
...___...
Pagi-pagi sekali, Genna sudah bangun. Sudah selesai membersihkan tubuh nya bahkan dia pun langsung menuju ke dapur. Gadis itu berniat ingin membuat sarapan pagi ini. Tapi.. apa..
Genna menuju lemari es, membuka dan melihat ada bahan apa di sana. Ada sayur-sayuran, daging, ikan dan ayam, tapi itu terlalu sulit bagi Genna untuk memasak nya. Dan akhir nya, dia melangkah ke meja makan dan mengambil roti untuk dia sarapan.
"Loh, mama sudah bangun.." Tutur seseorang yang mengejutkan Genna.
Genna menoleh, menatap seorang gadis yang baru saja memanggil nya mama. Hanya melirik nya sebentar tanpa ingin menjawab sapaan gadis itu.
Della ikut mendudukkan diri nya di kursi meja makan. Mengambil roti dengan segelas susu untuk nya. Gadis itu tampak sudah rapih, seperti nya dia akan segera pergi untuk mulai kuliah hari ini.
"Papa mana ma, belum bangun ?" Tanya Della, gadis itu selalu berusaha memecah kecanggungan di antara nya dan untuk mulai membiasakan diri dengan Genna sebagai mama nya.
"Del, bisa gak sih manggil nya gak usah pake mama, gak enak banget denger nya !" Cetus Genna.
"Kan memang seharus nya Della panggil kamu mama Gen.." Sahut seseorang. Ya, itu Candra yang datang, sudah terlihat rapih dengan pakaian kantor nya.
Genna melirik nya sebentar, terlihat laki-laki itu memakai setelan pakaian yang tadi dia sudah siap kan. Namun Genna juga mencebik, kala Candra membenarkan panggilan Della terhadap nya dengan sebutan mama.
"Makasih ya, sudah siap kan pakaian buat aku.." Gumam Candra berbisik di dekat telinga Genna. Dan yang lebih mengejutkan lagi, laki-laki itu telah mendaratkan satu ciuman pada ujung kepala nya.
Genna terlihat gugup, seketika jantung nya pun langsung tak dapat dia kendalikan. Apa lagi, saat mendengar Candra telah merubah kata-kata formal nya dengan sebutan AKU, entah mengapa, itu lebih terdengar hangat di telinga Genna.
"Em.. a-aku buatin kopi sebentar.." Ujar nya. Buru-buru dia bangkit dari kursi nya, berjalan cepat menuju dapur sambil ingin lari dari rasa gugup nya.
"Huh...!!" Keluh Genna membuang nafas nya yang dia tahan sejak tadi. Bisa-bisa dia akan terus merasa jantungan jika terus seperti ini saat dekat-dekat dengan Candra yang bersikap manis pada nya.
Genna mengambil gelas dan juga piring kecil. Mengambil kopi hitam tapi sejenak dia pun tertahan. Dia lupa, jika dia tak tahu seperti apa yang nama nya gula.
"Ini loh yang nama nya gula sayang.." Ujar seseorang dari arah belakang, dia mengambil Tupperware gula dan memberikan nya pada Genna.
Genna tersentak kaget, dia merasa malu sendiri pada sang suami.
__ADS_1
"Gula nya dikit aja, aku gak suka manis. Cukup liat kamu aja manis nya udah kebangetan..!" Lirih laki-laki itu menggoda nya.
Genna mengambil alih Tupperware gula dari tangan Candra, menyendok kan nya sedikit lalu menaruh nya ke dalam gelas. Dia terasa sangat gugup, bahkan tangan nya terlihat gemetaran di sana.
"Kamu kenapa sih kok gugup gitu..?" Tanya Candra, yang justru semakin membuat Genna tak bisa mengendalikan rasa gugup nya.
"Em, a-aku.."
Dan... CUP..
Candra menarik Genna, dia mendaratkan satu ciuman hangat pada bibir gadis itu. Sedikit bermain di sana, karena Candra merasa tak bisa menahan diri saat dia melihat Genna yang entah mengapa terlihat sangat menggoda.
"Hadiah buat kamu.." Tutur Candra setelah melepaskan tautan bibir nya.
Genna tertunduk, wajah nya terlihat memerah karena menahan malu.
"Kamu siap-siap sana, aku antar ke kampus"
Ya, Candra sudah memutuskan bahwa dia akan tetap mengizinkan untuk Genna kuliah. Dia pikir, dia tidak bisa jika harus mengekang gadis itu terlalu keras. Genna adalah tipe orang yang keras kepala, jadi Candra pikir bukan dengan kekerasan juga dalam menghadapi gadis itu.
"Iya..." Ucap nya seraya tersenyum, tangan nya terulur ke arah Genna untuk menyelipkan anak rambut nya ke belakang telinga.
Genna tersenyum kesenangan. Reflek dia pun memeluk tubuh tegap dan tinggi itu. Memeluk nya erat seraya terus mengucapkan banyak kata terimakasih pada nya.
"Tapi ingat, aku mengizinkan mu kuliah, tapi jangan melupakan segala tugas kamu sebagai istri"
"Siap !" Sahut nya cepat seraya melepaskan pelukan nya. "Aku janji, meski kuliah aku gak akan lupain tugas aku !" Seru Genna yang terlihat begitu bersemangat.
"Oke !" Ujar Candra, dia mencubit gemas pada hidung mancung sang istri.
Genna berlari menaiki tangga untuk menuju ke kamar nya. Dia merasa sangat senang karena akhir nya Candra tetap memberi nya izin untuk kuliah. Genna pikir, apa kah dengan melakukan tugas-tugas nya sebagai istri, laki-laki itu langsung saja luluh dan mengizinkan nya.
Ah..
__ADS_1
Tapi benar-benar tidak bisa di pungkiri lagi, Genna benar-benar sangat senang saat ini. Hanya melakukan hal kecil saja, suami nya itu bahkan sudah terlalu bersikap manis seperti ini.
...___...
Di dalam mobil
Tak henti-hentinya Genna mengembangkan senyuman nya. Rasa bahagia nya benar-benar terpancar dan itu adalah kebahagian untuk Candra.
"Setelah ini saya ke kantor, mungkin pulang sedikit telat" Ujar Candra pada Genna.
"Iya om gak apa-apa" Sahut nya.
"Gen.."
"Ya.." Jawab nya cepat
"Bisa gak jangan panggil om lagi, saya kan suami kamu bukan om kamu" Ujar Candra sedikit tak senang jika Genna terus saja memanggil nya om.
"Memang nya, aku harus panggil apa..?"
"Ya apa gitu.. yang enak di denger, masa kamu mau panggil om terus.." Tutur nya.
Genna terdiam, tampak dia sedang berpikir, harus panggil apa pada Candra suami nya itu.
Sayang..?? hubby.. ?? atau...
ish... Genna bergidik geli sendiri jika memikir kan nya..
"Kenapa ?" Tanya Candra
"Aku.. gak tau mau panggil apa om" Ujar Genna.
Candra membuang nafas nya, merasa sedikit kesal pada Genna yang bahkan tidak bisa romantis sama sekali. Padahal kan, dia seorang wanita. Harus nya lebih suka dan lebih memuja-muja kata romantis. Tapi Genna...
__ADS_1
...___...