Cinta Sugar Daddy

Cinta Sugar Daddy
EXTRA PART 43~S2


__ADS_3

...___...


Candra membulatkan mata nya, menatap wajah Genna yang bahkan masih terpejam. Dia salah bicara atau sedang mengigau sih..


"Gen.. bangun Gen !" Ujar Candra lagi yang semakin mendekat kan diri nya.


Genna menggeliat, menarik selimut yang di tindih oleh tangan Candra dan akhir nya laki-laki itu pun tertarik dan jatuh tepat di samping tubuh Genna.


Wajah mereka sangat dekat, bahkan hampir tak ada jarak lagi. Hembusan hangat nafas Genna bahkan sangat terasa menerpa di wajah nya. Candra semakin membulat, entah mengapa jantung nya bahkan berdetak sangat kencang. Dia pun berusaha menelan Saliva nya yang terasa kelu. Istri nya itu, bahkan terlihat sangat cantik di saat dia memejam kan mata.


Tiba-tiba saja, di dalam pikiran Candra ingin sekali dia mencium bibir Genna yang terlihat sangat menggoda meski tak terpoles apa pun. Candra tak mampu menahan nya, perlahan dia lebih mendekatkan wajah nya ke arah Genna. Menempel kan bibir nya pada bibir Genna yang terasa sangat lembut. Genna tak terusik, gadis itu bahkan membiarkan nya saat dia mulai menghisap bibir nya.


Candra merasa sedikit berbeda, hembusan nafas Genna bahkan bukan terasa hangat lagi, melainkan terasa panas. Dia melepas tautan bibir nya, menyentuh kening Genna yang ternyata terasa panas.


"Gen, kamu demam.." Seru Candra yang mulai terlihat khawatir. Dia membuka sedikit selimut yang menutupi tubuh Genna, menyentuh leher, hingga badan nya pun juga terasa sangat panas.


"Ya ampun Gen..." Gumam laki-laki itu. Dia bangkit dari ranjang, berjalan dengan langkah panjang keluar dari dalam kamar nya. Candra menuju dapur mengambil air hangat untuk mengompres istri nya.


Setelah kembali ke kamar, buru-buru Candra kembali naik ke atas ranjang nya yang besar. Memeras dan menempel kan selembar handuk kecil pada kening sang istri yang mulai terlihat pucat. Sangat panas sekali suhu tubuh nya.


"Gen.." Gumam Candra yang mengkhawatirkan nya.


Berulang kali Candra mengompres nya, tapi demam nya tak juga turun-turun. Candra semakin khawatir, dia di buat panik karena Genna tak juga merespon panggilan nya. Gadis itu hanya menggugu karena mungkin kedinginan.


"Gen, Genna.." Candra terus berusaha membangun kan nya agar Genna bisa segera meminum obat.


Dan Genna pun membuka mata nya meski terlihat sayu-sayu. Dia terus menarik selimut dan berusaha untuk menutupi seluruh tubuh nya. Ya, dia terasa menggigil kedinginan meski suhu tubuh nya sangat panas.

__ADS_1


"Bangun sebentar ya minum obat" Tutur Candra pada Genna.


Genna menggeleng. "Mata aku buram banget, kepala aku juga berat banget, sakit" Lirih gadis itu. "Dingin.." Imbuh nya yang merasa sangat dingin pada tubuh nya.


Candra panik, dia kebingungan melihat kondisi Genna. Kompres tak merubah apa pun, menyuruh nya minum obat pun Genna tak mau bangkit untuk sebentar saja.


Lalu tanpa berpikir panjang, dia membuka kancing kemeja nya satu-persatu. Melepas kemeja yang dia pakai dan menaruh nya ke sembarang tempat. Dengan cepat dia membuka selimut yang menutupi tubuh Genna, dia juga meraih kancing piama Genna satu-persatu dan membuka nya.


Oh tidak..


Untuk sejenak Candra terdiam kaku. Dia membulatkan mata nya sempurna seraya mencoba menelan Saliva nya dengan susah payah. Nafas nya memburu, jantung nya berdebar hebat. Dia melihat tubuh Genna setelah selesai melepas semua kancing piama nya. Gadis itu tak lagi memakai pakaian dalam sebagai pembungkus ke dua gundukan sintal nya. Ya, Genna selalu melepas bra nya di saat dia akan tidur.


Tuhan..


Ini kah sebuah ujian yang terasa begitu berat sekali. Begitu menyia-nyiakan jika harus melewatkan pemandangan indah yang ingin dia rasakan sejak kemarin, tapi begitu pengecut nya dia jika memanfaatkan ke adaan Genna yang seperti ini.


Demi apa pun, dia harus menyampingkan gairah nya yang selalu di uji. Candra pun akhir nya melepaskan piama Genna. Membiarkan Genna tak memakai apa pun untuk menutupi tubuh bagian atas nya. Dengan cepat, Candra ikut memasukkan diri nya ke dalam selimut, memeluk tubuh Genna erat-erat dengan sama-sama tak memakai sehelai benang pun yang menutupi tubuh bagian atas mereka. Semua Candra lakukan, demi ingin menurunkan demam nya dan memberikan kehangatan untuk Genna yang menggigil kedinginan. Untuk urusan gadis itu akan marah atau tidak, biar lah itu menjadi urusan nanti.


Ke dua nya sama-sama tenggelam di dalam selimut. Hawa panas pada tubuh Genna benar-benar terasa menyalur pada tubuh Candra. Candra merasa kasihan melihat kondisi sang istri yang seperti ini.


Cukup lama, dan suasana nya semakin terasa tidak nyaman. Bukan posisi nya, melainkan suasana yang juga terasa menjadi panas.


Candra terus-menerus menelan Saliva. Tubuh nya menegang saat dia merasakan kekenyalan sesuatu yang nyata menempel pada bagian dada nya. Demi apa pun, ini benar-benar membuat tubuh nya panas dalam ketegangan.


Seketika Candra tersentak, kala mendengar ponsel nya yang berdering di atas nakas. Dia meregangkan pelukan nya, perlahan menarik tangan nya sebagai bantalan untuk kepala Genna.


Dia mengambil ponsel nya yang terus berdering, melihat siapa kah yang tengah menelpon nya.

__ADS_1


"Ya halo.." Sapa nya sesat setelah dia menggeser tanda hijau pada layar ponsel nya.


'Selamat pagi pak, maaf meeting nya 30 menit lagi akan segera di mulai' Ucap seorang wanita sebagai sekretaris Candra di kantor.


Astaga..


Candra bahkan sampai melupakan hal ini. "Din, tolong di batalkan dulu meeting nya ya, mendadak istri saya sakit !" Ujar Candra pada Dina sekretaris nya.


'Tapi pak-'


"Em.. gini deh, saya telpon papa saya sebentar minta dia buat gantiin saya" Ucap Candra


'Baik pak'


"Oke, saya kirim data-data nya sekarang juga ya"


'Siap pak' Jawab Dina. Lalu sambungan telpon pun terputus.


Candra mencari nomor ponsel papa nya, menghubungi nya dan meminta bantuan nya untuk menggantikan nya meeting hari ini. Dia sangat berharap papa nya bisa membantu nya kali ini.


Bersyukur, Risky papa nya bisa membantu nya. Setelah menutup sambungan telpon dengan sang papa, Candra bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamar nya menuju ruang kerja untuk mengambil laptop nya dan kembali ke kamar. Dia harus segera mengirim kan data-data yang sudah dia siap kan semalam ke pada sekretaris nya, Dina.


Setelah selesai, Candra kembali memperhatikan Genna sang istri. Gadis itu masih terlihat lemah dan pucat, juga masih terasa demam nya. Dia kembali masuk ke dalam selimut, memeluk lagi sang istri yang masih membutuhkan penurunan demam dan menggigil nya.


Candra semakin gelisah, resah dengan posisi nya sekarang ini. Dia benar-benar di buat tidak kuat oleh keadaan yang selalu membangkitkan gairah nya. Terlebih, dalam posisi Genna yang setengah polos berada dalam pelukan nya saat ini.


...___...

__ADS_1


Yakin masih mau di tahan om 😜😜😜


__ADS_2