Cinta Sugar Daddy

Cinta Sugar Daddy
104~S3


__ADS_3

...___...


Della tak menolak dekapan dari Gleen. Tak di pungkiri, Della pun cukup menikmati pelukan hangat yang sudah lama tak lagi di rasakan nya. Ya, Della cukup merindukan pelukan hangat laki-laki itu.


Della menangis, namun tanpa suara. Sakit sekali, menahan suara tangis yang terhenti di tengah-tengah tenggorokan nya.


Hati nya terluka, hati nya hancur karena laki-laki itu. Tapi laki-laki itu juga yang berusaha menenangkan nya.


"Gue pengen kita kaya dulu Dell, dekat, saling menyayangi, saling ada satu sama lain. Tapi gue takut, gue takut itu akan semakin nyakitin lo" Gumam Gleen masih dalam posisi yang sama.


Gleen mengusap rambut panjang dan lembut yang terurai. Menghirup aroma wangi nya yang masih tetap sama seperti dulu. Ya, Gleen pun sebenarnya sangat merindukan gadis itu.


"Gue sayang sama lo Dell.." Gleen meregangkan pelukan nya. Menaruh ke dua tangan nya pada pundak gadis itu. Dia menatap wajah nya.


"Maafin gue ya, udah buat lo nangis" Ujar nya sembari mengusap sisa-sisa air mata yang membekas di pipi Della.


"Gue sayang lo, selama nya lo akan jadi adik kesayangan gue" Tambah laki-laki itu.


Della tertunduk, susah sekali untuk menahan genangan air mata agar tak lagi terjatuh di hadapan Gleen.


Terlebih mendengar kata-kata nya barusan, itu arti nya tak akan ada lagi harapan untuk dia bisa memiliki hati laki-laki itu sebagai pasangan hidup nya. Ya, selama nya dia hanya akan menempati hati Gleen dengan batas sebagai seorang adik. Tak akan lebih.


"Sekarang kita pulang ya"


Della mendongakkan wajah nya. Menatap wajah laki-laki itu yang penuh ketulusan.


"Jangan pernah lagi dateng ke tempat ini, oke !"


Demi tuhan, Della tidak bisa tidak merasakan kenyamanan atas sikap lembut dan perhatian nya laki-laki itu.


"Gue gak mau lo kenal sama dunia malam kayak gini" Laki-laki itu menangkup ke dua pipi nya. Menatap dalam ke dua mata sayu gadis itu.


"Tempat ini enggak baik buat Lo" Imbuh nya.


Della mengangguk. Mengalihkan pandangan nya dari laki-laki itu. "Oke." Jawab nya.


Sementara di sisi lain.


Hilma, perempuan itu menyaksikan adegan yang membuat nya turut bersedih akibat perasaan Della, yang ternyata tidak mendapatkan balasan dari Gleen.


Entah mengapa Hilma ikut merasakan sakit nya.


Ya, dia sudah sadar sejak belum lama Gleen memasukkan nya ke dalam mobil. Kebisingan di luar sana menarik perhatian nya dan tanpa sengaja pun mendengar semua nya.

__ADS_1


...___...


Gleen membawa Hilma ke rumah sakit. Ia khawatir terjadi sesuatu terhadap gadis yang nyaris mati itu.


"Gimana ke adaan nya dok ?" Tanya Gleen pada dokter yang memeriksa keadaan Hilma.


"Keadaan nya baik-baik saja, tak ada luka yang serius. Hanya saja mungkin pasien merasakan sakit di tenggorokan nya akibat tercekik yang cukup lama. Beruntung tidak meninggal" Ucap dokter tampan yang bertugas di ruang IGD.


"Sudah boleh pulang, ke adaan nya tidak mengkhawatirkan kok, istirahat yang cukup saja di rumah ya" Tambah sang dokter.


Gleen menatap Della, yang juga tengah menatap nya. Setelah berterimakasih pada dokter, Gleen dan Della pun berjalan mendekati Hilma yang berbaring di atas brankar.


"Gimana ke adaan Lo ?" Tanya Gleen pada Hilma yang tertunduk lesu. Terlihat, tubuh nya masih sangat lemas.


"Saya baik, mas." Jawab Hilma tanpa mengangkat wajah nya.


"Lain kali, enggak usah sok jadi pahlawan kemaleman deh !"


Ucapan Gleen, seketika membuat Hilma mendongak menatap nya. Dahi nya berkerut dalam.


"Niat mau nolongin orang, tapi elo sendiri ngerepotin orang ! gimana kalo gue gak Dateng tepat waktu, mungkin lo sekarang lagi di gandeng sama malaikat pencabut nyawa !"


"Tapi saya enggak minta mas tolongin !" Sentak Hilma.


"Gue kan udah pernah bilang, gue enggak suka liat orang yang bertingkah seenak jidat nya sendiri ! ya contoh nya kayak si Dito itu !" Ujar nya dengan raut wajah kesinisan saat mengingat betapa tak punya hati nya Dito saat mencekik Hilma.


"Lagian lo jadi cewek enggak berterimakasih banget ya, liat dong muka gue yang ganteng dan manis ini, jadi bonyok gara-gara elo !" Ujar Gleen menuding wajah nya sendiri. Menunjukkan pada Hilma betapa menyedihkan nya wajah nya itu.


Hilma tertunduk. Melihat wajah Gleen yang tak setampan kemarin, membuat nya menjadi merasa bersalah.


"M-maaf, mas !" Ujar nya melirih.


"Maaf, maaf, emang dengan kata maaf lo bisa nyembuhin muka gue, bisa balikin muka ganteng gue !' Sungut laki-laki itu.


"Jadi, saya harus gimana mas ?" Tanya gadis itu dengan rasa bersalah nya.


"Enggak harus gimana-gimana !" Jawab Gleen dengan ketus. "Auuhhh.." Gleen memekik sakit dan perih pada bagian bagian di wajah nya.


"Gleen-"


"Biar saya obatin mas !" Sargah Hilma menghentikan Della yang akan mengatakan sesuatu pada Gleen.


Hilma turun dari brankar, berjalan ke satu tempat di mana lemari obat-obatan tersimpan. Gadis itu mengambil sesuatu yang dia butuhkan, kemudian kembali dan berdiri di hadapan Gleen.

__ADS_1


"Apa ?" Gleen bertanya saat melihat Hilma yang hanya diam saja sambil menatap nya.


"I-itu, mas nunduk sedikit kek, atau duduk gitu. Saya enggak sampe"


"Makanya, jadi orang itu tinggi ! gizi Lo buruk banget kali ya, makanya enggak tinggi-tinggi, pendek terus !"


Hilma menaruh dengan kuat obat-obatan nya di atas meja kecil. Merasa kesal pada laki-laki yang selalu menghina dan mengejek nya.


Gleen terkejut, menatap takut pada Hilma yang seketika berwajah menyeramkan.


"Sa-santai, jangan ngamuk gitu. Yang gue bilang itu kenyataan nya kan !"


"Udah sini !"


"Auuu..!!" Gleen memekik saat Hilma menempelkan kapas dengan obat pada luka luka nya. "Sakit woi !"


"Bodo amat !"


"Dieh !"


...___...


Pukul 2 dini hari, Gleen dan Della tetap harus mengantar kan Hilma pulang ke rumah nya. Ya, karena dokter sudah memperbolehkan nya untuk pulang.


"Disini aja mas, rumah saya masuk gang itu"


Gleen menepikan mobil nya, saat Hilma menunjuk sebuah gang kecil yang tidak bisa di lewati mobil. Cukup dengan orang pejalan kaki saja.


Hilma turun, di ikuti Gleen dan juga Della.


"Rumah lo masuk ke sana ?"


Hilma mengangguk. Terlihat sempit, kumuh, dan sangat minim oleh lampu penerangan.


"Gue anter lo sampe depan rumah" Ujar Gleen yang langsung melangkah kan kaki nya dulu.


"Enggak usah mas, saya sudah bisa jalan sendiri !"


Gleen kembali memutar tubuh nya. Kembali melangkah mendekati Hilma dan juga Della yang berdiri di samping nya.


"Jalan itu gelap, sepi enggak ada orang. Kalo di tengah jalan lo cegat malaikat pencabut nyawa lagi gimana ?"


"Ish, mas !!" Hilma ber-sungut, dan meninju lengan laki-laki itu.

__ADS_1


...___...


__ADS_2