Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Mulai sekarang, saya yang berkuasa.


__ADS_3

Dengan langkah malas Viona menuju pintu utama setelah pekerja rumah mengatakan ada yang ingin menemuinya. Entah siapa yang bertamu di pagi hari, bahkan Viona belum mandi dan masih memakai baju piyama.


"Kakak ...!"


Viona hampir saja terjatuh saat seorang gadis menubruk tubuhnya, kemudian memeluk dengan erat. Dia terkejut karena gadis yang menyongsongnya tersebut adalah adik iparnya sendiri. Tambah terkejut lagi saat mendengar Michelle menangis di pelukannya.


Viona menghela napas dalam. Kenapa semua orang yang berada di dekatnya senang sekali menangis? Dia tidak tega melihat orang lain menangis dan sekarang Michelle malah melakukan ketidaksukaannya itu.


"Kamu kenapa, Chelle? Kenapa datang ke sini?"


Michelle tidak mau melepaskannya. "Mama dari kemarin gak mau makan sampai pingsan mikirin Kakak."


Viona membulatkan mata dengan kaget dan langsung melepaskan Michelle dari tubuhnya. "Benaran?" Michelle mengangguk dengan cepat. Mengusap air mata di wajahnya. "Terus sekarang keadaan mama gimana?"


"Mama masih gak mau makan, pengen ketemu Kakak. Kasihan mama, Kak. Mama kepikiran Kakak terus sampai sakit."


Sesak di dada semakin menyiksa. Kenapa keputusan Viona untuk mengakhirinya malah membuat semua orang menderita? Viona tidak pernah mengira jika keputusannya malah membawa sakit bagi semua orang. Sekarang mertuanya yang sakit dan bahkan tidak mau makan. Apa yang harus dia lakukan sekarang?


"Kak, ayo ke rumah! Mama pasti mau makan kalo udah ketemu Kakak." Michelle menarik-narik tangan Viona. Kakak iparnya itu masih tidak bergeming memandangi Michelle yang sudah terlihat sangat cemas. "Ayo, Kak, temui mama!"


"Sebentar, Chelle!" Viona melepaskan tangan Michelle dari tangannya. Dia bingung, apa yang harus dia lakukan sekarang? Jika dia mengikuti ajakan Michelle dan bertemu dengan Rahma, berarti, besar kemungkinan jika keputusannya akan usai dengan hasil yang berbeda. Viona pasti semakin merasa bersalah jika melihat tubuh mertuanya melemah.


"Ayo, Kak! Mau nunggu apa lagi? Kasihan mama. Cepat temui dia!" Michelle kembali menarik Viona keluar melewati pintu. Viona sampai terseok karena Michelle manariknya dengan cepat.


"Chelle ...."


"Ayo, ikut saja! Mama sakit, apa Kakak tidak kasihan?"


"Aku belum mandi."


"Sudah cantik. Tidak usah banyak alasan."


Viona harus menghela napas menghadapi sikap Michelle. Dia jadi teringat suaminya. Adik dan kakak itu memang tidak jauh berbeda sifatnya. Selalu memaksakan kehendaknya pada orang lain tanpa mengerti jika orang lain terpaksa mengikuti kemauannya.


Dengan terpaksa Viona mengikuti Michelle pergi ke rumah mertuanya. Boro-boro meminta izin kepada orangtuanya, Viona bahkan tidak sempat mengganti baju dan Michelle tidak peduli. Malah semakin cepat menariknya sampai ke dekat mobil yang mengantarkan Michelle tadi.


***


"Ma, kak Viona sudah datang!" teriak Michelle saat membuka kamar ibunya.


Viona mengikutinya saja. Mereka masuk ke dalam. Terlihat tubuh Rahma yang terbaring di ranjang dengan lemah. Viona mendekat dan tersenyum hangat pada mertuanya. Ada rasa bersalah yang hadir kembali dalam dirinya melihat wajah Rahma yang pucat. Dua hari Viona pergi dari Marshal, tapi kenapa Rahma sudah terlihat semenyedihkan itu?


"Mama kenapa?" Viona duduk di tepi ranjang. Menggapai tangan Rahma dan mengusapnya perlahan. Rahma tersenyum dengan bahagia. Bangun dan memeluk Viona.


Menantunya tersebut cukup sesak menerima pelukannya. Viona sampai beberapa kali menghela napas dengan susah payah. Pelukan lagi, tangisan lagi. Itu terus yang dia alami. Ada apa dengan semua orang? Kenapa mereka gemar sekali menangis sambil memeluknya? Apakah Viona termasuk orang dengan tubuh peluk-able?


Rahma ternyata sudah diperiksa oleh dokter, namun tidak mau minum obat karena tidak mau makan juga. Dia ingin bertemu Viona. Ibu mertuanya tersebut terlalu banyak pikiran karena masalah pernikahan anaknya yang malah menapaki titik akhir perpisahan. Orangtua mana yang tega melihat pernikahan anaknya berantakan? Meskipun Marshal punya kesalahan besar, tapi Rahma tidak pernah berharap pernikahan anaknya sampai berakhir. Semua ibu juga pasti ingin yang terbaik untuk anaknya dan Rahma selalu merasa Viona adalah yang terbaik untuk Marshal, makanya dia tidak rela jika Viona memilih pergi.


"Makan dulu, ya, Ma!"


Dengan bahagia Rahma mau menerima suapan dari menantunya. Viona sedikit lega karena satu orang bisa dia bujuk untuk tidak bersedih lagi. Setidaknya rasa bersalah yang dia alami tidak semakin besar.


Setelah makan dan minum obat, Viona membiarkan ibu mertuanya untuk beristirahat. Wisnu dan Michelle sudah tidak ada, berangkat bekerja serta Michelle berangkat ke sekolah, walaupun sudah kesiangan. Mereka menitipkan Rahma pada Viona. Dengan terpaksa Viona harus diam di sana, menemani ibu mertuanya yang sudah terlihat lebih baik setelah minum obat.


Viona mendesah lelah. Menaikkan selimut menutupi tubuh Rahma yang sudah terlelap. Kenapa hidupnya jadi serumit ini? Bebas yang dia harapkan ternyata tidak kunjung dia dapatkan. Apa yang harus Viona lakukan sekarang?


Dia memilih untuk keluar dari kamar Rahma dan pergi ke kamar Marshal. Dia ingin mengganti baju. Di sana pasti masih ada baju Viona. Karena sejak dia pergi, dia belum sempat membawa barang-barang yang dia simpan saat menginap di sana.


Perlahan dia berjalan menuju pintu karena takut membangunkan ibu mertuanya. Viona mematung di tempat saat membuka pintu, dia menubruk seseorang. Mata Viona membulat tajam saat menengadah. Dia kaget melihat orang yang dia ajak berpisah kini berada di depan mata.

__ADS_1


"Tuan?"


Karena orang yang ditubruknya itu tidak menyahuti, Viona mengintip ke dalam kamar, mertuanya masih tidur. Dia menutup pintu dengan pelan dan langsung menarik tangan Marshal menjauh dari sana.


"Ke mana, Ra?"


"Kita harus bicara!"


Marshal hanya diam mengikuti langkah Viona. Perasaannya sangat bahagia. Orang yang dia inginkan sekarang kembali berada di rumah orangtuanya. Dia sangat senang bisa bertemu dengan Viona lagi.


Mereka memilih untuk bicara di taman belakang. Di sana tidak ada orang dan Viona ingin berbicara serius dengan Marshal. Banyak hal yang ingin dia katakan demi menyelesaikan semua permasalahan yang membuatnya tidak tenang.


"Kamu mau kembali padaku, kan?" Marshal yang sudah senang merentangkan tangannya untuk memeluk Viona. Namun, istrinya malah menghindar, menatapnya dengan tajam. "Aku ingin memelukmu."


"Tidak. Diam dulu! Kita harus bicara!"


"Sebentar saja. Aku ingin memelukmu."


"Tidak, Tuan. Arghh ...." Marshal memeluk Viona dengan erat. Tidak peduli istrinya berontak. Dia sudah sangat merindukkan Viona. Dia tidak mau berjauhan dengan istrinya lagi.


"Lepas, saya sesak," pekik Viona mencoba melepaskan Marshal, namun suaminya itu tetap tidak mau lepas dan malah memeluk sambil menciuminya. "Tuan, lepas! Kita harus bicara!"


"Tidak. Sebentar saja!" Marshal terus menciumi wajah Viona dengan antusias. Istrinya menggeram marah. Ingin sekali dia mencekik Marshal, namun tidak bisa. Tangannya tertahan di depan dada, terhimpit dengan tubuh suaminya. Dia benar-benar tidak bisa melawan.


"Argh ... Tuan, lepaskan dulu! Saya mau bicara serius."


"Baiklah, aku setuju. Kita memang tidak akan berpisah, itu yang kuharapkan." Marshal melepaskan Viona dengan senang. Tersenyum lebar melihat wajah kesal istrinya.


Viona mendengus. Sangat kesal pada Marshal yang selalu seenaknya seperti itu. "Kita bicara serius, oke!"


"Iya," Marshal mengusap wajah Viona penuh kelembutan. Viona yang tidak suka malah menepis tangannya dengan kasar. Marshal tidak marah dan malah semakin melunjak, sehingga Viona kembali menggeram.


Kepalan tangan sudah melayang di udara, Viona murka. Marshal malah tertawa bahagia. Menyongsongkan wajah pada kepalan tangan Viona.


Viona menggertakkan giginya dengan geram. Kepalan tangan dia turunkan. Niat memukul Marshal dia urungkan karena saat ini bukan waktu untuk menghajarnya. Dia harus bicara dulu dengannya.


"Kenapa tidak jadi memukulnya? Ayo, pukul aku!" Viona hanya diam memandanginya dengan tatapan tajam. Marshal malah menampilkan senyuman yang semakin lebar. Terlihat sangat menyebalkan. "Kamu pasti tidak tega memukul suamimu yang tam-"


Bugh!


Marshal hampir terjungkal karena kaget saat kepalan tangan Viona mendarat di rahangnya. Dipandanginya wajah Viona yang terlihat kesal. Marshal tidak percaya jika Viona berani memukulnya.


"Sejak kapan kamu jadi kejam, Ra?" Marshal heran Viona melihat. Akhir-akhir ini istrinya mulai berani, bahkan tidak takut melakukan penyiksaan terhadap suaminya sendiri. "Apa karena kamu banyak memendam perasaan tidak nyaman, makanya jadi kejam?"


Viona berdecak. Melemaskan tangan kanan yang barusan menghantam rahang Marshal. Dia tidak sunguhan berniat memukul Marshal, namun entah kenapa dia ingin sekali menyumpal mulut Marshal yang malah membicarakan omong kosong padanya. Viona juga bingung, entah dari mana keberaniannya itu muncul. Untung saja Marshal tidak marah. Dia bisa sedikit lega melihatnya yang malah tersenyum sambil meringis pelan.


"Ah, Ra, aku bahagia sekali. Akhirnya kamu mau kembali. Aku tahu, kamu emang benaran gak mau kita berpisah, kan? Hm?"


Viona menyorotnya jengah. "Siapa yang bilang? Saya serius dengan ucapan saya, Tuan."


Marshal malah mengerling jahil. Tersenyum dengan misterius melihat pada istrinya."Terus kenapa sekarang kamu di sini? Bahkan kamu menginap di sini. Itu berarti kamu tidak mau pisah dari aku, kan?"


Nah, kan, Ini semua gara-gara Michelle. Suaminya jadi salah paham sekarang karena melihatnya yang masih memakai piyama. "Saya terpaksa datang, Michelle bilang mama sakit." Viona mulai muak melihat Marshal yang malah semakin berbinar. Suaminya tertawa kecil tanpa mengalihkan pandangan dari Viona yang kini heran. Marshal terus saja tertawa padahal tidak ada hal lucu sama sekali. Apa Marshal gila? Ada apa dengannya?


Memandangi suaminya penuh bingung. Viona mengulurkan tangan untuk menyentuh keningnya, sehingga tawa Marshal berhenti seketika. Marshal memegang tangan Viona yang berada di keningnya.


"Aku tidak gila, hanya bahagia."


Alis Viona terangkat semakin bingung. Apa yang membuat Marshal bahagia? Terakhir, kalimat yang Viona bicara tentang ibu mertuanya yang sakit. Tidak mungkin Marshal bahagia karena hal itu, kan?

__ADS_1


"Haha ... kamu lucu, Sayang. Aku tidak gila, jangan melihatku seperti itu!" Viona hanya diam. Banyak yang berubah dari Marshal, bukan hanya penampilannya, tetapi juga perilakunya. "Aku senang karena kamu masih peduli pada mama. Aku tahu, kamu tidak akan tega melihat mama sakit seperti sekarang, makanya kamu akan mengajakku kembali, kan? Aku senang sekali. Kita memang tidak akan berpisah."


Viona tersentak saat Marshal kembali memeluknya. Kenapa Marshal bisa tahu dengan apa yang dia rasakan? Viona memang tidak tega melihat ibu mertuanya sakit dan dia juga tidak bisa melihat orangtuanya sendiri penuh rasa bersalah. Tapi, dia tidak bisa mengubah keputusannya begitu saja. Sangat sulit untuk Viona menerima pernikahannya kembali. Pernikahan itu sama sekali tidak dia inginkan. Dia tidak mau menjalin pernikahan yang sangat menyesakkan seperti apa yang sudah terjadi.


"Kita tidak akan pernah berpisah 'kan, Ra?"


"Tidak, sa-"


Marshal semakin mengeratkan pelukannya. Rasa bahagia semakin dia rasakan. Akhirnya Viona kembali dan mereka bisa bahagia setelah ini.


"Kita tetap berpisah, Tuan. Saya sudah tidak bisa menjalani pernikahan dengan Tuan lagi."


Melerai pelukan dengan ekspresi memberengut. "Kenapa? Apa kamu tidak mau memulainya kembali?"


Viona menggeleng tegas. "Saya di sini hanya untuk menjaga mama sampai sembuh, jika mama sudah kembali pulih, maka saya akan pergi."


"Tapi, kenapa? Apa sudah tidak ada perbaikan lagi untuk pernikahan kita?"


Viona menggeleng kembali. Cukup sudah pernikahannya sampai di sini. Dia memang sedikit goyah, jika dihadapkan dengan tangisan orangtua. Tapi, dia juga punya hak untuk memutuskan, meskipun itu sulit untuk diteruskan. Tapi, dia tetap harus teguh pada pendirian. Bagaimanapun juga, kebahagiaannya harus menjadi prioritasnya sekarang.


"Ra, aku mohon ... jangan seperti ini terus! Aku tidak mau kita berpisah."


Viona diam. Malah mengalihkan pandangan ke arah lain. Batinnya memang sedang berkecamuk sekarang, tapi dia tetap harus memegang sebuah keputusan. Seharusnya dia tidak pernah goyah. Jika perpisahan bisa dilakukan dan bisa menjadikannya bahagia, dia akan tetap mempertahankannya.


"Zahra, Sayang?" Marshal memegang kedua tangan Viona. Menggenggamnya erat, tetapi Viona tetap tidak bergeming.


Keheningan menyapa keduanya. Mereka sama-sama terdiam, larut dalam kemelut batin yang berkecamuk. Marshal sudah hampir putus asa sebenarnya. Tapi, dia tidak mau Viona berpisah darinya.


"Satu bulan."


Baru Viona kembali menoleh pada suaminya. Marshal semakin mengeratkan genggaman di tangan istrinya. "Beri aku waktu satu bulan untuk memperbaiki semuanya! Aku janji, aku akan menjadi lebih baik lagi untukmu!"


Viona tetap diam, tidak mengerti dengan ucapan Marshal. Apa Marshal mau dia memberikan kesempatan kedua? Viona tidak mengerti, kenapa suaminya malah berpikir seperti itu?


"Setidaknya bertahanlah demi mama! Apa kamu yakin, mama akan sembuh selama kamu menjaganya? Jika pun bisa cepat sembuh, tapi akan bertahan sebentar. Mama pasti kembali sakit, jika kamu tetap memilih kita berpisah." Marshal beralih memegang kedua bahu Viona. Menatap Viona dalam, sehingga istrinya sangat sulit untuk berpaling. "Jika dalam waktu satu bulan, aku tetap tidak bisa membuatmu nyaman, kamu boleh meminta cerai padaku. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki, Ra. Aku janji tidak akan mengekangmu lagi!"


Viona membalas tatapan suaminya dengan intens. Melihat bagaimana mata Marshal memperlihatkan kesungguhannya. Di sana memang terdapat sebuah keseriusan, tapi Viona tetap tidak percaya. Dia tidak akan pernah percaya hanya dengan ucapan. Viona butuh bukti, bukan hanya sekadar bualan yang membuatnya luluh.


"Aku mohon ... beri aku waktu! Hanya satu bulan, Ra. Setelah itu kamu bebas mau melakukan apapun. Aku ikhlas, jika akhirnya kita berpisah. Setidaknya aku sudah mencoba memperbaikinya."


Viona diam untuk berpikir dengan jernih. Semua harus dipikirkan dengan baik-baik. Dia sebenarnya sudah tidak mau kembali lagi, tapi kenapa hatinya malah perih saat mengingat tangisan orangtuanya yang terus saja meminta maaf penuh penyesalan padanya.


"Ra, kamu mau, kan? Hanya satu bulan. Aku mohon beri aku kesempatan lagi!"


Dihelanya napas dalam. Viona melepaskan tangannya dari genggaman Marshal. Dia sudah menemukan jawaban dengan alasan yang jelas. "Hanya karena orangtua kita, saya melakukannya."


Marshal terdiam sesaat untuk menerka ke mana arah pembicaraan Viona selanjutnya. Dia tidak boleh terombang-ambing oleh ucapan istrinya lagi. Viona selalu berbicara dengan penuh kejutan, Marshal harus benar-benar paham, supaya tidak berharap terlalu jauh dan akhirnya dia juga yang terluka.


"Baik, saya bisa melakukannya. Hanya satu bulan, setelah itu kita bercerai."


Marshal langsung membola dengan binar bahagia. Viona mau kembali padanya? Benarkah?


"Terima kasih, Sayang. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya! Aku tidak akan merenggut kebebasanmu lagi. Kamu tetap bisa nyaman berada di dekatku." Dia memeluk Viona kembali dengan penuh rasa bahagia.


Viona hanya terdiam. Dia juga tidak yakin dengan ucapannya sendiri. Seharusnya dia tidak mengatakan hal itu barusan, karena dia sudah tidak mau menjalani pernikahan bersama Marshal. Tapi, banyak yang dia pertimbangkan, dengan terpaksa dia memberikan Marshal kesempatan.


"Tapi, dengan syarat ...." Viona mendorong pelan tubuh suaminya supaya tidak memeluknya lagi. Jujur saja, dia tidak suka dipeluk seperti itu.


Marshal memandanginya dengan penasaran. Istrinya selalu saja begitu. Lihat 'kan, sekarang dia menahan kebahagiaan Marshal lagi. Marshal harus menyiapkan diri. Berbagai kalimat tajam akan terucap dari mulut istrinya sebentar lagi.

__ADS_1


Wajah Viona terlihat sangat serius memandangi Marshal. "Mulai sekarang, saya yang berkuasa."


"Maksudnya?"


__ADS_2