Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Sikap Istri Tergantung Sikap Suami


__ADS_3

Viona mulai tidak sabaran, karena Marshal hanya diam saja. Dia mendongak, suaminya malah mengalihkan pandangan. Viona pun tidak ingin bertanya kembali melihat suaminya seperti itu. Dari responnya saja, Viona sudah tahu apa jawabannya.


"Jika masih mencintai dia, kenapa kamu malah melepaskannya? Bukankah melepaskan orang yang paling kita cintai itu berat? Kamu terlalu berani mengambil keputusan."


Marshal nampak terkejut mendengar ucapan istrinya. Viona belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Haruskah dia berbohong lagi? Tapi, jika berkata jujur untuk saat ini, Marshal takut hal yang paling tidak diinginkan terjadi.


"Huamp ... aku mengantuk." Viona melirik jam di kamarnya, sudah menunjuk pada angka satu dan dua yang berdempetan. "Sudah tengah malam, pantas saja ...." Viona membenahkan posisi, tidak lagi berada dalam dekapan suaminya. Dengan posisi tidur miring menghadap Marshal, Viona tersenyum pada suaminya yang masih saja terdiam, kemudian dia menutup mata.


Maafkan aku, Ra! Aku belum bisa mengatakan semuanya sekarang, ucap Marshal dalam hati.


Melihat istrinya mulai terlelap, Marshal mengulurkan tangan untuk mengusap rambut hingga ke rahang istrinya. Tiga kali kecupan Marshal berikan pada bibir istrinya. Dua kali lagi di dahi dan pipi salah satu milik istrinya. Marshal segera mendekap tubuh Viona saat melihat bibir istrinya melengkung membentuk senyuman.


"Tidur, sudah malam!" Melihat istrinya yang masih saja tersenyum sambil memejamkan mata, Marshal mencolek hidungnya. "Tidur, Sayang, sudah malam. Katanya mengantuk."


Viona membuka mata sejenak melihat suaminya. "Dua kali kamu mengalihkan pertanyaanku. Apa kamu tidak mau menjawabnya?"


Marshal kembali diam, kemudian menarik kepala Viona supaya beringsut di dadanya.


Viona menurut dan mulai menyelami alam mimpi di bawah hangatnya dekapan suami yang belum dia cintai. Baru status yang dia nyatakan, belum melibatkan perasaan. Viona harap semuanya akan segera berubah supaya luka hatinya bisa tergantikan dengan rasa bahagia yang diberikan suaminya.


***


"Aku tidak menerima penolakan untuk kali ini," tegas Marshal, "jika tidak mau aku antar, kamu tidak boleh pergi!"


Viona mencebik sambil membenarkan posisi dasi dan jas milik suaminya. "Iya, aku berangkat sama kamu." Menghadapi sikap Marshal, lagi-lagi menurut adalah cara terbaik supaya semuanya bisa terkendali. "Tapi, pulangnya tidak usah dijemput. Aku bisa pulang sendiri."


"Tidak bisa, kamu tetap harus dijemput."

__ADS_1


"Chal," rajuk Viona, selesai merapikan pakaian suaminya. "aku bukan anak kecil. Aku bisa pulang sendiri, kamu tidakļ¼"


"Menurut atau tidak boleh pergi?" Marshal duduk di kursi yang ada di ruangan wardrobe sambil memasangkan jam tangan di pergelangan tangan kirinya. "Aku hanya memberikan dua pilihan, dan jawabannya bisa menentukan hari-harimu selanjutnya."


Viona menganga tidak percaya. Marshal benar-benar ...!


"Jika hari-hari seterusnya aku berangkat terus sama kamu, nanti bisa repot. Kita beda arah, belum lagi waktuku pergi tidak selalu pagi. Nanti waktu kamu berangkat ke kantor akan berantakan. Tidak akan tepat waktu lagi."


"Terserah," Marshal berdiri, membenarkan jasnya yang terasa kurang nyaman. "jika kamu tetap menolak, itu artinya kamu hanya boleh berada di rumah, kan? Hm ...," Marshal berpikir sejenak sebelum dia tersenyum misterius. "sepertinya itu ide bagus. Kamu lebih baik diam saja di rumah, aku lebih suka seperti itu."


"Chal!" Istri Marshal berdecak kesal melihat suaminya yang masih santai dengan senyuman jahilnya. Tadinya, Viona ingin kumpul dulu dengan temannya setelah selesai dari kampus. Tapi, jika Marshal menjemputnya juga, dia pasti tidak bisa ke mana-mana lagi dan harus segera pulang ke rumah.


"Sudah, sana mandi! Ini sudah jam berapa, nanti aku bisa terlambat, Sayang."


Menantu Rahma tersebut mengembungkan pipinya dengan kesal. Dia memang masih mengenakan piyama tidur, belum mandi, sedangkan suaminya sudah satu jam yang lalu pergi bersiap, sehingga saat ini dia tinggal berangkat.


Dengan kesal, Viona mengacuhkan suaminya dan pergi keluar dari kamar tersebut menuju kamarnya sendiri. Merepotkan memang. Tapi, Viona tidak bisa menolak saat Marshal memintanya untuk membantu bersiap. Sering bolak-balik ke dua kamar yang berbeda ternyata sangat merepotkan. Apa dia harus menuruti suaminya saja untuk pindah dan menetap ke kamar Marshal yang selalu diklaim oleh suaminya sebagai kamar mereka?


Entahlah, Viona merasa tidak mau. Dia juga sudah merasa nyaman di kamarnya tersebut. Mereka memang berbeda kamar, tapi jika tidur selalu bersama. Apa lebih baik dia pindah saja? Ah, sudahlah! Tidak ada waktu untuk Viona memikirkannya. Dia harus cepat-cepat bersiap sebelum suaminya mengomel. Marshal pasti banyak bicara, jika dia lama dalam bersiap karena bisa saja suaminya jadi terlambat berangkat bekerja.


Namun, saat Viona turun dari tangga, dia tidak mendapat omelan tentang waktu dari suaminya. Padahal dia cukup lama mempersiapkan diri. Justru yang dia dapatkan pertama kali masuk ruang makan malah geraman dari suaminya yang begitu kentara.


"Lihatlah Rio, apa aku menikahi seorang anak di bawah umur?"


Viona menatap bingung dua laki-laki yang sudah berpakaian rapi, duduk di meja makan menunggu dirinya untuk sarapan. Saat dia akan duduk, Marshal malah menahannya membuat Viona semakin bingung.


"Ganti pakaianmu!"

__ADS_1


Viona melihat suaminya dan Rio bergantian sebelum dia melihat penampilannya sendiri. "Kenapa harus diganti? Apa bajuku jelek?"


Marshal kembali menggeram seraya beristigfar. "Kamu seperti anak SMA dengan penampilan seperti itu. Cepat ganti bajunya! Aku sudah berpakaian seperti ini, akan terasa aneh jika bergandengan denganmu. Aku merasa terlalu berumur jauh melihat penampilan istriku sekarang."


Sekali lagi, Viona melihat penampilannya. Tidak ada yang aneh. Hanya penampilan feminin biasa seorang wanita. Mengenakan dress berwarna biru muda dengan panjang di atas lutut dan tangan pendek yang dia tutupi dengan jaket denim berwarna biru. Dia membawa ransel kecil yang disampirkan di bahu sebelah kiri dan sepatu kets berwarna putih dia kenakan untuk alas kaki. Untuk tatanan rambut, Viona membuat dua gulungan kecil di sisi kanan dan kiri, mungkin itu yang membuatnya seperti anak kecil.


"Aku memang awet muda. Tidak ada yang salah dengan penampilanku. Lihat, aku sangat imut seperti ini. Bukankah harusnya kamu senang melihat istrimu begini?"


"Tapi, kamu terlihat seperti temannya Michelle, Sayang," geram Marshal terlihat kesal. "Sana, perbaiki penampilanmu!"


Viona mendengus sebal. "Lalu aku harus berpenampilan seperti apa? Tante-tante?" Ditatapnya Marshal dengan sebal, Viona mencibir, "punya istri imut, kok, tidak mau."


Marshal menatap tajam pada istrinya yang tidak mau menurut. Dia tidak lagi bersuara, namun tetap memancarkan ketidaksukaannya lewat mata. Viona memang terlihat imut, tapi mereka akan pergi ke luar. Jika dilihat orang, saat mereka bersanding, Marshal pasti akan merasa sedang bersanding dengan adiknya yang masih sekolah menengah. Marshal hanya ingin terlihat cocok dengan istrinya di depan semua orang maupun dalam kenyataan sehari-hari mereka.


Viona menghela napas kasar dan menyimpan ranselnya di kursi. Dia membuka jaket yang dia kenakan, menyampirkannya di kursi juga. Marshal terus saja memperhatikannya tanpa mau bergeming, sama halnya dengan Rio, hingga Viona membuka dua gulungan rambut di kepalanya. Hal tersebut membuat rambutnya tergerai dan Viona merapikannya dengan sisiran jemari. Tidak lupa, dia merapikan poninya. Menggulung-gulung kecil ujung rambutnya yang panjang tergerai, sehingga terlihat sedikit curly.


"Jangan mengomel lagi! Sudah tidak ada waktu untuk berganti pakaian. Begini saja, ya!"


Marshal membola, terpana melihat penampilan istrinya. Dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu menit, penampilan Viona terlihat memancarkan kesan yang berbeda. Sekarang, lebih terlihat pada usianya. Marshal tersenyum lebar dan menganggukan kepala. Istrinya cukup ahli dalam berpenampilan.


"Sekarang sarapan!" Marshal mengkode istrinya untuk duduk lewat tatapan.


Viona memandangnya jengah, duduk dengan terpaksa membuat Marshal gemas melihatnya.


"Suasana buruk yang diberikan istri di pagi hari, bisa mempengaruhi kinerja suami seharian tersebut," sindir Marshal tanpa melihat istrinya. Dengan santai, dia membalikkan piring miliknya, tidak peduli tatapan Viona menghunus tajam tertuju padanya.


"Jangan pernah menyalahkan istri, jika dia tidak bersikap sesuai yang diharapkan! Karena mood istri, tergantung dengan seperti apa perlakuan yang suaminya berikan." Viona ikut menyahutinya penuh penekanan saat mengambil piring milik suaminya untuk dia isi dengan makanan. "Jika suami berbuat baik dan manis, maka istri pun pasti membalasnya tidak kalah manis. Tapi, kamu, pagi-pagi malah membuat mood istrimu berantakan. Bagaimana istrimu bisa bahagia, jika seperti itu?"

__ADS_1


__ADS_2