
Subuh mereka terbangun. Bukan suara adzan yang membangunkan, melainkan suara tangisan Zean yang mengesalkan. Anak itu kembali menangis dan menggeliat tidak tenang. Kakinya menendang-nendang, sesekali mengenai punggung Marshal yang tidur membelakanginya.
Dengan kesal Marshal berbalik. Dia tidak suka jika tidurnya terusik seperti itu.
"Sst, Zean kenapa nangis?" Viona terduduk. Memangku Zean yang sedang menangis, didudukan di pangkuannya. Anak itu tidak kunjung diam. Marshal ikut bangun, membantu Viona menenangkannya.
"Dia pengen ke mamanya, kali," ucap Marshal setengah sadar. Ikut mengusap kepala Zean.
Mata Viona belum benar terbuka. Dia masih ngantuk. Namun, dia tetap memaksakan diri untuk bisa membuat Zean tenang. Viona turun dari ranjang dengan Zean di gendong di depan, kakinya mengangkangi tubuh Viona. Anak kecil itu menyandarkan kepalanya di pundak Viona.
Tangisan Zean tidak kunjung berhenti. Marshal turun dari ranjang mendekat pada istrinya. Mengambil alih Zean. "Kamu kembali tidur jika masih ngantuk." Dia keluar kamar membawa Zean. Viona hanya terdiam dan kembali meringsuk di ranjang. Dia memang masih sangat mengantuk.
"Sst, diam Zean! Om anter ke mama, ya." Marshal membawa Zean ke kamar Miranda. Dia heran pada kakaknya, kenapa tidak mengambil Zean semalam? Apa dia sudah lupa pada anaknya?
Tanpa mengetuk pintu, Marshal membuka kamar Miranda. Dia tertegun sesaat melihat ke dalam kamar dan kembali menutup pintunya dengan cepat. "Aku tidak melihat apapun. Lanjutkan!" ucapnya dengan gelagapan. Secepat mungkin kembali membawa Zean menuju kamarnya.
Sepanjang jalan menuju kamar, Marshal mengomel tidak jelas atas apa yang barusan dilihatnya di kamar Miranda. Pantas saja kakaknya itu tidak kunjung membawa Zean. Ternyata dia sengaja melupakan anaknya demi kehangatan sang suami.
Viona yang baru saja akan kembali tidur, memandangi Marshal dengan heran. Kenapa Zean malah dibawa lagi, bukannya mau diantarkan pada ibunya?
"Tuan, Zean ...."
"Biarkan dia tidur di sini dulu," ucap Marshal dengan masih gugup. Mukanya memerah menahan malu jika mengingat adegan tidak senonoh barusan. Dia merutuki dirinya sendiri. Seharusnya dia mengetuk pintu dulu tadi. Tapi, bukan salah dia juga. Dia tidak tahu jika suami Miranda sudah pulang.
Meskipun bingung, Viona tetap membawa Zean untuk tidur kembali. Dia tidak tahu kenapa Marshal tidak jadi membawa Zean pada ibunya, tapi dia cukup heran melihat Marshal yang salah tingkah.
"Tadi Tuan membawa Zean ke mana? Kenapa dibawa lagi, apa kak Miranda tidak ada?"
"Bukan tidak ada, dia sedang bertelanjang menggeluti suaminya." Marshal langsung berjalan ke arah kamar mandi setengah berlari. Adegan kakaknya yang sedang bercumbu itu kembali teringat. Dia semakin salah tingkah saat memberitahu istrinya.
Viona memandangi pintu kamar mandi yang tertutup dengan bingung. Setelah dia mencerna kembali ucapan Marshal, dia tersenyum geli. Dia bukan gadis polos. Dia mengerti ke mana maksud suaminya. Pantas saja Marshal malah membawa Zean kembali.
***
Sarapan pagi terasa canggung bagi dua pasangan yang masih muda. Jika melirik pada kakaknya, Marshal selalu tersenyum geli. Sama halnya dengan Miranda yang nampak malu-malu.
"Tidurku tidak bisa nyenyak semalam, Ma," adu Marshal pada Rahma yang sedang sarapan, memulai pembicaraan. "Zean tidurnya tidak bisa tenang. Tengah malam nangis sambil nendang sana-sini. Punggungku jadi sakit akibatnya," keluhnya dengan nada manja.
"Zean tidur sama kalian, semalam?" tanya Rahma kaget. Dia tidak tahu jika cucunya semalam bersama Marshal dan Viona. Bahkan bisa dibilang seharian, karena Miranda menitipkannya dari siang.
__ADS_1
Marshal mengangguk. "Iya, Ma. Soalnya kak Miranda sibuk me-ssh, aduh ...." Marshal memandangi kakaknya dengan tajam. Kakinya sakit mendapat serangan dari Miranda di bawah meja.
"Aku ketiduran, Ma. Jadi lupa bawa Zean," sahut Miranda dengan cepat. Dia tidak mau sampai Marshal mengatakan privasinya di meja makan. Jika hanya keluarganya yang berada di sana, Miranda merasa tidak apa. Tapi, sekarang ada Viona. Anggota keluarga baru. Miranda harus jaga image di depan adik iparnya.
Marshal terbahak membuat semua anggota keluarganya merasa aneh. Michelle, adiknya itu memukul lengan Marshal dengan sendok sayur karena Marshal tertawa sendirian. "Kenapa kakak ketawa?" tanyanya penuh penasaran. Dia ingin tahu apa isi kepala Marshal sampai tertawa sendiri seperti orang gila di meja makan.
"Anak kecil gak boleh tahu," Marshal kembali melanjutkan makannya. Tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang melihatnya aneh.
Miranda memandangi suaminya yang sedang sarapan dengan bibir mengerucut lucu. Dia mendekat pada sang suami yang duduk di sebelahnya. "Marshal melihatnya ternyata. Lain kali kunci pintu makanya," bisik Miranda dengan malu.
Zevan, suaminya hanya tersenyum dan menggeleng. Tidak terlalu menghiraukan ucapan istrinya.
***
"Nanti kalo kita sudah punya anak, jangan kayak kak Miranda, ya."
Mereka sudah berada di dalam mobil. Selesai sarapan mereka langsung pulang karena Marshal juga harus bekerja.
Viona menoleh pada Marshal. Alisnya bertaut, meminta penjelasan.
"Dahulukan anak daripada hasrat," ucap Marshal membisik pada istrinya. Takut Rio yang sedang menyetir bisa mendengarnya. Viona hanya terdiam. Pikiran Marshal terlalu jauh. Dia bahkan sudah mengatakan soal anak. Pikiran Viona belum sampai ke sana, bahkan tidak mengharapkan sampai ke sana. Dia tidak mau ada anak dari pernikahannya ini.
"Nih," Marshal menyerahkan ponsel yang baru dia ambil dari kantongnya. "kenapa gak dibawa?"
"Ini punyamu," ucap Marshal menyimpan ponsel itu di tangan Viona. "Anggap saja sebagai ganti yang kemarin aku lempar. Aku membelikannya untukmu, tetapi kenapa kamu tidak membawanya tadi saat pulang?"
Viona memandangi ponsel itu. Sepertinya keluaran terbaru. "Saya kira ini punya Tuan. Makanya saya tinggalkan saja di kamar."
Marshal tersenyum. Mengusap kepala Viona dengan pelan. "Ini punyamu sekarang. Semua data dari handphone yang lama sudah aku pindahkan ke sini. Handphone yang kemarin rusak layarnya."
Viona mengangguk dan memasukkan ponsel itu ke dalam tasnya. "Terima kasih, Tuan." Viona memang marah karena tindakkan Marshal kemarin.
Dia kesal karena ponselnya dilempar begitu saja. Tapi, Viona sudah melupakan ponsel itu karena dia juga tahu, pasti ponselnya rusak. Tadinya Viona akan membeli lagi ponsel dengan uang yang dia tinggalkan di rumah Heru. Tidak disangkanya, ternyata Marshal baik mau mengganti ponselnya.
"Semua data dari ponsel itu memang sudah aku pindahkan, kecuali segala sesuatu yang berkaitan dengan laki-laki itu. Aku menghapus semuanya. Jadi, aku harap kamu tidak mencoba mengingatnya lagi."
Viona tercengang. Berarti Marshal sudah mengotak-atik data ponsel lamanya? Apa dia melihat semuanya? Viona sangat cemas. Karena di sana ada beberapa foto dia bersama dengan Sendi. Apa Marshal juga melihatnya? Jika benar, pasti suaminya itu marah.
"Jangan pernah mencari tahu nomor laki-laki itu lagi! Aku tidak mau kamu menghubunginya."
__ADS_1
Viona mengangguk dengan terpaksa. Jiwa pemberaninya lenyap kembali. Selain menurut apalagi yang bisa dia lakukan. Viona pasti semakin terkekang jika terus bersama Marshal.
***
"Diam di rumah, jangan ke mana-mana selama aku bekerja!" tegas Marshal yang sudah berganti pakaian siap berangkat pada Viona yang sedang menyiapkan lunch box untuknya. "Lakukan apapun yang mau kamu lakukan. Asal tidak membuatku marah, kamu bebas mau apapun." Viona hanya terdiam. Tangannya sibuk memasukkan makanan untuk nanti suaminya makan siang. "Dan yang lebih penting, jangan pernah menghubungi dia lagi!"
Bekal untuk suaminya dan Rio sudah siap. Viona berbalik badan, menghadap pada Marshal. Rio segera mengambil dua lunch box dari atas meja makan dan keluar duluan.
"Paham dengan apa yang kukatakan?" Viona mengangguk dan tersenyum. "Baguslah! Aku suka jika kamu jadi penurut seperti ini. Tapi aku tidak suka jika kamu banyak terdiam."
"Jadi, saya harus bagaimana?"
"Kemari!" Viona mendekat pada Marshal yang menyentuh dasi di lehernya. Paham dengan maksud suaminya, Viona segera membenarkan dasi itu. "Aku tidak akan melarangmu bersikap seperti biasanya, asalkan jangan membantah dan mendebatku seperti hari sebelumnya."
"Baiklah, Tuan. Cepat berangkat, Rio sudah menunggu!"
"Kamu mengusirku? Ingin aku segera pergi supaya kamu bebas, kan?"
Viona tertawa kecil. "Bukan, tapi Rio sudah menunggu. Nanti kesiangan."
"Aku bosnya, kesiangan satu jam tidak jadi masalah."
Istrinya menggeleng pelan. "Hanya bos yang tidak patut dicontoh yang melakukannya."
Menantu Heru Pratama itu tersenyum dengan gemas menyentuh pipi istrinya. Dia suka jika Viona bersikap seperti ini. Perubahan yang bagus. Lebih baik Viona mengejeknya seperti itu daripada mengajaknya berdebat tentang masalah keadilan.
"Yasudah, aku berangkat." Marshal mengulurkan tangannya pada Viona.
Istrinya hanya terdiam memandangi tangan Marshal. "Inilah akibatnya jika berdebat terus berhari-hari. Kamu jadi lupa rutinitas, kan?" sindir Marshal.
Hubungan mereka tidak baik selama beberapa hari setelah perdebatan itu. Selama hubungannya bermasalah, Viona tidak pernah berperilaku sebagai istri yang baik. Dia tidak mengantar Marshal yang akan berangkat bekerja. Tidak juga menyambut suaminya saat pulang. Mereka nampak masing-masing, bahkan makan pun jarang bersama karena Viona yang selalu menghindarinya.
"Masalah keadilan sudah berakhir karena aku tetap akan egois," ucap Marshal dengan percaya diri. "Jadilah istri yang penurut seperti dulu."
Meskipun tidak suka mendengar ucapan suaminya, Viona tetap menurut untuk mencium tangan Marshal. Dalam hatinya dia menjerit dan memaki Marshal. Keadilan itu seharusnya masih dia diperjuangkan. Tapi, karena Viona takut dengan ancaman Marshal, dia hanya terdiam. Suaminya memang egois. Tidak akan ada yang menyaingi. Jika ada perhelatan akbar, Marshal pasti menang dalam kategori 'Suami paling Egois sejagat raya'.
"Baik-baik di rumah. Jangan menghubungi dia lagi!"
"Iya, Tuan, iya."
__ADS_1
Dengan masih gemas Marshal mencium kening istrinya. Viona selalu salah tingkah jika diperlakukan seperti itu. Dia menunduk hingga Marshal pergi dari ruang makan.
Setelah langkah kaki Marshal menjauh, Viona baru kembali mengangkat wajahnya.