
"Pastikan tidak ada barang yang tertinggal, Sayang."
"Iya." Viona mengemas semua barang-barangnya ke dalam koper. Masa liburan mereka di Jepang telah usai dan Marshal akan mengajaknya untuk berpindah tempat. Selesai check out nanti, mereka akan segera terbang ke negara lain. Entah negara mana yang akan mereka tuju. Marshal masih merahasiakannya dari Viona.
"Hari ini kamu cemberut mulu, Sayang." Marshal menghentikan tangan Viona yang tengah memasukkan pakaian ke dalam koper. Dia duduk di samping koper yang ada di atas ranjang, menarik tubuh Viona untuk duduk di pangkuannya. "Kenapa? Apa kamu tidak mau pergi dari sini?"
"Bukan itu."
"Lalu?" Marshal memeluk pinggang istrinya, menumpukkan dagu di pundak Viona.
"Aku gak enak hati, Chal. Dari tadi gak bisa tenang."
Alis Marshal terangkat. Pandangannya bertemu dengan manik mata Viona. Sorotan mata istrinya memang terlihat resah. Tidak seperti biasanya yang ceria dan menampilkan senyuman manis setiap saat. Sejak pagi Viona juga banyak terdiam.
"Kamu sakit?"
Viona menggeleng lemah. Dia juga tidak tahu ada apa dengan perasaannya.
"Mungkin kamu kelelahan, Sayang." Tangan Marshal mengusap lembut surai Viona. Dia jadi merasa ikut-ikutan tidak nyaman dengan perasaannya. Mungkin hanya sugesti, karena Viona sangat dia sayangi, tidak tega melihatnya murung seperti itu. "Sudah, tidak apa. Mungkin hanya lelah. Nanti akan aku belikan gula-gula yang manis supaya kamu senang, ya?"
"Aku bukan anak kecil." Viona mencebik. Meskipun Marshal merayunya, dia tetap tidak bisa menampilkan senyuman yang tulus. Perasaannya tidak tenang. Dia mengeratkan pelukan tangan Marshal dengan tangannya sendiri, seolah tidak mau berjauhan dengan suaminya. Dia jadi gelisah sendiri atas pikirannya, takut hal buruk terjadi pada mereka berdua.
"Tidak apa, Sayang. Semua akan baik-baik saja," ucap Marshal, melihat keresahan itu semakin jelas terlihat di mata istrinya.
Viona hanya memberikan anggukan pelan, beranjak dari pangkuan Marshal dan kembali mengemas barang mereka. Sore nanti mereka akan berangkat ke bandara. Viona harus cepat mengemas semua barangnya dan memastikan tidak ada yang tertinggal.
***
"Chal, kita akan ke negara mana memangnya?" tanya Viona, berhenti mengunyah makanan yang terasa hambar. Bukan karena masakan tersebut tidak enak, hanya saja perasaan tidak nyaman malah semakin merambat di hatinya. "Katakan kita akan ke mana! Seenggaknya aku gak makin menebak-nebak. Aku lelah, Sayang."
__ADS_1
Marshal menghela napas pelan. Baiklah, Viona sedari tadi tidak tenang dan dia tidak mau membuat istrinya semakin gelisah. "Kita akan pergi ke negeri ginseng, Lima sampai satu minggu. Lalu, jika ada waktu luang lagi untuk meneruskan perjalanan, aku akan membawamu ke Dubai, sebagai penutupan acara honeymoon kita. Aku ingin mengakhirinya di negera panas."
Tidak ada reaksi berlebihan dari Viona. Dia hanya menganggukkan kepala dan terdiam, lalu kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Sebenarnya apa yang sedang Viona resahkan?
"Apa kita perlu ke dokter? Aku malah khawatir melihat kamu seperti ini, Sayang."
Viona hanya menggelengkan kepala, merasa tidak perlu. Perasaannya yang tidak nyaman, bukan tubuhnya. Dia tidak butuh dokter untuk saat ini.
"Baiklah, cepat habiskan makanannya!"
Viona mengangguk patuh, kembali menyantap makanan yang sama sekali tidak bisa dia nikmati.
Semoga saja tidak ada bahaya atau berita buruk yang menimpa mereka, harap Viona dalam hati.
Marshal juga terlihat demikian, lemah dan syok menerima panggilan dari orang kepercayaan Wisnu yang ada di Indonesia.
Rio kebalabakan, ikut panik dan menenangkan kedua majikannya yang terkulai lesu. Dia juga terkejut dan ikut prihatin atas apa yang menimpa tuan besarnya.
Seseorang dari Indonesia menghubungi Marshal satu jam sebelum penerbangan menuju Seoul, mengabarkan bahwa kedua orangtuanya mengalami kecelakaan di jalan tol dan sekarang akan segera dibawa ke rumah sakit terdekat.
Syok dan sakit menimpa diri begitu tajam. Marshal berusaha kuat untuk tetap berdiri tegap dan segera mendekap tubuh Viona yang langsung terkulai lemas, hampir terjatuh di samping tubuhnya. Viona juga kaget mendengar kabar tersebut. Matanya mulai berair dan bibirnya bergetar.
"Chal ...."
"Iya, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Jangan menangis!" Marshal jadi ingin menangis juga melihat istrinya berlinang air mata. Tidak tega. Marshal memeluk tubuh Viona dengan erat.
Semoga saja Tuhan masih berbaik hati, menyelamatkan nyawa kedua orangtuanya. Sungguh, Marshal tidak sanggup untuk kehilangan mereka sekarang secara bersamaan.
__ADS_1
Sedangkan Rio harus berusaha untuk menjadi yang terdepan saat ini. Hanya dia orang satu-satunya yang bisa bertahan untuk tidak pingsan mendengar berita buruk yang sangat mengejutkan tersebut. Tanpa menunggu perintah, dia menghubungi pilot pribadi Mars Corporations untuk kembali ke Indonesia, mengurus semuanya, setelah memastikan Viona dan Marshal berada di tempat yang aman untuk menunggu.
Dengan pikiran yang kacau, Marshal menghubungi siapa saja orang yang sangat dia butuhkan saat ini. Memastikan perawatan kedua orangtuanya dengan baik dan juga menjaga Viona supaya tetap pada kesadarannya.
"Jangan menangis!" Marshal mengusap air mata yang lagi-lagi meluruh di pipi istrinya. Dia tidak suka melihat Viona seperti sekarang. "Jangan cengeng! Kamu bukan wanita lemah, kenapa mendengar berita seperti ini kamu malah terlihat lebih hancur, Sayang! Ck, sudah aku bilang, jangan menangis!"
Tangisan Viona malah semakin keras. Dia memeluk tubuh Marshal dengan erat. Sebenarnya dia ingin memukul kepala Marshal yang malah memarahi untuk tidak menangis, padahal dirinya juga sangat terpukul mendengar berita barusan.
Marshal anak mereka, sudah tentu luka yang dia rasakan lebih besar. Tapi, Marshal berusaha untuk tegar dan tenang. Tidak mau malah semakin memperburuk keadaan. Mereka harus segera pulang. Itu yang harus dilakukan sekarang, bukan saatnya untuk berduka.
Batin Marshal terus merapal doa, berharap keadaan orangtuanya membaik. Dia benci berita buruk. Tidak seharusnya dia menerima berita seperti itu, di saat telah menyiapkan diri untuk bersenang-senang dengan istrinya. Gagal sudah semua rencana bulan madu indah. Yang ada di pikirannya saat ini, hanya pulang dan segera melihat keadaan Wisnu dan Rahma.
***
Viona harus tergesa mengikuti langkah Marshal yang terburu-buru menuju ruangan tempat kedua orangtuanya dirawat, begitu mereka sampai di Indonesia. Meski tengah malam, hampir menjelang subuh mereka sampai di Bandara, mereka tetap memilih untuk langsung menuju rumah sakit, sangking tidak bisa tenangnya ingin segera melihat keadaan Wisnu dan Rahma.
Nampak ada Michelle dan suami Miranda, menyambut kedatangan mereka di depan ruangan tersebut. Tidak berkata apa pun, Marshal langsung menarik tangan Viona untuk masuk ke dalam salah satu kamar. Wisnu dan Rahma ditempatkan di kamar yang berbeda dan kali ini mereka melihat keadaan Rahma yang sangat menyayat hati.
Berbagai alat medis terpasang di tubuhnya, dia tidak sadarkan diri. Dokter bilang, kondisi orangtua Marshal keduanya sangat kritis, bahkan kehabisan banyak darah. Mereka koma.
Viona memeluk erat tubuh suaminya yang berguncang pelan. Berusaha untuk menenangkan, tapi Marshal malah menunduk, tidak mau air matanya terlihat oleh Viona. Dia hanya bisa menundukkan wajah, memegang tangan Rahma yang terasa dingin, denyutan nadinya yang terasa lemah.
Usapan tangan Viona di punggung malah semakin memperburuk perasaan sedihnya. Viona juga bersedih saat ini, tidak tega melihat mertuanya yang terbaring tanpa kesadaran. Marshal tidak bisa seperti ini. Dia menengadahkan wajah dan mengusapnya dengan cepat. Menghela napas panjang, dia memperhatikan wajah Rahma yang terlihat pucat.
"Mama hanya tidur, Sayang," ucapnya pada Viona yang kembali menahan tangis. "Ssst ... sudah!" Marshal beranjak dan memeluk tubuh Viona dengan erat. Saat itulah tangisnya kembali keluar, meski tanpa isakan, dia tetap harus terlihat tegar.
"Aku benci kamu menangis seperti ini, Sayang. Jadi, berhentilah! Wajahmu terlihat sangat jelek."
"Chal!" Viona memukul pelan dada suaminya. Dalam keadaan seperti ini, masih sempat-sempatnya dia bergurau.
__ADS_1