Cinta Sugar Daddy

Cinta Sugar Daddy
BAB 148, S2


__ADS_3

Setelah pertemuan mereka siang itu, Al dan yang lainnya memutusskan untuk pulang terlebih dahuluu, menunggu jawaban Diana esok hari, mereka tau kalau wanita itu pasti sedang memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, atau bahkan masih bingung dengan semua fakta yang baru saja ia dengar. sulit menerimanya namun itulah kenyataannya


Al memutuskan membawa istrinya kesebuah tempat yang menjadi impian para wisatawan dikota itu, Jogja kota dengan segala keunikan dan budaya yang begitu khas menyimpan begitu banyak keindahan, Al memilih untuk jalan jalan dan menghabiskan waktu bersama


berbeda dengan pasangan paruh baya dihotel, mereka tidak mau keluar namun memilih menghabiskan waktu dihotel saja, banyak hal yang harus mereka urus, belum lagi mereka harus meyakinkan wanita yang akan menjadi ibu dari cucu mereka nanti


"ma, bagaimana kalau wanita itu memilih untuk tidak menikah dengan Dar dan lebih memilih untuk melahirkan anak itu tanpa membangun hubungan antara mereka" ucap Alfred memikirkan putranya akankah mau menerima Diana atau malah sebaliknya


"kita akan atur startegi yang lain pa, wanita itu harus menjadi menantu kita. mama menyukai wanita itu, dan mau tidak mau harus menikah dengan anak nakal itu!"  ucap Agatha bersikekeuh untuk menikahkan Diana dengan Dar, bahkan mereka tidak tau apa anak mereka mau atau tidak


"iya ma, papa uga tau itu. tapikan kita tiak tau apakah Diana akan menrima kita atau tidak. dia selama ini sudah menjadi wanita yang mandiri dan tidak membutuhkan orang lain" jawab Alfred membuat Agatha diam sejenak dan berfikir


"mama tidak mau tau pa, wanita itu harus jadi mantu kita, apapun caranya" ucap Agatha membuat Alfred hanya mengangguk paham, memikirkan cara bagaimana bisa melancarkan rencana mereka


sementara ditempat lain, Al dan Asya sedang asik menikmati waktu kebersamaan mereka, tidak ada anak anak yang membuat mereka tidak puas berduaan, bahkan mereka sejak tadi seperti orang yang pacaran saja. namun bedanya Al menjadi terlihat sugar daddy Asya


orang orang yang melihat mereka bahkan heran dan senyum baper dengan sikap Al kepada istrinya, Asya kembali pada mode manjanya, sama seperti mereka ketika awal  menikah dulu, meminta ini itu kepada suaminya, dan Al selalu siap siaga


"mas, liatlah orang orang menatap kita dengan heran, entah apa yang dipikirkan oleh mereka"ucap Asya tersenyum sambil melihat sekelilingnya


"biarkan saja sayang, itu bukan hal penting untuk kita" jawab Al sambil menyeka keringat istrinya dengan sapu tangan miliknya dan kembali menyodorkan makanan yang mereka nikmati


"mas love you" ucap Asya spontan membuat Al tersenyum gemas dengan istrinya, pria itu langsung mencium pipi Asya ditengah kerumunan banyak orang


"mas..." ucap Asya saat melihat betapa nekatnya suaminya melakukan itu, tidak malu bahkan tersenyum manis tanpa rasa bersalah


***

__ADS_1


"kak, bagaimana rencana kakak selanjutnya?, apakah kakak menerima mereka dengan keluarga baru?" tanya Ratih saat mereka berdua membahas apa yang baru saja terjadi


keluarga dari ayah anaknya datang ingin menjemput dirinya, meminta maaf dan bahkan datang secara baik baik, tidak disangka, padahal dipikiran Diana sebelumnya, jika kleuarga itu akan memaksa dirinya atau bahkan membuat mereka dalam kesulitan


"tidak tau dek, kakak merasa keluarga mereka orang baik, tapi kakak tidak yakin dengan pria itu" ucap Diana masih bingung dengan apa yang akan menjadi keputusannya, satu sisi dirinya senang karna anaknya bakal jelas anak siapa namun satu sisi juga ia takut dengan apa yang menunggu dirinya didepan sana


"kak, jangan tterllau dipikirkan soal pria itu. kalau keluarganya saja menerima kaka sampai ibunya sebaik tadi bukan berarti pria itu bisa berbuat semaunya. lagipula demi ponakan Ratih terima saja kak, kakak bisa pisah dengan ayah bayi kakak jika kakak tidak tahan dengan dia" ucap Ratih memberi saran


ia juga tidak mau membuat kakanya didalam masalah terus, jika kakaknya mendapat kehidupan yang lebih baik kenapa tidak, masalah dirinya Ratih tau pasti kakaknya tidak akan meninggalkan dirinya sendirian


"iya dek, kakak juga berfikir demikian. kasihan juga nanti jika dia lahir tidak jelas siapa ayahnya" ucap Diana, dan kali ini dia akan mengambil keputusan walaupun sessuatu didepan sana menunggunya, entah itu kabar baik atau buruk Diana sudah siap menerimanya


"tapi bagaimana denganmu?" tanya Diana mencemaskan adiknya, ia tidak mau meninggalkan adiknya sendirian dikota orang, belum lagi Ratih masih kuliah


"aku bisa jaga diri kak, lagipula kakak gak bakal kemana mana kan" ucap Ratih tersenyum meyakinkah kakaknya


pagi harinya, sudah menjelang jam sepuluh Al dan yang lainnya masih bersiap siap menuju rumah Diana, inilah hari dimana mereka mendapat jawaban Diana dan siap untuk memaksa jika harus dilakukan


sampai akhirnya mereka tiba ditempat tujuan sekitar jam setengah duabelas, mereka langsung turun dan mengetuk pintu rumah Diana, sementara sang empunya sibuk didapur dan bersiap menyambut tamunya, namun hari ini Rtaih adiknya tidak ada dirumah, dia harus kuliah


"selamat datang tuan, nyonya. masi masuk saja kedalam" ucap Diana saat melihat tamu yang sedari tadi ia tunggu akhirnya datang


"terimakasih Diana" ucap Asya mewakili mereka semua, akhirnya mereka masuk dan dengan sigap Diana menyungguhi minum untuk tamunya


"langsung saja keintinya, tidak berlama lama basa basi lagi. bagaimana jawabanmu Diana?, apakah bersedia bertemu dengan adikku dan menikah dengannya?" tanya Al sambil menatap wanita itu dengan tegas dan wibawa


"terimkasih tuan, saya sudah memikirkan jawabnnya selama semalaman. banyak tanda tanya itu pasti, khawatir dan juga cemas seperti apa kedepannya, namun demi anak saya dan kehormatan untuk keluarga tuan yang rela datang kerumah saya hanya karna masalah ini, saya memutuskan untuk menerima dan akan ikut dengan kalian. namun sebelumnya,saya ada permintaan" ucap Diana ambil tertahan

__ADS_1


"apa itu Diana?" tanya Agatha bersemangat, lampu hijau sudah mereka dapatkan, meskipun ada syarat yang sulit ditawarkan Diana mereka pasti akan menyanggupinya


"saya ingin, adik saya juga ikut dengan kami. tuan dan nyonya pasti tau adik saya masih kuliah, saya tidak mau meninggalkan dia sendiri disini, jika berkenan ijinkan saya membantu adik saya sampai menyelesaikan kuliahnya, atau jika mau anak nyonya ikut tinggal dikota ini bersama saya" permintaan Diana sederhana namun pasti sulit untuk dilakukan, pikirnya


"itu perkara yang mudah Diana, jangan khawtair hal itu. jika kamu ikut dengan kami, sudah pasti adikmu juga. kita akan menjadi keluarga, jadi kalian berdua akan ikut dengan kami. perkara kuliah bisa diurus dengan mudah" ucap Agatha dengan tersenyum, juga Asya dan yang lainnya mengangguk setuju


"apa ada yang lain Diana?" tanya Agtaha, wanita paruh baya itu sangat bersemangat. kini mereka tinggal melanjutkan rencana yaitu membuat Dar menyesal dengan kelakuanny


"tidak ada nyonya" jawab Diana tersneyum, dengan cepat Agatha berpindah dan memeluk Diana. wanita paruh baya itu senang dan sangat bahagia. ternyata usaha mereka tidak sia sia


"Diana, ingat! aku jangan kamu panggil nyonya tapi panggil mama sama seperti Darrec calon suamimu, dan Al jangan panggil tuan, tapi ipar juga menantuku Asya. kamu adalah bagian dari keluarga kami. tidak ada perbedaan antara kita lagi, nanti kamu akan bertemu dengan keluarga kami yang lainnya, ada Vin dan Chloe dan cucuku sikembar, rumah sangat ramai Diana, ditambah lagi dengan Mic tapi....." perkataan Agatha terpotong karna Alfred


"sudah sudah.. mama ini tidak bisa menahan bicaranya, lihatlah Diana bahkan tegang mendengarnya, kasihan menantu kita akan merasa tertekan ma" ucap Alfred padahal itu bukan alasan utama,


mereka tertawa melihat Agatha yang marah dnegan suaminya, bahkan Diana tidak menyangka jika keluarga yang ia adapat akan se welcome itu padanya, ia sungguh tidak menyangka itu


"jam berapa Ratih pulang Diana, ehh apakah tidak ada nama lebih pendek yang bisa dipanggil?" tanya Asya yang menurutnya memanggil nama Diana terlalu panjang


"ehh panggil saja Dina mba, adekku akan pulang setengah jam lagi" jawab Diana kikuk dan merasa canggung memanggil Asya, apakah dia harus memanggil kak?, atau ba?, atau Asya begitu?


umur mereka terlihat tidak jauh, hanya beda satu atau dua tahun, namun jika dilihat dari atas, Asya adalah kakak iparnya karna Al abang Dar


"panggil nama saja Dina, Asya itu lebih akrab bukan?" ucap Asya tersenyum, taulah Asya orangnya gimana, langsung bisa berbaur dan menerima orang baru, lagi dia juga tidak mau membuat Dina merasa vcanggung diantara mereka


next


jangan lupa like,komen,dan favorit kalian readers😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2