
...___...
Sepanjang perjalanan, Candra hanya diam. Menatap lurus ke depan dan seperti tak memperdulikan Genna.
Genna merasa gelisah, ada rasa tak enak hati pada Candra suami nya itu. Terlebih, sikap laki-laki itu yang berubah menjadi sangat dingin terhadap nya.
"Om.." Genna mencoba memberanikan diri untuk memanggil nya. Keheningan dan dingin nya sikap Candra kali ini justru lebih terasa seram dari sebuah tempat yang horor menurut nya.
Candra hanya diam, bahkan untuk menolehkan kepala nya ke arah Genna pun dia enggan melakukan nya.
"Masih jauh kah rumah nya ?" Demi apa pun, Genna merasa tak biasa saat Candra mendiamkan nya seperti ini. Mungkin karena dia sudah terbiasa akan sikap Candra yang banyak bicara pada nya selama ini.
Namun Candra masih tak bergeming, dia masih diam dan memang seperti nya sangat enggan untuk membuka suara nya.
Tak lama, terlihat Candra pun akhir nya menghentikan mobil nya, dia turun lalu membuka pintu gerbang sebuah rumah berlantai dua yang tak terlalu besar namun terlihat dengan bangunan nya yang indah.
Setelah membuka nya lebar, Candra kembali masuk ke dalam mobil kemudian melajukan nya masuk ke halaman rumah nya.
"Om, ini rumah nya..?" Genna kembali bertanya, namun sia-sia saja karena Candra pun masih diam tak menjawab nya.
'kenapa sih tu om om ! rada-rada deh kayak nya. Kadang-kadang bawel, tapi tiba-tiba aja berubah jadi es balok gini !' Gumam Genna dalam hati nya.
Candra menutup kembali pintu gerbang rumah nya, lalu membuka bagasi mobil dan menurunkan 3 buah koper dan juga barang-barang lain nya. Dengan susah payah, Candra berusaha membawa 3 koper di tangan nya, dia menepis tangan Genna saat gadis itu hendak membantu nya.
Di dalam rumah
Genna terdiam untuk sejenak, pandangan nya mengelilingi setiap sudut ruangan yang terlihat sedikit berbeda, dia terperangah dan terpukau menatap nya, setiap ruangan memang tak terlalu besar, tapi cukup indah dan terasa nyaman.
__ADS_1
Sementara Candra, laki-laki itu langsung saja berlalu menaiki tangga untuk menuju ke kamar nya yang ada di lantai dua. Melihat Candra yang naik ke lantai atas, buru-buru Genna pun berlari kecil mengikuti langkah Candra di belakang nya.
Candra membuka satu pintu yang ternyata adalah kamar utama. Berbeda dari yang lain nya, ruangan kamar utama itu justru terlihat lebih besar dan luas.
Dan lagi-lagi Genna terperangah, menatap setiap sudut dan barang-barang yang serba warna putih. Rupa nya, Candra memang menyukai warna putih. Pikir Genna.
"Om, kamar aku mana ?" Tanya Genna untuk memulai basa-basi dan membuka topik obrolan pada laki-laki itu.
Candra tak bergeming, dia masih begitu betah untuk diam dan bahkan mulai menyibukkan diri nya memasukkan pakaian nya kembali ke dalam lemari.
Genna terkekeh, menatap sebal pada laki-laki yang terus mendiamkan nya sejak tadi. Entah apa sebab nya Genna sungguh tak mengerti.
"Om.." Genna masih tak menyerah. Dia terus memanggil laki-laki itu.
Namun Candra bahkan tak memperdulikan nya sama sekali
"Om...!!" Genna menekan kan suara nya. Dia datang menghampiri Candra dan berdiri menghadang laki-laki itu.
Dan kini mereka pun saling berhadapan, tatapan mereka saling bertemu dalam satu garis lurus. Genna menatap nya tajam dengan kepala nya yang sedikit mendongak karena tubuh nya yang pendek, namun Candra menatap Genna malas lalu membuang wajah nya ke sembarang arah.
"Om tu kenapa sih ! Kenapa tiba-tiba kaya es balok gini, diemin aku gak jelas !" Gerutu Genna yang masih menatap suami nya.
"Saya kenapa ? kamu pengen tau ?" Dan barulah Candra memberi respon. "Kamu anggap saya apa tadi ?" Tapi terdengar nada bicara nya yang ketus.
Genna terdiam, tampak nya dia sedang berpikir atas ucapan Candra barusan. Namun pandangan nya tak beralih dari wajah Candra yang juga tengah menatap nya kembali.
"Belum aja kamu kuliah dan saya izinkan kamu keluar kemana pun, sikap kamu udah seenak nya dan bahkan tidak menganggap saya sebagai suami kamu !" Kecam Candra marah.
__ADS_1
Genna pun menundukkan kepala nya, dia baru ingat, kalau dia mengatakan pada Aldo tadi jika Candra adalah om nya. Oh ya ampun.. jadi gara-gara ini laki-laki itu seketika menjadi bersikap dingin dan tak perduli pada nya.
"Em, i-itu.."
"Gimana nanti kalau kamu sudah kuliah, mungkin kamu lebih tidak akan menganggap saya dan bilang sama semua temen-temen kamu kalau saya bukan suami kamu !" Kecam Candra lagi
"Om, itu.. tadi aku minta maaf, aku minta sedikit aja pengertian dari om, om kan tau Aldo siapa, aku belum sempet putusin dia lagi, jadi..-"
"Saya gak perduli !" Sargah Candra. "Di saat kamu sudah menjadi istri saya di situ lah kamu harus mengakui saya !"
Genna menatap Candra, dia sedikit takut mendengar Candra yang mulai meninggikan suara nya. Baru kali ini, Genna melihat kemarahan laki-laki itu. Karena merasa takut, Genna pun kembali menundukkan kepala nya
"I-iya om, aku minta maaf-"
"Saya gak suka ya, istri saya di panggil sayang sama orang lain !" Kecam Candra menyahut cepat.
Reflek Genna mengangkat wajah nya menatap Candra. Dan apa kata nya tadi, dia tidak suka jika istri nya di panggil sayang oleh orang lain ? oh.. apa kah mungkin jika laki-laki itu sedang menunjukkan kecemburuan nya ?
Tetapi untuk seketika Genna terdiam, pikiran-pikiran nya seketika pun buyar. Dia membulatkan mata nya dan tubuh nya pun menegang kaku. Tiba-tiba saja jantung nya berdebar hebat, rasa nya, dada nya terasa sesak dan sangat sulit untuk bernafas.
Genna semakin gemetar, hembusan nafas Candra terasa begitu hangat menerpa wajah nya. Mata nya masih terbuka dan menatap wajah laki-laki itu begitu dekat, bahkan sudah tak ada jarak lagi di antara mereka.
Laki-laki itu. Ya, laki-laki yang sudah sah menjadi suami nya sejak kemarin. Dia telah mencuri ciuman pertama nya tanpa aba-aba. Sungguh membuat Genna terkejut dan gemetar.
Genna menelan Saliva nya yang terasa kelu, jantung nya semakin berdetak kencang, semakin sesak dada nya karena di bungkam oleh suami nya itu hingga membuat nya sulit bernafas.
Ini adalah yang pertama kali nya untuk Genna, sementara dia hanya diam, tapi tidak pada Candra yang terus menjelajahi dan mengecupi bibir nya.
__ADS_1
...___...