
...___...
"Huftt..." Gleen menghembuskan nafas nya kasar. Duduk di atas lantai keramik dan bersandar pada dinding.
Lelah, sudah panas, tak ada kipas angin apa lagi AC. Dia sungguh terasa matang berada dalam kontrakan kecil itu.
"Mas Gleen capek ya, saya ambilin minum sebentar ya." Hilma menepikan sebentar sapu dan serokan sampah. Dia berjalan ke arah dapur untuk mengambil kan air minum untuk Gleen.
"Ini mas minum nya." Hilma kembali dengan segelas air minum di tangan nya.
"Thanks Hil.." Gleen menyahut nya dan langsung menenggak air nya hingga habis.
"Gak nyangka ya, hidup susah tu begini !" Gumam Gleen, melepaskan nafas nya dengan kasar seolah dia merasa tersiksa akan semua ini.
"Makanya, mas Gleen... pulang aja ya, enggak enak loh hidup susah seperti ini-"
"Lo ngeremehin gue Hil ??" Tatapan nya seketika menatap Hilma dan menyentak nya.
"Gue enggak ngeluh, gue tu cuma bilang, ternyata hidup susah itu begini. Jauh banget dari hidup yang berlimpah dengan uang.!" Kecam Gleen menegaskan.
"Gue bakal buktiin ke lo, bukan cuma lo, tapi ke keluarga Sultan si Anan Malik itu, kalau gue bisa sukses dan berdiri sendiri di atas kaki gue tanpa dia !"
Tatapan nya lurus ke depan. Seolah menatap masa depan dengan rancangan yang ada dalam pikiran dan tekad nya. Ya, dia pasti bisa hidup tanpa Anan, Daddy nya.
...___...
Setiba nya di kota xxxx, Anan langsung mengantar Della pulang ke rumah papa nya. Andrian. Laki-laki itu pun juga langsung meminta maaf pada Andrian atas perlakuan putra nya selama ini pada Della. Dia merasa sudah salah dalam mendidik putra nya itu.
Beruntung, Andrian tidak begitu mempermasalah kan nya. Terlebih lagi pada perjodohan Gleen dan Della putri nya.
Ya mau bagaimana lagi, pikir nya. Pernikahan bukan lah satu permainan, jadi tidak bisa sembarang orang memaksa, apa lagi memaksa kan soal yang nama nya perasaan.
Sungguh itu akan menyiksa.
Setelah berbincang-bincang banyak hal, Anan pun berpamitan pada Andrian untuk segera pulang.
Dia tak lagi berpamitan pada Della. Gadis itu langsung masuk ke dalam kamar setelah sampai tadi dan tak terlihat lagi. Ya, mungkin gadis itu masih terlarut dalam kesedihan nya.
...___...
Anan menyuruh sang sopir melaju kan mobil nya menuju rumah putri nya. Genna. Ya, karena istri nya Cinta pun masih berada di sana karena Genna sedang sakit. Karena itu, Cinta pulang terlebih dahulu dan tak bersama Anan.
Sesampai nya di kediaman Genna dan Candra. Anan langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu.
Dia melangkah dengan gontai, raut wajah kecut seperti telah menelan sebuah kekecewaan. Namun pada kenyataan nya memang begitu.
"Dad, sudah sampai ?" Cinta menyapa saat sang suami melangkah masuk ke dalam rumah putri nya.
__ADS_1
Tapi bukan datang menyalami Anan, sang suami. Cinta justru celingukan ke arah pintu seperti sedang mencari seseorang.
"Gleen mana ?" Imbuh nya bertanya. Ya, dia begitu berharap putra nya itu ikut pulang bersama Daddy nya.
Anan menepikan tubuh nya di kursi sofa ruang tengah. Menghela nafas berat nya seolah sangat berat hati untuk menceritakan semua nya pada sang istri.
"Dia enggak ikut pulang. Tapi dia malah lebih memilih pergi sama perempuan itu dari pada nurut sama apa kata-kata ku !" Tutur nya. Yang pada akhir nya pun memberi tahukan nya pada Cinta.
"Apa ??" Cinta melangkah mendekati Anan, dan duduk di samping nya.
"Maksud kamu ?"
"Dia menolak menikah dengan Della. Melawan ku dan lebih memilih membela dan pergi dengan gadis itu !"
"Enggak ! Gleen gak mungkin pergi gitu aja !" Elak Cinta tak percaya. Dia kenal betul bagaimana Gleen. Jika dia bersalah, dia akan mengakui nya, mempertanggung jawab kan perbuatan nya, tapi kecuali..
"Jangan-jangan kamu yang ngusir dia ya ??"
Seketika wajah Cinta berubah. Menatap tajam dengan penuh selidik terhadap sang suami.
"Aku enggak ngusir, cuma kasih pilihan aja !"
"Kenapa kamu tega banget sih sama anak sendiri !!"
Wanita itu bangkit, seketika pun wajah nya terlihat memerah. Berkecam dengan rasa penuh ketidak percayaan akan sikap Anan pada putra nya sendiri.
"Pelajaran macam apa !" Sentak Cinta. "Aku tau betul bagaimana putra kita, seburuk-buruk nya dia sekarang dia tetap anak kita.!" Kecam perempuan itu.
"Aku yang melahirkan dia, aku ibu nya, aku tahu semua tentang diri nya, dia tidak akan pergi dan melawan mu begitu saja kalau kamu tidak keterlaluan dalam mengatur dan menekan kehidupan nya !!" Cinta murka. Begitu menyalahkan sang suami yang dia pikir memang terlalu mengatur dalam kehidupan Gleen.
"Gleen itu laki-laki dad, dia mempunyai hak atas kehidupan nya sendiri !"
Cinta melirih. Air mata nya telah mengalir begitu saja. Rasa kecewa terhadap suami benar-benar menyayat hati nya.
"Kamu egois !!"
.
.
.
...___...
"Hil, kita makan ini aja dulu ya malam ini.." Gleen duduk bersimpuh di atas lantai. Menaruh satu kantong plastik dengan 2 kotak makanan di dalam nya.
"Apa itu mas ?"
__ADS_1
"Nasi goreng." Jawab laki-laki itu. Gleen buru-buru membuka nya, perut nya sudah benar-benar kelaparan sekali rasa nya.
"Udah buruan sini makan !" Ucap Gleen yang melihat Hilma hanya berdiri diam saja sambil melihat nya.
Kasihan sekali laki-laki itu sekarang. Hidup nya sudah benar-benar berubah bagai dari langit terjatuh ke bumi. Bukan apa-apa, Hilma hanya tak tega saja pada nya, yang belum pernah hidup susah selama ini.
...___...
Gleen berdiri di mulut pintu kamar kontrakan yang sangat kecil. Tidak sebanding dengan kamar apartemen nya apa lagi kamar di rumah nya.
Eh, maaf maaf.
Tidak. Dia bahkan melupakan jika dia bukan lagi anggota keluarga Malik sekarang. Jadi enggak sepantas nya membandingkan tempat tinggal nya dengan tempat tinggal keluarga Malik yang pernah dia tinggali dulu.
"Ck!" Dia berdecih. Berkacak pinggang karena bingung.
Kontrakan ini hanya ada satu kamar, dan hanya ada satu kasur tanpa dipan. Cukup sih untuk dua orang, tapi dia dan Hilma..
Argh...
Bisa bahaya kalau tidur berdua di kasur itu.
"Hil..." Laki-laki itu berteriak memanggil Hilma.
"Ya mas.."
"Lo lagi ngapain sih ?" Tanya nya.
"Lagi ngobrol sama tetangga, cari-cari info kerjaan mas." Jawab Hilma.
"Lo mau kerja !" Kejut Gleen.
"I-iya.."
"Kerja apa an ?"
Hilma menggeleng. "Belum tau, karena belum ada info nya" Ujar Hilma.
"Ya udah besok aja lah. Sekarang udah malem, lo istirahat, dari kemaren kan lo belum tidur !"
Hilma pun menatap ke sekeliling kamar. Ruangan sempit yang hanya ada satu tempat tidur.
"T-tidur...-"
"Lo tidur di kasur, biar gue tidur di ruang tamu pake tiker !"
"Tapi, mas..-"
__ADS_1
...___...