
...___...
"Gen.." Candra memanggil nya, menatap sayu pada gadis yang bahkan selalu membuang wajah dari hadapan nya itu. Seperti nya, Genna benar-benar tak ingin menatap nya
Dengan pelan, tangan kanan Candra terangkat lalu menggenggam satu tangan Genna. Reflek, Genna pun dengan cepat menatap ke arah Candra.
"Gen, saya mau minta maaf" Titah Candra kemudian.
Dengan paksa, Genna mencoba melepaskan tangan nya dari genggaman Candra.
"Maaf buat apa !" Sungut gadis itu, namun tak berhasil melepaskan tangan nya. Candra terlalu kuat menggenggam nya
"Soal semalam" Sargah Candra.
"Aku gak apa-apa kok !" Sungut nya lagi.
"Ya udah, tapi hari ini kita pindah ke rumah saya ya" Ucap Candra, yang membuat Genna dengan reflek menajam kan tatapan nya pada laki-laki itu.
"Apa ?" Bukan Genna tidak mendengar nya, namun lebih tepat nya dia merasa terkejut.
"Kamu mau kan..?" Tanya Candra
Untuk seketika Genna merasa lemas, rasa nya terasa begitu berat jika dia harus meninggalkan rumah nya dan ikut bersama suami nya.
"Gen.."
Genna pun tersentak, sedikit merasa kaget karena suara Candra yang memanggil nya.
"Emang harus ya om ?" Tanya gadis itu
"Kamu kan udah jadi istri saya, jadi kemana pun saya, kamu harus ikut" Jelas Candra
Genna pun terdiam, dia menunduk seolah seperti mengisyaratkan bahwa dia tidak ingin meninggalkan rumah nya. Tapi, dia memang lah sudah menjadi istri dari laki-laki di hadapan nya saat ini.
"Gen, saya kan pernah janji gak akan terlalu mengekang kamu, kamu masih bisa kuliah meski sudah menikah" ujar Candra lagi.
"Hari ini ?"
__ADS_1
"Iya, karena saya harus masuk kerja besok, kerjaan nya gak bisa saya tinggalin" Jelas nya. "Kamu mau kan ?"
Untuk sejenak, Genna kembali diam. Seperti ada sesuatu yang sedang dia pikirkan.
"Kamu tenang aja gen, di rumah nanti cuma ada kita berdua aja, karena kita bakal tinggal di rumah saya sendiri" Ujar Candra
Genna mengangkat wajah nya dan menatap wajah Candra suami nya. Dia pikir, seperti nya akan jauh lebih baik jika dia ikut tinggal bersama Candra ketimbang menetap di rumah nya ini. Pasti akan lebih banyak aturan lain nya setelah dia menikah, tapi jika bersama Candra, mungkin dia akan bisa sedikit bebas dari semua itu.
Setelah memikirkan nya, Genna pun mengangguk pelan meng-iya kan nya.
"Ya udah, saya ke bawah dulu suruh embak bantuin beresin barang-barang yang mau kamu bawa, sekalian mau bilang sama Daddy kalau kita akan pindah hari ini" Ujar Candra, yang mendapati anggukan kepala oleh Genna.
"Mandi gih.." Ucap nya seraya mengusap lembut pucuk kepala Genna sebelum dia bangkit dan kemudian pergi keluar dari dalam kamar Genna.
Genna tersipu, mengingat laki-laki itu yang selalu menyebalkan, tapi mengapa kali ini dia bahkan bersikap manis. Dan tanpa terasa, sudut bibir Genna tertarik dan membentuk sebuah senyuman kecil.
...___...
"Jadi, kalian mau pindah hari ini ?" Suara lirih Anan bertanya. Rasa nya, terasa sangat berat jika Genna putri nya harus pergi dari rumah nya. Tapi bagaimana pun, dia tak lagi mempunyai hak penuh atas putri nya itu saat ini
"Iya dad, karena besok ada meeting penting yang gak bisa saya tinggal" Ucap Candra menjelaskan.
"Ya udah, oke" Ujar nya pasrah. "Tapi kamu harus banyak-banyak sabar atas sikap Genna ya, kamu tau sendiri Genna itu seperti apa orang nya" Imbuh Anan pada Candra.
Candra pun menganggukkan kepala nya.
"Ingat, jangan biarin dia ketemu atau bahkan sampai berhubungan lagi sama laki-laki itu !" Tambah nya.
"Iya dad" Jawab Candra.
...___...
Setelah berbincang-bincang dengan Anan, Candra pun pergi ke dapur. Laki-laki itu berinisiatif untuk membawakan sarapan untuk Genna istri nya yang sudah terlewatkan.
Candra membuka pintu kamar nya, dia masuk dan membawa nampan kecil di tangan nya yang berisikan 2 potong roti tawar dengan selai coklat dan juga segelas susu.
Tampak terlihat lah di dalam sana Genna yang sedang sibuk mengeringkan rambut nya di depan cermin meja rias nya.
__ADS_1
"Gen, sarapan dulu nih.." Ujar Candra seraya menaruh nampan di atas meja nakas.
Genna menoleh, menatap Candra lekat lekat yang entah kenapa laki-laki itu berubah dan begitu bersikap manis pada nya.
"Sarapan dulu sebelum mengemas barang-barang kamu ya" Imbuh nya.
...___...
Dan kini, semua barang-barang Genna pun sudah siap. 2 koper besar lengkap dengan buku-buku yang kelak mungkin dia akan perlukan.
"Sudah semua Gen ?"
"Udah" Jawab gadis itu
Mereka pun keluar dari dalam kamar dan turun ke lantai bawah. Terlihat Anan dan juga Cinta yang duduk di sofa ruang tengah yang sedang menunggu mereka.
"Dad, mom" Sapa Genna
"Sayang.." Cinta berjalan menghampiri nya, memeluk putri nya seolah seperti tak rela jika dia akan berpisah dengan putri nya itu mulai saat ini.
"Kamu baik-baik ya, harus patuh sama suami kamu" Lirih Cinta dengan mata nya yang berkaca-kaca.
Dengan pelan, Genna pun menganggukkan kepala nya
Cinta tak kuasa, dia benar-benar tak kuasa untuk menahan genangan air mata nya lagi, sehingga cairan bening di pelupuk mata nya itu pun tumpah membasahi pipi nya.
"Mom... jangan nangis dong.." Ucap Genna yang juga tak kuasa melihat mommy nya yang bersedih.
"Ga nyangka, anak gadis mommy sekarang sudah tumbuh dewasa dan sudah menikah.." Lirih Cinta. "Rasanya baru aja kemarin mommy melahirkan kamu" Imbuh nya.
"Mommy.." Genna pun menghamburkan diri nya memeluk Cinta kembali, dia pun menangis di sana.
"Udah udah, kan masih bisa ketemu besok-besok.." Sargah Anan.
Genna meregangkan pelukan nya, dan beralih menatap ke arah Anan, Daddy nya. Tubuh nya bergetar, Genna tengah menahan Isak tangis nya di sana.
"Daddy..." Gumam nya, lalu menghamburkan diri nya memeluk Anan dengan erat sembari menumpahkan tangis nya di dalam pelukan Anan.
__ADS_1
...___...