Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan
Tibalah Saatnya


__ADS_3

**WARNING!


Dalam Part ini terdapat adegan yang sangat-sangat tidak dianjurkan untuk dibaca oleh anak dibawah umur. Saya sarankan pada kalian anak-anak untuk tidak membaca. (Tapi, saya yakin, jika diberi tanda seperti ini anak-anak justru malah makin menggila)


Harap bijak dalam memilih bacaan!


Happy reading! Dosa tanggung sendiri, ya. Salam hangat dari Zhao😘**


___________________


"Lihat aku!" Marshal memaksakan Viona untuk menatapnya karena Viona malah menutup mata. "Berarti boleh?" Pandangan Marshal langsung menggelap melihat istrinya mengangguk pertanda membolehkan.


"Tunggu dulu!" Viona yang sudah kepalang malu, menahan tubuh Marshal yang sudah ingin kembali menyerangnya. "P-pil ...."


Marshal baru peka sekarang. Pantas saja sejak tadi istrinya mencari benda itu. Ternyata Viona memang sudah menyiapkannya. "Di mana kamu menyimpannya?" Penuh semangat, Marshal beranjak dari tubuh Viona. Dia berjalan cepat menuju lemari pakaian istrinya setelah Viona mengatakan jika dia menyimpannya di sana.


Setelah menemukannya, Marshal segera memberikan benda tersebut ke tangan Viona. "Sebentar, aku ambilkan minum." Marshal berlari keluar kamar untuk mengambil segelas air.


Tidak sampai tiga menit, laki-laki itu sudah berada di kamar, menyodorkan segelas air putih pada istrinya. "Cepat minum!" Dia sudah tidak sabaran menunggu istrinya meneguk pil putih itu. "Sayang, cepat!" Dia geram sendiri melihat Viona yang hanya memandangi lembaran pil di tangannya.


Marshal membantunya minum pil itu dengan cepat. Dia menyimpan gelas di atas nakas dengan buru-buru. Ada sesuatu yang ingin dia lakukan sekarang juga, tapi Viona kembali menahannya saat Marshal sudah siap untuk memakannya.


"Chal?"


Marshal sudah membenamkan wajahnya di leher Viona, menghirup aroma tubuh istrinya penuh penghayatan. "Apa lagi, Sayang?" Marshal menggeram rendah. Dia kesal karena Viona malah tidak mau dia mengecup lehernya.


"S-sholat, emmhh ...."


Marshal menghentikan kecupannya. Dia mendongak melihat wajah Viona. Mereka bertatapan dengan napas yang belum apa-apa, tapi sudah terengah-engah. Sedetik kemudian, Marshal tersadar dan langsung bangun, menggendong tubuh istrinya menuju kamar mandi.

__ADS_1


***


"Chal!" Viona menarik-narik tangannya, tapi Marshal tidak mau melepaskannya.


Selesai sholat sunnah dua rakaat, Viona mencium punggung tangan suaminya. Tapi, kali ini Marshal tidak kunjung melepaskan tangannya membuat Viona tidak bisa beranjak sedikit pun.


"Sayang ...."


Mata Viona terpejam merasakan hangat dan lembutnya bibir Marshal di keningnya. Dia terkejut seketika saat tubuhnya diangkat oleh Marshal dan ditidurkan di atas ranjang secara perlahan, meskipun dia masih memakai mukena.


Viona hanya diam saja saat Marshal mengecup bibirnya. Debar jantungnya sudah kelewat dag-dig-dug cepat menanti apa yang akan Marshal lakukan. Viona memejamkan mata saat merasakan hangat dan lembut bibir Marshal mencium keningnya cukup lama. Dia ikut mengucapkan doa dalam hati saat Marshal membacakan doa di depan bibirnya.


Cup!


Sekali lagi Marshal mengecup kening istrinya membuat Viona segera membuka mata. Debar jantung keduanya bergemuruh kuat saat saling bertatapan. Marshal tersenyum hangat melihat istrinya yang terlihat gugup, sama seperti dirinya.


Viona mengangguk pelan saat Marshal menarik mukenanya untuk terlepas. Kala mukena sudah raib dari tubuh istrinya, Marshal langsung menyambar bibir Viona dengan lembut.


Mereka terhanyut dalam rasa senang dan gugup yang mulai bergelora. Viona membuka mulut saat gigitan Marshal di bibir bawahnya mulai menuntut. Mereka saling membalas ciuman. Marshal menarik kedua tangan Viona supaya mengalung di lehernya dan mereka kembali terhanyut dalam kehangatan yang kian berubah bergairah.


Pangutan Marshal semakin menuntut. Dia mengabsen deretan gigi dan seluruh isi mulut istrinya dengan lidah yang dia masukan secara perlahan penuh perhatian. Mereka saling membelit satu sama lain menikmati hangatnya sesuatu yang semakin memaksa untuk memuaskan satu sama lain.


Viona melenguh pelan saat ciuman Marshal beralih ke rahang, mengecup seluruh wajahnya, kemudian turun ke leher. Di sana Marshal mengendusnya dalam. Merasakan aroma tubuh istrinya yang selalu dia suka. Kecupan-kecupan kecil dia tanamkan di leher istrinya dan berakhir dengan kecupan dalam seperti singa buas.


Istri Marshal meringis serta mengeluarkan kembali lenguhan saat suaminya membuat tanda di lehernya. Tangan yang semula mengalung di leher Marshal, kini beralih meremas kepala suaminya.


Marshal menyeringai puas melihat hasil karyanya. Dia mensejajarkan wajah dengan Viona, memaksanya untuk membuka mata, sehingga mereka kembali bertatapan. Sorot mata Marshal menyiratkan suatu pertanyaan, apakah dia boleh melanjutkan atau tidak, dan Viona mengangguk samar seraya memberikan senyuman malunya.


Napas Viona tercekat kala Marshal meraih kancing bajunya. Dia memejamkan mata dengan malu saat Marshal mulai melucuti pakaian dengan cara yang sangat membuatnya terbayang akan perhatian yang sangat besar. "Chal ...." Viona menggigit bibir kuat supaya tidak melenguh saat kecupan-kecupan Marshal mulai terasa di sepanjang kulit dadanya.

__ADS_1


Dia bisa merasakan tangan Marshal merayap ke punggung, melepaskan kaitan penghalang yang mungkin  ingin segera ia nikmati isinya yang kenyal dan lembut sekarang ini. Viona hanya pasrah saat kaitan terlepas dan dia bisa merasakan bagian sensitif di dadanya diterpa embusan napas. Pasti Marshal sekarang tengah menatap dadanya lekat. Viona tidak berani membuka mata. Dia tidak mau melihat apa yang sedang suaminya lakukan. Rasa malu Viona cukup besar, sehingga dia hanya bisa meremas sprei dan sekuat tenaga menahan bibir untuk tidak terbuka saat hangat dan lembutnya bibir Marshal terasa menyentuh dan menikmati puncaknya.


"Mmhh ...." Susah payah Viona menahannya, tapi tetap saja dia kalah dengan gejolak yang semakin lama semakin meningkat merasakan cumbuan suaminya. Puas dengan puncaknya, merasakan seperti bayi kehausan, Marshal mulai turun ke bawah. Viona hanya bisa pasrah dan dia kembali kehabisan napas saat jemari Marshal terasa di karet celananya.


"Sayang ...."


Viona membuka mata perlahan mendengar suara parau suaminya. Viona sudah terengah-engah saat ini. Wajahnya sudah merah dan semakin merah melihat wajah Marshal yang sudah berada di hadapannya.


"Kamu yakin?"


Viona hanya bisa menggigit bibir dan mengangguk pelan dengan mata yang masih enggan terbuka. "Emmhh ...." Tangan Marshal mulai bergerilya meraba tempat sensitif istrinya.


Sentuhan suaminya tiba-tiba menghilang. Viona membuka mata saat mendengar suara gemerasak terdengar. Dia tercengang melihat Marshal yang sedang membuka pakaiannya. Buru-buru Viona menutup mata dengan kedua tangan. Dia menggeleng-gelengkan kepala, menyesal telah melihat tubuh polos suaminya.


Tubuh Marshal terasa kembali menindihnya. Viona tetap menutup mata dengan erat. Dia menggeleng saat Marshal memintanya untuk melihat.


"Sayang, lihat aku!" Meskipun awalnya tidak mau, Viona tetap membuka mata karena Marshal yang terus memaksa. Marshal memberikan senyuman dan kembali menyambar bibir istrinya penuh tuntutan. Tubuh mereka yang sudah polos bergesekan membuat keduanya semakin terhanyut dalam gelora yang semakin menggebu.


Tangan Marshal tidak tinggal diam. Selain mulutnya yang sibuk mencecap tubuh istrinya tanpa ada yang terlewatkan, tangan Marshal juga mulai meraba ke mana-mana. Melihat Viona hanya pasrah dengan sentuhannya membuat Marshal semakin tidak tahan. Satu tangannya terulur ke nakas menggapai sesuatu yang bisa menambah kesan panas untuk pergumulan mereka.


Klik!


Ahhhh ... kenapa gelap?


Lampunya aku matikan, Sayang?


Ammhh ... Bukan, tapi sengaja di skip sama author, hehe....


Otak author suka nge-hank kalo diterusin. Jadi, lebih baik terusin masing-masing aja, ya😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2