
...___...
Gleen membanting kuat pintu kamar di rumah orang tua nya. Terasa sangat malas dan tak bersemangat sama sekali. Besok pagi, dia harus berangkat ke kota xxxx bersama Della.
Laki-laki tampan itu melemparkan tubuh nya di atas kasur besar nya. Menatap langit-langit kamar dengan ke dua tangan sebagai bantalan.
Pikiran nya sama sekali tak bisa terlepas dari perjodohan yang di tetap kan Daddy nya. Perjodohan yang sangat tidak dia inginkan.
Gleen berdecak lidah. Memutar tubuh nya menjadi posisi tengkurap. Otak nya terus mencerna bagaimana kah cara nya agar dia tidak menikah dengan Della.
Ahhh...
Otak nya sungguh tak bisa di ajak kerja sama.
Menolak ? seperti nya tidak akan bisa jika harus melawan kehendak Daddy nya yang berkuasa.
Menerima ? tetapi jujur saja, hati nya sama sekali tak berlapang dada untuk menerima pernikahan yang tidak di dasari oleh rasa yang sama-sama cinta.
Entah harus bagaimana. Dia sama sekali tak berdaya dalam posisi nya sendiri. Menolak akan jadi petaka, dalam sekejap dia akan menjadi laki-laki miskin dengan pekerjaan tetap sebagai OB di kantor nya. Ya, seperti yang Daddy nya itu katakan untuk mengancam nya agar tidak menolak pernikahan nya.
Sungguh menyebalkan. Untuk jadi laki-laki miskin dengan pekerjaan sebagai OB, ia sungguh tak bisa membayangkan nya. Betapa mengerikan saat hanya membayangkan nya saja.
Tok..Tok..Tok..
Gleen mengacak rambut nya yang agak sedikit gondrong itu. Merasa pusing dan sangat frustasi. Rasa nya hidup nya seperti akan berakhir setelah mendengar kata perjodohan nya tadi.
"Ajuurr ajuurr ah..!!" Umpat nya putus asa.
Ia bangkit, melangkah kan kaki nya membuka pintu kamar nya yang di ketuk oleh seseorang.
"Mommy.." Sapa nya saat dia menangkap sosok Cinta yang berada di depan pintu nya.
"Mommy ganggu ?"
Pelan, Gleen menggelengkan kepala nya.
Setelah mendapatkan jawaban dari putra nya, Cinta melangkah masuk ke dalam kamar Gleen putra nya itu.
"Mommy perhatikan kamu seperti sedang tidak baik, kamu sakit ?"
Oh..
__ADS_1
Memang hanya sang mommy lah yang paling peka terhadap nya.
"Enggak !" Jawab Gleen mengikuti langkah Cinta, kemudian ikut mendudukkan diri nya di tepian kasur di samping Cinta.
"Ada yang kamu pikirin ?"
Tepat sekali. Ingin rasa nya Gleen menyampaikan penolakan atas perjodohan nya pada sang mommy.
Dengan pelan dan sok manis nya, laki-laki itu menganggukkan kepala.
"Ada mom" Ujar nya.
"Mikirin apa ?" Tanya wanita yang tetap terlihat awet muda seperti ABG itu.
Gleen mengerutkan bibir nya, menoleh ke arah sang mommy dengan memasang raut wajah yang sangat melas. Ia sangat berharap, mommy nya itu bisa membantu nya
"Kenapa Daddy gak bilang dulu sama Gleen sih mom kalau mau jodohin Gleen sama Della.." Rengek nya mengadu. Ia kembali memalingkan wajah nya.
"Ada apa ? kok kayak nya kamu gak seneng gitu ?"
"Mom, sebenernya..." Gleen menahan ucapan nya. Ia ragu untuk membagi pikiran dan isi hati nya terhadap wanita itu. Tapi dia benar-benar butuh seseorang untuk mengungkap kan nya.
Cinta tersenyum kecil, lalu menyentuh pipi Gleen dan mengarahkan wajah laki-laki itu menghadap nya.
"Sayang, kamu kan sudah cukup usia untuk menikah. Apa lagi yang kamu tunggu, bukan nya kamu sudah sangat dekat dengan Della ?'
"Mom, kedekatan Gleen sama Della itu tak lebih dari Gleen menganggap nya sebagai adik, sama kayak Genna !" Ujar nya pada akhir nya. Ucapan nya itu terlontar begitu saja jika bersama Cinta. Berbeda jika bersama Anan. Maka Gleen akan tetap menutup diri nya jika pada laki-laki itu.
"Jadi ini maksud nya kamu gak mau menikah sama Della ?"
Dengan semangat Gleen menganggukkan kepala nya.
"Kenapa tadi tidak menolak saat di rumah om Andrian ?"
Gleen seketika mem-berengut. Apa lah daya nya jika di depan sang Daddy. Daddy yang berkuasa, bahkan juga berkuasa atas kehidupan nya.
"Mom, Gleen...-"
"Nak, sebuah rumah tangga tidak akan bahagia jika di dalam nya tidak di dasari rasa suka, rasa cinta. Untuk apa kamu akan menerima nya jika kamu terpaksa melakukan nya"
Gleen tertunduk lesu.
__ADS_1
"Gini aja dulu deh, kan enggak sekarang juga untuk kamu menikah sama Della. Jalanin aja dulu hubungan kalian, lebih dekat aja dulu sama Della, siapa tau perlahan-lahan kamu bisa suka sama dia"
"Tapi aku enggak yakin mom" Sahut Gleen menatap Cinta. "Soal nya dari kecil aku dekat sama Della, tapi sampai saat ini rasa sayang aku ke dia gak pernah berubah, cukup sebagai adik" Jelas laki-laki itu.
Cinta pun ikut bingung. Ia tahu bagaimana sifat putra nya itu. Tapi dia juga tau bagaimana sifat suami nya. Jika sudah bilang A. Ya harus A, tidak akan ada dalam kamus seorang Anan Malik jika A lalu berubah menjadi Z.
...___...
Pagi-pagi, selepas melakukan rutinitas dan sarapan pagi. Gleen sudah bersiap-siap akan kembali ke kota xxxx, sebelum itu dia harus menjemput Della terlebih dahulu.
"Dad, mom, Gleen berangkat" Pamit nya pada ke dua orang tua nya.
Senakal-nakal dan seburuk-buruk nya Gleen sekarang ini, tapi dia tetap tidak menghilangkan rasa hormat dan sopan kepada ke dua orang tua nya. Ia menyalami Anan dan Cinta sebelum dia berlalu pergi.
"Hati-hati ya sayang, cepat kabari mommy kalau sudah sampai" Cinta terasa berat, baru saja dia bisa bertemu dan bercerita ria pada putra nya itu, tapi lagi-lagi dia harus berpisah dengan nya.
"Jangan kebut-kebut bawa mobil nya" Imbuh Cinta.
"Ya mom" Jawab nya.
Gleen pun berlalu masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumah itu.
...___...
Di dalam mobil
Hening tak ada sedikit pun suara, bahkan hanya sekedar musik pun tak terdengar.
Sama-sama diam membisu seperti orang asing yang tidak pernah saling mengenal.
Gleen yang hanya fokus mengemudikan mobil nya menatap lurus ke depan jalanan. Biasa nya, dia bahkan tidak pernah memasang wajah seserius ini. Jika sendirian saat melakukan perjalanan sedikit jauh, maka laki-laki itu akan memutar musik DJ yang akan menggema di dalam mobil.
Untung saja mobil nya mewah dan mahal, jadi bisa tahan saat musik yang dia putar dengan full volume itu begitu menggetar kan mobil nya. Jika mobil yang biasa, mungkin sudah jebol meledak dan menghanguskan nya.
Kurang lebih selama 2 jam mereka saling tak membuka suara. Dan kini akhir nya mobil yang di kendarai Gleen sudah sampai di perkotaan kota xxxx.
Gleen menepikan mobil nya di sebuah SPBU. Bukan untuk mengisi bahan bakar mobil nya. Tetapi sesuatu yang darurat telah terjadi dan dia tak bisa menahan nya.
"Em, Dell, aku ke toilet sebentar ya" Pamit nya yang langsung melejit keluar dari mobil meninggalkan Della.
...___...
__ADS_1