Cinta Sugar Daddy

Cinta Sugar Daddy
EXTRA PART 83~S2


__ADS_3

...___...


Genna meminta sang bibik untuk membuat kan susu, memakan makanan berat seperti nya dia tidak akan bisa, bahkan rasa mual nya sudah muncul meski dia belum memakan nya.


"Ini mbak susu nya" Bibik menaruh segelas susu hamil di atas meja makan di hadapan Genna.


"Makasih bik" Ujar nya, yang di jawab anggukan kepala oleh sang bibik.


Genna meraih nya, susah payah dia mencoba untuk meminum nya, menahan rasa mual oleh bau susu tapi apa lagi yang harus bisa dia makan. Setidak nya harus ada sesuatu yang masuk ke dalam perut nya.


"Hueeekk..." Bahkan belum sempat dia meneguk susu nya, tapi lagi-lagi perut nya bergejolak dan menolak. Perut nya sangat lapar, tapi tidak ada suatu apa pun yang bisa dia telan.


Genna menaruh kembali gelas susu itu di atas meja, dia tak menyentuh nya sama sekali. Bau nya saja sudah membuat nya mual, apa lagi harus meminum nya.


Genna menyandarkan diri nya di kursi meja makan. Memejamkan mata nya dan rasa nya ingin dia menangis, semenderita ini kehamilan nya.


"Sayang.." Candra datang dan menyentuh pundak nya. Laki-laki itu menarik satu kursi di samping istri nya.


"Masih mual ?" Tanya nya.


"Aku tu laper pengen makan ! tapi baru aja nyium bau nya udah mual..!!" Dan Genna akhir nya menangis.


"Sayang.." Candra mengusap-usap perut Genna. Sungguh tak tega melihat istri nya itu yang sangat menderita. Andai saja dia bisa mengubah segala nya, maka Candra ingin dia saja yang merasakan penderitaan yang Genna rasakan saat ini.


"Kita ke rumah sakit aja ya.." Candra benar-benar sangat khawatir, istri nya itu bahkan sudah terlihat sangat pucat.


"Gak mau, aku gak mau mas.." Tolak nya nyata.


"Tapi kamu gak bisa makan makanan sedikit pun Gen, kamu pucet banget.."


Lagi-lagi Genna menangis, benar-benar tidak mau jika harus ke rumah sakit.


"Sayang.. makan ya.. " Candra benar-benar kebingungan, di bujuk seperti apa pun juga tapi Genna tetap tidak bisa makan. Baru saja menelan satu suapan, tapi langsung saja dia memuntahkan kembali makanan nya. Bahkan segelas susu pun dia tidak menyentuh nya


...___...

__ADS_1


Genna masuk ke dalam kamar mandi, tapi kali ini bukan untuk muntah. Tapi lagi-lagi dia merasakan seperti ada sesuatu yang keluar dari area sensitif nya. Seperti sebuah cairan.


Genna mencoba melihat nya, dan lagi-lagi dia melihat noda darah pada pakaian dalam nya. Kali ini terlihat lebih banyak, dan sungguh membuat nya ketakutan. Tidak mungkin kan dia datang bulan dalam keadaan nya yang sedang hamil.


"Mas..." Genna berteriak dari dalam kamar mandi memanggil suami nya.


Candra yang sedang duduk di atas tempat tidur sambil mengerjakan pekerjaan nya, buru-buru dia menutup laptop nya dan berlari ke arah kamar mandi.


"Sayang, kenapa ?" Candra panik, dia langsung membuka pintu kamar mandi dan masuk ke dalam nya.


"Darah mas.." Lirih Genna


"Da-darah ? darah apa ?" Tanya nya tak mengerti.


"Dari tadi ada darah yang keluar, gak mungkin kan aku datang bulan.." Jelas nya dengan gemetar.


Candra semakin panik, kebingungan entah harus berbuat apa.


"Perut nya sakit gak ?"


"Kita ke rumah sakit aja ya, aku khawatir sayang"


Dan kali ini tidak terdengar penolakan lagi dari Genna.


...___...


Della menangis, menumpah kan air mata nya saat Andrian bercerita semua tentang masa lalu nya bersama Della, mama nya.


Tak hanya Della, tapi Andrian juga ikut menangis. Dia begitu menyesali perbuatan nya yang sudah dikatakan sangat bajingan sekali di masa lalu.


"Maafin papa Dell, papa benar-benar jahat, sebenernya udah gak pantes papa di maafin lagi.." Gumam nya di tengah-tengah tangis nya.


Tatapan nya lurus, memandang kosong namun pikiran nya kembali mengingat tentang semua perbuatan nya dulu.


"Papa sungguh menyesal Dell, papa ingin berubah.." Lirih nya sambil menunduk.

__ADS_1


"Pa.." Della menyentuh pundak sang papa. Membuat laki-laki itu reflek menoleh ke arah nya.


"Papa berusaha mencari mama kamu akhir-akhir ini, tapi..-"


"Pa.." Della menyela ucapan Andrian. "Masa lalu biarlah berlalu, sekarang.. kita harus menghadapi masa-masa kini dan masa depan, Della senang bisa bertemu dengan papa lagi, Della bahagia papa mau berubah, dan Della sangat berharap papa bisa menjadi papa yang akan menyayangi Della, Della sudah kehilangan mama, dan Della gak mau juga kehilangan papa.." Lirih Della.


Andrian semakin malu, terdengar tergugu oleh Isak tangis nya. Betapa berdosa nya dia pada putri nya itu. Ingin dia mengutuk diri nya sendiri karena semua perbuatan nya, sungguh memalukan. Nyata nya, justru putri yang sudah dia sia-sia kan dapat dengan mudah menerima nya sebagai papa nya dan sudah memaafkan atas kesalahan terbesar nya.


Oh Della...


Andai dia masih hidup, betapa beruntung nya perempuan itu bisa memiliki putri yang sebaik Della sekarang ini.


...___...


Flashback off


POV Andrian


Malam itu, aku tengah mabuk berat, di saat hendak membeli air putih di sebuah supermarket yang buka 24 jam, aku bertemu dengan seseorang yang sangat aku kenal di saat aku masih kuliah dulu. Itu Candra, laki-laki yang ku anggap musuh karena sudah sibuk ikut campur urusan ku, dan dia lah sosok laki-laki sebagai penolong Della seorang gadis yang juga sebagai asisten rumah tangga di rumah ku yang sudah aku hancur kan hidup nya. Aku sangat membenci nya kala itu.


Setelah sedikit bertengkar dengan nya, aku pulang ke rumah di antar dengan asisten pribadi ku. Yoga nama nya.


Saat itu aku benar-benar kehilangan arah, mabuk-mabukan adalah kebiasaan ku, bermain perempuan sudah menjadi hal yang utama bagi ku. Club' malam sudah bagaikan rumah bagiku.


Sesampai nya di rumah, aku di sambut oleh mama, namun malam itu mama terlihat berbeda, tiba-tiba saja mama menampar ku sangat keras, membuat sudut bibir ku kembali berdarah karena pukulan Candra saat kami bertengkar.


Ya, mama sangat marah, wanita itu menangis karena sudah sangat lelah menghadapi ku yang selalu pulang menjelang pagi dalam ke adaan mabuk. Aku adalah anak satu-satunya, sedangkan papa ku entah dimana aku pun tidak tahu, aku tidak pernah mengenal sosok papa sejak aku kecil, yang aku tahu papa telah pergi meninggalkan aku dan mama karena perempuan lain. Jadi, hanya aku yang bisa mama andalkan dalam hidup nya dan juga menjalankan perusahaan nya.


Aku terdiam menahan perih yang kembali terasa, ingin marah pada mama yang tanpa sebab menampar ku tetapi aku tak kuasa kala melihat air mata nya.


"Mau sampai kapan kamu seperti ini Andrian !" Bentak nya pada ku. Terlihat wajah mama yang sangat marah.


"Mabuk-mabukan, pulang pagi, kapan kamu mau menjalani hidup kamu dengan benar !" Dan tangis mama semakin pecah, membuat ku seketika lemas terkulai. Ya, meski aku terkenal bajingan, tapi aku tidak pernah bisa melihat air mata yang keluar dari mata mama ku. Setiap air mata yang keluar dari pelupuk mata mama, membuat ku kembali teringat saat dulu mama menangis karena kepergian papa yang ingin menikah dengan perempuan lain.


...___...

__ADS_1


__ADS_2