Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Kejutan yang tidak Mengejutkan


__ADS_3

"Lakukan saja perawatan yang terbaik untuknya. Dan sampaikan permintaan maafku, terutama dari nyonya. Aku akan membayar besar atas semua yang terjadi. Sekali lagi sampaikan maafku, ya. Dan kamu juga harus meminta maaf padanya. Ini semua rencanamu, Rio!"


Setelah menutup sambungan, Marshal hampir terperanjat kaget mendapati Viona di belakang tubuhnya. Entah sejak kapan bidadari itu berada di sana, wajahnya terlihat masam dan tatapannya tajam.


"Sayang, orang yang kamu pukuli tadi sudah mendapat perawatan terbaik. Bibirnya sobek, hidungnya terluka di dalam, wajahnya memar, tangannya patah sebelah, perutnya terdapat luka dalam dan juga kakinya tidak bisa berdiri dengan baik." Marshal bergidig, ngeri sendiri mendengar kabar yang Rio sampaikan barusan padanya. Orang itu mendapat luka yang sangat parah.


Dia melirik tangan Viona yang terlihat biasa saja di samping paha. Menelan ludah kasar. Marshal tidak percaya jika tangan yang sering memberikan belaian lembut padanya, kini nampak horor dan sangat mengerikan. Tangan itu hampir saja melayangkan nyawa orang.


"Dia di rawat di mana?"


"Di rumah sakit yang dekat sini."


Viona mengangguk-anggukan kepala. "Bilangin sama dia, aku minta maaf. Aku tidak berniat membunuhnya, jika dia tidak memulai duluan."


"Sudah aku sampaikan tadi, Sayang. Dan dia meminta ganti rugi." Anggaplah Marshal bodoh dalam kasus ini. Dia mau-mau saja menuruti ide gila Rio untuk melakukan itu pada Viona. Berniat menjahilinya sebentar sebelum memberikan kejutan. Dan ternyata hanya sebentar saja, Viona sudah hampir memenggal kepala orang lain. Bagaimana jika Viona dijahili seharian? Berapa banyak darah yang tumpah dan berapa nyawa yang akan melayang?


"Chal ...." Viona memegang kepalanya yang berdenyut nyeri.


Dengan cepat Marshal memapahnya untuk kembali berbaring di ranjang. Wajah Viona nampak pucat dan keringat mulai muncul di keningnya. "Kamu sakit, Sayang?"


"Hanya ini ...." Viona memegang kepalanya, berkata sangat lemah. "Aku belum makan."


Marshal mengambil ponsel, menghubungi seseorang yang bisa membawakan makanan dengan cepat ke kamar mereka. Setelah selesai memberikan perintah, Marshal kembali pada Viona yang tampak semakin lemah. "Sebentar lagi makanan datang."


Marshal memberikan minum untuk istrinya. Hanya ada segelas air putih di atas nakas. Makanan yang semalam sudah Marshal keluarkan karena sudah tidak akan enak di makan. Semalam Viona tidak makan sama sekali dan pagi ini juga tidak sarapan sedikit pun, selain sarapan menghajar orang.


Saat makanan sudah datang, Marshal membantu Viona untuk makan. Dia menyuapinya, meskipun Viona menolak dan ingin makan sendiri.


"Kamu sudah berapa lama tidak makan, hm? Apa dua hari aku tinggalkan, selama itu kamu tidak mau makan?" Marshal menyuapi istrinya lagi, Viona sangat lahap menerima suapan demi suapan yang diberikannya.


"Terakhir aku makan ... pagi kemarin."


Marshal membola, menghela napas dalam. "Makan yang banyak. Bagaimana jika kamu sakit? Lain kali jangan abai terhadap waktu makan. Kamu butuh tenaga banyak untuk hidup, jangan pernah mengabaikan jam makan lagi! Paham?"


Viona mengangguk dan tersenyum sambil mengunyah. Omelan itu pernah dia berikan pada Marshal, karena suaminya yang terlalu mementingkan pekerjaan dan selalu lupa dengan jam makannya. Sekarang malah dia yang diomeli.

__ADS_1


"Obat bius kemarin efeknya kuat, Chal. Aku terus merasa pusing."


Refleks, Marshal mengusap kepala Viona seraya mengucapkan kata maaf. "Tapi, seharusnya hanya sampai tidur, Sayang. Obat bius yang diberikan Rio pada orang suruhannya, itu tidak punya efek yang berlebihan. Mungkin karena kamu yang kurang makan, makanya jadi sakit kepala."


"Iya, mungkin." Viona kembali menerima suapan dari tangan Marshal. "Emang kenapa sih, harus sampai menculik aku segala? Kamu kayak penjahat di film aja, tahu gak."


"Tadinya, aku kan mau ngasih kejutan," gumam Marshal, menyendok makanan dan kembali menyuapkannya pada mulut Viona. "Maaf."


Kata itu lagi. Viona sudah muak mendengarnya. Entah sudah berapa ratus kali Marshal mengatakannya. "Setiap aku bertanya, kamu hanya mengatakan untuk 'kejutan'. Dan apa kejutannya? Sampai sekarang kamu tidak mengatakan apa pun."


Marshal terdiam, mengaduk makanan Viona yang masih tersisa separuh piring lagi. "Sekarang tidak akan terasa seperti kejutan, Sayang."


Viona hanya diam, mengunyah dan menunggu suaminya mengatakan kejutan dengan sendiri. Kejadian tadi saja sudah cukup menjadi kejutan untuknya. Mengetahui Fakta, jika Marshal di balik semuanya, Viona sudah merasa terkejut dan ingin mencekiknya saat itu juga.


"Jadi, apa kejutannya?" Viona sudah tidak sabaran, Marshal hanya terdiam saja.


"Setelah kamu pulih, tidak lemah lagi seperti ini, kita akan segera pergi ke Bandara."


"Untuk apa? Kita akan pergi ke mana?"


"Ck, iya ke mana?" Viona kesal dengan Marshal yang bertele-tele seperti ini. "Chal!"


"Honeymoon."


***


Viona senang? Tentu saja. Kejutan yang tidak mengejutkan lagi bagi Marshal, nyatanya mampu membuat Viona kegirangan. Dia akan pergi berbulan madu ke beberapa tempat selama seminggu atau mungkin akan lebih, kata Marshal.


Dingin malam menerpa kulit mulusnya. Viona merapatkan mantel untuk menghangatkan. Marshal masih berbincang bersama dengan Rio di ruang kerjanya. Kata Marshal, mereka akan berangkat malam ini saja supaya bisa beristirahat di perjalanan dan sampai dengan keadaan yang sudah lebih baik.


Entah negara mana yang akan mereka tuju, Marshal belum memberitahukannya pada Viona. Dia hanya diminta untuk bersiap dan merapikan barang bawaan yang memang sangat perlu untuk di bawa. Selebihnya Marshal tidak mengizinkan Viona untuk berkemas. Ada para pelayan yang Marshal suruh untuk melakukan hal itu. Viona hanya perlu berdiam diri, memeluk mantel dengan sebelah tangan dan sebelah tangan lagi kini sedang memegang es krim rasa cokelat.


Sore tadi mereka pulang dari hotel, ke rumah Marshal untuk bersiap. Meskipun Marshal telah melarangnya untuk tidak memakan es krim, Viona tetap kekeh menginginkannya, walaupun cuaca malam ini terasa dingin.


Entah kenapa, dia sangat ingin yang segar dan manis untuk melengkapi kebahagiaannya saat ini. Dan Marshal akhirnya membiarkan Viona melakukan apa pun yang dia mau, selagi tidak membuatnya kesal, maka Marshal akan mengizinkan. Yang penting istrinya senang. Dia tidak mau Viona kembali marah, setelah dia buat tidak tenang selama berhari-hari dengan sikap acuhnya dan kejadian dua hari ini yang membuat pertumpahan darah terjadi di hotel miliknya.

__ADS_1


Melihat Marshal yang berjalan ke arahnya, Viona tersenyum manis. Sejak tadi dia menunggu Marshal di teras depan, karena sudah tidak sabar ingin segera pergi. Akhirnya sang tuan mendekat dan membalas senyumannya.


"Kenapa lama? Nanti penerbangannya tertinggal, lho, Chal."


Marshal malah tertawa mendengar ujaran Viona. "Kita berangkat menggunakan pesawat Mars Corp, Sayang. Tidak mungkin tertinggal."


Viona langsung terdiam. Dia lupa suaminya kaya. Dia kira mereka akan menggunakan paket honeymoon yang banyak ditawarkan orang-orang di luaran sana, memakai travel khusus. Ternyata Marshal memang sangat niat membawanya pergi. Semuanya telah dipersiapkan dengan baik.


"Emang kerjaan kamu sedikit longgar, ya? Kita pergi bakalan lama, Chal." Viona mendongak, mengikuti langkah Marshal yang merangkulnya dan membawa Viona untuk segera ke mobil.


"Lumayan tidak terlalu berat untuk akhir-akhir ini. Aku juga sudah meminta papa untuk membantu mengurus masalah pekerjaan, Sayang. Tenang saja, ada papa yang mengawasinya."


"Papa Wisnu?"


Marshal mengangguk, membukakan pintu untuk Viona masuk terlebih dahulu dan dia menyusul. "Jangan khawatirkan pekerjaanku! Banyak orang yang aku percaya, tidak akan terjadi masalah besar, jika hanya ditinggal sebentar. Lagian, aku juga masih bisa mengawasinya dari jauh, Sayang."


"Mulutmu!" Viona meremas bibir Marshal dengan gemas. Suaminya duduk di samping, terlihat kaget dengan perlakuannya. "Siapa yang kemarin-kemarin bilang, pekerjaanku tidak bisa ditinggalkan, begitu penting. Lalu, aku dicampakkan dan kamu pergi ke luar kota bersama wanita lain!"


"Hehe ...." Marshal malah terlihat konyol, menampilkan deretan gigi putih dan rapinya. 


Viona mengepalkan tangan. Sebal melihat Marshal yang sudah tega membuatnya kalang kabut.


"Jangan kesal terus, Sayang! Jika kamu masih marah padaku, lebih baik kita tunda keberangkatannya."


"Jangan!" Viona meraih tangan Marshal dengan segera. Mengusapnya perlahan dan tersenyum manis disertai kedipan mata yang tidak biasa. "Aku udah maafin kamu, kok." Matanya kembali mengedip lucu dengan wajah yang condong ke arah suaminya.


Marshal tidak kuasa menahan diri, menyerang bibir Viona yang masih tersenyum padanya.


"Cukup! Nanti kamu bisa nyosor sepuas hati, kalau kita sudah sampai di tempat honeymoon-nya, Chal."


Marshal merengut, Viona mendorongnya untuk menjauh. "Cicil dari sekarang, bisa, kan? Hanya sebentar. Hanya kecupan. Janji. Aku sangat merindukanmu, Sayang."


"Ah, baiklah ...." Viona tidak tega melihat tatapan memelas suaminya. Tidak ada salahnya jika mereka mencecap sebentar, sebelum memulai perjalanan panjangnya, kan?


Kan, kan, kan ....

__ADS_1


__ADS_2