
...___...
Masih POV Andrian
Sebenarnya aku sadar akan semua sikap dan perbuatan ku, menjadi seorang laki-laki bajingan adalah perbuatan papa ku, bermain perempuan lain dan mengkhianati mama membuat ku sangat membenci nya, karena itu aku pun melampiaskan kebencian ku terhadap papa yang juga menjadi seorang bajingan.
Aku tahu itu salah, tapi bayang-bayang pengkhianatan papa membuat ku terjerumus ke dunia gelap semakin dalam. Aku ingin membalas perbuatan papa, dengan menghancurkan nama baik nya melalui perbuatan ku.
"Kamu mau seperti papa kamu yang bajingan itu, hah ??"
Dan ya, itu memang tujuan ku untuk membalas papa.
"Kamu mau melukai mama dengan mengikuti perbuatan papa kamu itu !"
Terlihat mama sangat murka, luka hati nya kembali terasa karena semua perbuatan ku.
"Berapa perempuan lagi yang akan datang kemari untuk meminta pertanggung jawaban dari kamu Andrian !"
"Ma, bukan cuma aku yang menyentuh mereka, mereka menjual diri jadi apa harus aku bertanggung jawab jika mereka hamil !" Sahut ku dengan cepat menyela ucapan mama.
PLAK...!!
Mama kembali menampar ku lebih keras. Membuat ku meringis perih oleh luka di sudut bibir ku.
"Lalu, apa dulu Della juga menjual diri ke kamu sampai dia hamil !"
Oh, dari mana mama tahu soal aku yang sudah menghamili Della. Aku tidak pernah menyangka soal ini.
Dulu, Della memang bekerja di rumah ku, menggantikan ibu nya yang sudah meninggal. Mama sangat menyayangi Della, bahkan sudah menganggap nya seperti anak sendiri. Tapi tidak dengan ku, aku tak pernah suka dengan nya, apa lagi mama pernah berencana agar aku menikahi Della, saat aku tahu, itu membuat ku semakin tak suka dan membenci Della yang ku dengar menyetujui untuk menjadi istri ku.
Saat itu aku kehilangan kendali karena mama yang terus mendesak ku untuk menikahi Della. Aku mabuk berat, dan tanpa sadar aku telah merenggut kesucian Della dan membuat nya hamil. Karena aku takut di paksa menikahi gadis itu karena perbuatan ku, aku membawa Della dan memberikan gadis itu untuk menghabiskan malam dengan laki-laki lain, agar yang mama tahu bukan aku lah yang menghamili Della.
"Mama, tau dari man-"
"Gak penting mama tau dari mana !" Belum sempat aku menyelesaikan pertanyaan ku, tapi mama sudah menyela.
"Mama gak menyangka, ternyata mama juga membesarkan seorang bajingan dalam hidup mama !" Sentak mama begitu melengking.
__ADS_1
"Sangat di sesali, kenapa mama baru tahu sekarang semua perbuatan kamu ke Della !" Lirih nya.
"Kamu gak pernah tahu Andrian, Della lah yang sudah menyelamat kan hidup kamu selama ini !!" Pekik mama, membuat telinga ku terasa sakit karena suara nya.
Aku tersentak, mengerutkan dahi menatap ke arah mama. Aku tidak mengerti maksud ucapan nya barusan.
"Maksud mama ?" Tanya ku
"Della yang sudah mendonorkan satu ginjal nya untuk kamu Andrian !" Kecam mama sambil menangis.
Seketika aku tercekat, otak ku tengah mencerna ucapan mama barusan.
"Dia yang sudah menolong kamu, dia yang sudah mengorbankan hidup nya untuk laki-laki bajingan seperti kamu !" Jelas mama lagi dengan penekanan pada kata bajingan.
Namun aku masih terbungkam kaku. Aku tak lagi bisa mengucapkan kata-kata. Dada ku terasa sesak sekali, bahkan seperti akan berhenti bernafas saat itu juga.
Della..
Gadis yang sudah aku hancurkan hidup dan masa depan nya, justru dia lah yang sudah menyelamat ku di saat aku sakit dan tengah berada di depan pintu kematian waktu itu.
Flashback on
...___...
Sekarang, Della yang sudah dia sakiti telah tiada, telah pergi untuk selama-lama nya, membuat Andrian sungguh-sungguh menyesali perbuatan nya yang tak lagi bisa meminta maaf pada sang penolong nyawa nya.
...___...
Di sisi lain.
Candra terkulai lemas atas penuturan sang dokter yang menangani istri nya.
Ya, Genna harus segera di Operasi pengambilan janin yang ternyata tak berkembang di dalam rahim nya.
Candra duduk termenung, menangisi semua yang tengah menimpa hidup nya, sementara dokter sedang menunggu keputusan dari nya.
"Apa tidak ada jalan lain dok ?" Dan suara nya kembali terdengar setelah sekian lama dia terdiam.
__ADS_1
"Tidak ada pak, karena janin di dalam kandungan istri bapak benar-benar tidak bisa berkembang" Jelas sang dokter. "Percuma juga jika terus di pertahan kan" Imbuh nya. Membuat Candra semakin sakit mendengar nya.
Candra mengalihkan pandangan nya menatap ke arah sang istri yang terbaring tak lagi sadarkan diri. Perempuan itu pingsan karena kondisi nya sangat lemah.
Belum lama dia mendengar kabar atas kehamilan istri nya itu, tapi sekarang dia harus menerima kenyataan pahit bahwa dia harus kehilangan calon anak pertama nya. Tapi, jika di pertahan kan pun sia-sia, anak nya tak bisa berkembang, dan hanya membuat Genna menderita.
Berat rasa nya hati, tapi mungkin ini belum rezeki untuk nya dan Genna sang istri.
Candra menarik nafas nya dalam, lalu membuang nya perlahan demi ingin meringankan rasa sesak di dada nya.
"Kalau begitu, tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya dok"
...___...
Candra berjalan dengan gontai memasuki ruang perawatan sang istri. Perempuan itu masih terpejam belum sadar kan diri. Wajah nya terlihat sangat pucat dengan selang infus yang melekat di tangan nya.
Bibir Candra bergetar, dia mendaratkan tubuh nya pada satu kursi di samping ranjang yang di tempati Genna. Tangan nya terulur, bergerak dan mendarat tepat di atas perut Genna. Dia mengusap nya lembut di sana, dan tanpa terasa cairan sebening kristal pun telah lolos dari pelupuk mata nya.
Kenapa..
Kenapa harus secepat ini kebahagiaan nya sirna. Rasanya baru saja kemarin kabar bahagia bahwa Genna telah hamil. Tapi sekarang..
Candra menangis tergugu, tak kuasa atas kehilangan calon anak nya. Anak pertama yang sangat dia nanti-nanti, tapi kini sudah tidak ada lagi di dalam perut sang istri.
Perlahan Genna mulai mengerjap kan mata nya. Obat bius seperti nya sudah mulai habis dan kini membuat perempuan itu tersadar.
"M-mas..."
Candra tersentak, menegakkan kembali tubuh nya dari ketertundukan di perut Genna.
"Sayang, kamu sudah sadar.."
Namun Genna mengerutkan dahi nya saat menatap suami nya itu.
"Kamu kenapa mas ? kok nangis ?" Tanya Genna dengan suara lirih.
Buru-buru Candra mengusap air mata di pipi nya, tapi apa yang harus dia katakan pada Genna soal semua kejadian ini. Candra tak bisa membayangkan jika Genna tahu bahwa bayi mereka sudah tidak ada lagi di dalam perut nya.
__ADS_1
Dan Genna semakin di buat bingung saat semua keluarga nya datang tapi dengan raut wajah masam. Seperti sedang merasa sedih oleh sesuatu.
...___...