
..._____...
Setelah berbincang dan melepas rindu terhadap putra semata wayangnya, Risky pun pergi ke kamar nya untuk segera membersihkan diri.
Namun dia merasa sedikit berbeda ketika dia baru pulang dari kantor nya tadi, dia tak menemukan keberadaan sang istri yang biasa nya selalu menyambut nya pulang bekerja setiap hari.
Ketika Risky hendak masuk ke dalam kamar nya, ternyata pintu kamar itu terkunci. Setelah mengetuk pintu dan memanggil-manggil Tina untuk membukakan pintu, Risky pun masuk ke dalam kamar mengikuti langkah Tina yang gontai.
"Ma, kenapa kunci pintu sih.. Gak nyambut aku pulang juga tumben" Cecar Risky pada sang istri.
Wanita itu hanya diam, duduk di tepian ranjang dengan tatapan mata yang kosong.
"Ma.." Panggil Risky yang tak dapat jawaban dari Tina. "Kamu kenapa ?" Tanya Risky. Wanita itu terlihat berbeda malam ini, tak seperti biasa nya. Bukan kah harus nya dia merasa senang karena kepulangan putra mereka. Karena sejak kemarin dia selalu merasa tak sabar untuk menunggu kepulangan Candra.
Tak niat untuk menjawab pertanyaan Risky suami nya. Tina malah mulai terisak dalam diam nya. Air mata nya tak mampu lagi untuk dia tahan sejak tadi.
"Lo.. kok nangis ?"
Tina justru semakin terisak kencang.
"Mama kenapa ??" Tanya Risky, dia kebingungan karena Tina tiba-tiba saja menangis.
"Anak kita mas..Anak kita.." Lirih Tina ditengah-tengah isakan nya.
"Anak kita..." Risky Tampak sedang berpikir sejenak. "Anak kita kenapa ma.. Dia kan udah pulang.."
Tina mendongakkan wajah nya. Menatap wajah sang suami dengan mata yang berlinang air di sana. Tatapan nya sendu, kecewa, dan seolah sedang mengatakan bahwa dia mendapatkan pukulan yang begitu keras.
"Kamu kenapa sih..?" Sekali lagi untuk Risky bertanya.
__ADS_1
"Candra... d-dia.. pulang gak sendirian mas.." Lirih Tina yang berusaha mengucapkan kata-kata nya.
"Maksud nya ?" Risky benar-benar tidak mengerti.
"Dia..-"
...___...
Di sisi lain
Candra terus berjalan ke sana kemari di dalam kamar nya. Takut, cemas, rasa bersalah, semua menjadi satu dalam diri.
Entah apa yang harus dia lakukan..
Berbicara jujur tentang semua kebenaran nya, atau..
"Pa, papa kenapa ?"
Candra berjalan menghampiri, duduk berjongkok di hadapan Della sambil menyentuh pucuk kepala nya.
"Papa gak apa-apa kok sayang.." Titah nya sambil tersenyum.
Della pun mengangguk. Tak ingin mengetahui lebih dalam apa yang sedang terjadi pada sang papa. Karena dia pikir, itu adalah urusan orang dewasa dan dia tak berhak untuk tahu. Namun dalam hati nya, Della cukup mengerti bahwa Candra tengah pusing mengenai kehadiran nya di sana.
...___...
Dan disini lah..
Di ruang keluarga mereka tengah berkumpul. Duduk di sofa namun hanya ada keheningan di dalam ruangan itu.
__ADS_1
Risky dan Tina yang duduk bersampingan. Begitu pun Candra dan Della yang juga duduk bersampingan. Tina yang diam tanpa suara, pandangan yang dingin dan kosong. Namun berbeda dengan Risky yang justru menatap tajam dengan raut wajah yang merah padam menatap putra nya itu.
Mendengar cerita tentang Candra dari sang istri, membuat amarah nya naik hingga ke kepala. Namun dia menahan, dia ingin mendengar sebuah penjelasan secara langsung dari putra nya itu.
"Siapa anak kecil itu ?" Sebuah pertanyaan yang pertama kali terucap. Berbeda saat tadi dengan nada bicara yang menghangatkan, namun kali ini suara sang papa lebih terdengar dingin.
Candra tersentak dari lamunan nya. Menatap sang papa dengan rasa takut yang menyelimuti. Pasal nya, selama ini Candra tak pernah melakukan kesalahan hingga membuat ke dua orang tua nya marah bahkan sampai kecewa karena nya.
"D-dia.. putri ku pa.." Jawab nya lirih, dengan bersusah payah dia berusaha mengeluarkan suara nya itu.
Risky tak mampu menahan nya lagi. Dia pejamkan mata nya erat-erat demi amarah yang semakin memuncak. Rasa panas bahkan kian naik sampai ke kepala nya.
Tidak salah kan yang dia dengar barusan. Padahal, dia sangat berharap bahwa yang dia dengar tadi itu salah. Dia ingin sekali mendengar sebuah bantahan dari Candra langsung jika anak itu bukan lah putri nya.
Tapi...
"Papa salah dengar kan.." Harapan nya masih begitu besar. Ia masih tak percaya ini.
"Papa gak salah dengar"
Ucapan Candra bahkan seperti sebuah pukulan yang sangat keras bagi nya kali ini. Ini bukan lah harapan nya, dan bahkan bukan lah mimpi. Ucapan putra nya itu mungkin adalah kenyataan yang harus benar-benar dia ketahui.
Risky begitu berharap besar pada putra semata wayang nya itu, menjadi anak baik dan berguna. Berbakti pada orang tua dan bisa membanggakan. Risky begitu berharap, kelak bahwa Candra bisa meneruskan jabatan nya di Malik group sebagai pemimpin di sebuah anak cabang perusahaan ke dua di luar kota. Tapi mengetahui prilaku Candra di belakang nya, dan bahkan selama ini hingga hasil dari perbuatan bejad nya itu sudah tumbuh besar. Masih pantas kah dia di sebut sebagai anak yang baik dan membanggakan ?
...___...
"Mulai saat ini, kau bukan lagi anak ku !"
"Pa, tolong maaf kan aku.."
__ADS_1
..._____...