
..._____...
Pandangan seorang ibu dan anak itu masih saling menatap dalam satu garis lurus. Memandang nya sendu, hingga tak terasa buliran air sebening kristal itu terjatuh dengan sendiri nya.
Rasa rindu kian menggebu, berpisah selama bertahun-tahun sungguh membuat nya tersiksa. Terlebih, Candra hanya lah anak satu-satunya.
"Sayang..." Tina terisak lirih. Berjalan mendekat kemudian menyentuh pipi anak laki-laki nya itu.
Dan tanpa kata lagi, Tina langsung menarik tubuh tegap dan tinggi itu untuk memeluk nya dengan erat.
"Mama kangen banget sama kamu sayang.." Gumam Tina tanpa enggan melepas pelukan nya.
"Candra juga kangen banget sama mama" Balas nya.
Cukup lama untuk mereka saling melepas rindu, hingga Candra seolah telah melupakan kehadiran Della di sana.
Della terdiam, menunduk kaku dan meremas kuat rok yang dia gunakan. Tangan nya gemetar hebat. Rasa panas dingin kian terasa menyerang tubuh nya.
Entah lah..
Ada apa dengan gadis kecil itu. Bukan nya senang dan bahagia, tapi justru Della merasa takut yang amat sangat.
"Akhir nya kamu pulang sayang.." Setelah sekian lama Tina memeluk nya, kini pelukan mereka pun meregang.
"Maafin Candra ma" Ujar nya.
"Pokok nya mama gak mau kamu tinggalin lagi" Titah Tina tanpa ingin melepas pandangan nya dari wajah putra nya itu.
"Oh ya, papa mana ?" Alih nya bertanya.
"Papa kamu kerja sayang, tanggung jawab nya di kantor lebih banyak, jadi gak bisa jemput kamu" Jelas Tina
"Gak apa-apa ma" Jawab Candra menganggukkan kepala nya.
Tersadar, Tina mengalihkan pandangan nya ke arah seorang gadis kecil yang terdiam menundukkan kepala. Tina mengernyit, menatap bingung siapa kah gadis kecil itu.
"Can.. ini siapa..?" Tanya Tina seraya berjalan mendekat ke arah Della.
Candra tersentak. Tersadar, jika dia pulang tak seorang diri. Dia pun menoleh menatap Della yang berdiri jauh di belakang nya.
"Ma.." Dia pun ikut melangkah menghampiri Della.
__ADS_1
Tina menatap Candra, tatapan nya seolah sedang mempertanyakan. Meminta penjelasan siapa kah gadis kecil itu. Mengapa datang bersama nya.
"Ma.. i-ini.." Ucapan nya tertahan.
Sementara Della. Dia masih dalam diam nya. Menunduk tanpa berani menatap wajah papa dan juga seorang wanita yang di kata nenek nya itu. Tangan kecil nya semakin meremas kuat rok nya.
"Sayang.." Candra menarik tangan Della. Menggenggam nya dan membawa nya berhadapan dengan Tina. Candra memantab kan hati nya, dia akan mengatakan jika gadis kecil itu adalah putri nya.
"Siapa dia Can.. Cantik banget..!" Seru Tina yang bahkan sudah merasa gemas melihat Della.
"Ma.. D-dia.. dia.. putri ku.." Lirih Candra.
Tina tersentak kaget. Reflek dia bangkit dari berjongkok di hadapan Della. Tina menatap tajam ke arah Candra.
"A-apa...?" Bukan dia tak mendengar ucapan Candra tadi. Tapi lebih ingin pada sebuah kejelasan.
"Dia putri ku ma" Kali ini, Candra mengucapkan nya tanpa rasa ragu.
Ucapan putra nya itu terdengar begitu jelas. Membuat Tina lebih terkejut dan tubuh nya sampai terhuyung kebelakang. Namun beruntung, keseimbangan nya masih terjaga hingga dia tak sampai jatuh.
"Ma.." Candra berlari sigap untuk menolong sang mama. "Ma.."
"Ma-mama gak salah dengar ?" Gumam Tina. Rasa nya dia masih tak percaya ini.
"Gi-gimana bisa..?" Tina tak sanggup mengucapkan kata lagi.
"Maafin Candra ma" Lirih Candra.
Entah apa ini..
Bahkan Tina pun tak bisa mencerna apa yang terjadi saat ini. Rasa bahagia nya tadi seketika berubah menjadi rasa yang begitu kacau dalam hati dan diri nya.
Candra putra nya, adalah seorang laki-laki yang baik. Sebagai seorang ibu, dia cukup mengenal bagaimana putra satu-satunya itu. Pendiam, penurut, bahkan hampir tak pernah melakukan hal yang negatif. Tapi.. tapi apa yang baru saja dia dengar dari ucapan putra nya..
Apa..apa mungkin Candra telah melakukan hal yang tidak-tidak selama dia di Singapura. Hingga gadis kecil itu..
"Ma.." Lirih Candra memanggil Tina lagi. Menggenggam tangan Tina erat seolah seperti sedang memohon.
Tina tak menjawab. Dia terdiam membisu. Namun tatapan nya menyorot tajam pada satu objek yaitu Della.
Sementara Della, dia memberanikan diri untuk mengangkat wajah nya, menatap ke arah sang papa dan juga seorang wanita cantik di hadapan nya yang juga sedang menatap nya. Tapi.. tatapan wanita itu sungguh membuat Della merasa takut, hingga dia kembali menundukkan kepalanya.
__ADS_1
...___...
Waktu pun berlalu
Hari sudah semakin gelap. Jam yang menggantung di dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sudah cukup lama Candra menunggu Tina yang tak lagi keluar dari dalam kamar nya sejak tadi.
Dia merasa sangat bersalah. Kepulangan nya ke Indonesia justru malah memberikan pukulan keras pada sang mama. Berulang kali dia mengetuk pintu kamar Tina yang terkunci, namun sekali pun wanita itu tak juga berniat untuk membuka pintu nya.
Candra tak akan menyerah, dia akan tetap berusaha menjelaskan semua nya nanti begitu Risky papa nya pulang. Dia sangat berharap, ke dua orang tua nya mau menerima kehadiran Della di sisi mereka sebagai cucu nya.
Orang yang dia tunggu-tunggu akhir nya datang. Terlihat sang papa baru saja pulang dari kantor nya. Dengan cepat, Candra bangkit dari duduk nya di sofa ruang tengah untuk menghampiri sang papa.
"Pa.." Sapa Candra menghampiri Risky.
"Hey.. kamu udah sampai" Risky pun menyambut sapaan Candra dan langsung memeluk nya.
"Papa apa kabar ?"
"Seperti yang kamu lihat, papa baik" Ujar nya dengan antusias. "Kamu gimana ? makin gagah aja anak papa" Seru Risky memuji postur tubuh Candra.
Sedangkan Candra, dia hanya tersenyum di sana.
Setelah saling berbincang dan melepas rindu, Risky pun pamit untuk pergi ke kamar nya. Dia akan membersihkan tubuh nya dulu karena terasa begitu lengket. Setelah itu, dia akan kembali untuk berbicara banyak bersama putra semata wayang nya itu.
...___...
"Anak kita mas..anak kita..."
.
.
.
.
.
..._____...
Wekkkk...
__ADS_1
Aku gantung dulu ya...ðĪŠðð
ahahahah