
Barang di kamar Amanda sudah berantakkan. Kondisi ranjang pun sudah tidak pada keadaan sebelumnya. Marshal melirik kiri kanan, tidak mendapati Amanda di sana. Dia melihat pintu menuju balkon terbuka, dengan tergesa Marshal melihatnya. Amanda tidak ada. Marshal melirik ke bawah, takut Amanda melompat dari sana. Namun, di bawah tidak ada jasad yang terkapar. Marshal ingin mengeceknya ke bawah. Dia berlari kencang menuju pintu kamar, namun baru selangkah dia keluar dari kamar tersebut, suara jeritan terdengar dari dalam.
Marshal kembali masuk ke dalam kamar dengan panik. Amanda tidak ada. Satu-satunya yang belum dia periksa adalah kamar mandi. Dengan cepat Marshal menuju ke arah itu. Pintu kamar mandi sulit di buka. Marshal mendobraknya dengan keras beberapa kali, tapi tetap tidak bisa. Dia mundur tiga langkah, menyiapkan kaki untuk menendang pintu tersebut sekuat tenaga, dan,
Brak!
Pintu terbuka. Marshal panik masuk ke dalam sana. Matanya langsung membuka lebar melihat Amanda yang sedang menyeringai di atas bathub dengan air yang penuh ... dan sebuah pisau kecil yang tajam sudah dia pegang dan diacungkan ke udara.
"Manda, jangan lakukan itu!" Marshal mencoba membujuknya dari jauh. Dia harus berhati-hati. Amanda memang wanita yang nekat dan tidak pernah berpikir dua kali jika sudah melakukan sesuatu. "Manda, aku mohon jangan seperti ini! Letakkan itu!"
Amanda malah menangis histeris. Dia memaki Marshal dengan umpatan-umpatan kasarnya. Pisau tajam itu masih berada di tangannya. Dengan langkah pelan, Marshal mulai maju untuk mendekat dan membujuknya. Dia tidak mau hal buruk terjadi pada wanita itu. Amanda boleh sakit hati, tapi bukan berarti dia juga harus melakukan hal bodoh dengan mengakhiri hidupnya.
"Manda, aku mohon, jangan ...!"
Amanda tidak peduli dan tetap menangis histeris. Marshal semakin mendekat padanya. Dia terus membujuk dan ingin menggapai tubuh wanita itu.
Saat Marshal sudah sangat dekat dengan tubuh Amanda, dia mengulurkan tangan untuk menenangkannya. Amanda malah semakin menangis. Marshal menggeser tubuh dengan cepat saat Amanda malah melempar pisau yang dipegangnya itu ke arahnya. Bunyi benda tajam itu begitu nyaring mengenai lantai. Marshal melangkah cepat untuk menggapai Amanda. Setidaknya aksi Amanda tidak akan berlanjut karena pisau itu sudah dia lemparkan jauh.
"Kita bicara baik-baik, ya. Kamu jangan sepertiļ¼MANDA ...!"
Dengan panik Marshal menghampirinya. Tanpa dia duga, Amanda ternyata menyimpan satu obat yang Marshal juga tidak tahu apa jenisnya. Setelah menenggaknya habis, mulut Amanda langsung berbusa dan wanita itu kejang-kejang hebat di dalam bathub. Amanda menjerit dengan keras menahan sakit. Matanya melotot tajam dan wajahnya mulai terlihat pucat.
Marshal segera menggendong tubuh Amanda dengan panik keluar dari kamar mandi. Wanita itu tidak sadarkan diri, meskipun masih terlihat kejang-kejang dan mulutnya tidak henti mengeluarkan buih berwarna putih.
"Manda, bertahanlah!"
Kepanikannya terhalang oleh dua laki-laki di depan kamar. Di belakangnya terdapat Vennay yang langsung panik. Dua laki-laki itu memaksa untuk merebut Amanda. Marshal tidak memberikannya karena nyawa Amanda saat ini harus dia selamatkan. Dengan cepat dua laki-laki itu merebutnya sampai Marshal membentak tidak membolehkan. Mereka tidak peduli dan tetap berhasil mengambil alih untuk kemudian membawanya.
Marshal ingin menyusul mereka yang membawa Amanda pergi, namun Vennay menghalanginya. Wanita setengah baya itu tidak tahu jika Marshal hampir saja kehilangan jantungnya karena terkejut dengan apa yang Amanda lakukan barusan. Tapi, Vennay tetap menenangkannya dan bilang jika dua laki-laki tadi adalah suruhannya. Dia sudah menduga Amanda akan bersikap seperti ini. Dan sekarang mereka sudah pergi ke rumah sakit membawa wanita itu.
__ADS_1
"Aku tahu dia pasti merencakan bunuh diri. Seminggu yang lalu, aku melihatnya membawa obat dengan dosis tinggi. Entah obat apa, aku juga tidak tahu. Tapi, dia selalu mengeluhkanmu dan bilang tidak ingin hidup lagi, jika kamu tidak kunjung menemuinya," jelas Vennay pada Marshal yang duduk di sofa dengan gusar.
Dia tidak tenang, namun Vennay tetap menahannya untuk pergi dengan alasan supaya Amanda cepat ditangani jika mereka tidak ikut panik di rumah sakit. Vennay menjamin Amanda sudah mendapatkan penanganan yang baik saat ini. Karena dia sudah menghubungi pihak rumah sakit yang dia kenal pemiliknya untuk menyiapkan segala sesuatu setelah tadi Marshal meneleponnya.
Marshal akui jika perkiraan Vennay memang baik. Dia sigap menyiapkan segalanya dengan kemungkinan yang terjadi. Manager Amanda tersebut memang sudah nengetahui bagaimana dan apa yang akan Amanda lakukan. Dia bahkan bisa terlihat tenang di saat Amanda sedang sekarat.
Marshal ingin pergi ke rumah sakit. Dia masih saja cemas dan tidak bisa tenang. Vennay lagi-lagi menahannya sampai Marshal menggeram marah dan hampir mendorong tubuh wanita setengah baya itu, jika dia terus menghalanginya.
"Sekarang bukan saatnya untuk panik. Dia sudah ditangani dengan baik."
Vennay menunjukan layar ponselnya di depan Marshal. Salah satu dari dua laki-laki tadi menghubungi melalui panggilan Vidio. Dia mengatakan jika tiga dokter tengah menangani Amanda di sebuah ruangan khusus, dan mereka kini sedang menunggunya. Mereka cepat sampai di rumah sakit itu karena jaraknya yang sangat dekat dengan gedung apartement, sehingga kemungkinan besar Amanda cepat ditangani sangat besar.
Tapi, Marshal tetap ingin pergi ke sana. Dia tidak akan bisa tenang jika belum melihatnya sendiri.
"Berada di sana pun tidak ada gunanya. Kamu bukan dokter, untuk apa berada di sana? Sudah, kamu tenangkan dirimu dulu! Dia pasti baik-baik saja. Percaya dan teruslah berdoa!"
Marshal muak melihat sikap tenang yang ditunjukkan oleh Vennay. Bisa-bisa wanita itu terlihat biasa saja. Padahal nyawa Amanda kini sedang dipertaruhkan.
Saat Marshal sedang menelepon Rio, suara teriakan Vennay dari kamar Amanda membuatnya panik seketika.
"Gawat, Amanda memasang bom di dalam kamarnya. Setengah jam lagi akan meledak!" teriak wanita itu terlihat sangat panik di ambang pintu kamar melapor pada Marshal.
Suami Viona ikut panik dan langsung menyuruh Rio untuk cepat menghubungi pihak apartemen dan menyuruh seseorang untuk mengurusnya.
Tidak lama kemudian, orang-orang yang bertanggung jawab untuk masalah apartemen itu mulai berdatangan. Mereka juga membawa dua orang yang ahli menjinakkan bom ke dalam unit tersebut.
Semua yang ada di dalam apartemen itu di minta untuk keluar dan membiarkan mereka yang mengurusnya. Marshal dan Vennay sangat panik. Untung saja wanita paruh baya itu berhasil menemukannya saat dia ingin memeriksa botol obat di kamar mandi Amanda. Dia melihat suatu benda di dekat bathub dan saat dia mendekat, ternyata sebuah bom bunuh diri.
Marshal tidak habis pikir dengan apa yang Amanda lakukan. Wanita itu sudah merencakan semua ini, jika sewaktu-waktu Marshal meninggalkannya. Bagaimana jadinya, jika apa yang Amanda rencanakan berhasil terjadi? Marshal pasti tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Jika berat, kenapa kamu lakukan? Kamu hampir saja membuatnya merenggang nyawa, Chal."
Mendengar cerita suaminya, Viona merasa kaget dan kasihan pada Amanda. Tapi, Marshal bilang sekarang Amanda sudah ditangani dengan baik, dan dia sudah menyuruh Rio untuk pergi ke rumah sakit. Sengaja dia tidak ke sana. Selain karena Vennay yang melarang, juga karena Marshal tidak ingin rasa bersalahnya semakin besar terhadap Amanda. Dia pasti tidak tega melihatnya.
Wanita itu kini sedang koma di salah satu rumah sakit besar yang dekat dengan apartemennya. Amanda sudah baik-baik saja, setelah dia meracuni dirinya sendiri. Tinggal menunggunya sadar, dan kemungkinan untuknya meninggal hanya sedikit. Karena dokter sudah memberikan penanganan yang baik untuk menetralisis obat dosis tinggi yang ditenggak wanita itu.
"Semuanya sudah terjadi, Sayang. Aku bisa apa?" Marshal terlihat sangat sedih sekarang.
Viona menunduk dan mengusap rahangnya. Selama Marshal bercerita, laki-laki itu tidak mau beranjak, tetap menumpukan kepala di paha istrinya. "Harusnya kamu tidak melakukan itu sekarang. Kasihan dia jika jadi seperti itu."
Marshal mendongak, melihat mata istrinya dengan lekat. Dia menggenggam tangan Viona masih mengusap rahangnya. "Menyikapi sebuah keputusan memang sulit. Aku sudah terlanjur mengatakannya, dan tidak akan menariknya kembali."
"Tapi, kasihan dia, Chal."
Marshal bangun dan duduk di depan istrinya. "Sayang, aku sudah memutuskan. Harusnya kamu senang, karena aku melakukan semua ini untuk kamu."
Viona melotot tajam melihat suaminya. "Senang di atas penderitaan orang lain? Apa kamu tidak punya hati? Dia sekarat gara-gara kamu, Chal."
Dengan cepat Marshal menggamit tangan istrinya. "Aku tahu, aku memang salah. Tapi, itu yang harus terjadi, Sayang. Aku juga tidak mengira dia akan seperti itu."
Viona hanya terdiam. Dia merasa kasihan terhadap Amanda. Sangat miris. Apa yang Amanda lakukan sungguh di luar dugaan. Wanita itu terlalu berani mengambil risiko sampai dia tidak peduli jika nyawanya melayang hanya karena diputuskan oleh Marshal. Viona berharap apa yang Amanda lakukan tidak terjadi lagi di kemudian hari.
"Sayang, aku mungkin ... em, aku mungkin akan tetap mengawasinya dari jauh. Tidak apa, kan?"
Viona mengernyit tidak mengerti dengan maksud suaminya.
"Aku harus memastikan jika Amanda tetap baik-baik saja. Aku tidak akan membiarkan dia hidup sendiri sampai dia menemukan seseorang yang bisa menjaganya." Melihat Viona yang hanya terdiam memandanginya, Marshal menghela napas dalam. "Sayang, maksudku bukan ... aku tidak akan berhubungan dengannya lagi. Hanya memantaunya dari jauh. Kamu tahu sendiri 'kan, jika dia tidak punya siapa-siapa lagi."
Viona hanya bergumam. Tidak ada salahnya jika Marshal merasa khawatir dengan Amanda. Lagian, itu mungkin akan lebih baik untuk Amanda supaya keselamatan wanita itu juga terjaga. Hanya sampai Amanda mendapatkan seseorang baru. Viona bisa memahami apa yang suaminya inginkan.
__ADS_1
"Aku janji, aku tidak akan berhubungan lagi dengannya. Hubunganku sudah berakhir, dan aku tidak akan menjalinnya lagi. Hanya denganmu, sungguh!"
Viona mengangguk setuju dengan apa yang suaminya ucapkan. Mulai sekarang, harapan supaya rumah tangganya bisa berjalan baik, sedikit demi sedikit mulai Viona inginkan. Karena dia sudah mengikhlaskan hidupnya untuk tetap bersama Marshal. Jadi, wajar saja 'kan, jika di lun menginginkan hal sama dilakukan oleh suaminya?