
...___...
Dengan terpaksa, Gleen membawa Hilma ke apartemen nya. Dan juga merebahkan gadis pingsan itu di kasur kamar nya. Pakaian Hilma bahkan masih basah, jika di biarkan, dia bisa masuk angin.
Astaga..
Entah ini musibah bagi nya atau..
Gleen menatap Hilma yang masih terpejam. Wajah nya bahkan terlihat sangat pucat. Tubuh mungil dan pendek itu terlihat kurus kering seperti tidak di urus dengan baik.
Gleen memutus kan untuk menyelimuti nya saja. Sangat tidak mungkin kan untuk dia menggantikan pakaian gadis itu. Bisa bahaya, pikir nya.
"Astaga..!" Gleen memekik, kala tak sengaja tangan nya menyentuh lengan Hilma. Suhu tubuh nya sangat panas. Mungkin dia tengah mengalami demam.
Gleen mengecek suhu kening gadis itu. Benar saja, Hilma demam. Tubuh nya terasa sangat panas sekali.
Dia bangkit, mondar-mandir kesana kemari entah harus bagaimana, apa yang harus dilakukan nya. Dia bukan dokter yang bisa menangani demam nya gadis itu.
"Kenapa pake demam segala sih !" Gumam nya kebingungan.
Gleen mencari ponsel nya, menyalakan benda itu untuk mencari tahu apa yang harus dia lakukan pada seseorang yang demam.
satu, mengompres kening nya menggunakan air hangat. Mungkin hal ini akan sangat mudah yang harus dia lakukan pertama kali untuk menurunkan demam nya hilma.
Kemudian, Gleen membaca cara-cara lain yang menurut nya agak sedikit sulit. Hingga cara yang terakhir membuat nya mengernyit tak mengerti.
Mode skin to skin. Satu cara ini memang seperti tidak masuk akal, cara skin to skin lebih sering di lakukan seorang ibu untuk menurunkan demam pada bayi mereka.
Gleen seketika menatap ke arah Hilma. Gadis itu sudah bukan bayi lagi, terlebih dia bukan seorang ibu atau ayah nya. Ya, dia tidak mempunyai hubungan darah apa pun terhadap nya.
Lalu mengapa harus melakukan cara yang sangat gila ini ? pikir laki-laki itu.
Gleen menggeleng kan kepala nya. Seolah dia ingin menepis pikiran nya yang memikir kan bagaimana cara skin to skin cara penurun demam.
"Arrggh...!!" Gleen menaruh ponsel nya di atas nakas. Bisa bisa nya dia memikir kan sesuatu yang tidak seharus nya dia lakukan.
__ADS_1
Ya, dia akan melakukan hal yang pertama saja untuk menurunkan demam gadis itu.
...___...
Gleen kembali ke dalam kamar nya sembari membawa satu wadah air hangat. Selembar handuk kecil dia celupkan ke dalam air hangat lalu menempelkan pada kening Hilma setelah dia memeras nya.
Semoga saja, cara ini bisa cepat menurunkan demam gadis itu yang membuat nya sangat takut dan khawatir melihat nya.
Namun sudah berulang kali, Gleen terus mengganti air hangat yang sama sekali tidak berpengaruh pada demam yang di alami Hilma.
Seperti nya gadis itu kelelahan, kurang tidur karena terlihat jelas raut wajah nya yang pucat dan membentuk mata panda di sana.
Gleen pun bangkit, mencari satu obat demam yang memungkin kan bisa menurunkan demam nya Hilma. Tapi bahkan gadis itu belum sadar, maka Gleen mencoba membangunkan nya terlebih dahulu untuk menyuruh nya meminum obat.
"Aduh..."
Hilma merintih, menyentuh bagian ujung kepala nya yang dia rasakan sangat sakit.
Perlahan gadis itu membuka mata. Terlihat samar-samar tempat yang belum dia kenali. Dia mencoba mengedarkan pandangan nya, memperjelas penglihatan agar dia bisa mengenali tempat yang sangat asing bagi nya.
"M-mas !" Ujar nya. Dia bangkit mencoba mendudukkan diri. Kembali mengelilingi ruangan kamar yang bernuansa gelap, namun melelapkan.
"I-ini...-"
"Lo ada di kamar gue !"
"Hah ??" Hilma ter-jingkat dan reflek menjauhkan tubuh nya.
"Gue terpaksa bawa lo kesini, lo pingsan tadi, gue bahkan gak tau di mana rumah lo kalau gue anterin pulang !" Ucap Gleen menjelaskan.
"Lo tenang aja, gue gak ngapa-ngain lo kok !" ujar Gleen lagi saat dia melihat raut wajah Hilma yang takut dan seperti ada sesuatu yang dia khawatir kan.
"Lo udah makan ?"
Hilma menolehkan wajah nya menatap Gleen. Menggelengkan kepala nya pelan sebagai jawaban.
__ADS_1
Gleen membuang nafas nya dengan kasar. Begitu menyusahkan sekali gadis ini.
"Lo tunggu di sini sebentar, gue ambil makanan abis itu lo harus minum obat !" Ucap laki-laki itu, dia bangkit dari duduk nya kemudian melangkah kan kaki nya.
Gleen melangkah menuju lemari pakaian nya yang cukup besar di dalam kamar itu. Kamar dengan barang-barang yang serba berwarna gelap menjadi kesukaan nya.
Gleen mengambil satu kemeja polos berwarna merah muda milik nya. Lalu melemparkan nya ke arah Hilma.
"Lo ganti baju lo, kalau kelamaan pake baju basah yang ada lo makin sakit !" Ujar nya. Lalu dia kembali berjalan keluar kamar untuk mengambilkan makanan yang bisa mengganjal perut Hilma agar dia bisa segera meminum obat nya.
Tak lama Gleen segera kembali ke dalam kamar nya. Dia membawa segelas susu hangat dan juga satu bungkus roti.
"Kenapa belom ganti baju !" Cetus nya saat melihat Hilma yang masih belum mengganti pakaian nya.
"I-ini..-"
"Gue cowok, udah pasti enggak punya baju cewek !" Celoteh nya sembari menaruh nampan di atas nakas.
"Udah buruan ganti, apa perlu gue juga yang harus gantiin baju lo ?"
Mendengar kata-kata Gleen. Hilma reflek dengan cepat hendak membuka kancing baju nya di tempat itu dan di depan Gleen.
"Eh..eh.. !!" Gleen memekik, mengulurkan tangan nya ke arah Hilma dan menghentikan gadis itu. "Lo gak takut apa ganti baju di depan gue ?"
Seketika Hilma mendongak dan menatap wajah Gleen.
"Kalau gue tiba-tiba nyamber lo kek singa yang lagi kelaperan dan gak bakal lepasin lo, lo terima ?"
Namun seketika Hilma menutup tubuh nya rapat-rapat dengan selimut tebal.
Gleen mencebik, menatap sinis pada Hilma yang seketika meminta nya keluar secara tidak langsung dari sana.
"Abis itu lo makan, susu nya abisin selagi anget, gue cuma ada makanan itu, lumayan lah buat lo ganjel perut terus minum obat" Ucap nya. Gleen merasa sudah seperti seorang ayah yang mengomeli putri nya sendiri. Atau, seorang istri... mungkin 😜 wkwkwk
...___...
__ADS_1