Cinta Sugar Daddy

Cinta Sugar Daddy
97~S2


__ADS_3

...___...


Byurrrr...


"Balesan buat lo karena udah bikin kotor baju cowok gue !"


Seorang wanita seksi yang bercumbu dengan Tomi juga menyiram kan segelas wine pada Hilma.


Hilma hanya diam dalam ketertundukan nya. Dia takut tak berani menatap orang-orang yang tengah memaki nya apa lagi untuk melawan nya. Dia hanya menangis.


"Jadi pelayan aja gak guna lo !" Imbuh nya sambil mendorong tubuh Hilma hingga dia terhuyung kebelakang.


Tarrrr...


.


.


.


Semua perhatian beralih ke arah sumber suara. Gleen, dengan sengaja membanting gelas ke atas lantai.


"Lo !" Gleen bangkit dari duduk nya. Menuding seorang wanita seksi yang berdiri di samping Tomi.


"Gak usah menghina pekerjaan orang lain !" Ucap nya sembari melangkah mendekati Hilma.


"Lo ngaca ! pekerjaan lo berguna enggak !" Ujar Gleen dengan tatapan wajah sinis nya.


"Cuma jadi pemuas aja belagu !" Imbuh nya. Gleen menggenggam tangan Hilma, menarik nya dan membawa gadis itu pergi dari sana.


...___...


Gleen membawa Hilma ke luar, dia terus menarik tangan gadis itu yang hanya diam saja namun dengan air mata yang terus mengalir.


Dia menghentikan langkah nya tepat di samping mobil nya.


Gleen melepas kan genggaman tangan nya. Berdiri menatap Hilma yang hanya menunduk dan diam. Terlihat jelas air mata gadis itu.

__ADS_1


"Lo enggak apa-apa ?" Tanya Gleen pada Hilma.


Hilma menggeleng. Berusaha mengusap air mata nya yang tanpa henti mengalir. Tubuh nya masih gemetar. Rasa takut bahkan masih menyelimuti nya.


"Te-terimakasih mas, su-sudah menolong saya" Ucap Hilma lirih dan terbata. Bahkan Gleen hampir tak bisa mendengar suara nya.


"Sebenernya gue gak mau nolong lo sih tadi, gue cuma gak bisa liat orang bertingkah seenak jidat mereka sendiri !" Ujar Gleen sembari menyilang kan ke dua tangan di depan dada.


"Lagi pula lo juga kan pernah bilang sama gue buat enggak usah ikut campur urusan lo lagi !"


Ah ya, mengingat ucapan nya waktu itu, membuat Hilma merasa malu saat ini. Nyata nya, dia benar-benar butuh bantuan dan pembelaan dari orang lain atas kejadian tadi. Dan itu, Gleen lah yang melakukan nya lagi.


"Ma-maaf mas, saya sungguh tidak tahu diri" Lirih Hilma dengan suara gemetar. Ia kembali menjatuhkan air mata nya.


"Lagian lo, kenapa sih lemah banget ! kenapa lo gak lawan mereka yang menindas lo ?"


Sebenernya Gleen sangat merasa gemas akan Hilma yang hanya diam dan menerima semua perlakuan orang lain kepada nya. Terlebih pada wanita itu, Hilma bahkan sama sekali tak mempunyai masalah pada nya, tapi dia bahkan ikut-ikutan menindas Hilma.


"Lo kerja di club' malam, mental lo harus kuat, lo harus berani, lo harus lawan orang-orang yang nindas dan sakitin lo !" Ujar Gleen "Bukan cuma di club' doang, tapi kalo kerja di tempat lain juga lo harus kuat, harus berani. Jangan cuma nangis dan ngandelin pertolongan orang lain buat bantuin Lo !"


Hilma semakin gemetar. Dia semakin tergugu oleh tangis nya. Dia lemah, dia penakut, dia memang seorang gadis yang tidak berguna.


"Saya terpaksa bekerja di sana !" Pekik Hilma. Mata nya menatap Gleen dengan berkaca-kaca. Memohon, meminta agar laki-laki itu tidak terus menerus mengomeli nya.


"Kalau tidak terpaksa, saya juga tidak akan pernah menginjak kan kaki saya di tempat itu"


Gleen terdiam. Rasa kesal dan amarah nya kian menjadi rasa iba. Kasihan sekali gadis polos yang lemah ini. Mungkin, dia sedang memiliki satu kesulitan yang tidak dia mengerti.


"Gue minta maaf, omongan gue sedikit kasar tadi" Ucap Gleen mengiba.


"Mas gak perlu minta maaf, saya saja yang terlalu lemah, penakut, rasa insecure saya terlalu tinggi, saya benar-benar takut menghadapi orang-orang yang menghina saya"


"Karena itu, mulai sekarang lo harus berubah, lo harus bisa melawan orang-orang yang menjatuh kan lo !"


"Saya gak yakin"


"Tapi gue yakin lo pasti bisa"

__ADS_1


Di saat semua orang menghina nya, menginjak nya, menjatuhkan nya, tidak memandang dan tidak menganggap nya ada. Tetapi sosok laki-laki di hadapan nya ini..


Hilma sedikit mendongak kan kepala nya demi menjangkau wajah laki-laki yang jauh lebih tinggi dari nya. Sedikit lama, wajah yang terlihat sangat menenangkan..


Laki-laki ini terlihat berbeda. Beberapa kali dia menolong nya. Membela nya. Melindungi nya. Andai saja Abang nya seperti dia, yang menyayangi dan melindungi nya, pasti hidup nya tidak akan seperti sekarang ini.


Gleen melangkah lebih dekat ke arah Hilma. Menyentuh pundak gadis itu seolah sedang menyemangati nya.


"Lo pasti bisa !" Ujar nya sekali lagi.


Mata Hilma terasa tak mau terlepas dari wajah penenang itu. Ia ingin terus memandang nya. Bibir nya bergetar seperti akan mengucapkan sesuatu, tapi belum sempat dia mengatakan nya, Hilma justru terjatuh tak sadar kan diri.


"Eh..eh.." Sigap Gleen menangkap tubuh mungil itu. "Lo pingsan ?" Tanya nya. Dia menepuk-nepuk pelan pipi Hilma meminta nya membuka mata.


"Woi.. lo pingsan apa kenapa !" Dia terlihat bingung, melihat kesana kemari mencari pertolongan.


Tak ada orang di sekitar nya, karena tak tau apa yang harus dia lakukan, Gleen pun membawa Hilma masuk ke dalam mobil nya.


"Ah ! pake pingsan segala.." Gumam nya frustasi. Apa yang harus dia lakukan. Mengantar nya pulang, bahkan rumah nya saja dia tidak tahu.


Tapi tidak mungkin juga dia akan meninggalkan gadis pingsan di tengah jalan. Kalau terjadi sesuatu, dia di culik, di sakiti orang, bisa mati dia di gorok oleh bapak nya.


...___...


Karena tak ada pilihan lain, Gleen pun membawa Hilma pulang ke apartemen nya.


Dia menatap Hilma yang terpejam di samping kemudi. Gadis polos lugu yang bisa kapan saja di sakiti orang. Melihat raut wajah nya, gadis itu seperti masih berusia belasan tahun.


Namun Gleen kebingungan kala dia sudah berada di depan pintu apartemen nya. Haruskah dia membawa seorang perempuan masuk ke dalam tempat tinggal nya. Meski tak ada yang melihat, tapi sudah pasti para malaikat pencatat bisa melihat nya.


Argh.. Sungguh menyusah kan..


Laki-laki itu mencoba mengetuk pintu apartemen Della. Tidak akan ada yang salah jika dia menitipkan Hilma pada Della. Mereka sama-sama perempuan.


Namun berulang kali Gleen mengetuk nya. Tetapi sang penghuni di dalam sana tak juga kunjung membuka. Mungkin kah sudah tidur ?


Gleen meraih ponsel dari saku jaket nya. Berniat akan menelpon Della. Tapi lagi-lagi laki-laki itu mengumpat karena dia tidak menyimpan nomor ponsel gadis itu.

__ADS_1


"Sialan !"


...___...


__ADS_2