Cinta Sugar Daddy

Cinta Sugar Daddy
110~S3


__ADS_3

...___...


Gleen membawa Hilma masuk ke dalam mobil. Mendudukkan gadis itu di kursi samping kemudi. Setelah nya, dia pun memutari mobil nya untuk segera masuk dan duduk di belakang kemudi.


Gleen menatap Hilma sebelum dia melajukan mobil nya. Gadis itu masih tertunduk diam. Kasihan sekali, tak ada rumah, keluarga, bahkan abang nya sendiri pun sudah dengan tega menjual nya. Maka hal yang sangat tidak mungkin untuk Hilma kembali pada laki-laki biadab itu.


Tak ada pilihan lain, Gleen pun akhir nya membawa Hilma pulang ke apartemen nya.


...___...


"Lo mandi aja dulu, segerin pikiran lo." Ucap Gleen pada Hilma saat mereka memasuki apartemen Gleen.


Hilma terdiam. Menunduk seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran nya.


"Apa yang lo pikirin ?" Tanya Gleen. Ya, dia adalah tipe orang yang sangat peka terhadap apa yang sedang di rasakan oleh seorang perempuan.


"M-mas, saya..-"


"Udah, enggak usah banyak mikir. Mending lo sana mandi, pake aja baju gue dulu di dalem lemari, besok kita keluar beli baju lo."


"Tapi mas-'


"Apa lagi ?" Sahut Gleen, entah apa yang sedang ingin di bicarakan oleh gadis itu.


"Sa-saya, enggak enak sama keluarga mas Gleen.." Lirih Hilma. Ya, karena dia sudah melihat sendiri jika Daddy nya Gleen tidak lah menyukai nya.


Gleen menghela nafas nya. Ya mau bagaimana lagi, dia pun tahu jika Daddy nya pasti akan sangat marah sekali. Dia tidak menyukai Hilma, menganggap jika Hilma lah semua penyebab dari masalah ini.


Tetapi berbeda dari pandangan nya, Hilma tak bersalah, dan dia tidak akan bisa untuk tidak perduli akan Hilma, sosok gadis kecil yang malang dan sebatang kara itu. Justru yang bersalah dan keterlaluan nya disini adalah laki-laki biadab itu, Andi.


"Lo enggak usah pikirin hal itu, gue udah pikirin semua nya !" Tutur Gleen menjawab nya.


"Tapi mas..-"


"Udah sana mandi, apa perlu gue seret dan mandiin lo !"


Hilma menggeleng cepat. Menyeramkan sekali laki-laki itu jika sedang kesal. Hilma pun berlari dengan segera masuk ke dalam kamar Gleen untuk membersihkan diri nya di dalam kamar mandi laki-laki itu.


Sementara Gleen, laki-laki itu duduk termenung di kursi mini bar dapur. Memutar-mutar botol air mineral dengan pandangan nya yang kosong.

__ADS_1


Mungkin, mulai saat ini dia harus menyiapkan diri, mental, dan juga fisik nya untuk menghadapi sesuatu yang pasti akan menimpa nya.


...___...


Cklek..


Gleen masuk ke dalam kamar nya. Ada sesuatu yang harus di lakukan nya di dalam sana.


Tapi seketika mata laki-laki itu terbelalak sempurna saat dengan tidak sengaja nya mata nya melihat sesuatu yang seharus nya tidak di lihat nya.


Reflek laki-laki itu menoleh, memutar dan membalikkan tubuh nya.


"Lo bisa nggak, kalo lagi pake baju tu di kunci pintu nya !!" Sentak Gleen yang membuat Hilma terkejut.


Reflek, Hilma juga memutar tubuh nya yang sedang mengancingkan kemeja kebesaran itu. Ya, karena dia tidak mempunyai pakaian, pakaian dalam pun tak ada, maka dengan terpaksa dia tidak menggunakan pakaian dalam nya malam ini.


"Mas Gleen ngapain sih !" Gumam nya terburu-buru menyelesaikan mengancing baju nya.


"Ngapain ngapain, ya gue mau masuk kamar gue lah !" Sungut laki-laki itu. Kini mata nya telah ternoda karena Hilma.


"Kan bisa ketuk pintu nya dulu !" Ujar Hilma yang tak kalah ber-sungut.


"Hil, tanda merah di dada lo..-" Gleen mencoba bertanya saat dia sudah membalikkan badan nya menghadap Hilma. Gadis itu sudah selesai memakai pakaian nya.


Hilma menunduk, reflek menutup kan ke dua tangan di depan dada nya.


"Ma-maaf Hil, gue gak bermaksud-"


"Hiks..hiks.." Hilma jatuh terduduk di tepian tempat tidur Gleen. Seketika kembali terisak kala mengingat betapa tak bermoral dan kasar nya laki-laki biadab itu menyentuh nya.


"Hil.." Gleen melangkah cepat menghampiri Hilma. Ikut mendudukkan diri nya di samping gadis itu.


"Maaf Hil, gue gak bermaksud-"


"Saya tidak lagi suci mas, saya perempuan kotor yang enggak bisa jaga diri !" Keluh Hilma tergugu.


"Hil..."


"Hiks..hiks.."

__ADS_1


Hilma kembali hancur. Malu pada diri nya sendiri. Dia kotor, dia tak lagi suci. Tak pandai menjaga diri meski belum sampai laki-laki itu merenggut ke sucian nya. Namun dengan menjamah tubuh dan menciumi nya, itu saja cukup membuat Hilma merasa hancur.


"Hil, maafin gue.." Gleen merasa bersalah. Memang tidak seharus nya tadi dia menanyakan hal semacam itu. Tapi Gleen tak bisa memungkiri, melihat tanda merah pada tubuh Hilma sungguh membuat hati nya terasa perih.


"Maaf Hil.." Gleen menarik tubuh mungil itu dan mendekap nya. Ia tahu, rasa sakit dan hancur yang gadis itu rasakan tidak akan bisa hilang begitu saja.


Tapi..


Oh astaga..


Di tengah-tengah rasa kesedihan seperti ini. Gleen justru merasakan sesuatu yang berbeda.


Sesuatu yang...


Argh...


Rasa nya menyesal sekali memeluk gadis ini. Sesuatu yang tak biasa dia rasakan menyentuh dada nya.


Rasa nya kenyal, seperti...


Reflek dengan cepat Gleen meregang kan pelukan nya. 'sialan !'gumam nya dalam hati. Dia terlihat salah tingkah sendiri.


"L-lo.. enggak usah sedih terus ya, lo harus bisa lupain semua kejadian ini. Jangan biarin kejadian buruk ini terus terusan menghantui hari-hari lo" Ujar Gleen, dia menyentuh dagu Hilma dan mengangkat nya.


"Lo harus kuat, lawan rasa trauma Lo"


"Mungkin yang di katakan Daddy nya mas Anan benar, saya ini gadis murahan ! setelah ini, mungkin enggak bakal ada lagi yang mau sama saya !" Ucap nya pada diri sendiri. Hilma kembali menunduk seperti enggan menatap wajah laki-laki di hadapan nya ini.


"Rasa nya hidup saya sudah hancur.."


Gleen menangkup kan ke dua tangan besar nya pada pipi Hilma. Mengangkat kembali wajah itu, untuk membawa nya menatap pada nya.


"Lo nggak murahan, lo seorang gadis berharga yang pantas untuk di cintai.."


Seketika empat manik mata itu saling memandang, untuk waktu yang cukup lama.


Sesungguh nya Hilma tak bisa menolak akan pesona laki-laki yang akhir-akhir ini menunjukkan sikap lembut nya. Ya, meski masih sering menyebalkan.


Tetapi Hilma merasakan sebuah tempat ternyaman bila mana berada di sisi laki-laki itu. Menenangkan..

__ADS_1


...___...


__ADS_2