Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Mirip Mama atau Papa?


__ADS_3

Semoga tidak mual.


Semoga tidak mual.


Semoga tidak mual.


Marshal terus berdoa dalam hati, berharap gejolak di perut istrinya bisa terkontrol, setidaknya selama aktivitas manis ini berlangsung.


"Chal, kamu kenapa ganteng banget, sih?"


Marshal sudah harap-harap cemas, ketika Viona mengusap rahangnya, masih dalam gendongan menuruni tangga. Istrinya memang manja, tapi Marshal suka. Lebih baik memang seperti itu daripada Viona mengusirnya.


"Sudah berapa mata yang suka melihat wajah kamu?"


Tangan Viona masih saja mengusap-usap halus di rahangnya. Marshal sampai menghela napas serta menguatkan doa semoga Viona tidak berulah, setelah mengangumi ketampanannya. Biasanya akan seperti itu. Viona akan mual dan bahkan langsung berlari ke kamar mandi karena tidak kuat melihat wajah suaminya yang memang punya kelebihan estetika.


"Kamu diam terus. Aku berat, ya?"


Marshal menggeleng, melingkarkan tangan Viona di leher supaya tidak lagi memberikan usapan yang malah membuatnya cemas. "Jangan banyak bergerak! Nanti aku tidak fokus dan kamu terjatuh. Kasihan si Dedek, Sayang."


Ajaibnya, Viona malah tertawa, memberikan kecupan di leher Marshal. "Si Dedek suka kalau kamu murung, Chal. Ekspresinya lucu."


Marshal membatin, langsung bungkam. Bisa jadi itu adalah alasan Viona selalu membuatnya lelah dan jengkel secara bersamaan. Beralasan si Dedek, padahal ibunya yang mengeluarkan kalimat dan reaksi yang menyebalkan.


"Chal, aku berat?"


"Tidak, Sayang."


"Aku mau turun. Kasihan kamu kalau terus gendong aku. Berat. Si Dedek gak tega lihat kamu kecapaian."


Marshal hanya iya-iya saja, menurunkan Viona. Istrinya meminta untuk diturunkan, memang mereka sudah sampai di ruang makan. Kembali, Viona beralasan dengan membawa si Dedek. Marshal mulai kasihan dengan anaknya. Semua seolah keinginan si Dedek, padahal ibunya yang mengeluarkan setiap tingkah aneh.


"Mau makan apa?"


"Emm ...," Viona memegang dagu, melihat ke arah lain. Nampaknya dia sedang berpikir untuk menyusahkan suaminya lagi. "pengen ... kayaknya masakan kamu enak, Sayang." Wajahnya berseri, menampilkan puppy eyes sambil berkedip lucu.

__ADS_1


"Ini ekspresi apa? Si Dedek yang sangat ingin papa masak atau mama yang mau dimasakin?"


"Dua-duanya." Viona memberikan cengiran lebar.


Marshal tertawa, mencubit ujung hidung Viona sampai istrinya mengerucutkan bibir dengan lucu.


"Sebentar, ya, Dedek. Papa masakin makanan dulu buat kamu." Marshal menunduk, mengusap perut Viona. Wajahnya menengadah ketika Viona tertawa geli, menghentikan tangannya untuk memberikan usapan. "Kenapa?"


"Geli, Chal, ih! Tangan kamu bikin perut aku rasanya diaduk-aduk pakai bulu kemoceng."


"O, ya?" Marshal malah sengaja tidak mau menghentikan usapannya. Dia melihat ekspresi istrinya yang berseri, perasaannya menghangat. Ini yang dia inginkan. Tawa renyah tanpa beban dan juga melupakan rasa mual akibat kehadirannya.


"Diam di sini! Aku akan masak. Kamu mau aku masakin apa?"


"Apa saja. Yang penting enak dan-"


"Papa yang buatin?" sambar Marshal dengan cepat, alisnya naik-turun, menggoda.


Viona tertawa lagi. Kepalanya mengangguk-angguk dengan antusias dan membiarkan Marshal untuk memulai menjalankan tugasnya.


Kali ini, Marshal kembali mengeluarkan keahliannya dalam hal masakan. Demi si Dedek dan juga sang Nyonya. Marshal akan mengeluarkan teknik terbaiknya supaya Viona puas dan tentu saja berharap supaya istrinya tidak lagi menolak kehadirannya sampai kapan pun.


Masakan telah siap, Marshal membawanya satu per satu ke hadapan Viona. Butuh waktu sampai satu jam untuk membuat sajian itu semua, meskipun hanya dua jenis makanan. Tapi, setidaknya Viona akan senang. Satu berkuah dan satu lagi tidak. Semuanya ekstra Veggie. Viona sangat suka dengan sayuran akhir-akhir ini.


"Sudah?" Viona tersenyum lebar, menyambut hidangan yang sejak tadi aromanya menguar, menggoda penciuman untuk segera mencicipnya. "Ini enak, kan? Gak bakal buat aku muntah-muntah?"


"Tidak, Sayang. Ini sehat dan sangat baik untuk kamu."


"Apa karena kamu yang masak?"


Marshal terlihat besar kepala dengan menaikkan dagunya, angkuh. "Tentu saja," ucapnya, penuh percaya diri.


Viona terkekeh, mengambil sendok dan mulai mencicipi hasil tangan suaminya. Suapan pertama Viona diamkan di dalam mulut. Dia melihat Marshal yang duduk di sampingnya, memperhatikan, menanti respon Viona atas masakannya.


Marshal sudah menunggu, alisnya bertaut saat Viona tidak kunjung mengeluarkan pendapat dan malah mengernyit memandangi masakan Marshal yang barusan dia cicipi.

__ADS_1


"Kenapa? Tidak enak?" Marshal sudah harap-harap cemas, takut Viona tidak suka atau dia yang salah memasukan bumbu saat pengolahan tadi.


"Enggak," Viona mengernyit semakin dalam. Mulutnya terbuka dan menutup lagi sambil muram seperti akan segera memuntahkan makanan tersebut dari dalam mulutnya. "enggak semengerikan yang aku kira." Senyumannya mengembang, secepat kilat mengunyah makanan dan kembali mengambil suapan kedua.


Marshal bernapas lega, setelah sempat menahan napas melihat respon istrinya. Dia sangat takut, jika Viona tidak suka dan memuntahkannya begitu saja. Tapi, untunglah, Viona suka dan sekarang malah terlihat lahap dengan terus menyuap, membuat senyumannya tidak pudar dimakan waktu.


"Kamu mau?"


Marshal menggeleng sambil tersenyum. Duduk bersidekap, memperhatikan kegembiraan istrinya setiap memasukkan suapan demi suapan ke dalam mulut. "Habiskan, Sayang! Si Dedek pasti sangat senang bisa memakan masakan papanya. Iya, kan?"


"Enggak, kok. Biasa aja. Justru yang senang, sekarang malah mamanya."


Marshal tidak kuat menahan tawa melihat deretan gigi Viona terpangpang jelas di depannya. Viona memberikan cengiran lebar, mempertegas kalimat yang baru saja dia ucapkan. "Ternyata mama sangat rakus, ya. Aku pikir si Dedek yang senang."


"Jangan salah, Chal," Viona hampir memuncratkan makanan dari dalam mulutnya. Marshal sampai melotot tajam, tidak membiarkan Viona berbicara saat makan. Tapi, seakan tidak peduli dengan tatapan itu, Viona tetap melanjutkan kalimatnya, "mama senang, Dedek pun akan senang. Semua tergantung mood mama. Dia anak aku. Pasti bahagia kalau mamanya duluan yang bahagia."


"Iya-iya, terserah kamu saja, Sayang. Tapi ingat, dia juga anakku. Aku papanya. Kamu tidak mungkin hamil tanpa aku, kan? Perut kamu sedang mengandung, bukan kembung."


"Iya, Papa. Ini anak Papa. Dia anak kita. Tapi, dia pasti akan mirip mamanya." Tawa Viona keluar, hampir saja tersedak kalau Marshal tidak memperingatkannya untuk diam. "Jangan sampai anak ini mirip kamu, Chal. Dia harus mirip sama aku!"


"Dia akan mirip papanya, Sayang. Dia-"


"Aku yang mengandung. Dia harus mirip mamanya!" Viona menetap tajam, tidak mau kalah.


Namun, Marshal malah semakin berani membantah ucapannya dan mendekat sambil tersenyum mengejek. "Sudah lupa dengan siapa yang membuahi sel telur, Mama? Kalau aku tidak melakukannya, apa si Dedek akan tumbuh sekarang?"


"Tentu saja akan tumbuh. Aku bisa mencari papa lain untuk membuahinya."


"Sayang!" Marshal memberikan tatapan tajam, kesal mendengar ucapan Viona yang seolah tidak bersalah dan malah kembali menyendokkan makanan ke dalam mulut. "Cukup diam dan habiskan makanan! Kamu memang lebih baik seperti itu, ketimbang berbicara malah menyebalkan."


"Si Dedek menuruni sifatmu, Chal. Menyebalkan!" Viona memeletkan lidahnya ke arah Marshal.


Alih-alih marah, Marshal justru menampilkan senyuman bangga. "Itu artinya si Dedek akan mirip papanya, kan?"


Viona menghentikan kunyahannya, bungkam. Sial, dia salah bicara.-

__ADS_1


__ADS_2