
...___...
Genna di suruh dokter ke kamar mandi, mencoba alat tes kehamilan untuk memastikan jika wanita itu sedang hamil. Sedikit lama, hingga terlihat Genna kembali keluar dengan testpack di tangan nya.
Dokter menerima nya, melihat testpack itu yang menunjukkan garis merah dua, tapi satu nya terlihat samar-samar.
"Mbak, kapan terakhir datang bulan ?" Tanya dokter untuk memulai menghitung usia kandungan Genna. Pasien nya itu memang sedang hamil, meski terlihat samar-samar garis dua nya.
"Tanggal 15 bulan kemarin dok" Ujar Genna menjawab nya.
Dokter itu melihat kalender di atas meja nya, mencoba menghitung dan kurang lebih usia kandungan Genna sudah masuk usia 2 Minggu.
"Mbak Genna hamil, kurang lebih usia kandungan nya 2 Minggu" Ujar dokter cantik itu.
"Jadi... istri saya hamil dok ?" Candra tersentak bangkit, berdiri di sebrang meja sang dokter karena terlalu terkejut mendengar nya.
"Iya bapak, istri nya hamil" Ulang sang dokter lagi.
...___...
Candra begitu antusias, dia bahkan membopong sang istri yang akan turun dari mobil nya. Ya, Genna merengek pada sang suami untuk pulang saja dari pada di rawat di rumah sakit hanya karena kehamilan nya.
Candra menurunkan Genna di sofa ruang tengah. Laki-laki itu tidak membiarkan Genna untuk berjalan, benar-benar merasa khawatir terhadap nya.
Sungguh berlebihan, cibir Genna.
"Pokok nya kamu gak boleh ngapa-ngapain, gak boleh keluar rumah apa lagi jalan ke lapangan panas-panas kaya tadi ! harus istirahat gak boleh kecapekan !" Tegas Candra pada sang istri.
Genna hanya memberengut sebal mendengar ucapan sang suami. Enggak boleh ngapa-ngapain, gak boleh kemana-mana, sudah pasti dia akan mati kebosanan di rumah.
"Sayang, denger kan !" Tegas Candra.
"Iya mas....!" Jawab Genna kesal.
Candra berlutut di depan sang istri yang duduk di sofa. Menatap ke perut Genna sambil tersenyum. Tangan nya terulur menyentuh nya, lalu mendekatkan wajah nya dan mencium nya.
"Sayang, makasih ya, aku bahagia banget akhir nya kamu hamil anak kita" Ujar nya pada sang istri, sambil mengelus-elus perut Genna. Usaha nya tiap malam sebulan belakangan ini sungguh dengan cepat membuah kan hasil.
Genna tersenyum, melihat Candra sang suami yang terlihat sangat bahagia atas kehamilan nya. Seperti nya laki-laki itu ingin sekali untuk segera memiliki momongan.
Perhatian Candra teralih saat mendengar ponsel di dalam saku celana nya yang berdering. Dia bangkit, dan melihat layar ponsel nya tertulis nama Gleen di sana.
"Ya, halo Gleen.."
'Halo om, om Della kecelakaan !' Tutur Gleen dari sebrang telpon sana.
"Apa ! Della kecelakaan !"
Seketika Candra terkulai lemas sesaat setelah dia menerima kabar yang sangat membuat nya bahagia, yaitu kehamilan istri tercinta nya.
__ADS_1
Sambungan telpon terputus setelah Gleen mengatakan di rumah sakit mana Della sedang di rawat.
"Mas, Della kenapa ?" Genna ikut kaget, panik dengan apa yang terjadi pada Della.
"Della kecelakaan sayang, aku.. mau ke rumah sakit-"
"Aku ikut !" Sargah Genna cepat.
"Enggak ! kamu di rumah aja ya, istirahat-"
"Mas, tapi aku pengen ikut.." Genna merengek, memohon agar Candra membawa nya ikut bersama nya.
"Sayang, dengar.. dirumah aja ya, kamu harus istirahat, gak boleh kecapekan sayang.."
"Mas..-"
"Sayang !" Tegas Candra sedikit keras. "Dengerin omongan aku.." Pinta laki-laki itu, ia tidak ingin terjadi sesuatu lagi pada Genna dan calon anak nya jika Genna sampai kelelahan.
Genna menunduk diam, ia tak bisa lagi memohon pada laki-laki itu jika dia sudah bersikap tegas seperti ini.
"Aku berangkat ya, baik-baik di rumah oke, jaga anak kita" Candra sekali lagi mengusap perut Genna. Lalu mengusap pucuk kepala nya sebelum dia mengecup nya dan kemudian pergi.
"Bik, jagain istri saya, saya ke rumah sakit dulu" Pamit nya pada sang bibik yang sedang sibuk di dapur.
Dengan cepat bibik berlari, menghampiri sang bapak majikan. "Baik pak"
"Jangan biarin dia ngapa-ngapain, kalau bandel lapor sama saya !" Ujar nya.
Sementara Genna semakin mencebik kesal, sebegitu berlebihan nya suami nya itu pada nya.
...___...
Di rumah sakit
Gleen dan Andrian sedang berharap-harap cemas di depan ruang UGD. Menanti hasil pemeriksaan Della yang kata nya mengalami patah kaki.
Gleen tahu Della yang mengalami kecelakaan, karena tadi dia menelpon ponsel gadis itu tapi Andrian yang menerima nya. Jadi Andrian langsung bilang sama Gleen jika sang pemilik ponsel sedang di tangani dokter karena kecelakaan.
Andrian duduk lemas di sebuah kursi, menumpu kepala nya dengan tangan di atas lutut nya. Dia benar-benar pusing, pikiran nya kacau berantakan. Dan sekarang, dia sudah mencelakai seseorang karena kekacauan nya.
Tak lama dokter keluar bersama 2 orang perawat yang mengekori. Dengan cepat Andrian dan Gleen berdiri dan bertanya tentang keadaan Della.
"Pasien masih pingsan, kaki sebelah kanan nya patah, jadi harus di operasi" Jelas sang dokter.
"Patah dok..?" Kejut Andrian. Dia tak menyangka, sampai separah ini dia mencelakai gadis itu.
"Iya pak, dan harus segera di Operasi" Ulang sang dokter.
"Sus, siapkan berkas operasi atas nama Della ya, agar segera di tanda tangani dan nanti malam bisa langsung operasi" Ujar sang dokter pada suster di belakang nya.
__ADS_1
"Baik dok"
"Dok, tapi keluarga nya belum datang-"
.
.
.
.
.
"Saya orang tua nya dok..!"
Seseorang menyahuti, berjalan dengan tergesa dengan mimik wajah kepanikan nya.
"Gleen, gimana ke adaan Dell...-"
Candra tertahan, mata nya menangkap sosok Andrian ada di sana. Kira-kira untuk apa laki-laki ini ada disini ? pikir nya.
"Can.."
"Ngapain Lo disini ?" Sungut nya tak ramah.
"Gue..-"
"Dok, pasien sudah sadar" Ucap salah satu suster memberi tahu dokter.
Dokter pun kembali masuk untuk memeriksa kondisi pasien nya itu.
...___...
Andrian masih setia berada di rumah sakit meski Candra tak bersikap baik pada nya. Bagaimana pun juga dia harus tanggung jawab atas Della yang sudah dia celakai.
"Jadi Lo yang nabrak anak gue !" Candra terlihat emosi, amarah nya memuncak setelah dia mengetahui jika Andrian lah yang sudah menabrak putri nya.
"Can, gue minta-"
Candra sangat marah, terasa kehilangan kendali dan bersiap akan melayangkan tinjuan ke arah Andrian. Tapi dengan cepat, Gleen menangkis dan menahan gerakan Candra.
"Om, jangan ribut di sini, ini rumah sakit !" Ujar Gleen mengingatkan.
"Minggir Gleen, saya mau kasih pelajaran buat laki-laki bajingan seperti dia yang udah tega sama anak sendiri dari dulu !" Ujar nya tak sadar dengan ucapan nya.
"Ma-maksud Lo Can..?"
...___...
__ADS_1
"Pa, tolong jelasin.."
Della memohon pada Candra untuk mengatakan yang sebenarnya. Dia menangis meminta penjelasan pada sang papa atas ucapan nya tadi.