Cinta Sugar Daddy

Cinta Sugar Daddy
EXTRA PART 89-S2


__ADS_3

...___...


Sangking sakit nya, Genna bahkan sampai mengeluarkan air mata. Wajah nya terlihat sangat pucat, namun perempuan itu menolak keras untuk melakukan operasi Caesar. Kata nya, dia ingin merasakan perjuangan seorang ibu.


Sudah pukul setengah satu tengah malam, tapi rasa itu sedikit pun tidak berkurang, malah semakin sering terasa. Dokter terus memeriksa, tapi Genna masih menunjukkan bukaan 5, masih jauh dari lahir nya bayi.


"Sayang.." Candra bahkan terdengar gemetar, sedetik pun laki-laki itu tidak meninggalkan istri nya, dia duduk di samping brankar sambil terus menggenggam tangan Genna dan mengecupi nya.


"Caesar aja ya, aku gak kuat liat kamu kesakitan gini.." Gumam Candra yang sungguh tak kuasa melihat sang istri. Jika saja rasa sakit saat melahirkan itu bisa dia gantikan, maka biar lah dia saja yang merasakan nya.


"Gak mau mas, aku mau melahirkan anak kita secara normal" Lagi-lagi Genna menolak nya.


"Tapi Gen..-"


"Maafin aku ya mas, aku banyak salah sama kamu, aku belum bisa jadi istri yang baik buat kamu" Lirih Genna sambil menyentuh pipi sang suami.


"Sayang, kamu gak salah apa pun sama aku, aku yang minta maaf sama kamu, karena melahirkan anak kita, kamu harus berjuang dengan rasa sakit ini" Dada nya bagai tertusuk anak panah saat Genna meminta maaf pada nya.


Mata Genna menyipit, memandang wajah sang suami sambil mencoba tersenyum. Mengingat, betapa merasa bersalah nya dia sewaktu masa kehamilan nya yang selalu saja marah-marah tidak jelas pada Candra, tak pernah membiarkan laki-laki itu tidur saat malam, banyak nya permintaan membuat laki-laki itu mungkin sangat kelelahan setelah bekerja demi menuruti keinginan nya.


"Kamu harus kuat, aku akan selalu disini sama kamu" Imbuh Candra dengan buliran air mata yang terus mengalir.


"Sakiiittt maaass..." Keluh Genna tak kuat lagi. Dia merasa sudah sangat lemas dan kelelahan.


"Maafin aku..."


"Sayang...."


...___...


Candra terus memandangi wajah kecil dan mungil sesosok bayi yang berada di gendongan nya. Bayi nya yang tampan akhir nya pun bisa dia dekap dengan hangat. Setelah meng-adzani nya, Candra pun kembali meletakkan putra nya di box bayi.


Laki-laki itu beralih, menatap sosok sang istri yang masih tak sadar kan diri dengan tambahan alat oksigen di hidung nya. Candra kembali berkaca-kaca, setelah sekuat tenaga perempuan itu mengejan mengeluarkan anak mereka, Genna bahkan langsung pingsan tak sadarkan diri.


"Sayang.." Candra tergugu, menangis menggenggam kuat tangan Genna. Ia berharap agar wanita itu bisa segera bangun untuk melihat buah hati mereka.


Rasa bahagia dan sedih yang datang secara bersamaan, bahagia yang akhir nya dia bisa melihat dan mendekap bayi nya, namun rasa sedih yang pada akhir nya istri nya itu harus koma setelah ia melahirkan anak mereka.


...___...


Satu Minggu pun berlalu, dokter sudah memperbolehkan untuk baby D di bawa pulang sejak tiga hari yang lalu. Tapi tidak bersama ibu nya, sang ibu masih harus tinggal untuk mendapatkan perawatan serta pengawasan dari dokter.


Sedih, berat hati untuk menerima semua ini, istri nya bahkan masih tak sadarkan diri sampai saat ini.


"Nak, kamu harus kuat, ingat ada putra kamu yang membutuhkan mu" Risky sang papa, datang menghampiri Candra yang bahkan enggan dan hampir tidak pernah beranjak dari kursi di samping ranjang sang istri. Candra ingin terus berada di sana menunggui istri nya sampai ia membuka mata.


"Kamu juga butuh istirahat, kasian anak kamu Can !" Imbuh papa nya itu.


Semua keluarga nya tak kuasa, merasa sedih melihat kondisi Genna yang justru terbaring koma. Entah apa penyebab nya.

__ADS_1


"Owekk..owekk.."


Baby D terus saja menangis, di gendong siapa pun ia tetap merasa tidak tenang, padahal baru saja di beri susu, popok nya pun masih bersih, tapi ia masih tak mau diam.


"Bun, gimana ini ?" Cinta pun bahkan kebingungan, mendekap dan menimang-nimang nya pun masih tak membuat cucu nya itu merasa nyaman.


Candra pun akhir nya bangkit, berjalan mendekati Cinta dan meminta bayi nya. Pelan-pelan dia menggendong nya, membawa bayi nya itu kembali mendekat pada mama nya.


Candra kembali mendudukkan diri nya, menatap wajah putra dan istri nya secara bergantian. Ke dua harta yang sangat lah berharga dalam hidup nya, sungguh ia tak ingin kehilangan salah satu di antara ke dua nya.


"Sayang, lihat putra kita, dia sangat ingin di peluk oleh mu.." Gumam Candra dengan suara yang gemetar. Tak henti-hentinya laki-laki itu menangis.


"Bangun sayang, anak kita butuh kamu.."


Demi apa pun, tak ada hal yang lebih menyakitkan dari kejadian ini.


Pelan-pelan Candra meletakkan bayi nya di samping Genna. Siapa tahu saja dengan kedekatan mereka bisa membuat Genna kembali tersadar. Karena kata nya batin seorang anak pada ibu nya lebih kuat dari apa pun.


Baby D pun akhir nya mulai berhenti menangis, dia menggeliat, mengulet lucu seperti hendak bangun dan memeluk ibu nya. Semakin lah membuat Candra menangis tergugu, ada rasa sedikit lega karena pada arti nya putra nya itu mungkin merindukan ibu nya.


"Sayang, ini mama nak..." Celoteh papa baru itu menatap wajah putra nya, namun tangan nya yang bergerak mengusap pucuk kepala Genna.


"Panggil mama sayang.. panggil mama" Candra sangat berharap, semakin sering dia berinteraksi, mengobrol dan memanggil nya, Genna bisa mendengar nya dan membuka mata nya.


Hanya mengulet-ngulet yang bisa baby D lakukan. Tangan nya yang menyentuh-nyentuh lengan sang mama, membuat perempuan yang memejam kan mata dalam tidur nya selama 7 hari pun akhir nya menunjukkan reaksi.


"Sayang..!!" Candra berseru, menyadari reaksi sang istri yang mulai menggerakkan tangan nya. Dengan cepat Gleen berlari keluar ruangan memanggil sang dokter.


...___...


Tiga hari setelah tersadar, maka dokter pun mengambil keputusan untuk memperbolehkan Genna untuk pulang, perempuan itu di nyatakan sudah mulai pulih dan sehat. Sungguh sesuatu luar biasa yang terjadi secepat ini.


Tak terkecuali Candra, laki-laki sebagai suami nya Genna itu pun sangat-sangat bahagia, ia sangat mengucap syukur karena akhir nya istri dan anak nya pun berada di dalam dekapan nya. Harapan dan doa nya pada Tuhan benar-benar terkabulkan.


Pelan-pelan Candra membopong tubuh sang istri, lalu membaringkan nya di tempat tidur. Meski sudah sedikit membaik, tapi Genna masih harus banyak beristirahat.


"Mas, aku mau gendong anak kita dong" Pinta nya sambil bersandar di sandaran kepala ranjang.


"Sayang, istirahat dulu ya, anak kita lagi sama nenek nya kok"


"Mas, sebentar aja.." Pinta nya dengan raut wajah memohon.


"Ya udah, sebentar aku ambilin dulu ya.." Candra sungguh tak bisa menolak jika Genna sudah menunjukkan satu permohonan.


Candra pergi meninggalkan nya, berjalan keluar kamar menuju dimana Tina mama nya berada yang sedang menggendong anak nya.


"Ma.." Candra memanggil Tina, wanita yang kini sudah menjadi nenek itu sedang berceloteh lucu dengan cucu nya di temani sang suami. Terlihat bahagia nya mereka.


"Kenapa Can ?"

__ADS_1


"Genna pengen gendong bayi nya ma" Ujar nya.


"Oh, emang dia gak istirahat ?" Tina sambil memberikan baby D pada Candra.


"Kangen anak nya kata nya, mau gendong sebentar"


"Ya udah, jangan lama-lama, Genna masih harus banyak istirahat" Ucap Risky menimpali.


Setelah meng-iyakan, Candra pun kembali berjalan ke kamar nya.


...___...


Di dalam kamar, Genna merasa begitu tak sabar nya saat melihat Candra bersama dengan sosok mungil yang sangat dia rindukan.


"Sini mas" Pinta nya sambil mengulurkan ke dua tangan.


Pelan-pelan Candra memberikan baby D pada sang istri, lalu dia pun ikut mendudukkan diri nya di tepian ranjang di dekat Genna.


"Sayang, anak mama..." Genna mencium pipi nya, begitu tampan dan menggemaskan putra nya itu.


"Sayang, mau di kasih nama siapa ?" Suara Candra bertanya. Karena memang setelah lahir nya baby D, dia belum sempat memikirkan untuk memberi nya nama, dia masih terlalu pusing memikirkan kondisi Genna saat koma.


"Kamu belum kasih dia nama mas ?"


"Belum sayang, aku mau kasih nama putra kita bareng kamu" Ujar nya menjawab.


"Aku sih terserah kamu aja mas" Ucap Genna.


Candra terdiam, tampak sedang berpikir kira-kira siapa kah nama yang cocok untuk putra nya itu.


"Gimana kalau kita kasih nama Dylan Herlangga ?"


Genna pun berpikir, seperti nya cocok. "Boleh mas, Dylan Herlangga, tapi..."


"Tapi apa sayang ?"


"Boleh gak aku nambahin ?"


"Ya boleh dong sayang, kamu mau kasih nama siapa ?"


"Gimana kalau... Dylan Kaireel Herlangga ?" Ucap Genna.


"Dylan Kaireel Herlangga.. Bagus sayang.." Seru Candra, dia tampak sangat menyetujui untuk nama putra nya itu.


"Aku setuju banget !"


"Dylan Kaireel Herlangga, eemm sayang.. cieee udah punya nama yah.." Celoteh Genna sembari mencium gemas pada putra nya itu.


Tak mau berhenti sangking gemas nya, sehingga membuat Candra tersenyum bahagia melihat nya, dia ikut mencium pipi sebelah putra nya, lalu tak lupa juga mencium pucuk kepala sang istri. Betapa lengkap nya kebahagiaan nya, yang telah di anugrahi istri dan juga seorang putra yang sangat berharga dalam hidup nya lebih dari apa pun.

__ADS_1


...___...


END


__ADS_2