pasti akan terjadi.
Namun dia tidak pernah menyangka, akan seburuk ini dari perkiraan nya. Sampai dia akan terbuang dari keluarga nya, dan mungkin, sudah tidak akan teranggap sebagai keluarga Malik lagi.
.
.
.
"Enggak, om.. tolong jangan seperti ini. Saya tahu diri, saya yang akan per-"
"Hil..." Gleen menarik tangan Hilma yang maju ke hadapan Anan. Laki-laki itu menggeleng kan kepala nya saat Hilma menatap nya.
"Tapi mas, enggak bisa seperti ini. Kamu-"
"Ssstttt !!" Sentak Gleen menghentikan gadis itu.
"Enggak perlu mengemis pada orang yang tidak mempunyai hati nurani." Gumam Gleen sembari menatap wajah Anan yang masih dengan raut amarah nya di sana.
...___...
__ADS_1